Rumah Sakit Hewan Ragunan..

Telat banget, mau nulis ini mood-nya ngga dapetdapet jadi kemarin saya skip sama judul yang lain dulu deh.. Oke saya tulis dengan ringkas, padat, dan tunjeppoin aja ya.. Kejadian ini terjadi sekitar bulan April menjelang Mei, saat itu usia anak-anak kucing saya 2,5 bulan (lahirnya 20 Februari)..

UGD Rumah Sakit Hewan Ragunan

UGD Rumah Sakit Hewan Ragunan


KIKIS

Awal cerita, salah satu dari tiga anak kucing saya (sebut saja namanya Kikis) ngga mau makan, tiduran aja seharian, keliatan lemes gitu.. Saya cerita ke Ibuk dan Bapak yang sudah berpengalaman dalam menangani kucing sakit, menurut beliau 75% yakin kalau kucing saya cacingan.. Padahal ngelihat aja engga, cuman diceritain doank, sakti banget ya.. *proud to be their daughter* haha..

Akhirnya saya dan si Om beli obat cacing di petshop sekitaran rumah.. Oleh si penjaga toko, diberi dua pilihan yaitu Drontal (bentuk tablet) dan Albenworm (bentuk sirup).. Dengan pertimbangan lebih gampang ngasih ke kucingnya, kita pilih yang sirup.. Harganya kalau ngga salah sekitar Rp 30.000,- lupa tepatnya soalnya udah lama.. Yang jelas gocap masih sisa..

Obat ini warnanya biru, lucu ya.. Kocok dulu sebelum diberikan, warnanya akan berubah menjadi sedikit keruh.. Tidak terdapat petunjuk penggunaan yang jelas pada botol kemasannya, karena memang pada dasarnya obat ini diberikan memakai resep dokter tergantung kondisi kucing yang sakit..

Di botol hanya ada petunjuk pemakaian berupa : 2,5 ml (setengah sendok teh) untuk 10 kg berat kucing.. Pakai pipet yang ada ukurannya ya, lebih enak pakai yang kecil ukuran 1 ml.. Oleh penjaga petshop disuruh 3x sehari, tapi sesampainya di rumah saya urung memberikan ke kucing karena ketidakpastian takaran..

Lagipula, tepat sesampainya kami di rumah, Kikis mati tertabrak tukang siomay, padahal obatnya belum sempat dibuka.. Ironis ya? Sedih banget saya..

Kucing diare

Ucu


UCU

Beberapa hari setelahnya, gantian anak kucing saya yang lain (sebut saja Ucu) mulai mencret.. Ngga cuma Ucu sebenarnya, Miu pun mencret, namun Ucu lebih parah.. Kami coba mempuasakan mereka sehari lebih, namun ini susah dilakukan karena pada prakteknya mereka gagal puasa karena dikasih makan oleh tetangga.. Kami coba beberapa cara lain seperti memberikan tempe mentah dan yoghurt.. Namun setelah empat hari, kondisi mereka masih sama, bahkan cenderung memburuk..

Lagi-lagi saya konsultasi kepada kedua orang tua saya, saya menduga mereka diare karena pakan mereka yang baru saja diganti.. Namun lagi-lagi kedua orang tua saya bilang mereka cacingan *hidup cacingan!*

Karena ragu-ragu, dan masih trauma akan Kikis yang baru saja mati, akhirnya saya pilih membawa Ucu ke dokter hewan saja, daripada kenapakenapa.. Sebelumnya sempat browsing mengenai rumah sakit hewan di Ragunan.. Kami sering mondarmandir lewat jalan Harsono RM karena deket banget dari rumah, malah dulu kami sempat kos di sekitar sana, tapi ngga pernah tau sebelah mana rumah sakit hewan Ragunan..

Rumah Sakit Hewan Ragunan

Rumah Sakit Hewan Ragunan


Berbekal keranjang piknik merk Rio (di petshop harganya Rp 95.000,-) dan doa semoga rumah sakitnya buka, jadilah hari Sabtu kami coba mencari Rumah Sakit Hewan Ragunan, yang ternyata letaknya sebelahan sama Pusdiklat PLN (masuk ke gang Pusdiklat PLN).. Belakangan kami baca dari pengumuman yang tertempel di dinding rumah sakit, ternyata Rumah Sakit Hewan Ragunan buka tiap hari, bahkan UGDnya buka 24 jam..

Pertama-tama, kami mengisi formulir dulu untuk mendaftarkan Ucu.. Front Office nya ramah-ramah.. Karena saya tidak tau Ucu jantan atau betina maka saya isi jantan (badannya gede sih).. Setelah daftar, kami duduk di ruang tunggu sambil melihat-lihat sekitar..

Enak banget suasananya, teduh, banyak pohon, ngga berisik karena lumayan masuk ke dalam dari jalan raya, pokoknya bikin pengen tidur siang(?).. Dan pastinya banyak banget kucing berkeliaran di sana.. Jinak-jinak karena ternyata diberi makan oleh pihak rumah sakit.. Salah satu kucing ada yang tidur di kursi ruang tunggu di samping saya.. Ada petshop juga di dalam rumah sakitnya.. Tidak banyak pasien yang antre, hanya satu-dua kucing dan anjing.. Mereka bawa kucing ras, sedangkan saya bawa Ucu kucing domestik.. Hooo..

Dokter Hewan Jakarta

Dokter Hewan Jakarta


Tak lama, kami pun dipanggil “kucing Ucu” untuk masuk ruang periksa.. Setelah mendengarkan cerita saya mengenai apa yang Ucu alami (?) Dokter pun melakukan serangkaian tindakan : ukur suhu badan (lewat belakang), cek feses (cacingan atau tidak), cek kutu telinga.. Dokternya ramah, saya diperbolehkan mengambil gambar..

Hasilnya : kutu telinga dan cacingan positif semua, dan Ucu betina

Tapi penyebab utama mereka diare adalah karena ganti pakan, seperti dugaan saya.. Untuk diarenya, dokter memberi Lacto-B yang tidak lain dan tidak bukan adalah obat diare untuk balita.. Untuk umur Ucu, cukup setengah bungkus saja, dilarutkan dengan sedikit air (bentuk obatnya bubuk)..

Dokter mempraktekkan cara meminumkan obat yang baik dan benar, sehingga bisa saya contek di rumah, mengingat saya mungkin melakukannya sendirian karena kalau siang si Om kerja..

Sedangkan untuk cacingan, Dokter memberikan Drontal.. Dosisnya satu tablet untuk 4 kg berat kucing.. Karena saat ditimbang, berat Ucu 800 gram maka Ucu diberi seperempat tablet saja.. Selanjutnya terus dipantau, apabila masih muntah dan diare (apalagi kalau ada cacingnya) maka obat tersebut diberikan lagi jarak seminggu kemudian..

Pet Taxy RSH Ragunan

Pet Taxy RSH Ragunan


Untuk obat cacing cair yang terlanjur kami beli, saya sempat menanyakan dosisnya juga, jaga-jaga saja karena Drontal hanya diresepkan satu tablet untuk Ucu dan Miu sekaligus.. Kata Dokter, pemakaian Albenworm sama saja dengan Drontal, yaitu cukup sekali dalam satu minggu.. Untung saja waktu itu saya tidak menuruti kata penjaga toko, kalau diberikan 3x sehari bisa-bisa ususnya terbakar, gitu kata Dokter..

Satu obat lagi, yaitu obat kutu telinga.. Bentuknya tetes.. Dokter hanya bilang diberikan pagi dan sore, masing-masing telinga 2-3 tetes tanpa ada kejelasan diberikan berapa hari, dan saya lupa nanya.. Pada akhirnya pakaikan sekitar 5 atau 7 hari, semua kucing yang mampir ke rumah saya tetesin telinganya (Spon Kecil, Ucu, Miu, Mang Engkus, Spongrab, Cisbundel) bahahaha..

Note : obat diarenya ampuh banget, cukup satu kali minum sorenya langsung sembuh! Jadilah sembilan bungkus Lacto-B saya nganggur di kulkas..

Pagi itu, kami kena invoice Rp 300.000,- sudah termasuk semuanya, dari biaya pendaftaran, biaya konsultasi ke dokter, biaya cek laboratorium, dan obat-obatan (3 macam obat)..

Note : selain UGD 24 jam, rumah sakit ini menyediakan ambulance (taksi khusus) untuk antar-jemput pasien (baca : hewan).. Nomor telepon terlampir di foto.. Untuk biaya, silakan tanya lebih lanjut ya karena saya ngga kepikiran nanya pet taxy ini soalnya RSH deket banget dari rumah..

Kucing sakit

Miu


MIU

Kurang dari seminggu setelah periksa Ucu, gantian Miu yang sakit.. Diarenya sih sudah sembuh, tapi mendadak Miu ngga mau makan.. Lemes aja.. Padahal sudah saya beri obat cacing, untuk diberikan lagi harus jarak seminggu..

Kurang lebih tiga hari, Miu ngga mau makan.. Bahkan ngga mau nyusu ke induknya.. Sudah saya coba memancingnya dengan makanan basah, tapi cuman dilirik doank.. Karena keadaannya memprihatinkan, si Om ngga tega juga dan akhirnya minta saya membawa Miu ke Rumah Sakit Hewan Ragunan untuk diperiksakan (bersyukur banget punya suami seperti beliau).. Hari Rabu pagi, saya berdua Ibuk berangkat ke RSH Ragunan berbekal semangat, doa, harapan, dan tak lupa keranjang Rio berisi Miu..

Note : keranjang Rio ini sepertinya sangat populer, sampai-sampai di jendela kasir RSH Ragunan banyak terdapat tempelan stiker bekas keranjang RIO..

Jujur, saya ngga tau Miu sakit apa.. Karena ngga ada angin ngga ada badai tiba-tiba saja tidak mau makan.. Tiba di RSH kami mendaftar (satu kucing satu kali daftar) kemudian menunggu di ruang tunggu sambil foto-foto dan memberi makan kucing-kucing di sana.. Kami bawa cat food karena berdasarkan pengalaman memeriksakan Ucu kemarin di sana banyak kucing bertebaran (?)..

Kucing tidak mau makan

Kucing tidak mau makan


Setelah diperiksa oleh Dokter (dokternya beda dengan yang memeriksa Ucu) ternyata Miu demam, dan cacingnya masih ada.. Kami tidak diberi Drontal lagi karena yang kemarin masih sisa setengah (Ucu seperempat, Miu seperempat) kata Dokter diberikan Miu setengah tablet nggapapa, tentunya setelah jarak seminggu dari terakhir kali diberi Drontal..

Miu diresepkan obat penurun panas amoxicillin, dua kali sehari sebanyak 1 cc (satu kali suntikan pipet).. Obat ini harus konsisten diberikan selama 7 hari, meskipun kucingnya sudah sembuh.. Sepertinya ini antibiotik *kumat sotoy nya*

Note : meskipun secara fisik Miu lebih kecil dibanding Ucu, tapi berat badan Miu 900 gram.. Mungkin karena Miu jantan ya..

Selain itu, Miu juga diberikan vitamin biolysin syrup, sebanyak 1 cc sehari, obatnya familiar ya hehe..

Dokter mewanti-wanti sekali agar Miu dipaksa makan, minimal sehari dapet setengah bungkus makanan basah (yang kemasan sachet).. Karena kalau tidak kemasukan makanan, kucing harus diopname..

mengobati kucing diare

mengobati kucing diare


Jeng jeng!

Kalau kucing Ibuk dan Bapak di Solo, sudah banyak yang opname.. Banyak yang mati juga waktu mondok di klinik.. *pengalaman orang tua saya dalam hal perkucingan sudah pro* Tapi ini di Jakarta bo‘, abis berapa cobak kalo sampe mondok di RSH..

No way

Berbekal tekad emak-emak irit, saya berdua ibu saya menyuapi Miu secara paksa.. Susah cuy! Meskipun Miu masih 2,5 bulan tapi sukses membuat luka di jari Ibuk saya, hiks.. Sampai pada akhirnya kami berdua trauma sekaligus kewalahan, akhirnya kami belikan susu khusus kucing.. Satu sachet seharga Rp 7.000,- di petshop.. Selama kira-kira dua hari Miu hanya minum susu tersebut saja.. Kalau benda cair lebih gampang nyuapinnya.. Airnya jangan banyak-banyak, susu dibikin sekental mungkin..

Sekitar tiga hari setelah diperiksakan, Miu perlahan mulai membaik.. Mulai agak mudah disuapin, mungkin dia paham kalau saya harus nyuapin dia seorang diri mengingat tak lama setelah periksa ke RSH Ibuk harus balik ke Solo.. Mulai bisa saya suapin makanan basah, meskipun belum banyak, dibikin sedikit tapi sering saja..

Berangsur-angsur Miu mau nyusu induknya lagi.. Kemudian mulai mengendus makanan kering.. Alhamdulillah..

Oiya, invoice periksa Miu habis sekitar Rp 200.000,- kalau tidak salah.. Amplopnya saya cari ngga ketemu deh, hehe..

Demikian pengalaman kami dalam kucing-kucingan di Jakarta, semoga ada manfaatnya..

Note : di kanopi RSH Ragunan terdapat papan yang ditempel foto-foto beberapa anjing dan kucing.. Mereka adalah anjing dan kucing yang kurang beruntung, ditelantarkan pemiliknya.. Setelah berobat mereka tidak ditebus, kasian ya.. Mereka available for being adopted.. Pinginnya sih semua saya adopsi, tapi mengingat satu dan lain banyak hal sepertinya belum memungkinkan.. Kucing-kucing ini (Ucu, Miu, dkk) pun sebenarnya bukan kucing peliharaan saya, hanya kucing liar sekitaran sini yang memeliharakan diri (?) pada saya.. Kebanyakan datang ketika jam makan saja, hanya beberapa ekor yang menetap (tidur klesotan) di rumah..

adopsi kucing jakarta

adopsi kucing jakarta


ADOPT, DON’T BUY!

Jual-beli kucing haram hukumnya dalam Islam! Rasulullah SAW melarang makan uang hasil penjualan anjing dan kucing (HR Abu Daud, HR Turmudzi).. 

Salah satu dari banyak dalil, silakan dipelajari lebih lanjut untuk dalil yang lainnya..

SAVE DOMESTIC CATS!

***

Yuk baca artikel yang lainnya :

Puskeswan Ragunan

Pasar Sepatu Taman Puring 

Advertisements

13 thoughts on “Rumah Sakit Hewan Ragunan..

  1. Hai, salam kenal, Blognya sangat membantu karena saya ingin membawa kitten saya ke RSH Ragunan, terimakasih utk infonya 🙂

  2. hai saya mau tanya… apakah di rs ragunan itu mahal? soalnya saya mau bawa kucing liar di sekitar rumah saya kesitu. kakinya buntung dan membengkak, tapi saya takut harganya meledak, sedangkan saya bukab orang yg everytime punya uang 😩

    • Hmmm.. tarif dokternya sih 110 ribu.. mahal atau engga tergantung tindakannya sih menurut saya, misal butuh operasi atau butuh obat apa..

      Coba ke puskeswan aja.. jauh lebih miring, tarif dokternya katanya (kata satpam yg jaga) ga nyampe 50ribu..

      Tapi di sana ga bisa rawat inap, kecuali keadaan darurat (saya ga tau nanti pengobatan kakinya masuk kategori darurat atau bisa rawat jalan aja)

      Puskeswan itu deket sama RSH, tepatnya di Jalan Harsono RM di sebelah polres, kalo dilihat memang plang-nya kecil di dalem, yg keliatan dari luar “dinas peternakan”..

      Di puskeswan juga bisa steril gratis, syaratnya KTP DKI (per KTP maksimal 2 ekor), tapi ada jadwalnya.. Kalau ga salah pendaftaran bulan Juli & Januari.. Untuk Juli ekseskusi s.d Desember, untuk Januari s.d Juni.. Coba tanya-tanya lagi mba..

      Good luck ya! Save domestic cats ♥

  3. Pingback: Puskeswan Ragunan | Novsabatini's Blog

  4. Pingback: Update Smule : November 2017 | Novsabatini's Blog

  5. Thanx infonya mang mo rncana vaksin kittens ksna tp blom tau hrgany smoga gk mahal2 amat. 2 kittens qu jg boleh nemu d jln usia 1 bln trlantar, kotor & pincang skrg dah 2 bln.

    • Mba, kalo mau lebih miring ke puskeswan aja.. seberang Deptan yg Harsono RM. Tapi kalo hari libur memang jamnya terbatas, jam 9-12 kalo ga salah.. Tapi coba tepon dulu aja buat nanya (baca artikel saya yg Puskeswan, ada nomor telpon puskeswan di sana)

  6. Pingback: Pengalaman Kirim Hewan | Novsabatini's Blog

      • Mba, ada nomer yg bisa dihubungi ngga? Harsono RM itu jaksel deket puskeswan ragunan.. Tapi temenku mau anterin ke jakut..

        Aku minta nomer mba donk, atau bisa line aku (id nya novsabatini) atau kalo ngga via instagram juga bisa PM aku (ig nya novsabatini juga)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s