Konsep Rezeki?

Overdosis kafein, kancilen (ga bisa tidur, red.), dan fase mania, adalah kombinasi tepat yang membuat saya menulis ini setelah sekian purnama blog terbengkalai dan lumutanπŸ˜‚

Mungkin saat ini saya sedang overexcited dan memang biasanya jadi susah tidur. Segala yang berlebihan, meskipun menggembirakan, ternyata tidak baik juga.

Pagi tadi pertama kalinya saya berjualan di Car Free Day Slamet Riyadi Solo. Terdengar sederhana, tapi amat sangat berkesan bagi saya.

Sebuah perjuangan tersendiri bagi saya, menyingkirkan anxiety untuk benar-benar merealisasi keinginan berjualan yang sudah lumayan lama.

Nanti gimana ya? Laku nggak ya? Sama siapa donk ke sana? Bawa barangnya gimana?

Beberapa dari banyak pertanyaan-pertanyaan yang sempat membuat tekad maju saya menjadi mundur kembali. Pertanyaan-pertanyaan yang kadang ga perlu untuk dirisaukan. Pertanyaan-pertanyaan yang ngga akan terjawab sebelum mencoba melakukannya.

Tadi pagi, setengah modal nekad karena lumayan dadakan, akhirnya saya beranikan diri berangkat jualan. Barang yang saya jual adalah bibit mint. Saya sudah membibitkan sejak lama, tapi karena maju mundur tadi, akhirnya bibit yang sudah saya siapkan saya pindah lagi ke pot saya sendiri, tidak jadi jualan.

Saya hanya membawa 10 polybag kecil, dua pot kecil, dan satu polybag besar. Sebatas keranjang piknik yang biasa saya gunakan untuk membawa kucing ke puskeswan, berhubung saya hanya sendirian naik motor. Keranjang piknik saya ikat di boncengan. Dengan restu si Om, dan mengucap bismillaah, saya berangkat dengan hati berdebar sepanjang perjalanan. Untung saja saya tidak putar balik ya, hehe..

Sampai lokasi Car Free Day kurang dari jam 6 pagi, masih lumayan sepi. Karena hanya modal nekad, saya cari tempat kosong yang pada jam itu masih banyak. Ternyata, meskipun kosong, tempat tersebut sudah menjadi milik orang. Ya, maklum, saya ngga tau gimana aturan jualan di sana. Diusirlah saya.

Setelah dua kali diusir, akhirnya saya menemukan lokasi yang bisa dipakai jualan. Alhamdulillaah, barang saya tidak banyak, jadi bisa nyempil.

Saya gelar lapak, dan duduk menunggu, tidak agresif menarik pembeli karena pedagang yang lain pun jualan dengan santuy πŸ˜‚

Sampai pukul 6.30 dagangan saya masih utuh. Bahkan dilirik pun tidak. Anxiety datang lagi. Mulai gelisah. Mulai ngga PeDe. Gimana kalau.. Gimana kalau..

Anxiety bertambah ketika akhirnya datang satu emak-emak yang menawar secara sadis. Hati saya bergejolak, harus dilepas dengan harga sadis atau saya tolak saja? Gimana kalau dia satu-satunya yang mau beli? Gimana kalo.. Gimana kalo..

Dalam keadaan itu, saya tiba-tiba teringat, ketika beberapa waktu yang lalu si Om pulang dari kajian dan kami berdiskusi panjang mengenai konsep rezeki. Bahwa rezeki itu vertikal dan horizontal, ada di tangan manusia dan ada di tangan Allaah.

Empat Hal yang telah tertulis dengan pasti saat ruh manusia ditiupkan ke rahim ibunya : rezekinya, jodohnya, ajalnya, dan satu lagi saya lupa πŸ˜‚ tolong nanti berguru pada orang yang lebih ahli, ya!

Memang berapa banyak rezeki seseorang telah ditentukan Allaah jauh sebelum orang tersebut dilahirkan. Namun, bagaimana cara memperolehnya ada di tangan orang tersebut, apakah dengan cara halal atau haram, dan hal inilah yang kelak harus ia pertanggungjawaban di akherat.

Seseorang bisa saja mencuri, dan berhasil tanpa ketahuan. Karena memang sudah ditulis hari itu ia memperoleh rezeki sekian. Atau ia bisa memakai cara yang jauh lebih baik, seperti misalnya berjualan atau bantu-bantu misalnya menjadi kuli panggul.

Ada dua poin yang dituntut dalam perkara rezeki ini, yaitu ikhtiar dan tawakal. Keduanya harus seimbang. Rezeki memang sudah ditentukan, tapi perlu ikhtiar sebagai jalan mendapatkannya. Apapun itu. Keluar dari rumah, untuk mencari rezeki. Jangan hanya diam. Meskipun belum ada tujuan, mau keluar rumah kemana, tapi diniatkan untuk ikhtiar mencari rezeki. Sisanya, serahkan kepada Allaah, karena memang mutlak hak Allaah untuk memberikan rezeki. Seringkali orang hanya pasrah menunggu rezeki tanpa ikhtiar. Padahal perintah-Nya untuk ikhtiar dulu baru kemudian tawakal adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Kalau saya, cenderung sebaliknya, kadang sering setelah ikhtiar habis-habisan, ekspektasi sudah sampai langit. Lupa tawakal. Sehingga saat hasilnya tidak sesuai ekspektasi, rasanya sakit sekali karena jarak antara harapan dan kenyataan terlalu tinggi. Alias kurang iman, terlalu mengedepankan logika dan malah cenderung sombong karena merasa sudah melakukan semuanya harusnya hasilnya sesuai. Emang siapa elu?

Kembali pada persoalan jualan bibit mint tadi, akhirnya saya tolak penawaran emak-emak tersebut. Karena, saya merasa tidak akan menjadi berkah buat saya dan beliau, jika saya melepasnya dengan tidak ikhlas (atau pun dia membelinya dengan tidak ikhlas). Berarti bukan rezeki. Dan kalau pun nanti dagangan saya tidak laku, yasudah berarti rezeki saya bukan di situ dan hari itu. Yang penting saya sudah ikhtiar, menggelar dagangan. Sisanya saya pasrahkan 100% pada Allaah.

Seketika lega, ghaeeesss…

Ya, gitu.. Manusia saya memang sering mengkhawatirkan hal-hal yang di luar kuasanya. Malah jadi stress sendiri. Lakukan apa yang di-kuasa-kan Allaah padamu, perbaiki niat & ikhtiar. Toh rezeki ga akan ketuker. Keliatannya aja seseorang banyak duit, tapi kalau bukan jatah rezekinya pasti akan hilang juga. Entah dengan cara sakit sehingga harus mengeluarkan biaya berobat, atau lainnya. Begitu pun sebaliknya, memberikan sesuatu pada yang lain tidak akan membuat miskin kalau memang sudah rezeki nanti akan diganti oleh Allaah bahkan dengan berlipat-lipat.

Beberapa saat setelah menolak emak-emak tadi, datang mbak-mbak dari luar kota yang mau berjualan tapi katanya terusir seperti saya tadi. Karena masih ada sedikit space di sebelah saya, meskipun sedikit memotong akses ke bangku taman, dan meskipun mbak tersebut pasang banner yang lumayan menutupi dagangan saya (saya hanya dagangan yang relatif kecil, sedikit, di bawah pula. Tanpa standing banner atau lainnya yang sepantaran tinggi mata manusia sehingga memudahkan produk saya tertangkap pandangan orang saat berjalan), saya bergeser dan mempersilahkan saja mbak-nya untuk jualan berdesakan di samping saya. Ngga tau dapet bisikan darimana, saat itu tiba-tiba saya yakin saja kalau mempermudah urusan orang lain maka urusan kita akan dipermudah Allaah. Dan Maasya Allaah, ga berapa lama pembeli langsung berdatangan dengan sendirinya. Dalam waktu kurang dari satu setengah jam, dagangan saya ludes hanya menyisakan satu pot saja. Saya pulang setengah jam lebih cepat daripada teman-teman lain dengan perasaan takjub luar biasa atas pengalaman ini, sampai saya gemetar dan rasanya mau nangis.

Burung pergi dalam keadaan lapar pulang dalam keadaan kenyang

Note : Ngga sampe situ aja, saya ternyata dapat bonus. Sebelah saya yang merupakan tempat cuci piring, ternyata yang cuci piring tadi adalah Ketua Paguyuban Pedagang di situ. Kebetulan kaki beliau sedang sakit sehingga hanya bantu warung keluarganya cuci piring saja, padahal biasanya beliau muter keliling memantau. Beliau dan istrinya banyak bercerita pada saya bagaimana tata cara berjualan di sana, serta pengalaman mereka sejak pertama kali berjualan ketika awal-awal dulu Car Free Day masih sepi. Hingga akhirnya beliau berdua menyuruh saya minggu depan berjualan lagi di tempat yang sama, alias saya sudah punya tempat yang insya Allaah tidak diusir-usir lagi. Alhamdulillaah yaa Allaah, mau nangis rasanya. Allaah Maha Baik, sungguh.

***

Klodran,

Monday 7 Oktober 2019

03.00 am

***

Special thanks to Pak Roby, mantan atasan si Om yang telah memberikan pertama kali satu batang bibit mint dulu sekali waktu kami masih di Jakarta. Sekarang, mint Bapak udah kemana-mana, ke ibu & mertua, ke saudara, ke teman-teman saya, dan sekarang menjadi jalan jualan saya. Semoga pahalanya mengalir buat Pak Roby juga sebanyak tunas-tunas mint tersebut.

I’ve Seen It All

​
I used to fit my self into my mom’s dresses or shoes when I was kid. I used to make my face up using her lipsticks. I wondered how it feels to be an adult. Coz they looked happy and free.

But then I find out now that growing up is kinda sucks.

I wanted to be an architect. I wanted to be a singer. I wanted to be a doctor. I wanted to be president. Yet, none of them ever come true. I feel that I am nothing, most of the time. I couldn’t even express my self out. Sometimes, I couldn’t understand my self either.

You have been tried. You have been failed. You cried. You laugh. You were sick, then got better again. You have been to places. You fell in love. Your heart broke. You go to school. You made some friends. You worked, earned money. You bought things. You marry. You cooked. You ate various of food, and beverages. You have experienced things.

So now I am asking, “what makes you want to stay alive?

Coz I think I am running out of reasons. All of sudden. State of mind this morning.

Good Bye, Jakarta!

Kamu kapan mulai packing? Barangnya banyak lho sekarang

Dua minggu yang lalu, pertanyaan tersebut selalu diulang-ulang oleh si Om. Dan selalu saya jawab “Nanti dulu. Gampang.”

Bukannya mau menunda pekerjaan atau awang-awangen mau mulai dari mana (padahal biasanya sih gitu), tapi saya ingin everything looks normal selama mungkin.

Tapi, selama dan sekuat apapun saya menghindar, hari itu datang juga.

Saya baca ulang tulisan saya sendiri di postingan sebelum ini, tentang what defines home. Dan ternyata memang benar, ketika kucing sudah dihibahkan dan barang sudah dikemas, rumah ini tak lagi terasa seperti dulu.

There are things we can never change, or deny, or escape. But life goes on. Now here I am, living the very last days in this almost (but not really, yet) empty house.

Sedih sih iya, tapi udah ngga sebanyak awal-awal dapet kabar pindah tiga minggu yang lalu. Sudah berdamai dengan kenyataan, hehe.

Excited? I would like to use the word ‘curious’ instead. Curious of what comes next to my life.Β 

Pasrah, karena memang tak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan kecuali Tuhan. Tapi rencana-Nya pasti terbaik.

But most of all : terharu! Betapa rumah ini sudah menjadi tempat kami bernaung, berbagi suka duka, selama dua setengah tahun terakhir. Rumah dimana saya beli kulkas pertama, kanvas pertama, take recording smule pertama (meskipun sering retake sampai banyak kali karena di sini ramai). Kota yang sudah menjadi “rumah” kami yang pertama, sejak menikah.

Good bye, painting on my bedroom wall.

​***

Jakarta, October 18, 2017

Home

I’ve been thinking this past week

What makes a house home?

It’s not the size, it’s not the model, and not necessarily the location.

It’s the LOVE.

How you treat the building by cleaning and decorating it your own way. How you fill the atmosphere with laughter and conversation. How you connect to surroundings to create a good environtment. Whom you share your daily life in that house with.

No matter where the house is, you can always place that home into it. No matter how much things that would have to be changed, as long as you have faith and love, you can always come home.

​
Jakarta, Oct 10, 2017

Melihat Sejarah dari Perspektif yang Berbeda

REPOST FROM INSTAGRAM STORY.

Baca ini lebih dari setahun yg lalu. Masih inget, that feeling of how I was ‘amazed’ reading this.

Liputan Tempo G30S

​Ya gimana sih, secara anak kelahiran 80-an akhir, tau apa tentang G30S selain apa yg ‘diceritakan‘ di sekolah dan film tahunan yg selalu diputar tiap akhir bulan ke sembilan dulu itu?

Ternyata, sejarah itu subjektif. Contoh film Titanic atau Pearl Harbour, si pembuat film menceritakan dari sudut pandang orang tertentu. Bahkan pada film Titanic, sudut pandang yang diangkat notabene bukan dari tokoh penting dalam peristiwa tenggelamnya kapal. Dan film itu populer, sehingga ‘kids jaman now‘ kalau bahas Titanic atau Pearl Harbour mungkin yang kebayang ya filmnya.

Dan ternyata, sejarah itu kompleks. Ngga cuman peran antagonis dan protagonis seperti dalam film, trus udah, titik. Tapi ternyata di balik suatu peristiwa sejarah, banyak pihak yang terkait, dan banyak motif yang melatarbelakangi. Bahkan teori konspirasi Flat Earth pun pernah dikait-kaitkan dengan peristiwa G30S ini. Bener kalau ada yang bilang, melihat peristiwa G30S ini harus pakai norma dan nilai di masa itu pula, ngga bisa dilihat dari kacamata saat ini.

Orang bilang, kalau mau ‘mengoreksi‘ sejarah, menulislah! Ceritakan fakta lain dari satu peristiwa. Karena kejadian cuma ‘sekilas‘ dan sekali, tapi tulisan akan terus hidup, tersebar, dibaca, dipahami, dan diwariskan.

NB : di majalah ini, dibahas G30S dari sisi lain, yaitu kejadian pasca kudeta (yg mungkin hampir ngga banyak orang–terutama ‘kids jaman now‘–tau)

Melihat kembali sejarah dari perspektif berbeda.

But after all, masa lalu pasti selalu ada hikmahnya. Jangan melupakan sejarah. Peristiwa seperti ini cukup di masa lalu saja, sebuah pelajaran yang berharga sebagai bagian dari ‘pendewasaan‘ bangsa. Jangan sampai terulang lagi.

*dalam rangka memperingati G30S*

Sedikit late post karena saya tepar weekend kemarin.

Program Hamil dari Sisi Psikologis..

Tadinya mau saya kasih judul “Konsultasi Psikolog sebagai Salah Satu Media Alternatif Program Hamil” tapi setelah saya pertimbangkan, selain panjang banget juga lebih mirip judul skripsi.. Hehe..

Salah satu dari banyak alasan saya diseret teman saya untuk ikut tes MMPI kemarin adalah sebagai bagian dari program hamil.. Sudah banyak sekali saya baca berseliweran di dunia maya, cerita mengenai program hamil, beberapa di antaranya sudah sekian tahun menanti dan akhirnya memutuskan untuk IVF, eeeh tau-tau hamil sendiri secara alami sebelum IVF dilaksanakan..

Novsabatini

Novsabatini

Kuncinya apa?

Satu hal yang hampir selalu saya temui dalam cerita tersebut adalah kepasrahan.. Yes, pasrah sepasrah-pasrahnya sama The One And Only Sang Pemberi Bayi..

Pasrah dan ikhlas, nulisnya gampang banget, cuma enam huruf aja.. Tapi gimana caranya mencapai titik kepasrahan dan keikhlasan yang hakiki, itu sebuah pertanyaan yang sulit dijawab.. Bagaikan bertanya Om, kelinci gimana bunyinya?

Kenapa?

Karena ngga ada tips & trik layaknya kisi-kisi Ujian Nasional.. Belajar pasrah dan ikhlas, sekolahnya seumur hidup.. Kembali lagi ke masing-masing orang, karena pasrah dan ikhlas datangnya dari hati..

Dan sampai umur saya yang sekian puluh tahun ini (terdengar tua sekali, ya?) saya belum benar-benar paham pasrah dan ikhlas.. Sekedar memahami di kepala, turun ke bibir, lalu ke jempol.. Belum datang dari hati..

Buktinya, tiap kali saya meyakinkan diri saya untuk pasrah dan ikhlas pada jalan yang ditetapkan Tuhan, tak pernah berlangsung lama.. Saya belum istiqomah, belum konsisten, belum tebel imannya.. Saya masih berusaha memahami, mencari jawaban, merencanakan apa yang sebenarnya di luar kuasa saya sebagai manusia biasa..

We Are What We Think

Sering dengar ungkapan ini? Yup! Apa yang kita prasangkakan, akan benar-benar terjadi! Kekuatan pikiran.. Kalau kita berpikiran positif, aku sehat, aku bahagia, aku cantik, itu yang akan terjadi atau minimal terpancar dari diri kita..

So that simple, berpikiran positif! Kalau dipikir-pikir, apa susahnya? Tapi seringkali sungguh sebuah tantangan bagi saya, karena saya terdidik untuk worst case situation, preparation for victory! Haha.. Sehingga saya hampir selalu berpikiran negatif dalam hal apa pun, agar saya bisa mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan untuk situasi yang paling buruk.. Well, meskipun kenyataannya ketika yang buruk itu sungguh terjadi pun saya tidak akan pernah siap..

Belakangan saya baru tau, kalau ini namanya CEMAS, alias anxiety, atau istilah medisnya Obsessive Compulsive Disorder.. Dan diam-diam saya punya ini sudah lama..

novsabatini

novsabatini

Pikiran Mempengaruhi Kesehatan

Tentu pernah dengar pula pernyataan ini, kan? Kalau suatu penyakit dirunut apa penyebabnya, mungkin dokter akan bilang ketularan virus, kena bakteri, dll.. Obatnya jelas, obat untuk membunuh virus atau bakteri.. Kita pun gampang membayangkannya..

Nah kalau penyebabnya karena pikiran? Kok rasanya membayangkannya seperti di awang-awang.. Agak gamang.. Gimana caranya pikiran bisa bikin seseorang sesak nafas, sakit jantung, kena maag, dll? Lalu gimana cara membunuh sumber penyakitnya, ini lebih gamang lagi..

Tapi ternyata memang beneran bisa!

Dalam tes MMPI saya menemukan pertanyaan seputar penyakit di semua bagian tubuh.. Mulai dari saya mengalami sembelit seminggu sekali, dada saya sering tiba-tiba berdebar-debar, telapak tangan saya mudah berkeringat, ulu hati saya sering sakit kira-kira seminggu dua kali, saya sering sakit kepala, kaki saya sering kesemutan, dan apa lagi saya lupa..

Tiap gangguan psikologis bisa menyebabkan penyakit tertentu pada tubuh.. Termasuk produksi hormon yang menjadi terganggu.. Hubungannya dengan program hamil itu tadi..

Secara psikologis sendiri, awalnya dulu saya menyiap-nyiapkan diri jika inseminasi tidak berhasil.. Lama-lama saya menjadi menjadi tidak yakin pada diri saya sendiri.. Lama-lama saya menyalahkan diri saya sendiri.. Lama-lama saya merasa useless.. Saya selalu tegang jika masuk masa subur, mulai ribet ukur suhu tubuh, bunderin kalender, dkk.. Kemudian mulai cemas menjelang haid.. Kalau dikilas balik, rasanya sebulan hidup saya ngga tenang, dan siklus ketidaktenangan itu berulang lagi bulan berikutnya seiring dengan siklus baru program hamil..

Pernah saya datang ke seorang bidan di rumah Simbah di Tuban, beliau lumayan kondang.. Antreannya banyak, dan konon katanya sudah banyak yang terbantu..

Pulang dari bidan tersebut, segera Simbah bertanya dengan antusias dan penuh harap “Gimana? Dikasih obat apa?

Jawabannya “ngga ada“, saya cuma dikasih dua saran : istri jangan tegang, suami jangan kecapekan.. Udah itu doank! Wow banget ya..

Gimana bisa hamil, kamu aja tegang begini.. Apalagi kalau suamimu kecapekan.. (kata bu bidan yang di Tuban)

Kamu aja kayak gini (bipolar, red), kalau sekarang udah ada anak mau jadi apa anakmu? (Kata psikiater)

Pokoknya kamu tiap weekend jalan-jalan aja, ke Puncak atau apa kek.. Nginep.. Seneng-seneng, nanti juga bakal jadi sendiri.. (kata dokter di Solo)

Kesimpulannya, mungkin sisi psikologis bisa dicoba sebagai alternatif program hamil.. Pendekatan melalui hipnotherapy, melalui melepaskan beban pikiran dengan bicara hati ke hati dan mendengar nasihat dari ahli, melalui mengenal diri sendiri, bahkan kalau perlu bisa bawa pasangannya agar sama-sama bisa dapat pencerahan seperti apa pasangan kita dan harus bagaimana menyikapinya..

Jual Gelang Kopi Bracelet Asli

Jual Gelang Kopi Bracelet Asli

Kesimpulan kedua, perjalanan pasrah dan ikhlas ngga singkat, harus dilalui dengan sabar.. Karena hubungannya lebih ke arah vertikal, maka kembali lagi pada seberapa iman kita pada Tuhan.. Harus lebih banyak mempelajari agama, lebih banyak berdoa.. Konsultasi psikologis hanya salah satu sarana penunjang untuk mengingatkan dan diharapkan mampu mempermudah masuknya ilmu ikhlas tadi..

Kadang, sesuatu bakal lari menjauh semakin kita kejar.. Tapi ketika kita sudah ikhlas melepasnya pergi dan berhenti berlari, sesuatu tersebut tiba-tiba datang dengan sendirinya..

NB: Baru-baru ini sedang viral kasus penganiayaan anak berinisial J, ternyata ibunya penderita bipolar juga..

NB: saya ingat pernah membaca dan membagikan salah satu kisah orang di media sosial mengenai betapa luar biasa tubuh kita dalam menyembuhkan diri sendiri dengan kekuatan pikiran.. Semoga link-nya bisa diakses ya, agak panjang tapi bacanya sambil takjub.. Klik di sini..

Tertawalah, karena tertawa itu sehat.. Tertawa yang lepas, yang seolah tanpa beban..

***

Maaf agak berantakan & ngga fokus, tulisannya dibuat di dua periode jadi feel-nya beda..

Jakarta, 2017

Pengingat untuk diri sendiri ketika nanti mulai luntur kadar kepasrahannya yang memang belum seberapa ini..

***

Yuk baca artikel lainnya juga :

1. Pengalaman Inseminasi di Jakarta

2. Pengobatan Alternatif Haji Sugeng Cilodong

3. Tak Ku Sangka, Aku Bipolar

Siapa Aku?

Apakah Anda mengenal diri Anda sendiri?

Pertanyaan itu sering sekali terlintas di pikiran saya. Badan yang sejak lahir ceprot sudah nempel jadi satu dan menjadi bagian dari diri kita (yaiyalah), ternyata kadang bahkan kita butuh bantuan orang lain untuk sekedar menggaruk punggung yang gatal.

Itu baru dari segi fisik, pun bagian luar. Dulu sering terngiang dalam benak saya setiap kali saya mengunjungi SpOG, bahkan saya tidak benar-benar tau daerah yang paling privasi dari diri saya. Iya, mata ngga bisa ngelihat ke sana. Butuh seorang SpOG untuk menjelaskan seperti apa detailnya dan bagaimana harus merawatnya dengan cara yang tepat. Ironis ya?

Lalu, sekali lagi, Anda yakin sudah mengenal diri Anda?

Saya sering sekali mengalami kesulitan bahkan semenjak kecil, untuk menentukan apa mau saya. Bahkan di kolom cita-cita, isian saya tak selalu sama. Sebut saja, penyanyi, dokter, guru, pilot, presiden, arsitek, polisi, artis, dan sederet profesi lainnya pernah menghiasi kolom tersebut.

Iya, itu terjadi saat saya masih kecil. Namun hingga saatnya memutuskan harus masuk jurusan apa, pun saya ngga bisa memutuskan. Pada akhirnya saya berada di jurusan yang memang mempelajari hampir semua keilmuan untuk melihat dan me-manage segala sesuatunya sebagai satu struktur yang holistik. *kamu ngomong apaan sih nop?*

Pernahkah Anda berpikir ada yang salah dengan diri Anda?

Saya ngga pernah menyangka kalau saya bakal divonis Bipolar oleh psikiater. Hahaha..

Iya, saya ngga menyadari ada yang salah dengan diri saya. Saya merasa baik-baik saja meskipun saya seringkali membuat suatu manuver yang mengejutkan secara tiba-tiba (?)

Ikut Tes MMPI 1

Berawal dari curhat, saya memang punya satu teman spesial yang saya merasa ngga takut untuk cerita apa pun. She never judges, she listens, and she reads me like a book! Dia hafal bagaimana saya. Bagaimana tidak, kami sudah berteman dekat sejak kelas 1 SMP!

Kebetulan teman saya tersebut baru saja mengambil tes MMPI untuk keperluan mendaftar dosen, meskipun pada akhirnya tidak lolos administrasi karena dari luar pulau (sakiiiit, sabar yah). Dari situ, mungkin dia merasa seperti yang saya deskripsikan di atas, bahwa dia baru berkenalan sungguh-sungguh dengan dirinya sendiri. And maybe she was amazed. Hasilnya alhamdulillah dia normal.

Sewaktu mendengar cerita saya, mungkin dia merasa saya semakin aneh (sebelumnya sih sudah cukup aneh), dan di pertemuan kami selanjutnya tanpa ba-bi-bu dia langsung menyeret mengajak saya ke psikiater! Padahal saya sudah menolak sekuat tenaga karena saya tidak merasa gila. Hahaha..

Tes berlangsung singkat, 90 menit saja. Hasilnya bisa ditunggu, dan langsung konsultasi dengan psikiater. Tes berisi sebuah pernyataan yang harus dijawab YA/TIDAK oleh peserta. Simpel banget.

Hasilnya saya bipolar, cenderung depresif, mulai mengarah ke suicidal, tapi manipulatif tinggi, nihilistik, serta OCD (cemas). Dan sederet istilah-istilah lain yang saya tidak paham, dan sekarang lupa. Kebetulan hasil tes dibawa oleh psikiater saya, karena saya bilang ikut tes tujuannya bukan untuk kepentingan mendaftar sesuatu.

novsabatini

novsabatini

Mulai Mempelajari Diri

Bipolar adalah gangguan suasana hati, sebenarnya gangguan ini sering terjadi pada semua orang, hanya saja pola, keparahan, dan frekuensi saja yang membedakan. Saya kutip dari id.wikipedia.org ada empat jenis episode suasana hati pada penderita gangguan bipolar, yakni mania, hipomania, depresi, dan episode campuran. Namun secara garis besar terbagi menjadi dua kutub yang berlawanan, yaitu mania dan depresi.

Gejala-gejala tahap mania :

β€’ Gembira berlebihan

β€’ Mudah tersinggung sehingga mudah marah

β€’ Merasa dirinya sangat penting

β€’ Merasa kaya atau memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain

β€’ Penuh ide dan semangat baru

β€’ Cepat berpindah dari satu ide ke ide lainnya

β€’ Mendengar suara yang orang lain tak dapat mendengarnya

β€’ Nafsu seksual meningkat

β€’ Menyusun rencana yang tidak masuk akal

β€’ Sangat aktif dan bergerak sangat cepat

β€’ Berbicara sangat cepat sehingga sukar dimengerti apa yang dibicarakan

β€’ Menghambur-hamburkan uang

β€’ Membuat keputusan aneh dan tiba-tiba, namun cenderung membahayakan

β€’ Merasa sangat mengenal orang lain

β€’ Mudah melempar kritik terhadap orang lain

β€’ Sukar menahan diri dalam perilaku sehari-hari

β€’ Sulit tidur

β€’ Merasa sangat bersemangat, seakan-akan satu hari tidak cukup 24 jam

Tahap hipomania mirip dengan mania, perbedaannya adalah penderita yang berada pada tahap ini merasa lebih tenang seakan-akan telah kembali normal.

Gejala-gejala tahap depresi :

β€’ Suasana hati yang murung dan perasaan sedih yang berkepanjangan

β€’ Sering menangis atau ingin menangis tanpa alasan yang jelas

β€’ Kehilangan minat untuk melakukan sesuatu

β€’ Tidak mampu merasakan kegembiraan

β€’ Mudah letih, tak bergairah, tak bertenaga

β€’ Sulit konsentrasi

β€’ Merasa tak berguna dan putus asa

β€’ Merasa bersalah dan berdosa

β€’ Rendah diri dan kurang percaya diri

β€’ Beranggapan masa depan suram dan pesimistis

β€’ Berpikir untuk bunuh diri

β€’ Hilang nafsu makan atau makan berlebihan

β€’ Penurunan berat badan atau penambahan berat badan

β€’ Sulit tidur, bangun tidur lebih awal, atau tidur berlebihan

β€’ Mual sehingga sulit berbicara karena menahan rasa mual, mulut kering, susah buang air besar, dan terkadang diare

β€’ Kehilangan gairah seksual

β€’ Menghindari komunikasi dengan orang lain

Hampir semua penderita gangguan bipolar mempunyai pikiran tentang bunuh diri, dan 30% di antaranya berusaha untuk merealisasikan niat tersebut dengan berbagai cara.

Tahap campuran adalah kondisi saat mania dan depresi terjadi bersamaan. Tanda-tanda episode campuran mirip gejala depresi plus bonusnya disertai kegelisahan, insomnia, distractibility, dkk.

Beware, Mood Swing!

Penderita bipolar bisa merasa bersemangat menggebu-gebu dalam satu waktu. Akan tetapi, beberapa jam kemudian, penderita berubah menjadi merasa kelelahan, putus asa, dan berpikiran negatif terhadap lingkungan sekitarnya.

Hal itu terjadi bergantian dan berulang-ulang dalam waktu yang relatif cepat. Kombinasi energi tinggi dan rendah membuat suasana hati penderita kelelahan, putus asa, delusi dan halusinasi, sehingga berisiko tinggi untuk bunuh diri. Oleh karena itu, tahap campuran bisa menjadi episode yang paling membahayakan penderita gangguan bipolar.

Novsabatini

Novsabatini

Sebab Bipolar

Sebabnya bisa bermacam-macam, kita tidak bisa menunjuk pada satu hal dengan pasti. Jika ada satu peristiwa yang menjadi pertanda, bisa jadi peristiwa itu merupakan salah satu gejala atau hanya pemicu saja. Penyebab bipolar harus dirunut dari karakter seseorang, pola asuh orang tua, pengalaman masa kecil, kondisi saat ini, dan berbagai hal lainnya.

Penanganan Bipolar

Saya diresepkan obat anti depresan oleh psikiater, namun ini sifatnya hanya untuk membantu. Jangan salah ya, jangan bergantung pada obat! Karena ini adalah sakit jiwa maka untuk sembuh juga harus dari jiwa itu sendiri.

Dengan mengenal siapa diri saya, saya menjadi sedikit tertolong. Saya harus belajar menerima bahwa hidup itu ngga indah, atau minimal ngga seindah yang dibayangkan. Saya harus belajar memaafkan dan tidak terus-menerus menyalahkan diri saya sendiri. Saya harus belajar mensugesti diri saya sendiri dengan pemikiran-pemikiran positif untuk menghalau kecemasan. Saya harus bisa menerima bahwa ada hal-hal yang memang di luar kuasa saya.

Seperti misal tiba-tiba mood menjadi super malas (seperti dua bulan belakangan ini) biasanya saya cari sebabnya kenapa (dan ngga ketemu) lalu saya merasa tak berguna, dan selanjutnya depresi. Kali ini saya biarkan saja saya menjadi malas, mungkin saya butuh suasana itu (dan akhirnya berkelanjutan sampai dua bulan hihihi). Sehari-hari kerjaan saya hanya ingin tidur, main sama kucing, dan baca drama ojek online sambil ketawa sendiri. Selain masak dan tugas rumah tangga lainnya tentunya. Hampir ngga pernah nonton TV (sebenernya sayang karena lagi gratisan langganan paket movie, hiks), ngga jahit, ngga ngelukis, ngga bertanam (sampai tanaman saya mati semua hihi maaf yah), ngga pernah nyanyi di Smule, jarang banget posting social media (kecuali IG). Saya hilang, bahkan dari grup-grup chatting. Hanya aktif di grup keluarga saja. Tapi it’s okay, I’m happy. I tried not to blame my self for being lazy. Sekali-sekali ngga papa, toh nanti kalau mood sudah oke lagi bakal rajin sendiri.

Saya butuh untuk mencoba bertahan di suatu mood agak lama, agar tidak merasa capek hatinya (karena suasana hati berubah-ubah terus). Meskipun kadang, peristiwa tertentu masih bisa membuat mood tenang saya rusak seketika. Hehe, proses kan.

Paling penting adalah dukungan dari keluarga. Saya ceritakan pada keluarga inti saya, bagaimana hasil tes, apa kata psikiater, apa yang saya pikirkan dan rasakan. Sehingga mereka bisa bantu saya, meskipun pada kenyataannya selama ini yang membuat diri saya depresi adalah pemikiran saya sendiri. Keluarga mah adem ayem. Namun semenjak tau kondisi saya, saya jadi sedikit lega untuk mengungkapkan apa yang saya pikirkan tanpa takut mereka bakal gimanagimana.

Yang paling utama, seperti yang selama ini si Om selalu bilang, banyak berdoa. Banyak istighfar. Banyak mendekatkan diri pada Tuhan. Biar hati tenang, biar dikuatkan ketika cobaan datang. Biar dikasih jalan untuk tiap masalah. Klasik memang, tapi selama ini saya seperti mencari jawaban atas kejadian-kejadian dalam hidup secara logis. Saya seringkali lupa bahwa banyak hal yang memang tak ada jawaban pastinya, banyak hal merupakan misteri dari Tuhan. Mencari jawaban yang ngga ada itu membuat saya capek dan gila. Mencari kepastian untuk masa depan (yang ngga akan pernah pasti) membuat saya cemas dan frustasi.

Jual Gelang Kopi Bracelet Asli

Jual Gelang Kopi Bracelet Asli

Semua Ada alasannya

Sedikit cerita mengenai tes MMPI, saya menemukan satu soal yang lucu : saya sering menghitung benda-benda yang tidak perlu, seperti tiang-tiang listrik di jalan.

Hellooo, kok bisa ada soal seperti itu sih? Dari mana coba, mereka tau kalo saya suka ngitung (dalam kasus saya adalah) marka jalan saat berkendara?! Hahahaha.. Iya, ini kebiasaan yang aneh dan saya sudah mengalami sejak kecil, sejak masih dibonceng Bapak di depan pakai Suzuki Family dulu. Kadang tiang listrik, kadang pepohonan, kadang marka jalan, pokoknya yang super ngga penting deh! Saya kira ini wajar, tapi kalau dicari sebabnya ya saya ngga bisa jawab kenapa saya suka menghitung marka jalan. Lucu ya? Ternyata ini gejala kecemasan (Obsessive Compulsive Disorder).

Setelah digali habis-habisan oleh psikiater saya, saya baru sadar mengapa selama ini saya sering sekali mendapat mimpi dengan latar tempat, kejadian, atau orang-orang di masa Sekolah Dasar saya. Saya baru paham, kenapa dulu waktu mengisi buku biodata jaman sekolah, di kolom kriteria cowok idaman, saya menuliskan dua versi yang sangat bertolak belakang, satu ciri badboys, satu lagi ciri suami soleh (alhamdulillah akhirnya dapat yang ini). Saya baru nyadar, kenapa waktu cari kerja dulu sering banget bahkan hampir selalu gagal di wawancara psikologi (karena kalau tulis menulis, manipulatif saya tinggi, saya pintar bermain kata dan menyembunyikan perasaan saya). Saya baru paham, kenapa di satu waktu saya menjadi super religius, dan di waktu yang lain saya menjadi super nakal.

Dulu saya bingung pada diri saya, sangat sulit rasanya untuk mengambil keputusan dalam banyak hal. Dan saya ngga tau kenapa bisa seperti itu, apalagi bagaimana harus menyikapinya. Dulu saya bertindak berdasarkan perasaan saja (karena memang kata psikiater saya orang yang hidup di dunia perasaan), sehingga jika kenyataannya lain, ada gap yang tinggi yang bikin saya frustasi. Sekarang, beberapa hal pada diri saya yang dulu ngga terjawab, sudah terang-benderang. Semoga di masa depan nanti saya bisa lebih bijak dalam bersikap dan mengambil keputusan. Semoga kesalahan-kesalahan di masa lalu tidak akan terulang.

*
Sebuah catatan untuk diri sendiri

Stasiun Gambir, 19 Juli 2017

Argo Dwipangga, Jakarta-Solo 10.00 WIB