My Job..

Siang ini, aku meyusuri departemen sebelah untuk menyampaikan secarik informasi mengenai alamat cabang kepada salah seorang Bapak Ilustrator yang menanyakan di hari sebelumnya..

Langkahku terhenti oleh panggilan salah seorang Bapak Proof Reader yang kebetulan di mejanya tengah nongkrong Bapak-Bapak yang lain, mungkin editor..

“Mbak, katanya di Marketing ada lowongan ya? Gantiin Mbak Nov ya?”

“Iya Pak.. Gimana?”

Dan si Bapak Editor menanyaiku mengenai spesifikasi dan syarat-syarat pengajuan lamaran, serta detail jobdesk jabatan yang saat ini ku ampu..

***

Sepulang dari situ, di tempat yang sama dengan Bapak-Bapak yang lain aku diberondong pertanyaan serupa tadi.. Menunjukkan minat mereka yang besar, bukan untuk mereka sendiri melainkan untuk sanak-saudara yang siapa tau beruntung terpilih menggantikanku kelak..

Bukan hanya itu, beberapa Bapak-Bapak dari department lain pun bahkan menunjukkan minatnya untuk menempati posisiku sekarang ini.. Mereka coba-coba mengajukan usul dan menyampaikan alasan kepada atasannya agar dapat bermutasi kemari..

Belum termasuk beberapa pertanyaan antusias lain yang berasal dari teman-teman satu almamater, baik sekolah maupun universitas.. Belum pula pertanyaan-pertanyaan lain yang mampir kepada atasanku, atau rekan sejawatku di department ini..

Peminatnya bisa dibilang sangat banyak!

Entah karena pekerjaan ini menyenangkan, entah karena pekerjaan ini bertempat di Solo, entah karena rekan kerja yang baik dan ramah, entah karena lingkungan kantor yang damai, entah karena gaji yang lebih dari cukup untuk disyukuri, atau beragam alasan lainnya yang hanya bisa aku tebak-tebak sendiri..

Di satu sisi aku senang.. Karena dengan begini kemungkinan untuk mendapatkan penggantiku akan semakin mudah dan cepat.. Agar aku dapat segera membeli tiket untuk menemani sang suami ke pulau seberang..

Namun, tak dapat ku sangkal jauh di dalam hati perasaanku berat.. Berat karena terlanjur cinta pekerjaan ini, berat karena terlanjur kompak dengan rekan-rekan kerja ini, berat karena terlanjur nyaman dengan suasana kantor ini, berat untuk meninggalkan kota sekarang ini..

Dan semakin berat ketika mengetahui bahwa ternyata banyak yang menginginkan posisiku saat ini..

Ya, beginilah hidup.. Mau tak mau, cepat atau lambat, pada akhirnya aku harus memilih satu cerita saja untuk aku lanjutkan.. Dan harus rela melepaskan salah satunya pergi..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s