POLRI vs KPK..

Belakangan sedang hangat diberitakan mengenai masalah ini, yang saling lapor melapor.. Saya sebenarnya males kalau lihat berita isinya cuma ini saja, 30 menit 3 kali sehari.. Duh! Dan akhirnya saya sudah seminggu tidak menonton berita di TV, namun tetap saja berita dalam media lain bermunculan begitu saja seperti diantaranya timeline media sosial yang dipenuhi baik status maupun kutipan dari berbagai sumber.. Saya dan suami pernah mendiskusikan ini, waktu awal-awal pemberitaan dulu.. Saya ingin iseng menuliskannya di sini..

image

Hand drawn by me, 17 feb 15..

Pertama, saya bahas KPK dulu.. KPK ini lembaga yang dibentuk khusus untuk menangani masalah korupsi.. Korupsi di negara ini memang sudah di level kritis, bahkan lembaga penegakan hukum yang lama (yang seharusnya bisa menangani korupsi) pun sudah terlilit korupsi.. Itulah sebabnya dibentuk KPK, sebagai lembaga independen, agar dapat masuk dan mencekal koruptor baik yang berada di area yudikatif, legislatif, dan eksekutif..

Sebagai lembaga yang notabene baru, KPK sedang menggebu-gebu.. Lihat saja, banyak petinggi pemerintahan dan dewan yang berhasil ditangkap.. Ini menyebabkan lembaga lama mungkin kelimpungan karena aksinya terganggu dan mencoba bermacam cara untuk menghentikan KPK, salah satu hasilnya mantan ketua KPK sekarang mendekam di penjara atas tuduhan pembunuhan bermotif asmara.. Hello, ga bisa ngarang yang bagusan dikit apa? Masa’ iya cuma gara-gara seorang caddy?

Layaknya mahasiswa baru, pasti rajin dan kredibel pada peraturan, seperti : tidak pernah terlambat, selalu pakai kemeja rapi, bersepatu.. Tapi apakah saat tingkat akhir masih demikian? Tidak! Tahun ketiga mulai kemejanya kusut, sepatu warna warni, absen tiap kuliah pagi, rambut dibiarkan gondrong, dll.. Tahun keempat, mulai mangkir saat bimbingan, ilang berbulan-bulan bahkan sampai ditelpon-telpon dosen, pakai kaos jika masih kuliah, pakai sandal dan ga mandi saat ke kampus.. *loh kok malah menceritakan masa lalu sih?*

Bisa jadi KPK sekarang sedang menjadi mahasiswa tahun ketiga.. Sebagai lembaga independen, KPK tidak ada yang cawe-cawe.. Tidak ada yang menyadap teleponnya, tidak ada yang mengawasi (presiden sibuk, red.).. Ini menjadi celah yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh anggotanya yang nakal..

Yang kedua, POLRI (dan mahkamah konstitusi).. Yeah ini adalah lembaga lama, mungkin sudah ada sejak jaman nenek moyang melaut, dari jaman kartu pos sampai kartu sim.. Mungkin dulunya POLRI pun kredibel dan berjiwa nasional, rela berkorban untuk melindungi negara, mengayomi publik.. Mungkin lho, mungkin pada saat itu kita belum lahir..

Siklusnya sama saja, sekarang POLRI sudah menjadi mahasiswa tingkat entahlah, mungkin udah memasuki tahun ketujuh, ke sembilan, atau bahkan sudah hampir DO.. Sudah sejak kapan saya tidak tau, banyak cerita tentang kedua lembaga ini yang sewenang-wenang dalam menggunakan kekuasaannya.. Hukum tidak lagi adil, masyarakat kecil ditindas, premanisme anggota berseragam.. Hingga lama kelamaan, masyarakat pun krisis kepercayaan terhadap kedua lembaga ini..

 

jual baju anak korea lucu diskon

Kita masuk di kesimpulan.. Sebenarnya memang tidak ada yang bisa disimpulkan secara pasti (loh gimana sih).. Jika boleh berprasangka buruk, KPK bukanlah dewa yang selalu benar.. Anggotanya ada banyak, dan tiap-tiap anggota punya niat, pikiran, dan hati sendiri-sendiri.. Mungkin awalnya memang semua anggota KPK berpegang teguh pada kode etik, apabila ikutan korupsi hukumannya akan tiga kali lebih berat.. Sehingga KPK solid, dan ini memenangkan hati publik yang notabene sebelumnya telah krisis kepercayaan terhadap lembaga hukum.. Namun tidak adanya pengawasan yang ketat menjadi kelemahan yang bisa dimanfaatkan oleh anggota yang nakal.. Dan jika boleh berprasangka baik terhadap POLRI, tidak semua anggotanya buruk, atau mungkin saat ini ada niat untuk membenahi diri.. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan juga bahwa anggotanya yang sedang dibicarakan memang salah (loh ternyata saya pun masih krisis kepercayaan)..

Seberapa benar atau seberapa salah KPK dan POLRI, meskipun ada faktanya, semuanya kembali kepada opini masing-masing orang.. Sebenarnya itulah yang bahaya, meskipun ada bukti bahwa KPK salah, tetap saja dibela karena sudah terlanjur cinta.. Sebaliknya meskipun ada tanda-tanda POLRI tidak bersalah, tetap saja diragukan karena sudah terlanjur tidak percaya.. Begitu juga yang terjadi di media, lihat saja TV A dan TV B yang mungkin berbeda, mengemas berita suka-suka, tergantung kubu mana yang disukainya, bukan lagi murni fakta.. Lihat saja, apa kabar mantan ketua KPK yang dulu senantiasa dibela? Sudah pada lupa, karena media sudah tidak menyorot lagi.. Mungkin karena ratingnya sudah tidak bagus, sudah tidak populer atau bahasa kasarnya udah basi.. Sedih ya, padahal mungkin beliau salah satu orang paling jujur di negeri ini.. Ini yang kadang membuat saya malas mengikuti berita berbau politik, karena saya bingung yang benar yang mana, terlalu banyak menonton saluran tertentu bisa mempengaruhi pandangan kita pada suatu tokoh..

Maka biarkanlah semua proses hukumnya bergulir, baik untuk KPK maupun POLRI.. Jangan ada kasus yang dihentikan gara-gara opini publik, gerakan anti ini dan dukung itu.. Kita hormati KPK untuk menyelidiki POLRI, dan kita hormati POLRI yang menyelidiki KPK.. Anggap saja sebagai penyeimbang agar keduanya dapat saling mengawasi.. Semoga dengan demikian, keduanya dapat introspeksi dan bersama-sama menjadi lebih baik, bukan sebaliknya yang saling menjatuhkan.. Semoga jangan sampai ada krisis hukum lagi, hingga perlu dimunculkan lembaga baru yang semakin memperumit alur pertanggungjawaban dan kewenangan..

Ya, ini murni opini saya, tanpa dipengaruhi oleh stasiun TV A atau stasiun TV B.. Saya hanya berpendapat saja, berdasar hati, logika, dan sedikit ilmu.. Jika masih banyak salahnya itu karena ilmu saya memang masih sedikit, dan lama ga mikir berat hehe.. Maka bagi yang tidak berkenan mohon jangan dilempar batu bata, kalau mau disawer boleh asalkan gambar Bung Karno.. :-)

Apapun itu, biarkan seperti mencuci pakaian : cuci dengan baik, jemur, pasrahkan cuaca pada Yang Maha Mengatur, tapi tetap dipantau.. Berprasangka baik saja pada semuanya (daripada emosi sendiri, lebih baik netral), serahkan pada hukum yang berlaku, terus dipantau seobyektif mungkin, sambil terus mendoakan supaya negeri ini tetap aman dan menjadi lebih baik..

========== * * * ==========

jual perabot rumah home decor lucu

Update :

Dan akhirnya setelah ditunggu-tunggu dan didesak-desak, Presiden Jokowi mengeluarkan Kepres dan Perpu mengenai masalah ini.. Menurut saya cukup adil, dan masuk pemikiran saya di atas.. Adil karena kepres yang memutuskan untuk mengganti calon Kapolri, berarti menghormati KPK untuk memproses calon sebelumnya sesuai ketentuan yang berlaku di ranah hukum KPK.. Adil karena perpu yang dibuat bertujuan menetapkan pejabat pelaksana tugas sementara KPK, yang mana diantaranya adalah mantan ketua KPK, dan perpu ini memungkinkan POLRI meneruskan proses hukum terhadap pejabat tinggi KPK yang lama..

Memang untuk membuat keputusan tidak mudah, apalagi jika menyangkut hajat orang banyak, terlebih lagi pada level negara.. Perlu banyak menganalisis, menimbang, berpikir, bahkan perlu masukan, informasi, dan brainstorming dengan beberapa orang yang lebih paham.. Mengelola negara itu sulit.. Jangankan mengelola negara, mengelola Fakultas saja pusing (katanya).. Maka saya menghargai apabila presiden mengambil jangka waktu yang agak lama untuk menengahi perselisihan KPK dan POLRI ini.. Malah sebenarnya justru dipertanyakan jika buru-buru menanggapi..

Meskipun kini keputusan telah dibuat presiden seadil mungkin, tetap saja sebagai public figure ada yang pro dan kontra.. Wajar saja, terdapat dua ratus juta kepala di negara ini, dengan pemikirannya sendiri-sendiri.. Namun sebagian besar tidak tau situasinya dan tidak mengenal dengan baik tokoh-tokohnya (misalnya calon KAPOLRI dan KPK yang sedang diperkarakan, juga calon baru KAPOLRI dan PLT KPK).. Parahnya, ada yang cuma ikut-ikutan (termasuk saya, haha) atau bahkan termakan opini media yang terkadang sengaja diarahkan ke suatu titik.. Terlepas dari itu semua, mari kita sama-sama menerima keputusan presiden dengan hati yang lapang, pikiran terbuka, dan empati bagaimana rasanya berada di posisi presiden atau masing-masing yang kena kasus..

Bolehberkontribusi nyata, asalkan tau ilmunya dan lurus niatnya.. Bila tidak, lebih baik diam.. Diam bukan berarti pasrah, melainkan memantau sambil terus mempelajari..

Anyway, sekali lagi sawerannya, donk..

[Nov Sabatini]

Yuk baca juga tulisan saya yang lain :

1. Cerita di Balik Kejamnya Ibukota

2. Kotak-kotak

3. Nikah Muda

 

Advertisements

One thought on “POLRI vs KPK..

  1. Pingback: Kotak-Kotak.. | Novsabatini's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s