Kembang Manten

Bulan Juni 2012.. Hmmm.. Sebulan sebelum Ramadhan tahun ini.. Undangan berdatangan.. Undangan kawinan.. Salah dua di antaranya adalah saudara sepupu dari Ibu dan saudara sepupu dari Bapak..

Pada tanggal 8 Juni kemarin, saya sekeluarga berangkat ke Tuban menghadiri pernikahan saudara sepupu.. Repot juga ya ternyata, mempersiapkan pernikahan itu.. Dari mulai mempersiapkan banyak serah-serahan yang dihias sedemikian rupa sehingga cantik-cantik dan menarik, proses dandan yang memakan waktu berjam-jam (plus jahit baju berhari-hari sebelumnya), hingga acara resepsinya sendiri.. Itu pun belum terhitung mempersiapkan undangan, mencari gedung yang harus minimal 3 bulan sebelumnya, lamaran, dan belum terhitung banyaknya biaya yang dikeluarkan.. Wow?!

Tiba-tiba saya tercetus untuk membayangkan sesuatu.. Ingin rasanya kelak ketika tiba giliran saya, cukup hanya akad nikah saja.. Sah! Kemudian foto-foto, sungkeman, makan-makan sekeluarga, dan selesai.. Betapa simplenya.. Bisa langsung DP rumah pula mungkin.. Hehe..

Memang sih, pernikahan hanya sekali seumur hidup sehingga banyak orang ingin merayakannya seberkesan mungkin.. Semewah mungkin, seistimewa mungkin.. Tak salah.. Itu preferensi.. Harus disesuaikan dengan kemampuan tentunya..

Anyway, back to the topic, sewaktu saya sekeluarga hendak pulang (H+1 resepsi), Ibu saya ke rumah si empunya hajat untuk berdiskusi sehubungan acara selanjutnya yaitu ngunduh mantu (resepsi kedua yang diadakan di rumah mempelai pria).. Sepulangnya dari sana, Ibu memberi saya sesuatu: kembang manten!

image

Apa itu? Itu adalah semacam bando yang terbuat dari karangan bunga melati yang dipakai mempelai wanita ketika akad atau siraman (atau apa ya? Hihi)..

Biar cepet ketularan

Begitu kata Ibuk.. Konon kata orang, yang mengambil bunga itu akan segera menyusul menikah.. Konon.. Itu pun pada saat mengambil bunga tidak boleh ketahuan si mempelai wanita.. Ada pula yang bilang tidak boleh ketahuan si perias mempelai wanita.. Sekali lagi, konon.. Entahlah..

Di lain kesempatan, seminggu kemudian sepulang kondangan anak temen, Ibu memberi saya bunga yang lain lagi.. Kali ini sedap malam.. Dan banyak pula.. Tapi kali ini tanpa disertai kalimat biar cepet nyusul, hihihi..

Bagi saya sih, kalau sudah waktunya nikah ya nikah aja.. Kalau soal bunga mah, saya seneng aja dikasih bunga.. Putih, cantik, mana wangi dan gratis pula.. Bisa ditaruh di kamar untuk penyedap aroma.. :-)

The next question is: akankah Ibu saya memberi saya bunga lagi saat pernikahan saudara sepupu saya yang satunya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s