Pengalaman Pertama : Perpanjang Sim Online Tapi Gagal.. T_T

Judulnya miris amat yak..

Cerita ini berawal dari beberapa bulan silam.. Di penghujung tahun yang baru saja berlalu, tepatnya bulan November, SIM C saya habis masa berlakunya.. Rencana memang mau pulang ke Solo, berhubung anak rantau ini sudah lama tak pulang-pulang (terakhir pulang waktu mudik lebaran).. Tapi apa daya, rencana tinggal rencana, karena kesibukan belum bisa ditunda..

Kegiatan demi kegiatan berjalan, kesibukan mengisi hari-hari (bahasa saya mendayu-dayu banget efek tengah malam nih), dan lama-lama saya lupa akan kasus kadaluwarsa SIM tersebut.. Iya sih, mentang-mentang di Jakarta ini punya sopir pribadi jadi jarang bawa motor sendiri.. Hihihi..

Minggu kemarin kebetulan di grup whats*pp keluarga saya sedang ramai karena Adek ulang taun.. Nah kebetulan membahas perpanjangan SIM karena ternyata SIM A dan C Adek juga habis masa berlakunya.. Teringatlah saya akan SIM saya sendiri, karena sudah lumayan lama dari masa habisnya, maka cepat-cepat keesokan harinya (Sabtu, 16/01) kami menjambangi SIM Online..

Keliatan nggak?

Keliatan nggak?

Malam sebelumnya si Om sudah terlebih dahulu googling tentang syarat, lokasi, dll.. Saya disuruh cari tau sendiri sebenarnya, tapi dasar males, pengin pasrah bongkokan aja.. Huahaha.. Dari hasil googling didapatlah info bahwa SIM Keliling terdekat biasanya nongkrong di TMP Kalibata..

Kami berangkat pukul 8 dari Ragunan, langsung meluncur dari kandang nomer 7 (?) Sampai Kalibata jam 8.45 SIM Keliling parkir di seberang TMP, di sekitar warung kaki lima..

Bujug Busyeeet! Antreannya.. Naudzubillah..

Maklum, libur kerja kali ya, jadi para pekerja berjamaah nongkrongin SIM Keliling.. Tapi setelah diamati lebih dekat, ternyata antrean yang bujug busyet tadi adalah antrean Samsat (perpanjang STNK).. Untuk SIM meskipun antrean juga lumayan, tapi masih bisa diperjuangkan lah.. Setelah nanya-nanya antrean mulai dari sebelah mana, dapat jawaban lumayan mengejutkan..

SIM Kelilingnya udah mau keliling ke tempat lain, sehingga tidak menerima antrean lagi di lokasi tersebut!

Lumayan banyak juga yang kecewa, tapi kita diinfo untuk mencoba SIM Keliling yang ada di jalan Dewi Sartika.. Berangkatlah kami ke sana.. Hanya 15 menit perjalanan pakai motor (karena masih pagi jadi jalanan relatif sepi).. SIM Keliling parkir di Astra, seberang Rumah Sakit Harapan Bunda (ngarang banget, padahal lupa namanya apa hihihihi, jarang lewat situ soalnya)..

Mending ke sini aja, bisa duduk.. ^^

Mending ke sini aja, bisa duduk.. ^^

Antrean lebih tertib, disediakan kursi.. Karena teratur jadi terlihat tidak terlalu banyak yang mengantre.. Setelah ikut antre, menyerahkan fotokopi KTP dan SIM asli yang kadaluwarsa, ternyata..

Waduh, Mbak.. Kotanya belum masuk wilayah SIM Online, ga bisa ini.. Harus perpanjang di kampung..

Wakwaw……… -_-

Kenapa ya, saya sering mengakhiri sebuah cerita dengan ending yang zonk seperti ini.. Tapi begitulah adanya.. Kami cari tau lokasi SIM Keliling, syarat daftar perpanjang SIM Online, tapi lupa mencari tau mana saja daerah yang sudah bisa online.. Tiwas dandan ayu-ayu nggo foto sim..

Tulisannya Keliatan?

Tulisannya Keliatan?

Nb : kalau lupa fotokopi, ada yang menyediakan fotokopi printer di lokasi.. Untuk biaya perpanjang sim atau lainnya, saya kurang tau karena belum sampai bayar sudah ditolak duluan.. *nasib*

[Nov Sabatini]

 

 

Yuk baca artikel saya yang lain :

1. Pengalaman sidang tilang Jakarta Selatan

2. Review tempat belanja di Jakarta

Belanja Buku di Pasar Senen..

Pada postingan sebelumnya sudah saya muat Pasar Senen sebagai salah satu tempat belanja murah untuk tas dan jam tangan.. Lokasi tepatnya adalah Senen Jaya, semacam mall lengkap dengan eskalator dan lift..

Begini Kenampakannya..

Begini Kenampakannya..

Nah, libur tahun baru kemarin saya jalan-jalan di Pasar Senen versi tradisionalnya.. Tujuan kami berbelanja buku.. Sebenarnya saya tidak terlalu suka membaca, apalagi buku yang tebal dan cerita yang panjang, mudah bosan.. Si Om yang suka membaca, bukunya banyak, namun waktu luangnya terbatas jadi kebanyakan bukunya belum sempat dibaca.. Tapi tiap jalan-jalan yang kebetulan mampir ke toko buku, beliau selalu ingin membeli buku baru yang menarik.. Jadi kemarin kami hanya berniat jalan-jalan saja, tanpa mempersiapkan list buku yang hendak diburu..

Karena agak mendadak, kami baru berangkat dari Jakarta Selatan pukul 11.30 alhamdulillah cuaca sedang tidak terlalu panas, malah di daerah Kuningan kami kehujanan.. Memang sebenarnya kami sudah berkali-kali ke sana, namun tetap saja pakai acara salah jalan dan sampai Senen di sisi yang tidak ditemukan parkiran resminya sehingga akhirnya numpang parkir di Senen Jaya.. Sekalian numpang sholat di lantai paling atas, ada mushola yang lumayan oke.. Di lantai paling bawah juga ada mushola, di dekat food court tetapi kondisinya agak tidak nyaman untuk sholat (dulu pernah sholat di sana)..

Lengkap pokoknya.. Nomor berapa yang belum punya?

Lengkap pokoknya.. Nomor berapa yang belum punya?

Kami menuju ke sisi pasar tradisionalnya lewat trotoar.. Di sepanjang trotoar terdapat banyak penjual tas, sepatu, dan koper.. Dulu juga pernah beli koper di situ.. Sampai di ujung, kami berbelok ke penjual buku-buku.. Namun, tidak seperti kedatangan kami sebelumnya, kali ini pedagang buku tidak terlalu banyak.. Kios-kios banyak yang tutup, entah sudah tidak beroperasi atau memang tutup karena libur panjang..

Bagian buku bersebelahan dengan pasar sayuran, jadi memang ada di dalam pasar, bukan di tepi trotoar.. Buku-buku yang dijual beraneka ragam, mulai dari buku pelajaran, buku mata kuliah, buku populer, buku keagamaan, kitab suci, sampai komik lawas, majalah lawas, juga buku TTS.. Jangan dibayangkan seperti toko buku modern, buku di sini kebanyakan buku bekas, untuk mencari satu buku tertentu (buku lama) mungkin harus beberapa kali bertanya pada kios-kios, namun tentu saja harganya miring bahkan bisa ditawar.. Untuk buku baru kebanyakan berkertas buram, jadi harganya lebih murah..

Majalah Donal Bebek @Rp 4.000,- Komik Doraemon @Rp 5.000,- Majalah Alkisah @Rp 3.500,- (kasian yang jual udah tua); Buku Ayah Rp 30.000,-

Majalah Donal Bebek @Rp 4.000,- Komik Doraemon @Rp 5.000,- Majalah Alkisah @Rp 3.500,- (kasian yang jual udah tua); Buku Ayah Rp 30.000,-

Saya memang terkadang memiliki selera yang tidak biasa.. Awalnya si Om selalu bertanya tiap melihat-lihat buku di satu kios, apakah ada buku yang menarik perhatian saya.. Tapi saya memang tidak terlalu tau buku apa yang sedang hits, pengarang siapa yang terkenal bagus, dan sebagainya.. Namun ketika sampai pada kios majalah lawas, saya langsung excited menemukan majalah Donal Bebek.. Dulu sewaktu SD, saya sering disewakan majalah tersebut oleh ibuk di kios majalah di ujung gang.. Selain itu, saya juga membeli komik Petualangan Doraemon.. Dulu saya membaca tidak urut dan lengkap, karena di persewaan tergantung yang mana yang saat itu tersedia.. Sebenarnya saya juga pengin beli majalah misteri lawas Liberty tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh si Om.. -_- yeah, saya memang suka baca yang mistis-mistis gitu..

Makan Sambil Baca..

Makan Sambil Baca..

Liburan hari ini, kami membaca majalah Donal Bebek bersama.. Si Om membaca sambil makan.. Nostalgia, dulu waktu SD konon beliau makan harus sambil baca, jadi makannya lama banget.. Hehe.. Semoga yang tutup kemarin hanya karena libur panjang, karena ternyata berburu buku di Pasar Senen itu asyik juga.. Jangan sampai tutup dan tergusur..

[Nov Sabatini]

 

 

Yuk baca juga artikel saya yang lain mengenai tempat-tempat di Jakarta :

1. Review belanja di Glodok-Tanah Abang-Mangga Dua

2. Review tempat-tempat belanja di Jakarta

3. Pengalaman jalan-jalan ke Pasar Baru

4. Tips jalan-jalan ke Jakarta Fair 

5. Kulakan Kain ke Cipadu Trade Center

Tempat Belanja di Jakarta (Selatan)..

Aih, kok tiba-tiba pengin bikin ulasan tempat belanja di Jakarta.. Terilhami dari pengalaman pribadi beberapa kali pengin beli ini itu..

1. Pasar Tanah Abang

Tempat ini pasti ga asing lagi buat banyak orang, karena banyak pedagang dari seantero Indonesia yang kulak di sini.. Tentunya, Tanah Abang dalam urusan pakaian, kain, kerudung, mukena, selimut, jaket, pakaian anak, dan produk tekstil lainnya, memang komplit dan murah.. Tapi, harus teliti dalam membeli, karena harga barang yang sama di penjual satu Rp 25.000,- di penjual lain bisa Rp 35.000,- (pengalaman pribadi) dan itu sama sekali susah banget buat ditawar, cuma bisa turun seceng atau goceng bila sedang hoki..

Kalau ke sini, lebih baik punya tujuan, lalu muter dulu buat survey baru kemudian ditentukan mau beli dimana.. Menuju Tanah Abang bisa naik KRL ke arah Tanah Abang atau Jatinegara.. Stasiunnya pas di depan pasar luber, tinggal nyebrang dan jalan aja masuk ke bangunan pasar.. Konon katanya ada yang murah juga di Thamrin City.. Tapi saya belum pernah ke sana..

2. Mall Ambassador & ITC Kuningan

Terletak di Kuningan, ga jauh dari Jakarta Pusat tapi masih masuk Jakarta Selatan.. Mall Ambassador ini sebelahan dengan ITC Kuningan (FYI, ITC punya banyak mall di antaranya ada ITC Depok, ITC Fatmawati, ITC Mangga Dua).. Dari Ambassador ke ITC kuningan bisa lewat jembatan penghubung dua mall.. Nah dua mall ini menurut saya adalah mall segala kalangan.. Produknya mayoritas baju (ITC) dan elektronik (Ambassador).. Untuk baju, ada banyak model dari yang sedang tren sampai yang ajaib, dari baju pesta, baju muslim, seragam, baju renang, sampai kebaya.. Ada juga beberapa toko aksesori imitasi, dan bunga-bungaan palsu (tapi yang harganya mahal).. Harganya pun bervariasi dari Rp 20.000,- sampai ada yang di atas sejuta.. Itu pun baru di toko yang sempat saya beli (yang Rp 20.000,-) dan yang sudah saya tanyakan (yang jutaan).. Sedangkan elektronik ada banyak juga : ponsel, aksesori komputer, laptop, dan kamera.. Parkirnya pun lumayan murah dibanding mall lain..

 

Ke sana? Ke sini?

Ke sana? Ke sini?

3. Senen Jaya

Bergeser ke Jakarta Pusat dikit, Senen Jaya letaknya di seberang Stasiun Pasar Senen.. Bisa jalan kaki saja.. Di sini adalah tempat penjual jam tangan kulakan.. Di lantai dasar hampir semuanya kios jam tangan, mulai dari yang murah, yang lagi trend, sampai yang asli harga jutaan.. Selain rekomended untuk produk jam, di tempat ini juga rekomended untuk yang suka berburu tas murah.. Di lantai paling atas hampir semuanya kios tas, bahkan di depan eskalator ada yang dagangan tas dihambur-hamburkan seperti saat beli baju diskonan di mall, tapi ini dihamburkan di lantai beralas plastik.. Harga tas bervariasi, tapi saya suka beli yang Rp 50.000,-an..

4. ITC Mangga Dua

Nah kali ini bergeser jauh ke Jakarta Pusat.. Hihihi.. Di sini saya rasa 11-12 dengan Ambassador, dari segi jenis produk dan harga.. Ada dua mall, yang satu berisi aneka macam pakaian, kemudian di mall seberang jalan berisi berbagai macam produk elektronik dan komputet.. Tapi, di sini jauh lebih komplit dan lebih murah dari Ambassador.. Ya, memang sih baru sekali ke sana, jauh soalnya.. Bagaimana mencapai ITC Mangga Dua sudah pernah saya jelaskan di postingan lalu ya..

5. Glodok

Sebelum balik ke Selatan, mampir dulu ke Glodok.. Isinya kebanyakan produk elektronik dan permesinan.. Tapi minim produk komputer.. Kalau mau cari suku cadang mesin, atau semacamnya, sepertinya boleh coba datang ke sini..

6. Poins Square

Akhirnya balik juga ke Jakarta Selatan.. Ini adalah mall yang disambung apartemen di lantai 5 ke atas.. Letaknya di Lebak Bulus, samping stadion.. Mall ini memang relatif sepi, kehidupan hanya terasa di lantai paling bawah saja.. Nah, di sini tempat saya biasa kulakan film.. Karena dibanding mall yang lain, penjual film (dvd) lebih banyak, lebih cepat keluar film baru, dan harganya lebih miring.. Satu keping dvd di mall lain dipatok Rp 10.000,- sedangkan di sini kalau tidak salah Rp 7.000,- saja..

Selain film, saya juga suka beli basreng di sini.. Jajanan masa kecil ala bandung ada beberapa kios, dengan varian produk yang lumayan banyak : lidi, basreng, makroni, sampai sarang burung.. Selain itu, saya juga suka nongkrong di lantai 4 tepatnya liat-liat (sambil mupeng) di Artland, ini adalah surganya para crafter.. Di sini terdapat berbagai macam benda kerajinan, mulai dari peralatan lukis (cat air, cat minyak, akrilik, cat poster, medium, berbagai kuas, palet, kanvas, stand, pisau palet berbagai ukuran dan varian mata pisau) hingga peralatan crafting lainnya yang saking ajaibnya saya tidak tau namanya apa saja.. Haha.. Tokonya lumayan besar.. Selain itu tepat di sebelah Artland, ada TM Bookstore sehingga saat sibuk muterin Artland, si Om bisa punya kerjaan muterin TM.. Fair enough, kan?

7. Taman Puring

Nah, ini tambahan saja.. Soalnya saya pribadi belum pernah ke sini, yang sudah pernah ke sini si Om waktu masih bujang dulu.. Di sini pusatnya sepatu, berbagai jenis, varian, dan harga.. *katanya*

Update : review mengenai Pasar Taman Puring ini sudah saya tulis di postingan tersendiri *akhirnya saya ke sana juga, meskipun ngga beli*

 

8. Tamini Square

Dari namanya keliatan lokasinya di sebelah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur.. Di Jakarta tempat nonton film meskipun jadwal film yang diputar sama, tapi tarifnya beda-beda, dan rata-rata mahal boo’.. Hampir semua mall tarif bioskop di atas Rp 50.000,- bahkan banyak yang sampai Rp 100.000,- tapi di Tamini ini lebih miring, yaitu Rp 25.000,- (lupa sih tapi, udah lama ga nonton).. Namun ada yang harus diperhatikan : saingannya pelajar! Waduh, antre tiketnya harus berjam-jam sebelumnya, kalau tidak keburu dihabiskan oleh invasi para pelajar yang kalau urusan beginian heran cepet banget dan semangat amat yak.. ^^

Juga, karena murah, maka akan banyak keluarga nonton di sini, dengan kata lain akan banyak anak-anak, bahkan balita yang bisa tiba-tiba nengok atau gedor-gedor kursi kita, atau ngobrol sendiri, ketawa-ketawa, atau malah nangis.. Baru dua kali saya coba nonton di sini.. Sebenarnya dulu saya lebih sering nonton di XXI Kartika Chandra, ini murni bioskop dengan banyak ruangan.. Jadi bisa dateng agak mepet tanpa deg-deg-an kehabisan tiket.. Namun semenjak tiketnya naik dari Rp 30.000,- menjadi Rp 35.000,- (lupa, udah jarang nonton) jadi pindah ke Tamini Square, dan sekarang malah pindah ke nomor 6.. Hehe..

9. Pasar Baru

Ini juga pernah saya tulis di postingan. sebelumnya.. Tempat enak untuk jajan-jajan kaki lima.. Semua gerobak jajanan yang biasa lewat depan rumah bisa dijumpai di sini semua.. Ada es podeng, tahu gejrot, es potong, bakwan kawi, roti unyil, siomay, batagor, cimol, pempek.. Waduh, gawat.. Jadi laper.. Selain makanan, banyak juga toko sepatu dan toko tekstil (baju, kain).. Kalau mau cari benda kuno bisa, banyak yang jual uang kuno, poster, dan lain-lain..

Update lagi :

10. Mall Cijantung vs Mall Cinere

Kedua mall ini sebelas-dua belas kalau saya bilang, dari segi size-nya dan suasananya.. Mirip.. Selain Tamini Square, tiket bioskop kedua mall ini pun ternyata juga murah.. Selain buat nonton, di kedua mall ini banyak tempat pijat refleksinya.. Rekomended banget kalau mau nungguin istri orang belanja, sambil santai-santai dipijat..

11. Cipadu Trade Center vs Mayestik

Keduanya sama-sama pusat kain dan fashion.. Tapi kalau mau membandingkan, suasana sekeliling Mayestik lebih mirip dengan suasana sepanjang jalan Pasar Baru.. Bedanya, di Mayestik hanya menjual kain dan asesoris menjahit, serta satu-dua pedagang makanan.. Sedangkan di Cipadu, lokasinya tidak terpusat di satu gedung, melainkan sepanjang jalan Cipadu tersebut tersebar berbagai spot-spot kulakan kain.. Kedua lokasi ini sudah saya tulis di postingan tersendiri ya..

Ah kiranya hanya itu tempat-tempat yang bisa saya tulis saat ini.. Karena saya masih belum banyak menjelajah Jakarta, jadi harap dimaafkan kalau ada yang kurang bener.. Boleh juga ditambahkan kalau ada tempat menarik lainnya..

[Nov Sabatini]

 

 

Yuk baca juga artikel saya yang lain mengenai tempat-tempat di Jakarta :

1. Review Glodok-Tanah Abang-Mangga Dua

2. Pengalaman jalan-jalan ke Pasar Baru

3. Tempat belanja buku bekas murah di Pasar Senen

4. Tips jika ingin jalan-jalan ke Jakarta Fair

5. Belanja Kain di Cipadu Trade Center

6. Jalan-jalan ke Pasar Mayestik

Pengalaman Pertama : Hysterosalpingografi (HSG)..

Yap! Dalam hidup saya diberi kesempatan untuk mencicipi HSG ini, never thought i would be.. Pertemuan pertama dengan SpOG ke-3 ini, kami langsung diminta untuk melakukan sepaket tes kesuburan yang terdiri atas : semen analisis, tes hormon, dan HSG.. Dua yang terakhir dilakukan oleh pihak istri..

Tes Hormon..

Tes hormon dilakukan dengan mengambil sampel darah, hormon yang dicek ada empat, yaitu LH, FSH, Estradiol, dan Prolaktin.. Estradiol dan Prolaktin normal, artinya ketebalan rahim saya oke (thanks, God.. Data historis saya sih agak ketebelan, tapi sekarang sepertinya mulai normal).. LH normal, yang berarti diagnosa SpOG sebelumnya bahwa saya PCO (tanpa melalui USG trans V serta tes darah) terpatahkan.. Nah yang agak ngaco ini adalah FSH, hormon yang bikin sel telur matang ini justru ketinggian.. Kata Dokter ini mengindikasikan fungsi ovarium yang kurang bagus.. Tapi sewaktu tau bahwa siklus haid saya lumayan teratur tiap bulan, saya tidak diresepkan obat hormonal dulu.. Apalagi sewaktu akhirnya saya USG Trans V di hari ke 16 ternyata ada sel telur di ovarium kanan yang baru saja lepas.. Sambil jalan kata dokter liat bulan depan gimana hasilnya, ada kemungkinan juga hasil FSH di lab kemarin salah dan perlu dicek ulang.. Bismillah, semoga baik-baik saja..

Saya menghabiskan Rp 900.000,- sekian untuk tes ini (RSIA Muhammadiyah Taman Puring, Agustus 2015).. Sebagai informasi tambahan, tes saya lakukan di hari kedua haid, hasilnya baru keluar seminggu kemudian.. Sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, karena indikatornya terbagi dalam empat fase : fase haid, fase ovulasi, fase setelah ovulasi, serta fase menopause.. Meskipun begitu, umumnya dilakukan pada hari kedua atau kelima haid karena lebih mudah daripada menentukan hari ovulasi yang berbeda-beda tiap wanita..

image

Proses HSG..

Kembali ke judul, HSG dilakukan untuk mengetahui kondisi saluran tuba, apakah mampet atau baik.. Dilakukan dengan cara memasukkan cairan kontras ke dalam rahim kemudian dilakukan foto rontgen.. Karena dilakukan hanya pada hari ke 9, 10, atau 11, maka harus melalui perjanjian.. Saya pilih hari ke-9 karena bertepatan dengan suami libur kantor yaitu hari Sabtu..

HSG dilakukan oleh Spesialis Radiologi, dalam kasus saya, dokternya cowo! Hiks.. Kepikirannya sudah sejak seminggu sebelum hari-H, apalagi menurut cerita dari yang sudah pengalaman, HSG ini lumayan sakit.. Namun, mau tidak mau, hari eksekusi tiba juga.. Diantar oleh suami, kami tiba di RSIA dan melakukan registrasi satu jam sebelumnya..

Saat masuk ruang Radiologi, ternyata suami tidak boleh ikut.. Waaa…! Seketika perasaan tambah tak menentu.. Yang lumayan melegakan, ada mbak perawat yang menemani.. Jangan tanya bagaimana rasanya, untuk pertama kalinya diintip oleh cowo lain(?).. Iya, ini proses pertama bahkan sebelum merasakan USG Trans V oleh dokter kandungan.. Wow banget! Antara malu, deg-deg-an, takut (karena terlalu banyak baca testimoni orang), sedih, nelangsa.. Gini banget jalan idup guweh.. Tapi dokternya menguatkan juga, katanya proses ini memang harus dijalani dan belum seberapa jika dibandingkan kelak waktu bersalin.. Bener juga, sih..

Mbak, boleh saya pegang tangannya?

 

Pinta saya pada mbak perawat.. Untung perawatnya baik dan ramah.. Cuma karena hati saya rasanya terlanjur carut marut, akhirnya nangis juga di atas meja radiologi.. Apalagi proses pemasangan kateter agak lama, karena ternyata masih ada sisa darah haid di dalam.. Setelah melalui perjuangan tersendiri, kateter pun terpasang.. Segera dokter dan perawat masuk ruang monitor dan meninggalkan saya sendiri.. Cairan kontras pun dialirkan.. Inti dari HSG itu sendiri sebenarnya tidak lama.. Dan, bagi saya pribadi, sebenarnya tidak sakit!

Hasilnya bisa ditunggu alias langsung jadi.. Sembari menunggu, saya diajak suami makan di cafetaria.. Sambil diejek-ejek karena nangis.. -_- Seusai makan, kami kembali nongkrong di depan lab.. Di tengah jalan saya melihat sekilas ada pasien HSG sesudah saya, tampak kepayahan, kepala disandarkan ke bahu suaminya dengan mata terpejam dan memegang perut.. Sewaktu mengambil hasil, saya juga sempat melihat sekilas suami si mbak tadi mengambil hasilnya sendiri, kemudian langsung terburu-buru keluar lab.. Mungkin efek HSG beda-beda per orang..

Saya sendiri alhamdulillah tetap bisa jalan, naik motor pulang ke rumah (30 menit, karena Sabtu macet banget sampai rumah total menghabiskan satu jam).. Saya berangkat ke RSIA pukul 14.00, perjanjian HSG pukul 14.30 (tapi baru masuk ruangan pukul 15.30, seusai kami sholat Ashar), selesai HSG sekitar pukul 16.00 lebih, hasil keluar pukul 17.00, sampai rumah kembali pukul 18.00.. Nah, malam hari menjelang tidur baru saya merasakan nyeri perut seperti hari pertama haid.. Bedanya, kali ini buat menoleh ke kanan dan ke kiri juga sakit.. Pendarahan terjadi selama 2-3 hari..

Biaya HSG RSIA Muhammadiyah Taman Puring adalah Rp 650.000,- (Agustus 2015)..

 

Semen Analisis..

Sedangkan Semen Analisis Rp 350.000,- menurut saya termasuk miring untuk ukuran Jakarta, mungkin karena harganya sepaket (3 macam tes).. Untuk Semen Analisis, hasilnya baru keluar seminggu setelah hari-H.. Berbeda dengan pengujian sebelumnya di RSIA Andhika, hasilnya bisa ditunggu (langsung keluar) karena memang jarak antara pengeluaran dan pengujian tidak boleh lebih dari 10 menit.. Lebih murah juga, hanya Rp 80.000,- dan bisa diulang gratis kalau hasilnya agak rancu..

Oleh SpOG, jika bulan ini belum hamil (mengingat baru saja ada sel telur yang lepas, despite the unchecked size and condition) saya disarankan hydrotubasi (tiup rahim/sis) bulan depan.. Sebenarnya, seminggu sebelum ke dokter ini, begitu semua hasil tes keluar saya sudah melakukan riset sendiri mengenai pembacaan hasil tes saya serta tindakan yang mungkin diambil SpOG, dan salah satu hipotesis saya sampai pada hydrotubasi ini.. Prosesnya sama dengan HSG, hanya jenis cairan yang dimasukkan berbeda, kali ini pakai semacam antibiotik untuk mengobati dan membuka sumbatan.. Konon, ini juga sakit, ada yang sampai pingsan juga.. Tapi, ah sudahlah..

Dengan semakin banyaknya fakta medis yang terkumpul, kami jadi paham tentang kondisi kami sehingga dapat meningkatkan ikhtiar ini beberapa tingkat lebih baik dan terarah.. Terlepas dari itu, rezeki akan turun hanya dan hanya jika Alloh merestuinya.. Semoga Alloh memudahkan jalan kami selanjutnya, karena sesungguhnya setelah kesulitan akan ada kemudahan..

[Nov Sabatini]

 

Yuk baca juga artikel saya yang lain seputar program hamil :

1. Berapa biaya yang harus disiapkan untuk inseminasi

2. Tanya jawab dengan Spog seputar infertilitas

Mudik #Lupa : Never Enough Time With Family..

Yak kali ini judulnya agak ambigu, soalnya saya sendiri lupa mudik yang keberapa dari mudik-mudik yang senantiasa saya update di blog ini tiap tahunnya.. Yang jelas, ini mudik ketiga bersama suami.. Sekaligus tahun ketiga pula mudik bukan sekedar mudik lalu titik, melainkan mudik lanjut mudik, terus mudik lagi alias triple mudik!

Momo ikut lebaran.. (kasian dianiaya berjamaah)

Momo ikut lebaran.. (kasian dianiaya berjamaah)

Menyenangkan? Tentu saja! Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkumpul dan bertemu dengan keluarga, apalagi formasi lengkap dengan suami.. Daerah yang dikunjungi pun bertambah banyak, yang berarti banyak perjalanan yang kami lakukan.. Tidak hanya ke Tuban saja melainkan dari Jakarta mudik dulu ke Solo berdua suami, kemudian sekeluarga besar mudik ke Magetan (iyung suami) lanjut ke Tuban (mbah saya).. Plus ke Prambanan tempat Pak Dhe yang tahun kemarin saya tidak bisa ikut karena keburu balik ke Jakarta.. Belum diitung perjalanan dari rumah orang tua saya ke rumah orang tua suami yang notabene melewati 3 kabupaten.. Entah berapa kali dalam kurun waktu seminggu lebih dikit liburan kemarin kami berdua mondar-mandir Sukoharjo-Karanganyar, barang bawaannya pun sudah mirip orang mudik pakai motor : tas dicangklong masing-masing satu, tas jinjing isi pakaian satu, ditambah satu kresek besar oleh-oleh antar-besan..

Ceritanya keluarga saya dan keluarga suami ketemuan di tengah jalan untuk menuju Magetan, berangkat dari rumah masing-masing..

Ceritanya keluarga saya dan keluarga suami ketemuan di tengah jalan untuk menuju Magetan, berangkat dari rumah masing-masing..

Melelahkan? Sangat! Pastinyaaa.. Bayangkan, saya mudik dari Jakarta sengaja mepet sekali yaitu H-1 lebaran, alias hari pertama cuti bersama.. Sengaja, karena niat kami pol cuti di belakang, supaya bisa bebas makan-makan halal bihalal bersama keluarga.. Perjalanan memang hanya satu jam di udara, meskipun tarif lebih mahal dari hari biasa, kami rela untuk jaga kondisi mengingat rangkaian perjalanan panjang kami baru akan dimulai, kami memprioritaskan untuk meminimumkan waktu perjalanan dan tenaga.. Hari kedua lebaran, mudik jalur darat dimulai dengan berangkat pagi-pagi untuk menghadiri trah keluarga besar suami di Magetan.. Ada yang menarik, meskipun ini tahun ketiga Bapak Ibuk Adek ‘menyelundup’ tapi baru kemarin dipanggil MC untuk memperkenalkan diri sebagai ‘keluarga baru’, hihihihi..

 

Dari Magetan, ba’da Dzuhur langsung cusss ke Tuban, sampai TKP tepat sebelum magrib.. Langsung disambung acara makan malam keluarga besar di rumah Bude.. Dua malam kami habiskan di Tuban, kemudian kembali ke Solo karena Adik tidak dapat cuti (kasian) dan harus segera masuk kerja keesokan harinya (Selasa).. Namun, kami menyempatkan jalan-jalan kembali ke Objek Wisata Pantai Boom, tujuannya satu : foto-foto sekeluarga (entah kenapa, keluarga saya suka berfoto).. Selasa sampai Kamis, kami habiskan mondar-mandir ke rumah orang tua kami berdua, kemudian Jumat saya ajak suami ke rumah Bulik yang satu kota.. Setelah itu, saya sempat juga ikut makan siang dengan teman eks-kantor saya, alhamdulillah reuni meskipun geng sudah pecah kongsi, hehe.. Sabtu lanjut ke Prambanan seharian.. Ada yang lucu, berangkat dari Solo mabok parah.. Sampai Jogja, setelah makan bakso, cuci piring, dan mandi, pulangnya ceria sehat wal afiat.. Kira-kira kenapa ya? :0

Ibuk di Magetan Nyomot Anak Orang..

Ibuk di Magetan Nyomot Anak Orang..

Hari Minggu saya dan suami harus balik Jakarta lagi.. Penerbangan jam 8 molor setengah jam.. Baru sampai Soetta pukul 10.30 mungkin penerbangan agak terkendala cuaca, sepanjang penerbangan sering turbulensi.. Naik pesawat memang bagi saya merupakan salah satu moment yang membuat saya kembali berpikir sudah cukupkah amal saya di dunia? Karena begitu mengudara, rasanya hanya bisa pasrah, sudah tidak ada daya upaya yang bisa dilakukan selain duduk dan berdoa kenceng.. Semua yang di darat tampak sangat kecil, saking kecilnya sampai hanya terlihat kelip-kelip.. Kami sampai kontrakan jam 1 lewat, tengah malam.. Cukup wow, karena bus bandara jurusan Pasar Minggu hanya dua kali lewat, dan yang pertama penuh.. Agak menyesal, karena baru tau tarifnya naik sepuluh ribu, jadi Rp 40.000,- per kepala, tidak begitu worth it berhubung angkot dari terminal ke rumah sudah habis jadi terpaksa disambung taksi, total ongkosnya tidak begitu jauh dibanding naik taksi langsung dari bandara ke rumah..

Ada yang Nempel sama Suami.. ^_^

Ada yang Nempel sama Suami.. ^_^

Mudik lebaran memang banyak suka-duka.. Ada yang mudik diseling-seling tahun genap ke kampung suami, tahun ganjil ke kampung istri.. Tapi alhamdulillah kedua orang tua saya dan suami berada di (hampir) satu kota, jadi dari ibukota tujuan pulang kami sama.. Dan meskipun nenek kami berada di dua kota yang berjauhan, namun masih (hampir) satu jalan.. Memang butuh pengorbanan dan saling pengertian bukan hanya antara saya dan suami melainkan antara kedua keluarga besar kami.. Keluarga saya rela ikut menyelundup ke pertemuan trah keluarga suami, keluarga suami yang rela anaknya langsung saya comot tepat selepas acara trah selesai (di Magetan hanya kurang lebih 3 jam), dan banyak lagi penyesuaian yang harus kami lakukan.. Tapi saya bersyukur dalam tenggat waktu yang meskipun sebenarnya cukup panjang tapi terasa sangat singkat ini kami bisa bertemu dengan semuanya, maklum baik saya dan suami hanya tinggal punya nenek satu saja, minimal setahun sekali wajib bertemu donk! Meskipun mondar-mandir, alhamdulillah kondisi fisik tetap oke karena bertemu keluarga adalah salah satu obatnya.. Lelah badan baru dirasakan setelah tiba kembali di Jakarta *mulai bersin-bersin*..

Berburu sunrise lho kita..

Berburu sunrise lho kita..

Ibuk saya kepingkel pingkel liat ini..

Ibuk saya kepingkel pingkel liat ini..

Ketauan yang mana menantunya..

Ketauan yang mana menantunya..

Me & Misua..

Me & Misua..

Sepanjang jalan kenangaaan.. *kayak cover kaset*

Sepanjang jalan kenangaaan.. *kayak cover kaset*

Di Prambanan..

Di Prambanan..

Meskipun formasi kurang lengkap, tapi udah mayan rame..

Meskipun formasi kurang lengkap, tapi udah mayan rame..

Bersama Iyung..

Bersama Iyung..

Dengan menyamar sebagai mahasiswi, saya pun kebagian amplop..

Dengan menyamar sebagai mahasiswi, saya pun kebagian amplop..

Foto-foto lain sudah masuk sini sama sini.. Untuk cerita mudik yang kemarin bisa lihat di sini..

Nah, ini cerita mudik kami tahun ini, alhamdulillah tahun ini banyak foto yang bisa kami abadikan.. *suami jadi fotografer dadakan* *makasi yaaah* *maafkan istrimu yang suka the power of mepet-mepet*:-*

[Nov Sabatini]

Yuk, baca juga artikel saya yang lain

1. Ketinggalan pesawat? Pernah banget donk, gue gitu loh (hahaha malah bangga)

2. Referensi tempat belanja oke di Jakarta

3. Cerita di balik kiriman paket dari ibu

Pengalaman Pertama : Jakarta Fair..

 

Jadwal Konser Jakarta Fair

Jadwal Konser Jakarta Fair

Jakarta Fair adalah sebuah event yang rutin digelar pemkot DKI setahun sekali.. Tahun ini, dilangsungkan pada 6 Juni dan berakhir pada 6 Juli alias sebulan lamanya.. Lokasi penyelenggaraan adalah di gedung Jakarta Expo, Kemayoran, Jakarta Utara (kalau ga salah)..

Mulai pemerintahan Pak Jokowi, diselenggarakan pula event tandingan yang konon lebih murah dari Jakarta Fair, kalau tidak salah namanya Pekan Raya Jakarta.. PRJ ini bertempat di Monas (Monumen Nasional).. Saya memang belum mengunjungi PRJ ini, namun konon tiket masuknya gratis..

Tiket masuk Jakarta Fair sendiri beragam, untuk hari biasa sebesar Rp 25.000,- sedangkan akhir pekan dikenakan harga Rp 30.000,- per orang.. Anak kecil di bawah tinggi satu meter dibebaskan biaya masuk.. Tarif parkir untuk yang memakai motor sebesar Rp 10.000,- berlaku flat.. Di pintu masuk parkir akan diberikan sebuah kartu dan struk berwarna merah, keduanya akan diminta di pintu keluar nanti (selain diminta menunjukkan STNK), jadi sebaiknya struk jangan dibuang..

Setelah membayar tiket masuk, kita akan mendapatkan kartu untuk membuka kunci pintu masuk dan selembar kertas yang terdiri dari banyak potongan yang lebih kecil, salah satunya akan disobek oleh panitia di pintu masuk.. Potongan yang lebih kecil itu adalah aneka voucher yang bisa ditukarkan di dalam area Jakarta Fair nanti..

Voucher yang bisa ditukar..

Voucher yang bisa ditukar..

Ada banyak pintu yang bisa dilalui untuk masuk ke area Jakarta Fair karena tempatnya yang sangat luas.. Saya kemarin masuk melalui pintu 9.. Pertama-tama akan dijumpai arena indoor terdiri dari beberapa lantai.. Jika kita berjalan keluar dari situ, kita akan sampai di outdoor yang sangat luas dengan berbagai stan-stan baik besar dan kecil lengkap dengan SPG dan SPB yang berebut menawarkan barang..

Banyak diskon yang akan kita jumpai di sana baik makanan, minuman, baju, sepatu, dan lainnya.. Saya menukarkan kupon voucher di stan makanan outdoor untuk mendapatkan burger dan sebotol teh seharga Rp 15.000,- namun tentu saja jangan dibayangkan burger yang sesuai dengan display dan gambar.. Hehe.. Restoran indoor juga ada dengan merk yang sama lengkap dengan bangku dan meja, namun kita dikenakan harga reguler dan tidak bisa menukarkan voucher.. Harga reguler yang dimaksud adalah Rp 20.000,- hanya untuk sebotol teh..

 

Ada peta gratis yang bisa diambil di dekat pintu..

Ada peta gratis yang bisa diambil di dekat pintu..

Di sekeliling area outdoor ada banyak hall yang terpisah satu dengan yang lain.. Tidak semuanya bisa saya kunjungi, namun sepintas saya rangkum ada hall yang berisi produk-produk daerah dari seantero negeri (hall B), ada hall khusus untuk komputer dan pernik-perniknya, ada hall otomotif, ada hall untuk furniture (hall A), bahkan ada hall untuk TV kabel dan produk internet..

Banyak sekali stan makanan di pinggir-pinggir hall sebelah luar.. Meskipun banyak stan beberapa merk yang diulang namun tetap saja membuat lapar mata setiap melewatinya.. Saya sempat membeli paket seharga Rp 10.000,- yang terdiri dari satu cup bakso dan sekotak teh.. Pengin beli hotdog dan eskrim Turki belum kesampaian..

Kami hanya berkeliling saja sampai ujung dimana arena permainan dan panggung utama berada.. Kemudian menyeberang dan menemukan pertunjukan barong di depan pintu masuk Gambir Expo.. Ya, selain Jakarta Fair ada juga Gambir Expo yang bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh satu gerbang saja.. Isinya tidak terlalu berbeda dengan Jakarta Fair..

Kami menyusuri Gambir Expo, di ujung terdapat arena permainan dan taman dengan danau.. Di danau tersebut kita bisa bermain bola air, perahu bebek, bisa juga mengelilingi danau lewat jembatan dengan menyewa sepeda atau becak mini.. Saya hanya berjalan kaki saja lalu berfoto di depan miniatur candi Borobudur..

Puas di Gambir Expo, kembali ke Jakarta Fair dan suami saya membeli TV kabel yang sedang promo Rp 210.000,- untuk 3 bulan full channel.. Kemudian saya ngiler beli Kopiko 78° sebanyak 6 botol dengan harga Rp 20.000,- bonus tas jinjing kecil, juga satu bolpen (hasil memutar rollet yang saya ga tau gimana aturan mainnya) dan beberapa bungkus snack..

Perbatasan Jakarta Fair dan Gambir Expo..

Perbatasan Jakarta Fair dan Gambir Expo..

Kami keluar dari Jakarta Fair sekitar pukul 8 malam, parkiran motor sudah penuh, padahal tadi siang sehabis Dzuhur masih sangat luang, bahkan kalau mau gulung-gulung lari-lari masih bisa.. Dari parkiran menuju jalan utama dipenuhi antrean mobil yang mau parkir (atau mau pulang), beberapa angkot yang disewa OI (jadwal artis panggung utama malam itu adalah Bang Iwan Fals) lengkap dengan benderanya.. Belum lewat Monas juga padat karena ada PRJ.. Rasanya, capek itu bukan karena berkeliling Jakarta Fair sesiang-malam melainkan perjalanan pulangnya yang macet dimana-mana..

Oh iya, ada banyak balon di stan-stan.. Saya memang selalu pengin ambil satu kalau liat ada banyak balon, namun waktu itu sudah keburu habis (ga dari tadi sih).. Sewaktu istirahat duduk di emper toko, ada balon terbang entah dari mana dan tidak ada yang merasa kehilangan waktu saya tanya.. Jadilah, saya kegirangan dapat balon dari langit (?).. Niatnya saya bawa pulang, dan memang sudah separuh jalan saya bawa, meskipun dimarahi suami karena ribet bawa balon pakai motor jadi ga bisa lihat GPS.. Akhirnya balon itu jatuh juga di tengah perjalanan pulang.. Hiks..

Foto di depan replika candi Borobudur..

Foto di depan replika candi Borobudur..

UPDATE JAKARTA FAIR 2015

Sabtu awal Juni kemarin tiba-tiba diajak suami main ke Kemayoran.. Katanya, mumpung belum puasa.. Maklum, di sana enaknya emang kuliner junk food hehe..

Ternyata Jakarta Fair tahun ini secara garis besar tidak banyak berubah dari tahun lalu.. Bahkan hall mana untuk pameran apa, masih sama.. Misal hall B untuk pameran produk budaya dan pemerintah, hall A untuk produk furniture, dan seterusnya..

Namun, saya kok baru tau ada hall E yang isinya khusus makanan ya, entah tahun lalu sudah ada atau memang baru tahun ini.. Konsepnya seperti foodcourt di mall, jadi bisa duduk santai sambil pilih mau pesan makanan di mana.. Saya makan sate Rp 28.000,- (cuma dapet 8 tusuk hiks) suami makan kupat sayur..

Selain makan yang mengenyangkan, sepanjang hari berhubung kami sampai sana kepagian (jam 12 sudah sampai TKP) kami sempat makan burger, mie, juga ngemil chitato sepaket Rp 10.000,- (yang ternyata Chitato cuma sebungkus, sisanya ada Taro, Cheetoz, Jet Z, Q Tela, sama Chiki)..

Tahun ini kami masuk melalui pintu 7, ternyata sebelahan sama pintu 9 tempat kami masuk kemarin.. Bedanya, tiket parkirnya hanya selembar kertas saja, tanpa kartu seperti taun kemarin.. Untuk harga tiket parkir dan tiket masuk masih sama : Rp 10.000,- flat dan Rp 30.000,- per orang untuk akhir pekan..

Gambir Expo juga masih ada, Replika Candi Borobudur di taman Gambir Expo juga masih berdiri awet.. Bedanya, sekarang ditambah wahana khusus untuk foto, di dalamnya ada berbagai macam spot mulai bertema princess sampai pohon-pohon yang semuanya disusun dari lampu-lampu.. Masuk ke sana kena biaya Rp 20.000,- (akhir pekan) yang karena masih terang oleh siang, waktu lewat sana wahananya belum buka..

Oiya, entah kenapa taun ini sama seperti taun kemarin : saya juga mendapat balon dari langit! Waktu sedang duduk di emper tiba-tiba ada balon terbang, saya tangkap deh.. Tapi mengingat kejadian dimarahi suami sepulang dari Jakarta Fair taun lalu, juga karena sudah banyak tas yang ditenteng (memborong : baju lebaran diskon di Matahari, kerudung diskon Zoya, jaket diskon Rei, masih bawa berbotol-botol minuman dan beberapa makanan.. maklum aji mumpung, mumpung diskon) akhirnya saya menyerahkan balon itu pada suami setelah puas saya peluk-peluk(?).. Seusai sholat, sebenarnya suami hendak memberikan pada anak kecil tapi karena ada angin kencang di kanopi lantai 2 itu membuat balon terbang….dan hinggap di pangkuan Bapak-bapak yang sedang duduk tahiyat akhir (musholanya memang di kanopi, terbuka gitu).. Yasudah, kita tinggalkan balon itu di sana dan kita turun.. Semenit kemudian terdengar bunyi letusan diikuti dengan “astaghfirullohal adziiim” dari beberapa orang.. “Hoo, kayaknya itu tadi balonmu meletus O.o“dan kita pun turun secepat kilat, sambil siul-siul pasang muka Mr.Bean.. :-D

Oleh-oleh Jakarta Fair 2015:

Mumpung masih sepi, foto di dalem hall A..

Replika Candi Borobudur masih awet berdiri..

Spot yang paling bagus buat foto ya cuma di sini sih..

Foto di Papan Upcoming Manga Fest..

Beberapa tips jika ingin ke Jakarta Fair:
1. Tidak usah membawa minum dari rumah.. Saya agak menyesal membawa sebotol air putih dari rumah, karena pada kenyataannya malah saya pulang membawa berbotol-botol minuman murah dari Jakarta Fair..
2. Jangan lupa membawa mukena untuk sholat..
3. Lebih baik berangkat agak siang agar tidak antre saat masuk, juga agar bisa puas mengelilingi setiap sudut Jakarta Fair..
4. Kecuali jika niatnya untuk menonton konser, lebih baik berangkat agak sore karena konser baru dimulai sekitar jam 9 atau 10 malam..
5. Sebaiknya tidak membeli makanan di luar area Jakarta Fair, karena harganya bisa sangat mahal sekali.. Sudah banyak ceritanya..

6. Kalau memang lapar, yang penting beli tiket dan masuk dulu ke area Jakarta Fair karena di sana sangat banyak stan makanan baik makanan tradisional maupun modern dengan harga yang jelas..
7. Jangan kalap karena harga murah, hehe pengalaman pribadi..
8. Jika memang berencana borong, bawa troli atau kereta dorong bayi..
9. Kereta dorong bayi wajib dibawa jika punya anak kecil, kecuali kalau tidak berniat lama-lama di sana atau kuat menggendong dalam waktu lama..

Masalahnya, ga ada tempat duduk yang memadai kecuali di restoran atau kafe, kami pun duduk ndlosor di lantai bersama orang-orang lain yang kelelahan..

 

 

Yuk baca juga artikel saya yang lain mengenai review tempat-tempat di Jakarta :

1. Review tempat-tempat belanja di Jakarta

2. Belanja buku bekas murah di Pasar Senen

3. Pengalaman jalan-jalan ke Pasar Baru

4. Belanja di Glodok-Tanah Abang-Mangga Dua

5. Belanja Kain di Sentra Tekstil Jalan Raya Cipadu

Di Balik Dinding..

Di antara sayup-sayup tembang yang mengalun dari sekotak radio tua, duduk seorang wanita setengah baya.. Hanya sendiri, dan hanya termenung.. Tampak beban menggelayut memaksa matanya tak bisa memejam.. Mau tak mau, esok harus dicobanya jalan itu, bisiknya.. Lalu dibiarkannya malam semakin meninggi.. *** Pagi ini cerah, seperti pagi-pagi yang lalu di musim kemarau.. Wanita itu sudah beberes bahkan sebelum matahari menggeliat.. Dia harus membuka toko kelontong sekaligus warungnya, kemudian menyiapkan anak semata wayangnya untuk bersekolah.. Nanti saat matahari sepenggalah, anak tetangga yang biasa dititipkan padanya menanti untuk ia jemput..

Lumayan buat tambah-tambah, saya cuma lulusan SD..

Begitu katanya.. Semua pekerjaan yang mungkin dilakukan ia lakukan untuk membantu suaminya yang kuli bangunan di siang hari sekaligus tukang ojek sepulang menguli.. Pagi itu agak beda, wanita itu (sebut saja wanita #1) menyiapkan hati dan mental.. Lalu mengetuk sebuah pintu.. Wanita #4 si empunya pintu membukakan tak berapa lama..

Tante, saya beli es batu 2..

Pagi-pagi es yang dibuatnya memang belum mengeras.. Pada wanita #4 dia biasa membeli es batu.. Kemudian obrolan ringan dan berlanjut dengan wanita #1 yang mulai bercerita dengan suara yang sengaja dikecilkan..

Tante bolehkah saya pinjem duit dulu, 200 ribu gitu? Kalau Tante luang..

Wanita #1 bercerita jika rapor anak semata wayangnya ditahan pihak sekolah karena belum membayar uang piknik..

Saya sebenarnya sudah tidak daftar piknik, saya sudah menghadap kepala sekolahnya tapi katanya ikut atau tidak tetap bayar.. Sembilan juta saya keluarkan untuk sewa bus, lalu gimana saya bayarnya kalau situ nggak mau bayar?! gitu katanya Tante, sambil teriak-teriak pula.. Sedih saya Tante.. Saya cuma dikasih 3 hari.. Tiap anak saya tanya kenapa dia belum dapat rapor sementara teman-temannya sudah dapat, saya nangis lagi..

Wanita #4, dengan suara yang sama kecilnya..

Ssst.. jangan sekarang, ada suami saya..

Kemudian dari balik pintu yang ditutup tersebut, terdengar percakapan antara wanita #4 dengan suaminya yang kebetulan minggu ini mendapat giliran shift malam..

Ngutang? Ga usah dikasih.. Kita aja cari duit susah, enak aja diutangi.. Suruh kerja dulu sono yang bener, biar banyak duitnya! Lagian sekolah di tempat orang gedongan, gaya amat jadi orang..

*** Malam datang lagi.. Rasanya terlalu cepat bagi wanita #1.. Belum sampai jalan keluar dia dapatkan, belum terkumpul uang yang harus dibayarkan..

Apakah aku salah nyekolahin anakku di situ, mbok?

Setengah bertanya pada ibunya, setengah bertanya pada dirinya sendiri.. Aku tau, anakmu hanya satu.. Dan aku tau, kau hanya ingin yang terbaik baginya.. Sedangkan tetanggamu itu tak tau apa yang kau rasakan, karena mereka bahkan belum punya anak satu pun.. Dan kau tau itu.. Tapi kau tak tau, betapa berat perjuangan mereka untuk bisa mendapatkan anak.. Seandainya kau tau, kau harus banyak bersyukur untuk itu.. Ibunya yang sudah renta, biasa begadang sambil mendengarkan tembang yang mengalun dari sekotak radio tua, satu-satunya hiburan dari masanya yang tertinggal di antara invasi modernisasi.. Beruntung mantunya yang lulusan STM, lumayan cakap dalam memperbaiki barang dan mempertahankan radio tersebut.. Ibunya memang sehari-hari tinggal bersama wanita #1.. Meskipun memiliki banyak anak, kenyataannya si bungsu tetap yang paling lekat..

 

Mbok, gimana ya kalau pinjem duit sama Mbak itu..

Dengan suara lirih, ia meminta nasihat ibunya.. Sejurus kemudian ibunya mengingatkan bahwa hutang yang kemarin belum dia lunasi, tidak baik jika sekarang hendak meminjam padanya lagi..

Kamu udah coba nembung orang tua temennya Tole?

Udah Mbok, ga ada yang ngasih.. Malah pada dicibir katanya “salah sendiri cari kontrakan juga gede-gede, kontrakan gede kuat bayar kok sekolah anak cari utang”.. Mereka gak ngerti Mbok rasanya ngontrak, suaminya orang betawi semua, tanahnya gede-gede..

Menghela nafas, ia telan kenangan pahit itu.. Kontrakan dengan satu kamar tidur, dapur yang menyatu dengan MCK, bonus satu kamar tamu memang sedikit lebih mewah dibanding kontrakan sekitar yang hanya punya kamar tidur tanpa embel-embel bonus.. Kalau tidak kasihan dengan ibu dan anaknya belum lagi kakaknya yang terkadang numpang tidur bila pulang terlalu malam dari warung soto tempatnya bekerja, pastinya tak berani ia numpang tinggal di sini.. Wanita #1 beranjak keluar, ia butuh mengambil nafas dalam-dalam.. Mungkin udara segar dan hening malam bisa membantu meringankan sesak yang ada di dadanya.. Dia pun duduk di bangku kayu depan rumah.. Di antara sayup-sayup tembang yang mengalun dari sekotak radio tua, dia hanya termenung.. Tanggal gajian masih jauh, karena masih harus menunggu sampai proyek pembangunan suaminya selesai.. Semua yang bisa dimintai tolong sudah dia datangi..

Budhe, saya kasih gopek deh.. Tapi nanti tanggal 27.. Saya belum gajian Bude..

Kata bujangan sebelah rumah yang sering jajan di warungnya, yang sudah seperti anaknya sendiri.. Untuk minta tolong pada bujang yang satunya, dia tak sampai hati berhubung baru saja berhenti dari pekerjaannya dan sekarang menganggur.. Mau tak mau, esok harus dicobanya jalan itu, bisiknya.. Lalu dibiarkannya malam semakin meninggi.. *** Sedang menjemur pakaian, diperhatikannya wanita #3 yang mengenakan headset sambil bernyanyi seperti yang biasa dilakukannya sehari-hari.. Wanita #1 kemudian menyiapkan hati dan mental, menahan rasa malu, bergegas menghampiri wanita #3 untuk mengulang cerita yang sama..

Waduh, saya bilang suami dulu ya Bu.. Biar gimana pun, yang kerja beliau, saya nggak berani kalau nggak izin..

Wanita #1 itu pulang sambil menyeka matanya yang basah.. Kehidupan ini memang keras.. Dia harus kembali memikirkan jalan keluar yang lain sambil menunggu jawaban dari pintu-pintu yang sudah dia ketuk.. Berharap akan ada pertolongan dari Tuhan melalui salah satu pintu itu.. *** Terdengar suara motor yang tidak asing memasuki teras rumah, wanita #3 beranjak membukakan pintu menyambut suaminya yang tumben pulang lebih cepat, kemudian menyiapkan makanan baginya.. Setelah suasana santai dan ketegangan kantor hilang, dengan hati-hati dan suara yang setengah berbisik dia ceritakan kepada sang suami mengenai permintaan wanita #1 tadi pagi..

Yah, beginilah kehidupan ibukota.. Pendatang banyak yang tidak punya skill, hanya modal nekad karena iming-iming atau bahkan hanya melihat tetangga sepulang dari sini.. Gedung-gedung yang tinggi dan jalanan yang bagus hanya kenampakan luar saja, yang terus dicitrakan di TV sebagai image ibukota negara.. Kenyataannya, di belakang gedung- gedung tinggi ada ratusan petak rumah yang saling berhimpitan.. Dan di ujung jalan-jalan bagus ada gang-gang sempit yang sesak..

Diam-diam wanita #3 merenung.. Ada rasa ketidak-percayaan karena hutang yang lalu belum bisa dilunasi, ibukota memang penuh intrik, segala macam tipu daya bisa terjadi di sini.. Namun terselip pula rasa iba, membayangkan berada di posisi seperti itu.. Kemudian dia teringat, bahwa selama ini jika dia memiliki masalah, jalan keluar hampir selalu mudah dia peroleh.. Bukan karena kepintarannya atau kerja kerasnya semata.. Betapa nikmat dari Tuhan sepanjang hidupnya, ada hak-hak orang lain di dalamnya.. Hatinya bimbang.. Secuil kebisuan muncul di antara siaran TV yang mendadak tidak dapat dia pahami bahasanya.. *** Suasana sekitar sudah sepi, pintu pagar sudah terkunci menandakan semua penghuni telah pulang ke rumah masing-masing.. Sayup-sayup tembang mengalun dari sekotak radio tua.. Wanita #1 kembali duduk, termenung.. Andai aku bisa mengabarkan pada dunia, kesedihan dalam setiap bisikan yang ia ceritakan pada dirinya sendiri.. Tapi aku hanya sebuah dinding tipis.. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanya menjadi saksi dan pendengar, dari semua yang dilakukan penghuni keempat petak kontrakan ini.. Semua sudah dia lakukan.. Sekarang terserah Gusti Alloh, bisiknya.. Wanita itu beranjak masuk.. Dibiarkannya malam semakin meninggi dan dipasrahkannya semua yang akan terjadi besok.. image Jakarta, 25 Mei 2015

[Nov Sabatini]

Yuk, baca juga tulisan saya yang lain :

1. Sebuah Catatan

2. Tujuan Akhir

3. Masa Lalu