Di Balik Dinding..

Di antara sayup-sayup tembang yang mengalun dari sekotak radio tua, duduk seorang wanita setengah baya.. Hanya sendiri, dan hanya termenung.. Tampak beban menggelayut memaksa matanya tak bisa memejam.. Mau tak mau, esok harus dicobanya jalan itu, bisiknya.. Lalu dibiarkannya malam semakin meninggi.. *** Pagi ini cerah, seperti pagi-pagi yang lalu di musim kemarau.. Wanita itu sudah beberes bahkan sebelum matahari menggeliat.. Dia harus membuka toko kelontong sekaligus warungnya, kemudian menyiapkan anak semata wayangnya untuk bersekolah.. Nanti saat matahari sepenggalah, anak tetangga yang biasa dititipkan padanya menanti untuk ia jemput..

Lumayan buat tambah-tambah, saya cuma lulusan SD..

Begitu katanya.. Semua pekerjaan yang mungkin dilakukan ia lakukan untuk membantu suaminya yang kuli bangunan di siang hari sekaligus tukang ojek sepulang menguli.. Pagi itu agak beda, wanita itu (sebut saja wanita #1) menyiapkan hati dan mental.. Lalu mengetuk sebuah pintu.. Wanita #4 si empunya pintu membukakan tak berapa lama..

Tante, saya beli es batu 2..

Pagi-pagi es yang dibuatnya memang belum mengeras.. Pada wanita #4 dia biasa membeli es batu.. Kemudian obrolan ringan dan berlanjut dengan wanita #1 yang mulai bercerita dengan suara yang sengaja dikecilkan..

Tante bolehkah saya pinjem duit dulu, 200 ribu gitu? Kalau Tante luang..

Wanita #1 bercerita jika rapor anak semata wayangnya ditahan pihak sekolah karena belum membayar uang piknik..

Saya sebenarnya sudah tidak daftar piknik, saya sudah menghadap kepala sekolahnya tapi katanya ikut atau tidak tetap bayar.. Sembilan juta saya keluarkan untuk sewa bus, lalu gimana saya bayarnya kalau situ nggak mau bayar?! gitu katanya Tante, sambil teriak-teriak pula.. Sedih saya Tante.. Saya cuma dikasih 3 hari.. Tiap anak saya tanya kenapa dia belum dapat rapor sementara teman-temannya sudah dapat, saya nangis lagi..

Wanita #4, dengan suara yang sama kecilnya..

Ssst.. jangan sekarang, ada suami saya..

Kemudian dari balik pintu yang ditutup tersebut, terdengar percakapan antara wanita #4 dengan suaminya yang kebetulan minggu ini mendapat giliran shift malam..

Ngutang? Ga usah dikasih.. Kita aja cari duit susah, enak aja diutangi.. Suruh kerja dulu sono yang bener, biar banyak duitnya! Lagian sekolah di tempat orang gedongan, gaya amat jadi orang..

*** Malam datang lagi.. Rasanya terlalu cepat bagi wanita #1.. Belum sampai jalan keluar dia dapatkan, belum terkumpul uang yang harus dibayarkan..

Apakah aku salah nyekolahin anakku di situ, mbok?

Setengah bertanya pada ibunya, setengah bertanya pada dirinya sendiri.. Aku tau, anakmu hanya satu.. Dan aku tau, kau hanya ingin yang terbaik baginya.. Sedangkan tetanggamu itu tak tau apa yang kau rasakan, karena mereka bahkan belum punya anak satu pun.. Dan kau tau itu.. Tapi kau tak tau, betapa berat perjuangan mereka untuk bisa mendapatkan anak.. Seandainya kau tau, kau harus banyak bersyukur untuk itu.. Ibunya yang sudah renta, biasa begadang sambil mendengarkan tembang yang mengalun dari sekotak radio tua, satu-satunya hiburan dari masanya yang tertinggal di antara invasi modernisasi.. Beruntung mantunya yang lulusan STM, lumayan cakap dalam memperbaiki barang dan mempertahankan radio tersebut.. Ibunya memang sehari-hari tinggal bersama wanita #1.. Meskipun memiliki banyak anak, kenyataannya si bungsu tetap yang paling lekat..

jual perabot rumah home decor lucu

Mbok, gimana ya kalau pinjem duit sama Mbak itu..

Dengan suara lirih, ia meminta nasihat ibunya.. Sejurus kemudian ibunya mengingatkan bahwa hutang yang kemarin belum dia lunasi, tidak baik jika sekarang hendak meminjam padanya lagi..

Kamu udah coba nembung orang tua temennya Tole?

Udah Mbok, ga ada yang ngasih.. Malah pada dicibir katanya “salah sendiri cari kontrakan juga gede-gede, kontrakan gede kuat bayar kok sekolah anak cari utang”.. Mereka gak ngerti Mbok rasanya ngontrak, suaminya orang betawi semua, tanahnya gede-gede..

Menghela nafas, ia telan kenangan pahit itu.. Kontrakan dengan satu kamar tidur, dapur yang menyatu dengan MCK, bonus satu kamar tamu memang sedikit lebih mewah dibanding kontrakan sekitar yang hanya punya kamar tidur tanpa embel-embel bonus.. Kalau tidak kasihan dengan ibu dan anaknya belum lagi kakaknya yang terkadang numpang tidur bila pulang terlalu malam dari warung soto tempatnya bekerja, pastinya tak berani ia numpang tinggal di sini.. Wanita #1 beranjak keluar, ia butuh mengambil nafas dalam-dalam.. Mungkin udara segar dan hening malam bisa membantu meringankan sesak yang ada di dadanya.. Dia pun duduk di bangku kayu depan rumah.. Di antara sayup-sayup tembang yang mengalun dari sekotak radio tua, dia hanya termenung.. Tanggal gajian masih jauh, karena masih harus menunggu sampai proyek pembangunan suaminya selesai.. Semua yang bisa dimintai tolong sudah dia datangi..

Budhe, saya kasih gopek deh.. Tapi nanti tanggal 27.. Saya belum gajian Bude..

Kata bujangan sebelah rumah yang sering jajan di warungnya, yang sudah seperti anaknya sendiri.. Untuk minta tolong pada bujang yang satunya, dia tak sampai hati berhubung baru saja berhenti dari pekerjaannya dan sekarang menganggur.. Mau tak mau, esok harus dicobanya jalan itu, bisiknya.. Lalu dibiarkannya malam semakin meninggi.. *** Sedang menjemur pakaian, diperhatikannya wanita #3 yang mengenakan headset sambil bernyanyi seperti yang biasa dilakukannya sehari-hari.. Wanita #1 kemudian menyiapkan hati dan mental, menahan rasa malu, bergegas menghampiri wanita #3 untuk mengulang cerita yang sama..

Waduh, saya bilang suami dulu ya Bu.. Biar gimana pun, yang kerja beliau, saya nggak berani kalau nggak izin..

Wanita #1 itu pulang sambil menyeka matanya yang basah.. Kehidupan ini memang keras.. Dia harus kembali memikirkan jalan keluar yang lain sambil menunggu jawaban dari pintu-pintu yang sudah dia ketuk.. Berharap akan ada pertolongan dari Tuhan melalui salah satu pintu itu.. *** Terdengar suara motor yang tidak asing memasuki teras rumah, wanita #3 beranjak membukakan pintu menyambut suaminya yang tumben pulang lebih cepat, kemudian menyiapkan makanan baginya.. Setelah suasana santai dan ketegangan kantor hilang, dengan hati-hati dan suara yang setengah berbisik dia ceritakan kepada sang suami mengenai permintaan wanita #1 tadi pagi..

Yah, beginilah kehidupan ibukota.. Pendatang banyak yang tidak punya skill, hanya modal nekad karena iming-iming atau bahkan hanya melihat tetangga sepulang dari sini.. Gedung-gedung yang tinggi dan jalanan yang bagus hanya kenampakan luar saja, yang terus dicitrakan di TV sebagai image ibukota negara.. Kenyataannya, di belakang gedung- gedung tinggi ada ratusan petak rumah yang saling berhimpitan.. Dan di ujung jalan-jalan bagus ada gang-gang sempit yang sesak..

Diam-diam wanita #3 merenung.. Ada rasa ketidak-percayaan karena hutang yang lalu belum bisa dilunasi, ibukota memang penuh intrik, segala macam tipu daya bisa terjadi di sini.. Namun terselip pula rasa iba, membayangkan berada di posisi seperti itu.. Kemudian dia teringat, bahwa selama ini jika dia memiliki masalah, jalan keluar hampir selalu mudah dia peroleh.. Bukan karena kepintarannya atau kerja kerasnya semata.. Betapa nikmat dari Tuhan sepanjang hidupnya, ada hak-hak orang lain di dalamnya.. Hatinya bimbang.. Secuil kebisuan muncul di antara siaran TV yang mendadak tidak dapat dia pahami bahasanya.. *** Suasana sekitar sudah sepi, pintu pagar sudah terkunci menandakan semua penghuni telah pulang ke rumah masing-masing.. Sayup-sayup tembang mengalun dari sekotak radio tua.. Wanita #1 kembali duduk, termenung.. Andai aku bisa mengabarkan pada dunia, kesedihan dalam setiap bisikan yang ia ceritakan pada dirinya sendiri.. Tapi aku hanya sebuah dinding tipis.. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanya menjadi saksi dan pendengar, dari semua yang dilakukan penghuni keempat petak kontrakan ini.. Semua sudah dia lakukan.. Sekarang terserah Gusti Alloh, bisiknya.. Wanita itu beranjak masuk.. Dibiarkannya malam semakin meninggi dan dipasrahkannya semua yang akan terjadi besok.. image Jakarta, 25 Mei 2015

[Nov Sabatini]

Yuk, baca juga tulisan saya yang lain :

1. Sebuah Catatan

2. Tujuan Akhir

3. Masa Lalu

Advertisements

One thought on “Di Balik Dinding..

  1. Pingback: POLRI vs KPK.. | Novsabatini's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s