Good Bye, Jakarta!

Kamu kapan mulai packing? Barangnya banyak lho sekarang

Dua minggu yang lalu, pertanyaan tersebut selalu diulang-ulang oleh si Om. Dan selalu saya jawab “Nanti dulu. Gampang.”

Bukannya mau menunda pekerjaan atau awang-awangen mau mulai dari mana (padahal biasanya sih gitu), tapi saya ingin everything looks normal selama mungkin.

Tapi, selama dan sekuat apapun saya menghindar, hari itu datang juga.

Saya baca ulang tulisan saya sendiri di postingan sebelum ini, tentang what defines home. Dan ternyata memang benar, ketika kucing sudah dihibahkan dan barang sudah dikemas, rumah ini tak lagi terasa seperti dulu.

There are things we can never change, or deny, or escape. But life goes on. Now here I am, living the very last days in this almost (but not really, yet) empty house.

Sedih sih iya, tapi udah ngga sebanyak awal-awal dapet kabar pindah tiga minggu yang lalu. Sudah berdamai dengan kenyataan, hehe

Excited? I would like to use the word ‘curious’ instead. Curious of what comes next to my life. 

Pasrah, karena memang tak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan kecuali Tuhan. Tapi rencana-Nya pasti terbaik. 

But most of all : terharu! Betapa rumah ini sudah menjadi tempat kami bernaung, berbagi suka duka, selama dua setengah tahun terakhir. Rumah dimana saya beli kulkas pertama, kanvas pertama, take recording smule pertama (meskipun sering retake sampai banyak kali karena di sini ramai). Kota yang sudah menjadi “rumah” kami yang pertama, sejak menikah.

Good bye, painting on my bedroom wall.

​***

Jakarta, October 18, 2017

Advertisements

Home

I’ve been thinking this past week

What makes a house home?

It’s not the size, it’s not the model, and not necessarily the location.

It’s the LOVE.

How you treat the building by clean and decorate it your own way. How you fill the atmosphere with laughter and conversation. How you connect to surroundings to create a good environtment. Whom you share your daily life in that house with.

No matter where the house is, you can always place that home into it. No matter how much things that would have to be changed, as long as you have faith and love, you can always come home.


Jakarta, Oct 10, 2017

Melihat Sejarah dari Perspektif yang Berbeda

REPOST FROM INSTAGRAM STORY.

Baca ini lebih dari setahun yg lalu. Masih inget, that feeling of how I was ‘amazed’ reading this.

Liputan Tempo G30S

​Ya gimana sih, secara anak kelahiran 80-an akhir, tau apa tentang G30S selain apa yg ‘diceritakan‘ di sekolah dan film tahunan yg selalu diputar tiap akhir bulan ke sembilan dulu itu?

Ternyata, sejarah itu subjektif. Contoh film Titanic atau Pearl Harbour, si pembuat film menceritakan dari sudut pandang orang tertentu. Bahkan pada film Titanic, sudut pandang yang diangkat notabene bukan dari tokoh penting dalam peristiwa tenggelamnya kapal. Dan film itu populer, sehingga ‘kids jaman now‘ kalau bahas Titanic atau Pearl Harbour mungkin yang kebayang ya filmnya.

Dan ternyata, sejarah itu kompleks. Ngga cuman peran antagonis dan protagonis seperti dalam film, trus udah, titik. Tapi ternyata di balik suatu peristiwa sejarah, banyak pihak yang terkait, dan banyak motif yang melatarbelakangi. Bahkan teori konspirasi Flat Earth pun pernah dikait-kaitkan dengan peristiwa G30S ini. Bener kalau ada yang bilang, melihat peristiwa G30S ini harus pakai norma dan nilai di masa itu pula, ngga bisa dilihat dari kacamata saat ini.

Orang bilang, kalau mau ‘mengoreksi‘ sejarah, menulislah! Ceritakan fakta lain dari satu peristiwa. Karena kejadian cuma ‘sekilas‘ dan sekali, tapi tulisan akan terus hidup, tersebar, dibaca, dipahami, dan diwariskan.

NB : di majalah ini, dibahas G30S dari sisi lain, yaitu kejadian pasca kudeta (yg mungkin hampir ngga banyak orang–terutama ‘kids jaman now‘–tau)

Melihat kembali sejarah dari perspektif berbeda.

But after all, masa lalu pasti selalu ada hikmahnya. Jangan melupakan sejarah. Peristiwa seperti ini cukup di masa lalu saja, sebuah pelajaran yang berharga sebagai bagian dari ‘pendewasaan‘ bangsa. Jangan sampai terulang lagi.

*dalam rangka memperingati G30S*

Sedikit late post karena saya tepar weekend kemarin.

Program Hamil dari Sisi Psikologis..

Tadinya mau saya kasih judul “Konsultasi Psikologis sebagai Salah Satu Media Alternatif Program Hamil” tapi setelah saya pertimbangkan, selain panjang banget juga lebih mirip judul skripsi.. Hehe..

Salah satu dari banyak alasan saya diseret teman saya untuk ikut tes MMPI kemarin adalah sebagai bagian dari program hamil.. Sudah banyak sekali saya baca berseliweran di dunia maya, cerita mengenai program hamil, beberapa di antaranya sudah sekian tahun menanti dan akhirnya memutuskan untuk IVF, eeeh tau-tau hamil sendiri secara alami sebelum IVF dilaksanakan..

Kuncinya apa?

Satu hal yang hampir selalu saya temui dalam cerita tersebut adalah kepasrahan.. Yes, pasrah sepasrah-pasrahnya sama The One And Only Sang Pemberi Bayi..

Pasrah dan ikhlas, nulisnya gampang banget, cuma enam huruf aja.. Tapi gimana caranya mencapai titik kepasrahan dan keikhlasan yang hakiki, itu sebuah pertanyaan yang sulit dijawab.. Bagaikan bertanya Om, kelinci gimana bunyinya?

Kenapa?

Karena ngga ada tips & trik layaknya kisi-kisi Ujian Nasional.. Belajar pasrah dan ikhlas, sekolahnya seumur hidup.. Kembali lagi ke masing-masing orang, karena pasrah dan ikhlas datangnya dari hati..

Dan sampai umur saya yang sekian puluh tahun ini (terdengar tua sekali, ya?) saya belum benar-benar paham pasrah dan ikhlas.. Sekedar memahami di kepala, turun ke bibir, lalu ke jempol.. Belum datang dari hati..

Buktinya, tiap kali saya meyakinkan diri saya untuk pasrah dan ikhlas pada jalan yang ditetapkan Tuhan, tak pernah berlangsung lama.. Saya belum istiqomah, belum konsisten, belum tebel imannya.. Saya masih berusaha memahami, mencari jawaban, merencanakan apa yang sebenarnya di luar kuasa saya sebagai manusia biasa..

We Are What We Think

Sering dengar ungkapan ini? Yup! Apa yang kita prasangkakan, akan benar-benar terjadi! Kekuatan pikiran.. Kalau kita berpikiran positif, aku sehat, aku bahagia, aku cantik, itu yang akan terjadi atau minimal terpancar dari diri kita..

So that simple, berpikiran positif! Kalau dipikir-pikir, apa susahnya? Tapi seringkali sungguh sebuah tantangan bagi saya, karena saya terdidik untuk worst case situation, preparation for victory! Haha.. Sehingga saya hampir selalu berpikiran negatif dalam hal apa pun, agar saya bisa mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan untuk situasi yang paling buruk.. Well, meskipun kenyataannya ketika yang buruk itu sungguh terjadi pun saya tidak akan pernah siap..

Belakangan saya baru tau, kalau ini namanya CEMAS, alias anxiety, atau istilah medisnya Obsessive Compulsive Disorder.. Dan diam-diam saya punya ini sudah lama..

Pikiran Mempengaruhi Kesehatan

Tentu pernah dengar pula pernyataan ini, kan? Kalau suatu penyakit dirunut apa penyebabnya, mungkin dokter akan bilang ketularan virus, kena bakteri, dll.. Obatnya jelas, obat untuk membunuh virus atau bakteri.. Kita pun gampang membayangkannya..

Nah kalau penyebabnya karena pikiran? Kok rasanya membayangkannya seperti di awang-awang.. Agak gamang.. Gimana caranya pikiran bisa bikin seseorang sesak nafas, sakit jantung, kena maag, dll? Lalu gimana cara membunuh sumber penyakitnya, ini lebih gamang lagi..

Tapi ternyata memang beneran bisa!

Dalam tes MMPI saya menemukan pertanyaan seputar penyakit di semua bagian tubuh.. Mulai dari saya mengalami sembelit seminggu sekali, dada saya sering tiba-tiba berdebar-debar, telapak tangan saya mudah berkeringat, ulu hati saya sering sakit kira-kira seminggu dua kali, saya sering sakit kepala, kaki saya sering kesemutan, dan apa lagi saya lupa..

Tiap gangguan psikologis bisa menyebabkan penyakit tertentu pada tubuh.. Termasuk produksi hormon yang menjadi terganggu.. Hubungannya dengan program hamil itu tadi..

Secara psikologis sendiri, awalnya dulu saya menyiap-nyiapkan diri jika inseminasi tidak berhasil.. Lama-lama saya menjadi menjadi tidak yakin pada diri saya sendiri.. Lama-lama saya menyalahkan diri saya sendiri..  Lama-lama saya merasa useless.. Saya selalu tegang jika masuk masa subur, mulai ribet ukur suhu tubuh, bunderin kalender, dkk.. Kemudian mulai cemas menjelang haid.. Kalau dikilas balik, rasanya sebulan hidup saya ngga tenang, dan siklus ketidaktenangan itu berulang lagi bulan berikutnya seiring dengan siklus baru program hamil..

Pernah saya datang ke seorang bidan di rumah Simbah di Tuban, beliau lumayan kondang.. Antreannya banyak, dan konon katanya sudah banyak yang terbantu..

Pulang dari bidan tersebut, segera Simbah bertanya dengan antusias dan penuh harap “Gimana? Dikasih obat apa?

Jawabannya “ngga ada“, saya cuma dikasih dua saran : istri jangan tegang, suami jangan kecapekan.. Udah itu doank! Wow banget ya..

Gimana bisa hamil, kamu aja tegang begini.. Apalagi kalau suamimu kecapekan.. (kata bu bidan yang di Tuban)

Kamu aja kayak gini (bipolar, red), kalau sekarang udah ada anak mau jadi apa anakmu? (Kata psikiater)

Pokoknya kamu tiap weekend jalan-jalan aja, ke Puncak atau apa kek.. Nginep.. Seneng-seneng, nanti juga bakal jadi sendiri.. (kata dokter di Solo)

Kesimpulannya, mungkin sisi psikologis bisa dicoba sebagai alternatif program hamil.. Pendekatan melalui hipnotherapy, melalui melepaskan beban pikiran dengan bicara hati ke hati dan mendengar nasihat dari ahli, melalui mengenal diri sendiri, bahkan kalau perlu bisa bawa pasangannya agar sama-sama bisa dapat pencerahan seperti apa pasangan kita dan harus bagaimana menyikapinya..

Kesimpulan kedua, perjalanan pasrah dan ikhlas ngga singkat, harus dilalui dengan sabar.. Karena hubungannya lebih ke arah vertikal, maka kembali lagi pada seberapa iman kita pada Tuhan.. Harus lebih banyak mempelajari agama, lebih banyak berdoa.. Konsultasi psikologis hanya salah satu sarana penunjang untuk mengingatkan dan diharapkan mampu mempermudah masuknya ilmu ikhlas tadi..

Kadang, sesuatu bakal lari menjauh semakin kita kejar.. Tapi ketika kita sudah ikhlas melepasnya pergi dan berhenti berlari, sesuatu tersebut tiba-tiba datang dengan sendirinya..

NB: Baru-baru ini sedang viral kasus penganiayaan anak berinisial J, ternyata ibunya penderita bipolar juga..

NB: saya ingat pernah membaca dan membagikan salah satu kisah orang di media sosial mengenai betapa luar biasa tubuh kita dalam menyembuhkan diri sendiri dengan kekuatan pikiran.. Semoga link-nya bisa diakses ya, agak panjang tapi bacanya sambil takjub.. Klik di sini..


Tertawalah, karena tertawa itu sehat.. Tertawa yang lepas, yang seolah tanpa beban..

***

Maaf agak berantakan & ngga fokus, tulisannya dibuat di dua periode jadi feel-nya beda..

Jakarta, 2017

Pengingat untuk diri sendiri ketika nanti mulai luntur kadar kepasrahannya yang memang belum seberapa ini..

***

Yuk baca artikel lainnya juga :

1. Pengalaman Inseminasi di Jakarta

2. Pengobatan Alternatif Haji Sugeng Cilodong

3. Tak Ku Sangka, Aku Bipolar

Siapa Aku?

Apakah Anda mengenal diri Anda sendiri?

Pertanyaan itu sering sekali terlintas di pikiran saya.. Badan yang sejak lahir ceprot sudah nempel jadi satu dan menjadi bagian dari diri kita (yaiyalah), ternyata kadang bahkan kita butuh bantuan orang lain untuk sekedar menggaruk punggung yang gatal..

Itu baru dari segi fisik, pun bagian luar.. Dulu sering terngiang dalam benak saya setiap kali saya mengunjungi SpOG, bahkan saya tidak benar-benar tau daerah yang paling privasi dari diri saya.. Iya, mata ngga bisa ngelihat ke sana.. Butuh seorang SpOG untuk menjelaskan seperti apa detailnya dan bagaimana harus merawatnya dengan cara yang tepat.. Ironis ya?

Lalu, sekali lagi, Anda yakin sudah mengenal diri Anda?

Saya sering sekali mengalami kesulitan bahkan semenjak kecil, untuk menentukan apa mau saya.. Bahkan di kolom cita-cita, isian saya tak selalu sama.. Sebut saja, penyanyi, dokter, guru, pilot, presiden, arsitek, polisi, artis, dan sederet profesi lainnya pernah menghiasi kolom tersebut..

Iya, itu terjadi saat saya masih kecil.. Namun hingga saatnya memutuskan harus masuk jurusan apa, pun saya ngga bisa memutuskan..  Pada akhirnya saya berada di jurusan yang memang mempelajari hampir semua keilmuan untuk melihat dan me-manage segala sesuatunya sebagai satu struktur yang holistik.. *kamu ngomong apaan sih nop?*

Pernahkah Anda berpikir ada yang salah dengan diri Anda?

Saya ngga pernah menyangka kalau saya bakal divonis Bipolar oleh psikiater.. Hahaha..

Iya, saya ngga menyadari ada yang salah dengan diri saya.. Saya merasa baik-baik saja meskipun saya seringkali membuat suatu manuver yang mengejutkan secara tiba-tiba (?)..

Ikut Tes MMPI 1

Berawal dari curhat, saya memang punya satu teman spesial yang saya merasa ngga takut untuk cerita apa pun.. She never judges, she listens, and she reads me like a book! Dia hafal bagaimana saya.. Bagaimana tidak, kami sudah berteman dekat sejak kelas 1 SMP!

Kebetulan teman saya tersebut baru saja mengambil tes MMPI untuk keperluan mendaftar dosen, meskipun pada akhirnya tidak lolos administrasi karena dari luar pulau (sakiiiit, sabar yah).. Dari situ, mungkin dia merasa seperti yang saya deskripsikan di atas, bahwa dia baru berkenalan sungguh-sungguh dengan dirinya sendiri.. And maybe she was amazed.. Hasilnya alhamdulillah dia normal..

Sewaktu mendengar cerita saya, mungkin dia merasa saya semakin aneh (sebelumnya sih sudah cukup aneh), dan di pertemuan kami selanjutnya tanpa ba-bi-bu dia langsung menyeret mengajak saya ke psikiater! Padahal saya sudah menolak sekuat tenaga karena saya tidak merasa gila.. Hahaha..

Tes berlangsung singkat, 90 menit saja.. Hasilnya bisa ditunggu, dan langsung konsultasi dengan psikiater.. Tes berisi sebuah pernyataan yang harus dijawab YA/TIDAK oleh peserta.. Simpel banget..

Hasilnya saya bipolar, cenderung depresif, mulai mengarah ke suicidal, tapi manipulatif tinggi, nihilistik, serta OCD (cemas).. Dan sederet istilah-istilah lain yang saya tidak paham, dan sekarang lupa.. Kebetulan hasil tes dibawa oleh psikiater saya, karena saya bilang ikut tes tujuannya bukan untuk kepentingan mendaftar sesuatu..

Mulai Mempelajari Diri

Bipolar adalah gangguan suasana hati, sebenarnya gangguan ini sering terjadi pada semua orang, hanya saja pola, keparahan, dan frekuensi saja yang membedakan.. Saya kutip dari id.wikipedia.org ada empat jenis episode suasana hati pada penderita gangguan bipolar, yakni mania, hipomania, depresi, dan episode campuran.. Namun secara garis besar terbagi menjadi dua kutub yang berlawanan, yaitu mania dan depresi..

Gejala-gejala tahap mania :

• Gembira berlebihan 

• Mudah tersinggung sehingga mudah marah

• Merasa dirinya sangat penting

• Merasa kaya atau memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain

• Penuh ide dan semangat baru

• Cepat berpindah dari satu ide ke ide lainnya

• Mendengar suara yang orang lain tak dapat mendengarnya

• Nafsu seksual meningkat

• Menyusun rencana yang tidak masuk akal

• Sangat aktif dan bergerak sangat cepat

• Berbicara sangat cepat sehingga sukar dimengerti apa yang dibicarakan

• Menghambur-hamburkan uang

• Membuat keputusan aneh dan tiba-tiba, namun cenderung membahayakan

• Merasa sangat mengenal orang lain

• Mudah melempar kritik terhadap orang lain

• Sukar menahan diri dalam perilaku sehari-hari

• Sulit tidur

• Merasa sangat bersemangat, seakan-akan satu hari tidak cukup 24 jam

Tahap hipomania mirip dengan mania, perbedaannya adalah penderita yang berada pada tahap ini merasa lebih tenang seakan-akan telah kembali normal..

Gejala-gejala tahap depresi :

• Suasana hati yang murung dan perasaan sedih yang berkepanjangan

• Sering menangis atau ingin menangis tanpa alasan yang jelas

• Kehilangan minat untuk melakukan sesuatu

• Tidak mampu merasakan kegembiraan

• Mudah letih, tak bergairah, tak bertenaga

• Sulit konsentrasi

• Merasa tak berguna dan putus asa

• Merasa bersalah dan berdosa

• Rendah diri dan kurang percaya diri

• Beranggapan masa depan suram dan pesimistis

• Berpikir untuk bunuh diri

• Hilang nafsu makan atau makan berlebihan

• Penurunan berat badan atau penambahan berat badan

• Sulit tidur, bangun tidur lebih awal, atau tidur berlebihan

• Mual sehingga sulit berbicara karena menahan rasa mual, mulut kering, susah buang air besar, dan terkadang diare

• Kehilangan gairah seksual

• Menghindari komunikasi dengan orang lain

Hampir semua penderita gangguan bipolar mempunyai pikiran tentang bunuh diri, dan 30% di antaranya berusaha untuk merealisasikan niat tersebut dengan berbagai cara..

Tahap campuran adalah kondisi saat mania dan depresi terjadi bersamaan.. Tanda-tanda episode campuran mirip gejala depresi plus bonusnya disertai kegelisahan, insomnia, distractibility, dkk..

Beware, Mood Swing!

Penderita bipolar bisa merasa bersemangat menggebu-gebu dalam satu waktu.. Akan tetapi, beberapa jam kemudian, penderita berubah menjadi merasa kelelahan, putus asa, dan berpikiran negatif terhadap lingkungan sekitarnya..

Hal itu terjadi bergantian dan berulang-ulang dalam waktu yang relatif cepat.. Kombinasi energi tinggi dan rendah membuat suasana hati penderita kelelahan, putus asa, delusi dan halusinasi, sehingga berisiko tinggi untuk bunuh diri.. Oleh karena itu, tahap campuran bisa menjadi episode yang paling membahayakan penderita gangguan bipolar..

Sebab Bipolar

Sebabnya bisa bermacam-macam, kita tidak bisa menunjuk pada satu hal dengan pasti..  Jika ada satu peristiwa yang menjadi pertanda, bisa jadi peristiwa  itu merupakan salah satu gejala atau hanya pemicu saja.. Penyebab bipolar harus dirunut dari karakter seseorang, pola asuh orang tua, pengalaman masa kecil, kondisi saat ini, dan berbagai hal lainnya..

Penanganan Bipolar

Saya diresepkan obat anti depresan oleh psikiater, namun ini sifatnya hanya untuk membantu.. Jangan salah ya, jangan bergantung pada obat! Karena ini adalah sakit jiwa maka untuk sembuh juga harus dari jiwa itu sendiri..

Dengan mengenal siapa diri saya, saya menjadi sedikit tertolong.. Saya harus belajar menerima bahwa hidup itu ngga indah, atau minimal ngga seindah yang dibayangkan.. Saya harus belajar memaafkan dan tidak terus-menerus menyalahkan diri saya sendiri.. Saya harus belajar mensugesti diri saya sendiri dengan pemikiran-pemikiran positif untuk menghalau kecemasan.. Saya harus bisa menerima bahwa ada hal-hal yang memang di luar kuasa saya.. 

Seperti misal tiba-tiba mood menjadi super malas (seperti dua bulan belakangan ini) biasanya saya cari sebabnya kenapa (dan ngga ketemu) lalu saya merasa tak berguna, dan selanjutnya depresi.. Kali ini saya biarkan saja saya menjadi malas, mungkin saya butuh suasana itu (dan akhirnya berkelanjutan sampai dua bulan hihihi).. Sehari-hari kerjaan saya hanya ingin tidur, main sama kucing, dan baca drama ojek online sambil ketawa sendiri.. Selain masak dan tugas rumah tangga lainnya tentunya.. Hampir ngga pernah nonton TV (sebenernya sayang karena lagi gratisan langganan paket movie, hiks), ngga jahit, ngga ngelukis, ngga bertanam (sampai tanaman saya mati semua hihi maaf yah), ngga pernah nyanyi di Smule, jarang banget posting social media (kecuali IG).. Saya hilang, bahkan dari grup-grup chatting.. Hanya aktif di grup keluarga saja.. Tapi it’s okay, I’m happy.. I tried not to blame my self for being lazy.. Sekali-sekali ngga papa, toh nanti kalau mood sudah oke lagi bakal rajin sendiri..

Saya butuh untuk mencoba bertahan di suatu mood agak lama, agar tidak merasa capek hatinya (karena suasana hati berubah-ubah terus).. Meskipun kadang, peristiwa tertentu masih bisa membuat mood tenang saya rusak seketika.. Hehe, proses kan..

Paling penting adalah dukungan dari keluarga.. Saya ceritakan pada keluarga inti saya, bagaimana hasil tes, apa kata psikiater, apa yang saya pikirkan dan rasakan.. Sehingga mereka bisa bantu saya, meskipun pada kenyataannya selama ini yang membuat diri saya depresi adalah pemikiran saya sendiri.. Keluarga mah adem ayem.. Namun semenjak tau kondisi saya, saya jadi sedikit lega untuk mengungkapkan apa yang saya pikirkan tanpa takut mereka bakal gimanagimana..

Yang paling utama, seperti yang selama ini si Om selalu bilang, banyak berdoa.. Banyak istighfar.. Banyak mendekatkan diri pada Tuhan.. Biar hati tenang, biar dikuatkan ketika cobaan datang.. Biar dikasih jalan untuk tiap masalah.. Klasik memang, tapi selama ini saya seperti mencari jawaban atas kejadian-kejadian dalam hidup secara logis.. Saya seringkali lupa bahwa banyak hal yang memang tak ada jawaban pastinya, banyak hal merupakan misteri dari Tuhan.. Mencari jawaban yang ngga ada itu membuat saya capek dan gila.. Mencari kepastian untuk masa depan (yang ngga akan pernah pasti) membuat saya cemas dan frustasi..

Semua Ada alasannya

Sedikit cerita mengenai tes MMPI, saya menemukan satu soal yang lucu : saya sering menghitung benda-benda yang tidak perlu, seperti tiang-tiang listrik di jalan..

Hellooo, kok bisa ada soal seperti itu sih? Dari mana coba, mereka tau kalo saya suka ngitung (dalam kasus saya adalah) marka jalan saat berkendara?! Hahahaha.. Iya, ini kebiasaan yang aneh dan saya sudah mengalami sejak kecil, sejak masih dibonceng Bapak di depan pakai Suzuki Family dulu.. Kadang tiang listrik, kadang pepohonan, kadang marka jalan, pokoknya yang super ngga penting deh! Saya kira ini wajar, tapi kalau dicari sebabnya ya saya ngga bisa jawab kenapa saya suka menghitung marka jalan.. Lucu ya? Ternyata ini gejala kecemasan (Obsessive Compulsive Disorder)..

Setelah digali habis-habisan oleh psikiater saya, saya baru sadar mengapa selama ini saya sering sekali mendapat mimpi dengan latar tempat, kejadian, atau orang-orang di masa Sekolah Dasar saya.. Saya baru paham, kenapa dulu waktu mengisi buku biodata jaman sekolah, di kolom kriteria cowok idaman, saya menuliskan dua versi yang sangat bertolak belakang, satu ciri badboys, satu lagi ciri suami soleh (alhamdulillah akhirnya dapat yang ini).. Saya baru nyadar, kenapa waktu cari kerja dulu sering banget bahkan hampir selalu gagal di wawancara psikologi (karena kalau tulis menulis, manipulatif saya tinggi, saya pintar bermain kata dan menyembunyikan perasaan saya).. Saya baru paham, kenapa di satu waktu saya menjadi super religius, dan di waktu yang lain saya menjadi super nakal..

Dulu saya bingung pada diri saya, sangat sulit rasanya untuk mengambil keputusan dalam banyak hal.. Dan saya ngga tau kenapa bisa seperti itu, apalagi bagaimana harus menyikapinya.. Dulu saya bertindak berdasarkan perasaan saja (karena memang kata psikiater saya orang yang hidup di dunia perasaan), sehingga jika kenyataannya lain, ada gap yang tinggi yang bikin saya frustasi.. Sekarang, beberapa hal pada diri saya yang dulu ngga terjawab, sudah terang-benderang.. Semoga di masa depan nanti saya bisa lebih bijak dalam bersikap dan mengambil keputusan.. Semoga kesalahan-kesalahan di masa lalu tidak akan terulang..

​*
Sebuah catatan untuk diri sendiri

Stasiun Gambir, 19 Juli 2017

Argo Dwipangga, Jakarta-Solo 10.00 WIB

8 MM

Lama banget ngga nulis ya, hehe.. Sebenarnya banyak bahan untuk ditulis, tapi sebulan terakhir ini mood lagi inginnya malas-malasan sambil baca kumpulan chat lucu antara ojek online dengan customer-nya.. *produktif amat yah kegiatan saya*

Di antara sekumpulan bahan yang antre untuk ditulis, saya paling pengen nulis yang ini duluan : 8 mm! Ini adalah sebuah judul film yang saya tonton berdua si Om akhir pekan kemarin..

Saya memang selalu tertarik mengabadikan suatu film yang saya rasa tidak biasa di sini.. Dan seperti yang sudah-sudah, yang akan saya bahas bukan mengenai sinopsis atau isi film tersebut, tapi saya akan ceritakan kesan subyektif saya mengenai film tersebut..

Awalnya memang yang membuat saya tertarik menonton film keluaran tahun 1999 ini adalah selain karena sekilas saya baca sinopsisnya mengenai detektif yang menyelidiki kasus misterius, juga karena pemeran utamanya adalah aktor kenamaan Nicholas Cage.. 

Sinopsis pendeknya seperti ini : Nicholas Cage yang merupakan seorang detektif swasta disewa oleh seorang janda tua yang kaya untuk menyelidiki film amatir 8 MM yang ditemukan setelah kematian suaminya..

8 MM


Yang membuat bulu kuduk merinding, film tersebut adalah film snuff! Apa itu film snuff? Film snuff adalah film yang merekam adegan pembunuhan, ada yang nyata (pemain film sungguh dibunuh) dan ada juga yang ternyata rekayasa (dengan bantuan efek khusus), dibuat dengan berbagai tujuan (yang sudah pasti ngga bener).. Seperti opening film Sinister..

Saya sempat menuliskan mengenai 50 Shades Of Grey beberapa waktu yang lalu, di akhir tulisan saya tulis bahwa otak akan memerlukan dosis serotonin yang lebih untuk merasa puas (karena itu, jika hanya menuruti kepuasan, manusia ngga akan ada puas-nya).. Jika yang sebelumnya ‘hanya‘ tertarik pada hal-hal masochist seperti BDSM, maka lama-lama mungkin otak akan menginginkan sesuatu yang lebih, seperti snuff film! 

Itulah yang menjadi latar belakang film 8 MM ini, dimana beberapa orang yang sakit jiwa berkumpul, yang satu merasa puas dengan menyakiti (atau dalam film ini membunuh), yang satu merasa puas dengan melihat film tersebut.. FYI, si eksekutor yang menjadi pemeran utama dalam film snuff tersebut (dimana dalam tiap film selalu memakai topeng), ternyata dalam kesehariannya ‘terlihat‘ seperti orang normal, dan bahkan berasal dari keluarga yang religius..

Diceritakan dalam film tersebut bagaimana si tokoh utama Detektif Tom Welles yang berusaha mengumpulkan satu demi satu petunjuk.. Satu petunjuk mengarahkannya pada petunjuk lain, semakin dekat ia dengan jawaban yang dia cari, tanpa sadar semakin dalam pula dirinya larut dalam dunia tersebut.. Digambarkan bahwa semakin dia mencoba memahami dunia tersebut, semakin dia tidak mengerti : kok ada orang-orang seperti itu? Kok bisa??

Pada akhirnya memang Tom Walles ngga bisa paham dengan jalan pikiran mereka, karena memang mereka sakit jiwa.. Meskipun sempat terseret ikut arus dan ketularan masochist, namun akhirnya Tom Walles sadar.. Dalam film digambarkan, setelah kasus selesai, Tom Walles mengalami guncangan jiwa yang hebat.. Pulang ke rumah dan menangis meminta pertolongan istrinya.. Kurang jelas minta tolong diselamatkan dari apa, mengingat semua pelaku yang terkait dengan film snuff tersebut telah dia bunuh.. Mungkin minta tolong diselamatkan dari apa yang telah dia lihat dan dia alami..

Snuff film


Ketika menonton film ini saya jadi teringat dua kejadian, yang pertama adalah kasus pembunuhan tenaga kerja wanita asal Indonesia beberapa bulan yang lalu dimana tersangka yang merupakan seorang bankir dengan sengaja merekam pembunuhan yang dia lakukan sendiri.. Yang kedua, snuff film berjudul Daisy Destruction yang sempat beredar di Deep Web, yang untungnya gagal diakses oleh teman saya karena konon eksekutor dalam film tersebut sudah tertangkap dan filmnya sudah dihapus..

Saya sempat membaca, ada yang pernah melihat film yang kedua, dan akhirnya menjadi gila.. Awalnya saya pikir mana mungkin gara-gara film bisa jadi gila? (FYI, film yang kedua ini si pemeran utama alias si korban adalah anak kecil).. Tapi tokoh dalam film 8MM yang bernama Max California (dia sudah berkecimpung dalam dunia tersebut cukup lama, ingin mentas tapi ngga bisa) pun sempat mewanti-wanti Detektif Tom Walles bahwa memasuki dunia tersebut sedikit banyak akan mempengaruhi kondisi kejiwaan, sehingga Max meminta Welles berpikir-pikir lagi sebelum memutuskan mau masuk ke dunia tersebut..

Yah, intinya pesan yang bisa saya ambil dari 8MM ini adalah : ngga usah coba-coba! Ini bakal mempengaruhi mental, karena apa yang sudah dilihat ngga bisa di unsee.. Karena pada akhirnya hanya akan ada dua kemungkinan : terseret arus untuk masuk lebih dalam, atau jadi gila

***

Yuk, langsung cek artikel tentang film luar biasa lainnya :

1. Flowers in the Attic

2. Expecting Amish

3. Curious Case Of Benjamin Button 

Kitten Blues Syndrome

Sudah sebulan lebih rumah kami kedatangan member baru : tiga ekor anak kucing.. Induknya bernama Mang Engkus, iya saya sudah diketawain sama temen gegara nama ini.. Abis gimana, udah terlanjur.. Dia dipanggil “Ngkus” juga noleh kok.. Hehe.. 

Tanggal 20 Februari lalu mereka lahir di emperan rumah Mpok Een dengan disaksikan kehebohan tetangga-tetangga.. Tepat setelah lahir, langsung saya bawa pulang ke rumah, karena tidak ada yang mau menampung sedangkan saat itu curah hujan sedang intens kasihan kalau di emperan.. Engkus adalah kucing rumahan, biasanya kalau tidak ke rumah saya, dia ke rumah Keysha atau Mpok Een (tetangga kanan-kiri).. Oleh tetangga-tetangga memang dikasih makan dan dipelihara.. Jadi, Engkus tidak biasa hidup liar, beranak pun dia datengin orang buat minta tolong.. Tidak terbayang kalau anak kucing tersebut ditaruh teras, Engkus pasti bingung kudu diapain.. Berhubung ini baru kali kedua dia beranak, dan periode yang sebelumnya anaknya mati dalam dua bulan karena tidak disusui..

Engkus & the Kids

Piara anak kucing dari umur sehari, rasanya seperti ikut punya anak.. Sebentar-sebentar ngecek udah disusuin sama Engkus atau belum.. Kalau Engkus mogok nyusuin, lekas-lekas dikasih sogokan makanan yang banyak (sekarang seminggu habis 1 kg).. Kalau Engkus sudah mulai mindahin anaknya (yang dipindah cuman satu, lupa kalau anaknya ada tiga), lekas-lekas ganti alas tidur sekalian kardusnya.. Kalau Engkus hanya nyusuin satu anaknya, lekas-lekas dua yang lain saya gotong ke dekatnya supaya ikut nyusu.. Malam hari pun tak jarang trio spons kecil meong-meong..

Di usia awal, anak kucing hampir tidak pernah poop atau pee mungkin karena nyusunya masih sedikit.. Setelah umur sebulan barulah mereka berubah menjadi trio pembuat onar! Suka cakar-cakar kaki, suka nyusul tidur, lari ke sana kemari, ikut-ikut orang masak, dan poop serta pee di dapur.. Sekarang, selain harus super hati-hati kalau berjalan di rumah, buka pintu, dan ganti posisi tidur, juga harus waspada kalau nemu genangan air mencurigakan di lantai dapur.. 

Beberapa hari belakangan saya sudah berusaha mengunci mereka di kamar mandi atau di luar rumah ketika nampak gestur mencurigakan kalau mereka mau poop atau pee.. Namun meskipun sudah saya kunci selama lima belas menit, tetap saja ketika mereka saya perbolehkan masuk kembali, mereka garuk-garuk lantai dapur pertanda mau poop atau pee alias di luar rumah atau di kamar mandi tadi mereka belum pipis, hanya meong-meong doank.. 

Cuteness Overload


Biasanya, saya akhirnya membiarkan mereka pipis di dapur, kemudian segera saya bersihkan lantainya beserta badan kucing tersebut.. Namanya juga kucing, mana masih kecil.. Emosi sih, tapi gemes soalnya mereka lucu.. Lagian kalau saya marahin, mereka juga ngga bakal ngerti.. Toh nantinya kalau sudah besar, mereka akan tertib sendiri hidup di luar rumah..

Saya kira saya sudah cukup sabar.. Namun ternyata kalau badan sedang capek dan pikiran suntuk, akhirnya saya marah juga karena tadi pagi si Ucu poop di dapur.. Marah yang ngga jelas sama siapa, karena kalau marah sama si Ucu, anak kucing yang baru berumur sebulan, berarti saya yang bego..

Segera saya disuruh mandi sama si Om.. Apa hubungannya? Hehe.. Tapi kata teman saya, kalau lagi suntuk-suntuknya ngurus anak, mandi adalah sebuah refreshing.. Akhirnya setelah membersihkan dan beberes rumah, saya mandi, maskeran, berendam air hangat, sambil mendengarkan musik dan ngemil milk cookies yang saya buat hari sebelumnya.. Super sekali! All problem’s simply solved! Hahaha.. Kebetulan hari ini memang ngga ada rencana masak berhubung sayur tempo hari masih lumayan banyak.. 

Emak-emak itu kadang lucu, baper gara-gara masalah sepele, solusinya pun sebenernya sepele.. Hal-hal kecil yang dianggap sepele saja sudah bisa bikin bahagia dan senyum-senyum seharian.. 

Ucu-Miu-Kikis

Setelah pikiran jernih lagi, saya baru ketawa sekaligus mikir.. Ternyata level kesabaran saya masih, ah sudahlah.. Padahal ini baru anak kucing, yang mana saya tidak ikut melahirkan, tidak ikut menyusui, tidak perlu memandikan, tapi saya sudah Baby Kitten Blues Syndrome.. Lah trus gimana ceritanya kalau ini anak beneran? Yah, berarti masih menjadi PR sendiri buat saya untuk memantaskan diri..

Ternyata, punya anak itu ngga sekedar lucu-lucuan, ngga sekedar pregnancy photo session dan foto-foto bahagia lainnya, ngga sekedar dikuncir-kuncir atau dipakein asesoris lucu lainnya, ngga sekedar nantinya akan dileskan piano atau melukis.. Punya anak adalah tanggung jawab berat dan seumur hidup.. Ngga bisa di-undo.. Dan nantinya bakal dipertanggungjawabkan tidak hanya di masyarakat namun di hadapan Tuhan.. Wow! Pernah kebayang?

Rame-rame nyusulin Emaknya yang lagi leyeh-leyeh bentar abis beberes rumah..



Tribute to :

Ucu-Miu-Kikis trio pembuat onar yang sudah membuat suasana rumah makin semarak.. Maaf ya kalau Mamak masih kurang sabar..

Teman saya dan semua Ibu yang sedang mengalami Baby Blues Syndrome sungguh tak terbayangkan perjuangan yang kalian alami.. Innallaha ma’ana.. 

Para Ayah dampingi dan dukung ibu dari anak-anakmu.. Karena baby blues mungkin tidak disadari penderita dan orang-orang di sekitarnya.. Para Ibu cuma butuh didengarkan, diajak ngobrol dan diskusi (terlebih kalau Stay at Home Mom), dibantu ngurus anak (bikinnya berdua, ngurusnya berdua juga donk), diajak jalan-jalan dan piknik, serta sesekali dipijitin dan diberi kejutan, hihihi..