Kucing (2)..

You don’t know what you’ve got, until it’s gone..

Begitu kata pepatah.. Ya, benar adanya.. Dulu semasa tiap hari, bahkan hampir seharian kucing-kucing bergelimpangan di depan kontrakan -menunggu untuk diberi makan- seringkali rasanya was-was, meski tak dipungkiri hati rasanya senang ada yang menemani silih berganti..

image

Spon Elek..

Pagi, Spona dan BadSpon sudah stand by untuk sarapan.. Agak siang kira-kira jam sembilan, selepas bersih-bersih biasanya Hittler lewat depan rumah, berhenti, lantas mengeong dengan keras.. Mungkin dia pikir mau permisi, minta seikhlasnya.. Hehe.. Pute datang tak tentu, karena dia kucing peliharaan tetangga, jadi kebutuhan minta makan pada saya tidak terlalu urgent.. Seringnya Ute hanya minta minum, aneh memang.. Biasanya saya ambilkan air bersih di gayung, dia akan minum cukup lama dan setelah itu langsung pergi tanpa permisi.. Bila tidak diawasi dia kadang memanjat ember untuk minum langsung dari bak mandi, atau kadang minum minyak sisa menggoreng dari wajan yang kebetulan di taruh di bawah, intinya dia akan minum apa saja di rumah saya.. Sesekali setelah minum lalu tidur di sembarang tempat, keset depan kamar mandi, di lorong, di bawah rak sepatu, atau di kasur.. Dan Pute hampir tidak pernah permisi kalau masuk rumah, langsung lompat dari jendela menuju ke dapur.. Namun bila jendela dan pintu tertutup, dia akan mengeong di bawah jendela, minta dibukakan..

image

Spon Abang..

Setelah diberi makan, Spona biasanya tertib langsung pergi entah kemana.. Kembali lagi nangkring di jendela saat maghrib, dengan harapan dari balik pintu yang tertutup saya tetap bisa menyadari kehadirannya dan tidak lupa mengagendakan jadwal makan untuknya.. Dengan sabar Spona menunggu saya selesai masak, tanpa berisik, malah kadang jatuh dari jendela karena ketiduran, lalu akhirnya pindah bawah.. Hihihi.. Kadang Spona tidur di dalam rumah di keset bawah jendela, memamerkan perutnya agar menarik tangan saya untuk mengelus.. Kadang saat papasan di jalan selepas belanja, dia pun langsung guling-guling, minta dielus.. Manja..

Spona tidak pernah mencakar saya, bahkan jika saya obok-obok mukanya, paling pol dia hanya akan beranjak menjauh.. Berbeda dengan Bad Spon.. Entah sudah berapa kali saya dicakar olehnya, dia tidak begitu suka dielus.. Wataknya memang galak.. Namun Bad Spon ini kucing yang paling berani dan paling sering membuntuti saya, kemana dan dari mana saja, mau jalan kaki atau naik motor.. Dengan girangnya berlari mendahului saya, kadang berhenti sejenak dan menoleh memastikan arah yang dia tuju sama dengan maksud saya..

image

Minta makan cuma sekali sehari..

Sayangnya Bad Spon agak nakal, kerapkali masuk rumah curi kesempatan, malah masuk rumah tetangga pula ikut mencicipi dagangan otak-otak.. And she’s quite persistant! Diusir pakai sapu lidi, cuma bergeser paling jauh lima meter, itu pun tak sampai lima menit, kalau keadaan dirasa aman dia akan mulai mlipir lagi, menunggu kesempatan berikutnya.. Kalau sudah begitu, rasanya gemes, saya pukul pakai sapu lidi terus sampai dia benar-benar lari keluar komplek..

Kucing liar itu nggak boleh magrok (ngetem, red)! Aku nggak selamanya di sini, itu sebabnya jatah makanmu cuma pagi dan malam, selebihnya kamu harus tetap cari sendiri.. You need to stay wild to survive!

Ternyata waktu itu datang dengan cepat, sekarang meskipun kontrakan pindah 300 meter, kucing-kucing tetap setia menunggu di depan kontrakan yang lama..

Kucingmu nungguin, jejer-jejer, kadang dua kadang tiga sampai empat.. Dikira kamu masih di sini kali ya.. Padahal udah tak bilangin “ke atas” gitu..

Kata tetangga.. Saya rasanya sedih.. Memikirkan bagaimana kucing-kucing akan menunggu tanpa kepastian dan pergi dengan perut kosong.. Siapa lagi yang akan membelai mereka, ketika mereka mau bermanja.. Lebih sedih lagi mengingat dulu pernah memukul Bad Spon dengan sapu lidi karena mencuri, memukul Spona karena saat menggunting kuku kepalanya selalu disundul-sundulkan tangan saya, juga ketika membuka ponsel ternyata hanya sedikit foto mereka yang saya punya, kebersamaan dan kelucuan mereka hanya ada dalam ingatan saja, selama ini terlalu menyepelekan dengan menganggap toh saya akan terus bertemu mereka, dan sebagainya..

image

Spon Putih..

Meskipun di sini banyak kucing, tapi tetap saja rasanya berbeda.. Mungkin karena terlanjur cinta, mungkin karena belum terbiasa.. Pernah mengajak Spona 300 meter keluar dari zona amannya, belum sampai rumah saya Spona sudah berbalik arah.. Pernah juga mengajak Bad Spon sampai rumah, tapi kasihan lihatnya, dia hanya diam di depan pintu karena daerah ini asing baginya dengan kucing-kucing lain yang asing pula..

Ah tapi tak mengapa, karena hanya 300 meter saya masih bisa jalan-jalan ke sana memberi mereka makan sesekali.. Sekali, ketemu hanya Spona.. Sekali ketemu hanya Bad Spon.. Sekali, sama sekali tidak ada kucing di depan kontrakan lama.. Sekali, juga tidak ada kucing di sana.. Kemana saya harus mencari mereka?

Pagi ini, selepas belanja saya mampir ke sana.. Menunaikan niat saya yang sudah berhari-hari tertunda karena satu dan lain hal.. Hanya bisa berharap, bisa ketemu mereka, melepas kangen.. Alhamdulillah, bertemu dengan Bad Spon yang ketika saya panggil langsung mengenali suara saya lalu berlari mengikuti ke kontrakan lama, seperti kebiasaannya dulu.. Di tengah jalan bertemu Hittler yang ikut membuntuti saya sambil mengeong.. Sudah diberi makan, muncul Ute dari balik pagar rumahnya.. Saya panggil “Ute?!” Langsung berlari dengan girang ke arah saya.. Lama menunggu Spona tidak muncul, saya pun pulang karena cucian menanti.. Di tengah jalan bertemu Spona yang langsung mengelus badannya ke kaki saya.. Setelah saya beri makan, Spona gulung-gulung minta dielus..

image

Pacaran Niye..

Ah, rasanya senang bisa nostalgia dengan kucing-kucing.. Saya yakin, Alloh telah menjamin rezeki mereka meskipun tidak melalui saya.. Sepeninggal saya, Spona, Bad Spon, Hittler bukannya tambah kurus, mereka baik-baik saja dan tetap gendut.. Hanya mungkin mereka merindukan saya.. Rasanya semangat seperti di recharge.. Mungkin cerita saya terlalu sederhana, mungkin juga sebagian akan tertawa membacanya, cerita nggak penting.. Tapi bagi ibu rumah tangga seperti saya, semuanya jadi lebih sederhana.. Tidak ada harapan dan cita-cita yang terlalu tinggi.. Harapan agar hari ini suami pulang lebih cepat, harapan agar cucian kering, cita-cita bisa tidur siang hari ini, cita-cita nanti sore ingin membuat tahu isi, yang seperti itu sudah sangat membahagiakan.. No, no, yang seperti ini bukan untuk dikasihani, karena justru harus banyak disyukuri : hitunglah, berapa banyak kebahagiaan yang bisa didapatkan hanya dalam sehari.. :-)

Bahagia itu sederhana.. Semakin sederhana, semakin mudah untuk dicapai, semakin banyak yang tercapai..

[Nov Sabatini]

jual tas unik lucu

Yuk, baca artikel saya yang lain :

1. Cerita kucing patah hati

2. Pelihara kucing bikin susah punya anak? Yuk baca penjelasan SPOG di sini..

3. Cara agar kucing tidak mencuri makanan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s