Pengalaman Pertama : Mudik Pakai Pesawat Tapi Ketinggalan!

Judulnya miris amat ya.. Tapi kejadian yang sesungguhnya tidak kalah mendebarkan, 11:12 ama film Fast And Furious.. Jadi singkat cerita, hari ini saya rencananya kembali ke perantauan setelah loooong holiday dalam rangka Idul Fitri.. Tiket pesawat pulang-pergi sepaket sudah dipesan jauh hari, bahkan jauh bulan sebelum lebaran.. Seharusnya tenang dan mulus semuanya, ya..

image

Horeeee banyak yang senasip xixixi..

Penerbangan dijadwalkan pukul 16.45 jadi saya masih mendapat seharian bersama keluarga di rumah.. Selama di Solo memang saya dan suami hidup nomaden, kadang di rumah orang tua saya, kadang di rumah orang tua suami, kadang pisah rumah alias di rumah orang tua masing-masing.. Nah malam sebelum hari-H kami bermalam di rumah orang tua saya, sekalian menge-pack makanan yang akan dibawa ke Jakarta.. Keesokan harinya, suami pulang ke rumah orang tuanya lengkap dengan kardus makanan yang kami pack hari sebelumnya.. Kami menghabiskan hari terakhir di Solo di rumah masing-masing dan sepakat bertemu di bandara saja sorenya, saya akan di-checkin-kan lebih dulu oleh suami karena rumahnya lebih dekat dengan bandara.. Ternyata suami mendapat sms dari pihak penerbangan bahwa pesawat akan kena delay satu jam menjadi pukul 17.45.. Jadilah keluarga saya menyusun rencana berhubung adik saya harus ke kampus dulu dan Bapak saya harus menitipkan bola tenis ke rumah temannya karena tidak bisa tenis hari ini.. Rencana sudah matang, datang lagi pemberitahuan lainnya bahwa pesawat delay lagi sampai pukul 19.45.. Maka Bapak jadi juga berangkat tenis, dan adik saya agak longgar pulang dari kampus.. Kami berencana berangkat sehabis sholat Maghrib.. Note : perjalanan rumah ke bandara sekitar 45 menit.. Sehabis Maghrib kami siap-siap ke bandara, tapi dengan suasana santai.. Sampai depan pintu rumah sebelum masuk mobil, suami telpon katanya pesawat sudah mendarat, kalau bisa agak cepat ke bandaranya..

Wow! Piye carane? O.o

Jadilah kami berangkat dengan suasana mendebarkan dan agak kacau..

Klakson Dek! Ambil kanan, kanan! Ayok cepet dikit! Lampu merah terobos aja! *ga patut ditiru, adek-adek*

Tiap lima menit atau kurang ditelpon suami, update situasi.. Suami juga sudah lobi pihak maskapai, pokoknya suasana agak entahlah, sesuatu.. Sampai kemudian..

Suami : Sampai mana?? Saya : Sampai Lor In nih, gimana udah masuk pesawat? Su : Udah disuruh masuk pesawat ni, semua udah lengkap tinggal nunggu kita doank.. Kaptennya udah mau take off.. Sa : Ga bisa nunggu 10 menit lagi ya? Yaudah mau gimana lagi, aku nyusul pake kereta aja besok deh.. Su : Gini, ini KTPmu sama tiket aku titipin loket maskapai yang di depan itu lho.. Aku tak masuk pesawat.. Nanti kalau masih bisa masuk, kamu masuk.. Kalau ga bisa yaudah nanti tanya maskapai ya gimana kelanjutannya.. Sa : Iya, pokoknya terbang duluan aja kan besok udah masuk kerja.. Aku gampang..

Akhirnya saya sampai bandara, buru-buri lari ke loket.. Dan………. Pesawatnya udah terbang! T.T Dengan masih ngos-ngosan saya ke loket maskapai, setelah ngobrol sebentar lalu pihak maskapai memberi 3 pilihan : 1. Uang dikembalikan 100% saat itu juga.. 2. Ikut penerbangan besok pagi, gratis.. 3. Ikut terbang maskapai sebelah, tambah Rp 200.000,- tapi berangkat malam ini satu jam lagi.. Aduh bingung deh saya.. Pengin telpon suami dulu minta pertimbangan tapi lagi terbang ponselnya pasti dimatikan.. Kalau pilihan pertama, sebenernya menggiurkan ya, kan bisa naik kereta aja kapan-kapan (kapan?) lebih irit.. Tapi di perjalanan tadi, di antara kesibukan meneriaki sopir untuk balap ke kiri dan terobos kanan, saya sempat mencari tiket kereta api.. Untuk hari ini dan besok sudah penuh semua.. Lusa, entahlah.. Kalau penuh semua kasian suami kelamaan ditinggal.. Pilihan kedua, saya lebih memikirkan bagaimana perjalanan dari rumah ke bandara besok, dan dari bandara ke kontrakan.. Jelas mondar-mandir mengingat detik itu saya sudah di bandara, masa harus pulang lagi dan besok pagi-pagi berangkat lagi.. Pilihan terakhir, saya mengkhawatirkan kalau kemalaman banget sampai Jakarta nanti.. Apalagi dari bandara ke kontrakan butuh satu jam naik taksi dan lebih banyak waktu lagi kalau naik damri disambung angkot atau taksi.. Belum kalau maskapai sebelah juga delay terbangnya.. Belum kalau nanti suami gagal dihubungi dan akhirnya ditinggal, pulang Cengkareng ke Ragunan malam-malam sendirian donk.. image Akhirnya dengan “yasudahlah” saya pilih opsi terakhir.. Cuman modal whatsapp dan berdoa semoga dibaca sama suami, setelah menyelesaikan urusan administrasi dan mengucapkan terimakasih pada petugas loket maskapai yang meskipun pasti sudah pusing dengan ketertinggalan saya tapi alhamdulillah sangat customer care, saya masuk waiting room sendirian lalu terbang pada posisi bangku paling ujung pojok belakang.. Alhamdulillah sampai Jakarta dengan selamat jam 21.40 dan setelah cari-mencari akhirnya bertemu suami di pintu 1B (karena saya turun lewat 1A) dan langsung lari-larian karena pas banget ada damri jurusan Pasar Minggu nangkring di seberang pintu kedatangan 1B.. Meskipun tidak dapat tempat duduk dan sempat mabok di dalam bus, tapi situasi tetap terkendali.. Turun beberapa ratus meter setelah Pancoran lalu disambung taksi, kami tiba di kontrakan sekitar pukul 23.30.. Entah kenapa hidup saya selalu dipenuhi dengan hal-hal bodoh dan ceroboh, yang ternyata tidak lantas hilang begitu saja dengan bergantinya status saya.. Di satu sisi saya menyesal membuat susah suami dan orang-orang di sekitar saya.. Tapi di sisi lain saya bersyukur karena merasakan pengalaman yang tidak biasa dialami setiap orang.. Pengalaman seharga Rp 200.000,- yang tidak murah, tapi semoga di masa mendatang menjadikan saya lebih prepare terhadap segala hal.. Pengalaman konyol, bodoh, yang membuat orang-orang di sekitar saya panik dan mungkin marah atau kecewa, namun di masa depan pasti akan ditertawakan bersama.. Pengalaman yang membuat orang-orang mengunjungi blog ini karena tidak sengaja ketinggalan pesawat juga (asik, ada temennya! *loh*).. Pengalaman perjalanan mudik lebaran saya yang pertama bersama suami, yang pastinya akan dikenang.. *** Sebagian ditulis di waiting room bandara Adi Soemarmo, 6 Agustus 2014..

Advertisements

7 thoughts on “Pengalaman Pertama : Mudik Pakai Pesawat Tapi Ketinggalan!

  1. yang ternyata tidak lantas hilang begitu
    saja dengan bergantinya status saya… -iki sing paling lucu pex! wkwkwk memang ternyata apdet status ra mengubah apapun.
    yek! mabukan, kamu nyemprotin siapa nop???

  2. Pingback: Mudik #Lupa : Never Enough Time With Family.. | Novsabatini's Blog

  3. Pingback: Kebentur (?) | Novsabatini's Blog

  4. Pingback: Mudik #Lupa : Never Enough Time With Family.. | Novsabatini's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s