Sekilas Tentang Proses Pindahan

Bingung mau kasih judul apa, yasudahlah ya.. Sebenernya cuma pengen sharing informasi saja, barangkali ada manfaatnya.

Proses packing tahap awal, banget..


Berbeda dengan proses pindahan sebelumnya (dari Lampung ke Jakarta) dimana barang-barang kami masih minimalis abis, pindahan kali ini jauh lebih ruwet.

Di Lampung dulu, barang-barang kami diangkut dengan dua cara : kami bawa via bagasi pesawat dan dikirim via ekspedisi. Total yang kami bawa dalam bagasi pesawat seberat 72 kg, terdiri dari dua koper besar dan dua tas jinjing besar. Barang-barang yang urgent untuk secepatnya diangkut misalnya baju, seragam kerja, sepatu, dll. Karena hanya berdua, total bagasi yang diperbolehkan hanya 40 kg, sehingga kami kelebihan 32 kg dan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 600.000,- (Bandara Radin Inten 2 ke Adi Soemarmo menggunakan maskapai burung biru) yang mana hampir seharga tiket untuk satu penumpang. Kebetulan tiket kami waktu itu sedang promo karena berangkatnya memang weekday, di bawah satu juta.

Jual Kardus Bekas Kelapa Dua


Barang yang dikirim via ekspedisi terdiri dari 5 buah kardus. Barang elektronik seperti TV, penanak nasi, serta perlengkapan makan dan memasak. Biaya pengirimannya sebesar Rp 325.000,- kalau tidak salah. Ekspedisinya memang pakai yang khusus untuk muatan besar 5 kilo-an sehingga jatuhnya lebih murah. Barang-barang yang tidak terangkut di antaranya karpet, dispenser, jemuran, kipas angin, kucing, logistik dan bahan dapur.

Di Jakarta, barang kami sudah berkembang-biak dengan pesat, berhubung memang lumayan lama menetap di sini (di Lampung saya 6 bulan, di Jakarta 3,8 tahun). Sudah punya rak, meja, kulkas, sepeda, motor, oven, keyboard, kasur, dan kucing beserta anaknya.

Awalnya sempat akan pakai sistem pindahan seperti sebelumnya yaitu dikirim ekspedisi, diangkut sendiri naik pesawat atau kereta, dan ditinggal. Namun urung karena setelah dipikir dan dihitung, keterbatasan waktu, tenaga, dan sumberdaya sepertinya lebih simple diangkut sekaligus pakai truk.

Jual Kardus Bekas Jakarta


Sempat cari jasa pindahan, tapi barangnya tanggung. Dibilang banyak kok cuma sedikit, dibilang sedikit kok ya lumayan banyak. Hahaha. Jadi kami putuskan pindahan sendiri saja, hanya sewa truk-nya.

Persewaan truk cukup banyak ditemukan di google, apalagi untuk kota besar macam Jakarta. Masalahnya hanya di harga. Kalau antar kota besar (misal Jakarta-Jogja, Jakarta-Surabaya) mungkin harganya bisa lebih murah karena truk berisi muatan baik di perjalanan pulang maupun pergi. Tapi berhubung kami pindah ke kota yang lebih kecil, agak tricky milihnya. Kalau truk pulang dalam keadaan kosong, maka biaya pulang-pergi dibebankan pada kami sehingga jatuhnya bisa sampai Rp 4.000.000,- ke atas. Namun alhamdulillah akhirnya kami menemukan persewaan truk yang punya channel di Kudus, sehingga pulangnya ngga kosong. Jadi kami cukup bayar Rp 2.500.000,- saja. Biaya bersih plus yang bantuin angkut barang dari rumah ke truk. Kalau pindahannya dekat, misal Jakarta-Bekasi atau Jakarta-Depok, bisa pakai pick up saja seharga Rp 150.000,- malah sebenarnya lebih pas untuk muatan pindahan kami yang tanggung.

Selanjutnya kami berburu kardus. Kardusnya bukan sembarang kardus yang kecil dan tipis, karena barang kami lumayan banyak printilannya. Kalau pakai kardus kecil mungkin bisa puluhan, itu pun beberapa barang besar tidak bisa termuat seperti kompor gas, rak lipat, dll. Minimal kardus rokok yang tebal.

Jual Kardus Bekas Depok


Kami berburu kardus di daerah Kelapa Dua, Depok. Di daerah ini lumayan banyak penjual kardus bekas yang masih bagus, mungkin karena dekat dengan banyak kampus (Universitas Indonesia, Universitas Gunadarma, Universitas Pancasila) jadi banyak diperlukan untuk pindahan kos. Ukuran kardus beraneka ragam, mulai dari seukuran kardus rokok yang sedang sampai kardus bekas kemasan lemari es. Ada juga kardus bekas pewarna tekstil (kalau tidak salah) yang berbentuk tabung dan ada tutupnya. Sebenernya saya naksir banget, karena bisa difungsikan sebagai tempat duduk yang bergaya industrialis gitu, tapi apa daya ngga dibeliin hahaha.

Kami beli 4 buah kardus, dua berukuran besar (kardus spare part mesin), dua berukuran sedang (kardus rokok). Untuk kardus sedang harganya Rp 10.000,- (kira-kira 100 cm x 50 cm x 50 cm) sedangkan kardus besar Rp 17.000,- (kira-kira 100 cm x 100 cm x 100 cm) per buah. Untuk kardus berbentuk kursi yang saya taksir tadi, harganya mulai dari Rp 70.000,- tergantung besarnya.

Note : kelihatannya cuma kardus ya, tapi kalau bawa pakai motor ternyata rempong juga, aslikkk, tapi aim ternyata cukup setrong alhamdulillah.. buahahahaha..

Total waktu yang dibutuhkan truk dari Jakarta ke Pati sekitar 24-30 jam. Tanaman yang saya angkut via truk sebanyak 2 pot alhamdulillah bertahan hidup sampai sekarang.

Tips Membawa Kucing di Mobil


Langkah terakhir, untuk mengangkut kucing kami memakai mobil. Kucing yang kami angkut ada 4 ekor dengan total waktu perjalanan 12 jam (karena ketika saya yang nyetir, saya sempat kesasar di Semarang jam 11-an malam). Untuk kucing besar, adaptasinya lumayan lama. Selama di mobil,  kucing besar sangat responsif terhadap suara (terutama suara kendaraan besar seperti truk atau bus, juga sirine). Kucing akan tenang kalau dipangku dan dibelai, atau sembunyi di kolong jok. Sepanjang perjalanan, kucing besar tidak mau makan dan minum, apalagi pipis atau poop. Lain cerita dengan kucing kecil. Kucing-kucing kecil lebih cepat adaptasi, tetap makan dan sempat poop satu kali. Sepanjang perjalanan kucing-kucing kecil tetap lari ke sana kemari, mainan sabuk pengaman, bahkan masuk ke kolong pedal gas. Oleh karena itu sebaiknya kalau bawa kucing di mobil jangan sendirian.

Keempat kucing memang saya lepaskan sewaktu di dalam mobil (tapi tidak dalam waktu bersamaan), karena kalau di kandang mereka akan meongmeong. Awalnya kucing akan bingung, semua sisi jendela akan diinspeksi, semua benda bergerak akan diawasi (motor lewat, dll). Bahkan ada yang sampai mangapmangap atau menjulurkan lidah. Ini pertanda kucing stress. Namun seiring waktu kucing akan mulai tenang dan tidur terus sepanjang perjalanan. Akan lebih cepat tenang kalau dipangku dan dibelai.

Advertisements

Pengalaman Kirim Hewan

Lama ngga nulis ya? Hehe.. Kemarin masih ribet pindahan dan adaptasi, karena suasana di daerah sini benerbener selaw, jadi kelembaman saya ikut meningkat.

Sedikit share masih berhubungan dengan proses pindahan kemarin, yaitu pengalaman saya kirim hewan dari Jakarta ke Pati.

Ngkus


Latar Belakang : kucing di Jakarta banyak, salah satunya ada yang sedang beranak. Kucing tersebut bernama Ngkus. Ngkus punya 3 ekor anak sendiri, selain itu juga punya anak susuan boleh nemu di pinggir jalan 3 ekor. Jadi Ngkus menyusui 6 ekor anak kucing. Saya ngga mungkin bawa semuanya, jadi saya bagi. Empat ekor anaknya diadopsi oleh temen sekantor si Om. Ngkus rencananya dipelihara tetangga, karena Ngkus sudah lama di sana dan tetangga se-gang sudah sayang & familiar. Dua anaknya yang lain rencana dihibahkan pada teman saya di Bekasi, namun waktu tidak memungkinkan untuk mampir ke sana sehingga akhirnya kedua anak kucing tersebut saya bawa ke Pati bersama dua ekor kucing besar yang lainnya. Ternyata, di kontrakan lama saya, Ngkus meong-meong terus. Nyari saya dan anaknya. Semalaman sampai jam 2 pagi. Tetangga pada ngga tega ngeliatnya. Pun saya yang dikirimi video via aplikasi.

Segera saya cari info pengiriman hewan. Ternyata lumayan susah. Laman pertama google hanya ada beberapa saja yang update, bawah-bawah sudah postingan lama tahun 2011-an. Apalagi laman 2.

Saya coba kontak satu ekspedisi berdasarkan info dari google tersebut. Responnya lumayan lama. Tanya hari ini, dijawab besok. Belakangan saya ketahui kalau kantornya sedang mengalami musibah kebakaran sehingga memang sebagian besar operasionalnya sedang berhenti. Saya coba kontak ekspedisi kedua, telpon tidak diangkat sehingga akhirnya saya tanya melalui pesan singkat, alhamdulillah dibalas. Setelah tanya-tanya, ini info yang saya dapatkan.

Kucingnya dijemput ke rumah oleh jasa ekspedisi. Namun untuk case pengiriman ke Pati, penerimaan dijemput di Bandara terdekat (Juanda Semarang, sekitar 2.5 jam dari Pati). Sebaiknya tidak menggunakan keranjang piknik, minimal pet travel cargo supaya aman & nyaman. Ekspedisi tidak menyediakan keranjang ya, jadi keranjangnya dari kita. Harga keranjangnya lumayan sih, beli baru sekitar Rp 250.000,- an. Pengiriman via udara. Jadi, surat harus lengkap. Karena kebetulan Ngkus hanya kucing kampung biasa, saya tidak memiliki surat. Oleh karena itu, harus diurus dulu suratnya. Surat diurus ke dinas yang kemarin saya tulis di artikel puskeswan itu. Nah, untuk pengurusan ini lumayan lama, butuh waktu 1-2 bulan, tergantung hasil cek darah hewan yang akan dikirim. Pihak ekspedisi menyediakan layanan untuk mengurus semua surat, pengirim dan penerima terima bersih, total biaya Rp 1.500.000,- sudah termasuk pengurusan surat beserta kirim hewan. Kalau kirim saja, dari Jakarta ke Semarang Rp 800.000,- namun konon kata pihak ekspedisi pengurusan surat sendiri akan makan waktu lebih lama lagi.


Saya galau di lead time nya, kasian Ngkus kalau nunggu sebulan apalagi dua bulan. Gimana pun, saya merasa bersalah kenapa dulu tidak saya bawa sekalian, karena Ngkus sudah bersama kami sejak umur 2 bulan. Akhirnya saya cari alternatif ke ekspedisi lain. Namun setelah saya telusuri, sebagian besar linklink yang lain di laman pertama google ujung-ujungnya mengarah ke dua ekspedisi tadi. Untuk yang lain-lain, jatuhnya antara link postingan lama (saya tidak yakin ekspedisi tersebut masih beroperasi dan bisa dihubungi) atau kurang meyakinkan.

Saya beralih ke plan B. Saya hubungi teman-teman di Jakarta untuk minta tolong dicarikan info travel. Singkat cerita, dapat beberapa travel dengan range bervariasi, antara Rp 2.500.000,- sampai Rp 3.000.000,- untuk tiga travel yang saya hubungi. Biaya tinggi karena muatan satu arah saja, pulang dari Pati ke Jakarta kosong. Biaya akan lebih miring kalau bisa mencarikan penumpang dari Pati yang bertujuan ke Jakarta. Hedeh, saya belum kenal siapa-siapa di sini, gimana carinya. Mungkin kalau tujuannya kota besar misalkam Semarang, Jogja, Surabaya, travelnya ngga balik Jakarta dalam keadaan kosong.

Novsabatini Novandspon

Novandspon


Rincian biaya travelnya kira-kira seperti ini, bensin Rp 450.000,- | mobil Rp 300.000,- | sopir 2 @ Rp 200.000,- (pakai 2 sopir karena begitu sampai Pati langsung balik Jakarta lagi) | biaya toll Rp 150.000,- semua komponen biaya tersebut dikali dua karena pulang-pergi dihitung 2 hari.

Saya semakin galau. Akhirnya beralih ke plan C, minta tolong tetangga saya untuk dicarikan kenalan yang bisa antar. Singkat cerita, Ngkus sampai juga ke Pati diantarkan oleh tetangga saya & ibunya, dengan minta tolong teman kuliahnya. Tapi tetep, diongkosin setidaknya uang bensin. Meskipun jadwal bergeser dari Sabtu-Minggu jadi Minggu-Senin, dibelain tetangga saya bolos sekolah & ibunya tukar shift kerja, demi seekor kucing, tapi alhamdulillah happy ending story.

Jadi silaturahmi, kan..

Yuk baca artikel kucing lainnya

1. Periksa kucing di Puskeswan

2. Periksa kucing di Rumah Sakit Hewan Jakarta

Puskeswan Ragunan

Sebelum pindahan kemarin, saya sempat ke Puskeswan Jakarta yang terletak di Jalan Harsono RM Ragunan Jakarta Selatan.


Ceritanya, tetangga saya nemu kucing kecil usia 2 bulan di depan Alfamidi. Oleh tetangga, kucing tersebut dinamai Alfa, kemudian diberikan ke saya. Saya kasih makan dan minum susu, malamnya saya biarkan tidur di dalam rumah bersama keenam ekor anak-anak kucing saya yang lain.

Paginya, saya cek bak pasir di belakang yang biasa untuk pipis anak-anak tersebut, ada genangan darah. Saya syok. Langsung cek si Alfa, barangkali ada luka atau apa. Tapi ngga ada, hanya jalannya yang agak pincang di kaki kanan belakang. Sorenya, saya pergoki Alfa sedang pipis di kamar mandi, pipisnya merah seperti darah. Saya panik, takut kenapa-kenapa, keesokan harinya saya bawa ke Puskeswan Ragunan.


Bagi yang belum tau, puskeswan ini memang agak ngga keliatan karena papan nama yang lebih mencolok adalah Dinas Peternakan Ketahanan Pangan dan Kelautan (maaf kalau salah, di street view maps tulisan timbul-nya ada yang lepas).

Letaknya persis di depan Departemen Pertanian jalan Harsono RM, dekat dengan Rumah Sakit Hewan Jakarta (di belakang Puskeswan). Depan Puskeswan ada halte, ngga tau halte apa namanya. Masuk saja ke gerbang, tanya satpam, nanti ditunjukkan bangunan untuk pemeriksaan hewan (bangunannya cat ungu).


Seperti suasana di RSHJ, Puskeswan juga sejuk dan tenang karena banyak pohon-pohon besar. Kucing-kucing banyak sekali berkeliaran, biasanya yang memeriksakan kucing sengaja bawa catfood untuk kasih makan kucing-kucing di sana. Sebagian besar kucing (terutama yang betina) sudah disteril, gendut tapi ketika dipegang perutnya ngga kerasa ada kantung yang menggantung. Lebih mudahnya, kucing yang disteril diberi tanda di telinganya berupa sedikit sobekan berbentuk huruf V.


Hari itu hanya saya dan satu orang lainnya yang antre. Saya ke sana tepat istirahat siang, karena tadi angkutan saya kesasar sewaktu cari alamat. Jadilah kami menunggu sambil mengobrol dari jam 12 siang sampai jam 13.30. Hari yang lain, antrean lumayan banyak mungkin 5 sampai 7 pasien. Seru. Kami antre sambil ngobrolin kucing. Ada yang piara 17 ekor kucing, ada yang 50 ekor kucing. Saya kalah telak.

Tiba giliran saya masuk, Alfa diperiksa fisiknya sambil saya ceritakan sebagai informasi tambahan asesmen. Ternyata yang dianggap darah itu ambigu. Apakah pipisnya berdarah, atau pipis darah. Apakah darah segar atau darah coklat. Sayangnya kemarin saya tidak ambil foto pipis dan poop-nya Alfa.


Dokter belum bisa mendiagnosis karena info yang saya berikan ambigu. Tapi dugaan yang mungkin adalah dehidrasi, diare, atau karena virus panleu. Deg! Saya langsung cemas kalau ini panleu. Karena sehari semalam kemarin Alfa saya campur dengan anak-anak kucing yang lain. Panleu menular dan berbahaya.

Jadilah sampai rumah Alfa saya pisah di box Rio, kasian sebenernya, meong-meong terus. Tapi demi kebaikan bersama, dan dengan begitu saya lebih mudah memantau Alfa, malamnya Alfa poop mencret. Saya lega karena berarti ini diare seperti kata dokter, bukan panleu.

Alfa diresepkan obat cacing combantrin cair 0.5 mL diberikan dua minggu sekali. Total biaya berobat Alfa hari itu Rp 50.000,- periksa dan suntik vitamin, obat cacing Rp 18.000,- satu lagi vitamin tapi saya tidak tebus karena di rumah masih ada biolysin sisa Miu dulu.



Info
: Puskeswan buka Senin sampai Kamis jam 08.00 sampai 15.00 istirahat siang jam 12.00 sampai 13.30. Jumat Sabtu Minggu setau saya buka, namun lebih pendek jam kerjanya, kalau tidak salah jam 09.00-12.00 tapi untuk informasi selengkapnya silakan telepon dulu. Rabu pelayanan puskeswan tutup, hanya untuk steril gratis.

Oh iya saya sempat tanya-tanya tentang steril kucing di Puskeswan, kapan-kapan saya tulis terpisah saja ya.

TIPS kata dokter, kalau nemu kucing jangan langsung dicampur dengan kucing kita yang sudah ada di rumah. Dikarantina dulu dua sampai tiga hari. Amati kondisinya, cek bagaimana pipis dan poop- nya, perhatikan nafsu makannya, cek kelincahannya. Kalau semua dirasa normal, baru boleh digabung dengan kucing lainnya. Takutnya kucing baru bawa virus, kalau langsung dicampur, semua kucing lainnya akan tertular.


Di puskeswan tidak bisa rawat inap, kecuali kalau operasi yang urgent. Tapi untuk yang butuh rawat inap bisa dirujuk dari puskeswan ke rumah sakit hewan lainnya. Bisa melakukan operasi di puskeswan, daftar harga silakan lihat foto di atas (selain daftar harga pemeriksaan dan operasi, ada juga daftar harga laboratorium cek spesimen).

Di puskeswan banyak kucing (dan anjing, di kandang terpisah). Kebanyakan berasal dari penangkapan yang dilakukan atas laporan warga. Jadi, kalau di lingkungan Anda dirasa terlalu banyak kucing atau anjing liar, silakan lapor saja dari RT ajukan ke kecamatan. Nanti tim dari Dinas ini akan ke lokasi untuk menangkapi kucing dan anjing liar tersebut. Bagi Anda yang mau adopsi kucing dari puskeswan, cukup dengan menyerahkan fotocopy KTP saja untuk warga Jakarta.

***

Bantu Animal Defenders Indonesia dan shelter lainnya untuk rescue anjing & kucing yang memerlukan pertolongan. Tonton video di bawah, jangan skip iklannya. Subscribe & follow IGnya di founder atau bisa juga di ADI.

​Yuk baca artikel lainnya :

Rumah Sakit Hewan Jakarta

Pasar Sepatu Taman Puring

Good Bye, Jakarta!

Kamu kapan mulai packing? Barangnya banyak lho sekarang

Dua minggu yang lalu, pertanyaan tersebut selalu diulang-ulang oleh si Om. Dan selalu saya jawab “Nanti dulu. Gampang.”

Bukannya mau menunda pekerjaan atau awang-awangen mau mulai dari mana (padahal biasanya sih gitu), tapi saya ingin everything looks normal selama mungkin.

Tapi, selama dan sekuat apapun saya menghindar, hari itu datang juga.

Saya baca ulang tulisan saya sendiri di postingan sebelum ini, tentang what defines home. Dan ternyata memang benar, ketika kucing sudah dihibahkan dan barang sudah dikemas, rumah ini tak lagi terasa seperti dulu.

There are things we can never change, or deny, or escape. But life goes on. Now here I am, living the very last days in this almost (but not really, yet) empty house.

Sedih sih iya, tapi udah ngga sebanyak awal-awal dapet kabar pindah tiga minggu yang lalu. Sudah berdamai dengan kenyataan, hehe.

Excited? I would like to use the word ‘curious’ instead. Curious of what comes next to my life. 

Pasrah, karena memang tak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan kecuali Tuhan. Tapi rencana-Nya pasti terbaik.

But most of all : terharu! Betapa rumah ini sudah menjadi tempat kami bernaung, berbagi suka duka, selama dua setengah tahun terakhir. Rumah dimana saya beli kulkas pertama, kanvas pertama, take recording smule pertama (meskipun sering retake sampai banyak kali karena di sini ramai). Kota yang sudah menjadi “rumah” kami yang pertama, sejak menikah.

Good bye, painting on my bedroom wall.

​***

Jakarta, October 18, 2017

Home

I’ve been thinking this past week

What makes a house home?

It’s not the size, it’s not the model, and not necessarily the location.

It’s the LOVE.

How you treat the building by cleaning and decorating it your own way. How you fill the atmosphere with laughter and conversation. How you connect to surroundings to create a good environtment. Whom you share your daily life in that house with.

No matter where the house is, you can always place that home into it. No matter how much things that would have to be changed, as long as you have faith and love, you can always come home.


Jakarta, Oct 10, 2017

Melihat Sejarah dari Perspektif yang Berbeda

REPOST FROM INSTAGRAM STORY.

Baca ini lebih dari setahun yg lalu. Masih inget, that feeling of how I was ‘amazed’ reading this.

Liputan Tempo G30S

​Ya gimana sih, secara anak kelahiran 80-an akhir, tau apa tentang G30S selain apa yg ‘diceritakan‘ di sekolah dan film tahunan yg selalu diputar tiap akhir bulan ke sembilan dulu itu?

Ternyata, sejarah itu subjektif. Contoh film Titanic atau Pearl Harbour, si pembuat film menceritakan dari sudut pandang orang tertentu. Bahkan pada film Titanic, sudut pandang yang diangkat notabene bukan dari tokoh penting dalam peristiwa tenggelamnya kapal. Dan film itu populer, sehingga ‘kids jaman now‘ kalau bahas Titanic atau Pearl Harbour mungkin yang kebayang ya filmnya.

Dan ternyata, sejarah itu kompleks. Ngga cuman peran antagonis dan protagonis seperti dalam film, trus udah, titik. Tapi ternyata di balik suatu peristiwa sejarah, banyak pihak yang terkait, dan banyak motif yang melatarbelakangi. Bahkan teori konspirasi Flat Earth pun pernah dikait-kaitkan dengan peristiwa G30S ini. Bener kalau ada yang bilang, melihat peristiwa G30S ini harus pakai norma dan nilai di masa itu pula, ngga bisa dilihat dari kacamata saat ini.

Orang bilang, kalau mau ‘mengoreksi‘ sejarah, menulislah! Ceritakan fakta lain dari satu peristiwa. Karena kejadian cuma ‘sekilas‘ dan sekali, tapi tulisan akan terus hidup, tersebar, dibaca, dipahami, dan diwariskan.

NB : di majalah ini, dibahas G30S dari sisi lain, yaitu kejadian pasca kudeta (yg mungkin hampir ngga banyak orang–terutama ‘kids jaman now‘–tau)

Melihat kembali sejarah dari perspektif berbeda.

But after all, masa lalu pasti selalu ada hikmahnya. Jangan melupakan sejarah. Peristiwa seperti ini cukup di masa lalu saja, sebuah pelajaran yang berharga sebagai bagian dari ‘pendewasaan‘ bangsa. Jangan sampai terulang lagi.

*dalam rangka memperingati G30S*

Sedikit late post karena saya tepar weekend kemarin.

Rumah Sakit Hewan Ragunan..

Telat banget, mau nulis ini mood-nya ngga dapetdapet jadi kemarin saya skip sama judul yang lain dulu deh.. Oke saya tulis dengan ringkas, padat, dan tunjeppoin aja ya.. Kejadian ini terjadi sekitar bulan April menjelang Mei, saat itu usia anak-anak kucing saya 2,5 bulan (lahirnya 20 Februari)..

UGD Rumah Sakit Hewan Ragunan

UGD Rumah Sakit Hewan Ragunan


KIKIS

Awal cerita, salah satu dari tiga anak kucing saya (sebut saja namanya Kikis) ngga mau makan, tiduran aja seharian, keliatan lemes gitu.. Saya cerita ke Ibuk dan Bapak yang sudah berpengalaman dalam menangani kucing sakit, menurut beliau 75% yakin kalau kucing saya cacingan.. Padahal ngelihat aja engga, cuman diceritain doank, sakti banget ya.. *proud to be their daughter* haha..

Akhirnya saya dan si Om beli obat cacing di petshop sekitaran rumah.. Oleh si penjaga toko, diberi dua pilihan yaitu Drontal (bentuk tablet) dan Albenworm (bentuk sirup).. Dengan pertimbangan lebih gampang ngasih ke kucingnya, kita pilih yang sirup.. Harganya kalau ngga salah sekitar Rp 30.000,- lupa tepatnya soalnya udah lama.. Yang jelas gocap masih sisa..

novandspon

novandspon


Obat ini warnanya biru, lucu ya.. Kocok dulu sebelum diberikan, warnanya akan berubah menjadi sedikit keruh.. Tidak terdapat petunjuk penggunaan yang jelas pada botol kemasannya, karena memang pada dasarnya obat ini diberikan memakai resep dokter tergantung kondisi kucing yang sakit..

Di botol hanya ada petunjuk pemakaian berupa : 2,5 ml (setengah sendok teh) untuk 10 kg berat kucing.. Pakai pipet yang ada ukurannya ya, lebih enak pakai yang kecil ukuran 1 ml.. Oleh penjaga petshop disuruh 3x sehari, tapi sesampainya di rumah saya urung memberikan ke kucing karena ketidakpastian takaran..

Lagipula, tepat sesampainya kami di rumah, Kikis mati tertabrak tukang siomay, padahal obatnya belum sempat dibuka.. Ironis ya? Sedih banget saya..

Kucing diare

Ucu


UCU

Beberapa hari setelahnya, gantian anak kucing saya yang lain (sebut saja Ucu) mulai mencret.. Ngga cuma Ucu sebenarnya, Miu pun mencret, namun Ucu lebih parah.. Kami coba mempuasakan mereka sehari lebih, namun ini susah dilakukan karena pada prakteknya mereka gagal puasa karena dikasih makan oleh tetangga.. Kami coba beberapa cara lain seperti memberikan tempe mentah dan yoghurt.. Namun setelah empat hari, kondisi mereka masih sama, bahkan cenderung memburuk..

Lagi-lagi saya konsultasi kepada kedua orang tua saya, saya menduga mereka diare karena pakan mereka yang baru saja diganti.. Namun lagi-lagi kedua orang tua saya bilang mereka cacingan *hidup cacingan!*

Karena ragu-ragu, dan masih trauma akan Kikis yang baru saja mati, akhirnya saya pilih membawa Ucu ke dokter hewan saja, daripada kenapakenapa.. Sebelumnya sempat browsing mengenai rumah sakit hewan di Ragunan.. Kami sering mondarmandir lewat jalan Harsono RM karena deket banget dari rumah, malah dulu kami sempat kos di sekitar sana, tapi ngga pernah tau sebelah mana rumah sakit hewan Ragunan..

Rumah Sakit Hewan Ragunan

Rumah Sakit Hewan Ragunan


Berbekal keranjang piknik merk Rio (di petshop harganya Rp 95.000,-) dan doa semoga rumah sakitnya buka, jadilah hari Sabtu kami coba mencari Rumah Sakit Hewan Ragunan, yang ternyata letaknya sebelahan sama Pusdiklat PLN (masuk ke gang Pusdiklat PLN).. Belakangan kami baca dari pengumuman yang tertempel di dinding rumah sakit, ternyata Rumah Sakit Hewan Ragunan buka tiap hari, bahkan UGDnya buka 24 jam..

Pertama-tama, kami mengisi formulir dulu untuk mendaftarkan Ucu.. Front Office nya ramah-ramah.. Karena saya tidak tau Ucu jantan atau betina maka saya isi jantan (badannya gede sih).. Setelah daftar, kami duduk di ruang tunggu sambil melihat-lihat sekitar..

Enak banget suasananya, teduh, banyak pohon, ngga berisik karena lumayan masuk ke dalam dari jalan raya, pokoknya bikin pengen tidur siang(?).. Dan pastinya banyak banget kucing berkeliaran di sana.. Jinak-jinak karena ternyata diberi makan oleh pihak rumah sakit.. Salah satu kucing ada yang tidur di kursi ruang tunggu di samping saya.. Ada petshop juga di dalam rumah sakitnya.. Tidak banyak pasien yang antre, hanya satu-dua kucing dan anjing.. Mereka bawa kucing ras, sedangkan saya bawa Ucu kucing domestik.. Hooo..

Dokter Hewan Jakarta

Dokter Hewan Jakarta


Tak lama, kami pun dipanggil “kucing Ucu” untuk masuk ruang periksa.. Setelah mendengarkan cerita saya mengenai apa yang Ucu alami (?) Dokter pun melakukan serangkaian tindakan : ukur suhu badan (lewat belakang), cek feses (cacingan atau tidak), cek kutu telinga.. Dokternya ramah, saya diperbolehkan mengambil gambar..

Hasilnya : kutu telinga dan cacingan positif semua, dan Ucu betina

Tapi penyebab utama mereka diare adalah karena ganti pakan, seperti dugaan saya.. Untuk diarenya, dokter memberi Lacto-B yang tidak lain dan tidak bukan adalah obat diare untuk balita.. Untuk umur Ucu, cukup setengah bungkus saja, dilarutkan dengan sedikit air (bentuk obatnya bubuk)..

Dokter mempraktekkan cara meminumkan obat yang baik dan benar, sehingga bisa saya contek di rumah, mengingat saya mungkin melakukannya sendirian karena kalau siang si Om kerja..

Sedangkan untuk cacingan, Dokter memberikan Drontal.. Dosisnya satu tablet untuk 4 kg berat kucing.. Karena saat ditimbang, berat Ucu 800 gram maka Ucu diberi seperempat tablet saja.. Selanjutnya terus dipantau, apabila masih muntah dan diare (apalagi kalau ada cacingnya) maka obat tersebut diberikan lagi jarak seminggu kemudian..

Pet Taxy RSH Ragunan

Pet Taxy RSH Ragunan


Untuk obat cacing cair yang terlanjur kami beli, saya sempat menanyakan dosisnya juga, jaga-jaga saja karena Drontal hanya diresepkan satu tablet untuk Ucu dan Miu sekaligus.. Kata Dokter, pemakaian Albenworm sama saja dengan Drontal, yaitu cukup sekali dalam satu minggu.. Untung saja waktu itu saya tidak menuruti kata penjaga toko, kalau diberikan 3x sehari bisa-bisa ususnya terbakar, gitu kata Dokter..

Satu obat lagi, yaitu obat kutu telinga.. Bentuknya tetes.. Dokter hanya bilang diberikan pagi dan sore, masing-masing telinga 2-3 tetes tanpa ada kejelasan diberikan berapa hari, dan saya lupa nanya.. Pada akhirnya pakaikan sekitar 5 atau 7 hari, semua kucing yang mampir ke rumah saya tetesin telinganya (Spon Kecil, Ucu, Miu, Mang Engkus, Spongrab, Cisbundel) bahahaha..

Note : obat diarenya ampuh banget, cukup satu kali minum sorenya langsung sembuh! Jadilah sembilan bungkus Lacto-B saya nganggur di kulkas..

Pagi itu, kami kena invoice Rp 300.000,- sudah termasuk semuanya, dari biaya pendaftaran, biaya konsultasi ke dokter, biaya cek laboratorium, dan obat-obatan (3 macam obat)..

Note : selain UGD 24 jam, rumah sakit ini menyediakan ambulance (taksi khusus) untuk antar-jemput pasien (baca : hewan).. Nomor telepon terlampir di foto.. Untuk biaya, silakan tanya lebih lanjut ya karena saya ngga kepikiran nanya pet taxy ini soalnya RSH deket banget dari rumah..

Kucing sakit

Miu


MIU

Kurang dari seminggu setelah periksa Ucu, gantian Miu yang sakit.. Diarenya sih sudah sembuh, tapi mendadak Miu ngga mau makan.. Lemes aja.. Padahal sudah saya beri obat cacing, untuk diberikan lagi harus jarak seminggu..

Kurang lebih tiga hari, Miu ngga mau makan.. Bahkan ngga mau nyusu ke induknya.. Sudah saya coba memancingnya dengan makanan basah, tapi cuman dilirik doank.. Karena keadaannya memprihatinkan, si Om ngga tega juga dan akhirnya minta saya membawa Miu ke Rumah Sakit Hewan Ragunan untuk diperiksakan (bersyukur banget punya suami seperti beliau).. Hari Rabu pagi, saya berdua Ibuk berangkat ke RSH Ragunan berbekal semangat, doa, harapan, dan tak lupa keranjang Rio berisi Miu..

Note : keranjang Rio ini sepertinya sangat populer, sampai-sampai di jendela kasir RSH Ragunan banyak terdapat tempelan stiker bekas keranjang RIO..

Jujur, saya ngga tau Miu sakit apa.. Karena ngga ada angin ngga ada badai tiba-tiba saja tidak mau makan.. Tiba di RSH kami mendaftar (satu kucing satu kali daftar) kemudian menunggu di ruang tunggu sambil foto-foto dan memberi makan kucing-kucing di sana.. Kami bawa cat food karena berdasarkan pengalaman memeriksakan Ucu kemarin di sana banyak kucing bertebaran (?)..

Kucing tidak mau makan

Kucing tidak mau makan


Setelah diperiksa oleh Dokter (dokternya beda dengan yang memeriksa Ucu) ternyata Miu demam, dan cacingnya masih ada.. Kami tidak diberi Drontal lagi karena yang kemarin masih sisa setengah (Ucu seperempat, Miu seperempat) kata Dokter diberikan Miu setengah tablet nggapapa, tentunya setelah jarak seminggu dari terakhir kali diberi Drontal..

Miu diresepkan obat penurun panas amoxicillin, dua kali sehari sebanyak 1 cc (satu kali suntikan pipet).. Obat ini harus konsisten diberikan selama 7 hari, meskipun kucingnya sudah sembuh.. Sepertinya ini antibiotik *kumat sotoy nya*

Note : meskipun secara fisik Miu lebih kecil dibanding Ucu, tapi berat badan Miu 900 gram.. Mungkin karena Miu jantan ya..

Selain itu, Miu juga diberikan vitamin biolysin syrup, sebanyak 1 cc sehari, obatnya familiar ya hehe..

Dokter mewanti-wanti sekali agar Miu dipaksa makan, minimal sehari dapet setengah bungkus makanan basah (yang kemasan sachet).. Karena kalau tidak kemasukan makanan, kucing harus diopname..

mengobati kucing diare

mengobati kucing diare


Jeng jeng!

Kalau kucing Ibuk dan Bapak di Solo, sudah banyak yang opname.. Banyak yang mati juga waktu mondok di klinik.. *pengalaman orang tua saya dalam hal perkucingan sudah pro* Tapi ini di Jakarta bo‘, abis berapa cobak kalo sampe mondok di RSH..

No way!

Berbekal tekad emak-emak irit, saya berdua ibu saya menyuapi Miu secara paksa.. Susah cuy! Meskipun Miu masih 2,5 bulan tapi sukses membuat luka di jari Ibuk saya, hiks.. Sampai pada akhirnya kami berdua trauma sekaligus kewalahan, akhirnya kami belikan susu khusus kucing.. Satu sachet seharga Rp 7.000,- di petshop.. Selama kira-kira dua hari Miu hanya minum susu tersebut saja.. Kalau benda cair lebih gampang nyuapinnya.. Airnya jangan banyak-banyak, susu dibikin sekental mungkin..

***

Bantu Animal Defenders Indonesia dan shelter lainnya untuk rescue anjing & kucing yang memerlukan pertolongan. Tonton video di bawah, jangan skip iklannya. Subscribe & follow IGnya di founder atau bisa juga di ADI.



***

Sekitar tiga hari setelah diperiksakan, Miu perlahan mulai membaik.. Mulai agak mudah disuapin, mungkin dia paham kalau saya harus nyuapin dia seorang diri mengingat tak lama setelah periksa ke RSH Ibuk harus balik ke Solo.. Mulai bisa saya suapin makanan basah, meskipun belum banyak, dibikin sedikit tapi sering saja..

Berangsur-angsur Miu mau nyusu induknya lagi.. Kemudian mulai mengendus makanan kering.. Alhamdulillah..

Oiya, invoice periksa Miu habis sekitar Rp 200.000,- kalau tidak salah.. Amplopnya saya cari ngga ketemu deh, hehe..

Demikian pengalaman kami dalam kucing-kucingan di Jakarta, semoga ada manfaatnya..

Note : di kanopi RSH Ragunan terdapat papan yang ditempel foto-foto beberapa anjing dan kucing.. Mereka adalah anjing dan kucing yang kurang beruntung, ditelantarkan pemiliknya.. Setelah berobat mereka tidak ditebus, kasian ya.. Mereka available for being adopted.. Pinginnya sih semua saya adopsi, tapi mengingat satu dan lain banyak hal sepertinya belum memungkinkan.. Kucing-kucing ini (Ucu, Miu, dkk) pun sebenarnya bukan kucing peliharaan saya, hanya kucing liar sekitaran sini yang memeliharakan diri (?) pada saya.. Kebanyakan datang ketika jam makan saja, hanya beberapa ekor yang menetap (tidur klesotan) di rumah..

adopsi kucing jakarta

adopsi kucing jakarta


ADOPT, DON’T BUY!

Jual-beli kucing haram hukumnya dalam Islam! Rasulullah SAW melarang makan uang hasil penjualan anjing dan kucing (HR Abu Daud, HR Turmudzi)..

Salah satu dari banyak dalil, silakan dipelajari lebih lanjut untuk dalil yang lainnya..

SAVE DOMESTIC CATS!

***

Yuk baca artikel yang lainnya :

Puskeswan Ragunan

Pasar Sepatu Taman Puring