Salah Estimasi..

Hidup ini penuh dengan ketidakpastian.. Semuanya tahu itu.. Kecuali satu: kita semua pasti akan mati.. Oke, cukup tausiyahnya.. Lanjut ke topik inti..

Berhubung gak ada yang pasti dalam hidup ini, kita sebagai manusia yang telah berevolusi sedemikian rupa hingga mencapai tingkat kecerdasan seperti sekarang ini, tentunya melakukan berbagai upaya, pendekatan-pendekatan, atau ramalan-ramalan, agar hidup yang tidak pasti ini menjadi sedikit terlihat lebih pasti.. (bingung ya? sama donk..)

Salah satu pendekatan tersebut adalah dengan mengira-ngira atau menebak-nebak, atau bahasa akademisnya melakukan estimasi.. Berapa biaya yang harus dikeluarkan ketika hendak membangun rumah dengan luas sekian dan rancangan demikian, tentu tak ada yang tahu sebelum rumah itu berdiri, selesai dibangun.. Namun, canggihnya manusia, kita bisa melakukan estimasi.. Dengan survey harga dikolaborasikan dengan perhitungan matematis sana-sini, jadilah angka ajaib itu: nominal biaya pembangunan rumah sudah berhasil ada di tangan sebelum rumah itu dibangun..

Namanya juga manusia ya, seberapapun hebatnya tetap saja ada lupa dan keliru.. Wajar.. Begitu pun dalam melakukan estimasi itu tadi.. Estimasi yang kita buat bisa saja salah, melenceng jauh dari kenyataan yang kadang mengejutkan..

Contohnya saja (selain salah dalam memperkirakan biaya) dalam berkendaraan di jalan raya.. Kita bisa saja salah mengestimasi pada sudut berapa kita harus membelokkan setir sehingga bemper kita menyerempet pembatas jalan (curhat), atau salah estimasi soal apa yang kira-kira keluar pada ujian mata kuliah A (curhat banget), atau pun salah estimasi berapa harga makanan yang sudah kita makan di warung yang baru pertama kali kita kunjungi (super curhat)..

Meskipun terlihat bodoh, semua itu masih terasa wajar.. Namun saya punya pengalaman salah estimasi yang terlihat konyol.. Jadi ceritanya, saat itu saya baru pulang dari Jogja, menyetir mobil.. Mungkin karena lelah atau pusing atau apa, waktu itu saya berniat masuk kamar (pintu kamar dalam keadaan terbuka).. Waktu berjalan dari arah ruang tamu ke kamar, saat itu saya sembari garuk-garuk kepala.. Begitu saya berbelok hendak masuk kamar..

Jedug!!

Siku saya terbentur kusen pintu kamar.. Sakitnya T_T.. Saya salah estimasi cukup atau tidaknya saya melewati pintu sambil menggaruk kepala dengan mulus.. Padahal kusen pintunya aja diam, bukan benda yang bergerak..  -_-

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini adalah:
1. Jangan lewati pintu sambil garuk-garuk kepala
2. Libatkan perhitungan matematis dalam setiap estimasi agar variansinya tidak banyak
3. Ada lagi?

*maaf kalau artikel kali ini tidak penting banget, just sharing*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s