Problema Hidup..

image

Ini adalah gambar DP (Display Picture) salah satu teman suami di sebuah media chatting.. Kala itu suami memperlihatkannya pada saya, dan membenarkan apa yang tertulis di dalamnya.. Dan kami pun sama-sama menertawakan hal itu, atau lebih tepat mungkin tersenyum kecut..

Jauh hari saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, pernah terbersit di pikiran saya bahwa sebesar apapun masalah yang saya hadapi saat itu hanyalah seujung kuku mengingat masih ada ketek orang tua untuk berlari dan sembunyi ketika mungkin ingin menyerah..

Masalah apa sih yang dihadapi anak SD? Selain PR Matematika atau ulangan Matematika, paling banter ya berantem sama kakak tingkat atau anak kelas sebelah.. Diolok-olok, dimarahi guru, di-setrap kalau tidak bawa topi saat upacara.. Namun masalah itu sungguh membuat frustasi ketika saya dulu menjadi siswa..

Lalu, tidak usah jauh-jauh.. Lima atau tujuh tahun yang lalu ketika masih kuliah.. Tantangan tetap ada, walau dengan level yang berbeda.. Tentu saja, tetap membuat frustasi (selalu frustasi di setiap ujian, haduh payah).. Dihadapkan dengan praktikum, dilatih berpikir rasional dan logis, dituntut beretika dalam hubungan sosial, belum lagi jika ada masalah dalam asmara bagi yang sudah mengenal masalah cinta..

Atau kalau mau yang jauh, ketika kita balita mungkin kita menghadapi tantangan saat belajar merangkak, berjalan, bersepeda, bicara.. Tapi kita tidak ingat itu, tau-tau sekarang kita sudah fasih berjalan bahkan berlari, naik sepeda motor bahkan mobil, dan berbicara bahkan 2 atau 3 bahasa yang berbeda..

Kita masih sah untuk menangis ketika kita jatuh dalam upaya belajar berjalan semasa kanak-kanak.. Bahkan masih boleh berlari memeluk ibu kita saat diolok-olok teman saat duduk di bangku sekolah dasar.. Pada saat remaja pun, meskipun sudah sepatutnya bertanggungjawab atas semua tindakan yang diambil, tapi kita masih patut meminta pada orang tua ketika di tengah bulan tidak punya cukup uang untuk membeli pulsa karena beberapa hari sebelumnya membeli novel baru tanpa menghitung budget..

Tapi selepas itu, bila telah memiliki pekerjaan sendiri atau telah menikah, sebuah babak baru dimulai : inilah hidup yang sebenarnya.. Tentu sudah tak patut lagi merengek agar orang tuanya berkenan memintakan pada bossnya agar tidak memarahinya ketika melakukan kesalahan.. Segala yang diperbuat, sudah harus dipertanggungjawabkan dengan namanya sendiri..

Saya telah mengalami bagaimana pulang dengan badan biru selepas berkelahi dengan teman sekelas waktu SD.. Saya juga mengalami bagaimana dihukum guru BK ketika lupa tidak membawa buku saat SMP.. Begitu pun bagaimana stressnya di akhir SMA menghadapi ulangan setiap pagi di jam ke-nol dan seabrek bahan yang akan diujikan pada saat SNMPTN (waktu itu SPMB).. Yang semuanya itu belakangan saya sadari bukan apa-apa jika dibandingkan dengan saat ‘dihajar’ dosen pembimbing KP sampai menangis di tempat (duh malu) karena pembahasan saya kurang analitis.. Bahkan itu ternyata hanya ujian kecil dibandingkan dengan saat wawancara kerja dimana saya terus menerus gagal.. Saya juga sudah merasakan mindernya tidak punya pacar saat teman lain sudah bergandengan tangan, juga betapa down saat ditanya “Udah lulus belum? Kapan mau lulus?” atau “Udah kerja? Kerja dimana?” juga “Udah nikah? Kapan nih undangannya?”.. Dan yang terakhir, level saya saat ini berada pada ujian mental menghadapi pertanyaan “Udah hamil?”..

Memang terkadang ingin kembali pada masa ketika masalah terbesar kita ‘cuma’ Ujian Matematika.. Namun bagaimanapun, saya tak bisa menolak untuk tumbuh dan di sini saya sekarang berada, seperempat abad sudah saya berkutat dengan ujian hidup yang perlahan terus naik level kesulitannya..

Kenapa masalah selalu ada? Tak pernah habis?

Iya, semua itu sesungguhnya adalah proses.. Menyiapkan kita agar bisa naik level pada tahap kehidupan selanjutnya.. Agar kita kuat, karena untuk masuk SMP tak hanya harus punya nilai UN yang bagus.. Apa gunanya berhasil masuk SMP dengan nilai saja, jika di tengah masa SMP tiba-tiba memutuskan berhenti sekolah karena dihukum guru akibat lupa tidak mengerjakan PR?! Pertanyaan selanjutnya adalah : apakah dipikirnya dengan berhenti sekolah lalu masalah selesai, hidup akan damai dan tenang?

Tidak, karena hidup itu adalah proses yang berkelanjutan.. Proses belajar, setahap demi setahap.. Memang benar jika ada yang berkata bahwa tak akan habis masalah kecuali jika habis juga hidupnya alias mati.. (tapi sebenarnya mati pun bukan akhir masalah jika selama hidup tidak ada bekal yang kita siapkan, sama halnya dengan menyiapkan uang pensiun untuk bekal hari tua nanti)..

Alloh menciptakan kita dengan sempurna.. Memberikan ujian satu paket dengan solusinya dan kemampuan kita untuk menyelesaikannya.. Buktinya, kita tidak ingat bagaimana kita bisa berjalan.. Tapi yakinlah kita pernah mengalami proses hingga bisa berjalan seperti sekarang, karena Alloh menganugerahi kemampuan pada kita untuk melalui ujian belajar jalan tersebut..

Subhanalloh, saya tidak tahu mengapa dulu saya bisa sampai ke pikiran itu namun sekarang saya merasakan sendiri.. Bahwa setiap fase kehidupan, mempunyai klimaksnya sendiri-sendiri.. Maha Benar Alloh yang telah menjanjikan tak akan ada ujian yang melampaui kemampuan mahkluk yang diujiNya.. Dan memang akan selalu ada hikmah di setiap cobaan, hikmah yang membuat kita naik level..

Semoga kita dimampukan lulus dalam ujian hidup ini, dengan skor yang mampu menjadi bekal di kehidupan berikutnya nanti.. Amin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s