Bunga Bank?

Sudah pernah saya sampaikan sebelumnya, bahwa saya punya kebiasaan berkhayal atau memikirkan sesuatu yang tidak penting menjelang tidur malam.. Bahkan sekarang tak hanya menjelang tidur malam, tapi setiap bengong ga ada kerjaan bisa tiba-tiba pikiran kemana-mana tanpa pamit.. Maklum, ibu rumah tangga baru, kurang kerjaan..

Kali ini saya ingin membahas sesuatu yang lumayan serius, yaitu bunga bank.. Dalam kacamata Islam, bunga bank ini masih banyak pro dan kontra, halal atau haram.. Menurut sebagian pihak memang haram karena termasuk riba..

image

Ternyata pengertian dan kategori riba sendiri bermacam-macam, bahkan pernah pembahasan pengajian sampai kepada beli 2 gratis 1 atau diskon apakah termasuk riba, saya memang kurang menguasai.. Saya hemat di sini, sejauh yang saya tau riba adalah kelebihan yang dijanjikan di awal.. Bunga bank ini dianggap riba karena berasal dari bunga (kelebihan) kredit yang diambil bank dari para pengusaha atas pinjaman uangnya yang besarnya sesuai perjanjian di awal..

Saya ingin mencoba memandang dari sudut yang berbeda.. Menurut ilmu bisnis yang sempat saya peroleh di bangku universitas, ada dua jenis pemberi dana yaitu kreditor dan investor (correct me if im wrong)..

Investor adalah orang yang bekerja sama, memberi dana, berhak ikut mengambil keputusan perusahaan, sehingga jika perusaan mendapat laba pembagiannya sebesar prosentase laba itu.. Semakin besar laba perusahaan, semakin besar yang diterima investor.. Begitu pun jika perusahaan mengalami kerugian, investor akan ikut bertanggung jawab membayar hutang..

Sedangkan kreditor adalah pihak yang memberikan dana dengan syarat yang ditentukan di awal yaitu keuntungan yang diterimanya sebesar prosentase pinjaman.. Kreditor tidak ikut andil dalam kebijakan perusahaan, sehingga sebesar apapun laba perusahaan tidak akan merubah jumlah yang diterima kreditor.. Begitu pun kerugian perusahaan, kreditor tidak ikut menanggungnya.. Dalam hal ini, peran bank adalah sebagai kreditor..

Bank sebagai kreditor tentunya punya pertimbangan matang dalam mengeluarkan dana karena posisinya tersebut.. Tidak mungkin bank dalam kondisi ideal mengeluarkan pinjaman untuk seseorang bertahan hidup membeli beras, karena hampir pasti orang tersebut tidak akan sanggup mengembalikan dana yang dipinjamnya.. Bank mempunyai analis, yang akan melakukan tinjauan dari berbagai sisi sebelum akhirnya menyetujui pendanaan usaha seseorang.. Kecuali memang ada x-factor sehingga membuat yang tidak layak didanai menjadi lolos.. Lain halnya dengan lintah darat, yang akan tutup mata dalam memberi pinjaman, tak peduli untuk apa keperluannya dan bagaimana kemampuan orang tersebut untuk mengembalikan dana..

image

Bunga rentenir atau lintah darat juga cenderung asal, lain halnya dengan bunga bank.. Bank akan menggunakan perhitungan dalam menetapkan bunga, yaitu suku bunga bank sentral.. Suku bunga bank sentral ini selalu berubah menyesuaikan dengan inflasi..

Ya, menurut ilmu ekonomi yang saya tau, nilai uang memang selalu turun dari waktu ke waktu.. Tahun 1998 mungkin permen harganya masih Rp 25,- namun coba saja tahun 2014 ini uang Rp 25,- sudah tidak ada nilainya karena permen sekarang Rp 100,- sebutir bahkan ada yang lebih.. Ini yang dinamakan inflasi..

Bayangkan, semisal tahun 2000 ada orang yang meminjam uang Rp 10.000.000,- pada kita.. Lalu tahun 2011 dikembalikan sejumlah yang sama.. Padahal uang sejumlah itu di tahun 2000 dapat digunakan untuk membeli sebuah motor baru, sedangkan sewaktu dikembalikan kita mau beli motor pasti ditolak dealernya karena harga motor sudah naik menjadi Rp 13.000.000,- di tahun 2011.. Rugi kan kita minjemin uang? Begitu pun gambaran kasarnya pola pikir bank sebagai pihak yang meminjamkan dana, juga yang ada di benak sebagian besar nasabah yang menabung..

Pada titik ini, sepanjang ini, baru opening saja lho.. Saya baru akan masuk pada inti pemikiran saya : bagaimana jika nilai dihitung dengan sesuatu yang tidak terpengaruh inflasi? Emas misalnya?

Saya merasa, sistem sekarang ini memang agak rumit.. Dimana uang dicetak dalam bentuk lembaran, mata uang yang berbeda di negara satu dengan yang lain, dan lainnya yang memang saya belum dalam mempelajari.. Seperti yang kita tau, bahwa mata uang pada zaman Rasulullah adalah dinar dan dirham.. Dinar adalah uang emas, sedangkan dirham adalah uang perak.. Mengapa Rasul mencontohkan demikian? Pastinya karena Alloh tau, di masa datang emas dan perak nilainya stabil dan tidak terinflasi sehingga bisa dijadikan acuan oleh saya dalam menulis ini.. Heheh.. ^^v

Katakan untuk contoh, tahun 2000 teman saya pinjam Rp 10.000.000,- dimana harga emas saat itu katakanlah kisaran Rp 50.000,- per gram kalau sumber saya benar.. Nilai yang dipinjam teman saya itu berarti totalnya 200 gram emas.. Pada tahun 2010 teman tersebut baru bisa mengembalikan kepada saya.. Jika bunga kredit dalam bank diharamkan, maka jumlah yang dikembalikan tentu sebesar pinjaman yaitu Rp 10.000.000,- padahal di tahun tersebut harga emas telah naik menjadi Rp 300.000,- per gram atau dengan kata lain uang sebesar itu hanya bernilai 33,3 gram emas.. Tentu tidak benar bukan? Seharusnya, jika dikonversi dalam bentuk emas maka jumlah yang kita terima adalah sebesar Rp 60.000.000,- (WTF tenanan po ra ki?) sekali lagi kalau tidak salah hitung dan tidak salah sumber lho.. Mmm, tapi sepertinya bank juga tak setinggi itu besar pengembaliannya, hanya kira-kira sistem kerjanya seperti itu..

Lain halnya jika kita meminta teman tersebut untuk mengembalikan sebesar 201 gram emas pada kita.. Maka yang satu gram itu adalah riba..

image

Bagaimana dengan cicilan? Percayalah, bank juga punya perhitungan dalam menetapkan besarnya cicilan yang harus dibayar tiap bulan.. Bahkan untuk jumlah pinjaman yang sama, nilainya akan berbeda jika salah satu dicicil selama 5 tahun dan yang lain selama 6 tahun.. Ya seperti fluktuasi harga emas tadi, gampangnya tiap bulan mencicil satu gram emas, maka jumlah yang dibayarkan akan berbeda mengikuti perubahan harga emas dari waktu ke waktu..

Saya memang tidak terlalu paham agama.. Saya pun juga hanya sekilas dalam belajar ilmu ekonomi dan bisnis.. Namun saya hanya ingin berbagi pemikiran saja.. Halal dan haram kembali kepada keyakinan masing-masing, silakan mencari sumber lain yang lebih dapat dihandalkan dan sahih.. Ada baiknya memang menghindari yang ragu-ragu, namun jika terpaksa karena sistem memang seperti ini, pilihlah yang paling aman di antara semua seperti bank syariah misalnya.. Dan, bagaimana pun juga aturan Alloh adalah nomer satu, logika menjadi pembenaran alias nomor sekian..

Sebagai catatan, suami saya memang bekerja di bank.. Tapi tulisan ini bukan bermaksud sebagai pembelaan, karena pemikiran ini sebenarnya telah mulai ada semenjak saya belajar ekonomi teknik di semester 2.. Juga karena alhamdulillah suami saya berada di bagian administrasi pendidikan.. Namun akan lebih senang seandainya suatu saat bisa keluar dari zona abu-abu, atau jika memang seterusnya di sini berarti ini memang pilihan terbaik karena Alloh selalu memberi yang terbaik..

Allahu a’lam.. Semoga kita semua ditunjukkan jalan yang benar oleh Alloh, amin..

Tambahan:

Seperti biasa, malem-malem berpikir kemana-mana, dari hal-hal sepele sampai yang absurd.. (==,”)

Konon beda bank syariah dan konvensional adalah sistem bagi hasil (baca: investor) sedangkan bank konvensional sebagai kreditor.. Sebenarnya dua-duanya ini beda konsep, jadi tidak bisa dibandingkan.. Enak yang mana? Tergantung.. Kalau pebisnis sudah dari awal tidak meyakinkan atau malah sangat yakin untungnya sedikit, ya lebih enak pinjam ke investor.. Sebaliknya, kalau pebisnis untung sangat besar, lebih enak pinjam ke kreditor karena yang dibayarkan akan tetap sama saja jumlahnya..

Tapi beda lagi dengan kredit jangka panjang.. Ada teman saya yang mencicil rumah, katanya di bank syariah bunganya lebih tinggi.. Tapi sistemnya flat.. Beda dengan bank konvensional yang hanya setahun flat kemudian bunga akan mengikuti perubahan suku bunga.. Sedangkan pada jangka waktu mencicil rumah yang tidak sebentar, akan sangat mungkin perekonomian naik turun, salah satu indikasinya adalah harga emas yang berubah dari waktu ke waktu..Enak yang mana? Benar yang mana? Aman yang mana? Well, relatif.. Semua kembali ke pilihan dan keyakinan masing-masing..

Saya pernah baca salah satu status media sosial dari seorang wirausahawan.. Beliau bercerita, dulu punya hutang di bank, namun karena kemantapan hati masalah abu-abu ini belakangan semua hutangnya langaung dia lunasi.. Beliau menjual semua asetnya untuk menutup hutang, membeli hunian yang lebih kecil bahkan mengontrak, dan memulai usaha..

Sepintas sih ceritanya manis, karena berakhir dengan kesuksesan usahanya yang kini beromset puluhan kali gajinya dulu.. Tapi, saya sedikit bertanya-tanya.. Karena beliau telah punya aset yang banyak, yang notabene hasil dari berhutang, sedangkan hutang tersebut dicicil dengan pendapatan yang juga dimulai dengan berhutang.. Apakah akan berakhir sama bila beliau tidak berhutang sama sekali? Dengan modal seadanya, atau bahkan tanpa modal, tanpa aset.. Memang bukan mustahil, tapi prosesnya tidak akan secepat posisi beliau sekarang.. Kalau sudah untung besar, memang menutup hutang akan lebih mudah..

Kita ini terjebak sistem.. Meskipun secara desain saya yakin sudah dipikirkan matang-matang (dari mengganti alat transaksi emas menjadi uang kartal, sampai pada proses kredit) tapi buatan manusia memang tidak pernah sempurna.. Untuk masuk ke sistem memang abu-abu, tapi keluar sistem hanya separuh-separuh juga masih tetap abu-abu.. Saya memang bukan ahli agama, juga bukan ahli ekonomi, ilmu saya yang lain pun just so so.. Tulisan ini hanya celotehan pikiran menjelang tidur malam saja.. Dst.. *ngantuk*

Advertisements

5 thoughts on “Bunga Bank?

  1. Jadi sebenernya model bank syariah ada g si? Katanya bunga yg seharusnya k kita diambil sama bank nya utk menutupi administrasi, atau jangan2  syariah dkonversi k emas jugaa

    • Ada tuh B*I syariah dkk.. wkwk..
      Cuman sistemnya gimana detailnya saya kurang tau.. Kata temen yg kerja di bank syariah sih lebih aman soalnya kalo mau minjemin kredit liat-liat dulu jenis usahanya halal atau ga..
      Tapi kalo dikonversi ke emas “kayaknya” ga juga sih, cuman katanya KPRnya emang lebih mahal cicilannya soalnya flat (waduh aku malah dadi mumet tho, tanggung jawab!)..

  2. Pingback: Kotak-Kotak.. | Novsabatini's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s