Nikah Muda..

Di antara remaja, belakangan ini mungkin nikah muda sedang menjadi tren.. Entah apapun alasan di belakang itu, mungkin memang benar-benar atas dasar agama, karena nafsu sesaat, atau cuma ingin dibilang keren..

Saya masih ingat beberapa waktu yang lalu, Ibu mengabari saya ada kerabat yang menikah.. Kami setengah tidak percaya.. Kenapa? Karena usia kerabat tersebut masih sepantaran adik saya.. Kini lama tak terdengar kabar, tenyata kerabat tersebut baru saja memiliki seorang anak.. Namun yang lebih mengagetkan adalah status media sosial yang tiba-tiba muncul di beranda saya..

Hancur sudah rumah tanggaku..

Singkatnya seperti itu, setelah saya kepo (astaghfirulloh, maaf saya khilaf) ternyata penyebabnya adalah si istri yang tidak mau diajak pindah ikut suami.. Alasannya saya tidak kepo lebih lanjut karena terlanjur insap, hehe.. Saya jadi tergelitik ingin membahas di sini..

Apa coba yang terlintas di benak kerabat saya tersebut saat memilih untuk menikah semuda itu, di saat adik saya (kelahiran 1992, berarti tahun ini sekitar 22 tahun) tengah sibuk-sibuknya berjuang di semester 5 atau 6..

 

image

Konon katanya, yang melamar adalah pihak perempuan.. Seorang gadis muda yang usianya sepantaran, waktu itu mungkin kisaran 21 tahun, apa yang membuatnya begitu mantap hingga melamar atau lebih tepatnya meminta dilamarkan seorang anak laki-laki.. Di sini, saya pikir cukup wajar dan dapat dimaklumi saat seorang gadis muda terbawa nafsu mengingat masih sebegitu belia usianya, ditambah faktor W yang membuatnya lebih mudah terbawa perasaan dibanding memikirkan segala sesuatunya secara logis.. Selanjutnya menurut saya yang bertanggung jawab mengendalikan si gadis ini adalah walinya a.k.a ayah si gadis..

Ayah sebagai pihak luar yang lebih dewasa dalam berpikir seharusnya banyak menimbang sebelum melepas anak gadisnya untuk orang lain, karena menikahkan berarti menyerahkan tanggung jawab dunia akherat atas anak gadisnya kepada lelaki lain.. Maka tak seharusnya Ayah sebegitu berani menikahkan anak gadisnya pada sembarang orang, harus dilihat dulu apakah lelaki baru ini cukup kuat mentalnya untuk mendengar rengekan-rengekan manja anak gadisnya jika menginginkan sesuatu, apakah lelaki baru ini mampu untuk menahan air mata anak gadisnya ketika akan keluar, apakah lelaki baru ini siap mendidik dan mengarahkan anak gadisnya untuk hidup berpegang pada agama yang benar, dan seabrek pertimbangan lain..

Menikahkan dengan orang yang salah akan membawa resiko kehidupan dunia yang rumit dan penuh masalah, serta kehidupan akherat yang tanda tanya besar, dan ini tentunya tidak akan diinginkan para Ayah apabila benar menyayangi anak gadisnya.. Oleh karena itu, di poin ini kesimpulan saya adalah Ayah tidak harus serta merta memenuhi keinginan anak gadis tersebut tanpa melakukan pertimbangan yang rinci.. Di lain soal, apabila si Ayah menjodohkan anak gadisnya juga tidak bisa memaksa apabila anak gadis tersebut tidak berkenan hatinya..

Tidak saya pungkiri, dulu saya pun mengalami masa dimana saya ingin nikah muda juga.. Tapi untunglah, baik orang tua dan pacar saya waktu itu sangat logis dalam mengendalikan saya.. Orang tua yang melihat saya belum siap secara mental dan pacar saya yang belum siap karena belum memiliki pekerjaan.. Nikah itu beda dengan pacaran lho.. Bener deh.. Banyak enaknya atau tidak enaknya tergantung sudut pandang, memang..

 

 

Bila menikah dengan niat yang tidak tepat, hanya karena ikut-ikutan atau untuk dibilang keren, bisa dipastikan kehidupan setelah nikah akan banyak batunya.. Kenapa? Karena hanya berdasarkan nafsu sesaat saja sedangkan secara mental kita belum evaluasi, misalnya apakah sudah siap dengan tanggung jawab baru nantinya.. Sebagai istri yang harus taat pada suami, kita harus siap apabila diminta ikut tinggal bersama suami.. Sedangkan sebagai suami tanggung jawabnya bahkan lebih banyak lagi, kita harus menghidupi istri dan mendidik di jalan yang benar.. Bukan main lho, tanggung jawab ini bakal ditanyakan kelak di akherat..

Jika nikah muda atas dasar murni agama, bisa dipastikan akan lebih mulus.. Kenapa? Satu, sebagai lelaki yang tau agama dia akan sadar tanggung jawab sebagai suami itu besar dunia dan akherat.. Maka ketika telah mempunyai istri, meskipun pekerjaan belum mapan pun, tekadnya untuk mencari nafkah yang halal akan membuat dia bekerja mati-matian untuk menghidupi keluarganya.. Ini yang lebih penting menurut saya, bukan tuntutan akan pekerjaan yang telah mapan melainkan kemauan dan tekad untuk berjuang menghidupi keluarga.. Salah kaprah apabila menganggap menikah itu harus punya pekerjaan yang mapan dulu.. Out of topic sedikit, adapun lelaki yang belum berani menikah mungkin karena ketidaksiapan secara mental untuk berjuang menghidupi keluarganya kelak sehingga takut malah berdosa menelantarkan anak-istri.. Sah-sah saja sih, malah bisa dikatakan bagus karena dia sadar tanggung jawabnya dan membandingkan dengan kapasitasnya.. Tinggal bagaimana usaha untuk memperbaikinya saja..

Yang kedua, lelaki yang paham agama akan sadar bahwa istri adalah tanggung jawab di akherat.. Maka dia akan mencari wanita yang juga paham agama, agar mendidiknya tidak menguras waktu dan energi.. Wanita yang paham agama, tidak perlu melalui perdebatan panjang akan taat pada suami dengan sendirinya.. Meskipun suami pulang membawa uang seadanya, akan tetap disambut dengan senyuman dan alhamdulillah bukannya malah diomelin seperti di sinetron.. Istri yang begini yang menentramkan hati suami, dan menyemangati untuk pulang membawa hasil lebih banyak lagi keesokan harinya..

Ada yang bilang lebih baik nikah saja daripada kelamaan pacaran.. Eits, ini salah kaprahnya telat banget.. Seharusnya kalau bisa dicegah, yang dicegah adalah pacarannya itu sendiri, bukan nikah mudanya.. Karena kalau belum mampu disunnahkan puasa untuk mengendalikan nafsu dan pandangan, tapi kalau sudah pacaran mana bisa puasa mengendalikan nafsu secara setiap hari ketemu dan berdekatan.. Yang ada malah terpaksa nikah muda karena kelepasan telat 3 bulan *inget lagu dangdut*..

 

Kalau sudah mengalami nikah muda di usia belia, usia dimana teman-teman lain masih senang-senangnya belajar dan mencari pengalaman kerja, sementara dirinya sibuk di rumah memikirkan alokasi uang belanja sambil menjaga anak agar tidak berantem dengan anak tetangga, jika secara mental tidak siap dan secara niat serta pemahaman belum benar maka akan bermunculan status-status galau macam yang saya contohkan di atas.. Kalau sudah berantakan, yang disalahkan hampir bisa dipastikan adalah nikah muda, bukan pacaran.. Sekali lagi, salah kaprah..

Nah sekarang sedikit banyak pemahaman kita sama-sama bertambah.. Betapa kalau niat lurus mau nikah muda atau poligami, jalannya akan dipermudah Alloh.. Meskipun banyak cobaan pun, menghadapinya akan lebih ikhlas.. Lain halnya jika nikah muda karena latah dan salah kaprah.. Maka dari itu, yuk adik-adik sebelum memutuskan untuk menikah kita tinjau ulang kesiapan kita sendiri dan pasangan kita.. Menikah itu sekali seumur hidup dan ditanyakan di akherat, jadi harus lebih serius dalam memutuskan perkara ini.. Begitu pun dengan para Ayah yang kebetulan lewat di halaman ini, jagalah anak gadis Anda karena dunia dan akheratnya sedikit banyak tergantung pada kebijaksanaan Anda.. Adapun yang telah (terlanjur) menikah, belum terlambat untuk mulai meluruskan niat dan memperbaiki masa depan kita, kuncinya sudah saya bahas di atas.. Semua orang pasti pernah berbuat salah yang mengubah hidupnya, namun tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya karena masa depan seseorang tidak ada yang tahu..

Jika seseorang meminta hidupnya sederhana, maka dia akan diberi masalah yang sederhana.. Jika seseorang meminta diberikan yang terbaik, maka dia akan diberi masalah yang sulit.. (anonim)

Berusaha dan berdoa, semoga Alloh memudahkan kita dalam kebaikan.. Bukan dimaksudkan untuk menyinggung atau lainnya, hanya pemikiran saya saja.. Sekiranya ada manfaat bisa diambil, jika ada yang salah dapat dijadikan pembelajaran bersama.. :-)

Advertisements

Poligami..

Setelah membahas beberapa topik sensitif seperti ini dan itu, tiba-tiba menjelang tidur tadi malam saya terpikirkan topik poligami.. Sudah sejak lama topik ini dibahas, dengan bermacam-macam argumen masing-masing..

Saya pun masih ingat, beberapa tahun yang lalu semasa saya masih berstatus sebagai pelajar, betapa saya benci sekali dengan poligami.. Kejadian di lingkungan kerabat, yang berbuntut kebencian dan permusuhan, cukup menjadi alasan bagi saya untuk anti-poligami..

Ambil contoh yang agak umum, ingat Ustadz Abdullah Gymnastiar atau yang populer disebut Aa’ Gym? Jama’ah pengajiannya luar biasa banyak waktu itu.. Namun setelah beliau memutuskan mengambil langkah yang cukup tegas dan berani untuk berpoligami, kenyataannya jama’ahnya berkurang drastis dan kemudian beberapa masalah terlihat menghampiri hingga akhirnya sempat jatuh talak kepada istri pertamanya.. Dramatis kan?

Namun ternyata, ketika saya diberi kesempatan oleh Alloh untuk belajar lebih dalam lagi tentang dien ini, termasuk ketika sampai pembahasan tentang poligami, saya menemukan bahwa sesungguhnya yang dipahami di masyarakat ini salah kaprah.. Poligami tidak buruk.. Apabila memang demikian, tentunya Alloh tidak akan memperbolehkannya..

Ilmunya Alloh itu luasnya bagaikan samudera.. Sedangkan ilmunya manusia itu bagaikan setetes air di paruh burung, dibagi wong sak ndonya (dibagi orang sedunia, red.)

Begitu kata Ustadz Hartono di pengajiannya hari ini.. Ya, Alloh Maha Mengetahui.. Termasuk apa-apa yang kita ingini namun sebenarnya buruk bagi kita, dan apa-apa yang kita benci namun sebenarnya baik bagi kita (QS. Al-Baqarah 216)..

Bahkan ketika perintah itu tidak make sense pun, sebagai orang yang beriman kita akan sami’na wa ato’na (tulisannya benar ga ya?).. Artinya : aku mendengar (perintah tersebut) maka aku laksanakan.. Karena terkadang ilmu manusia tidak bisa melogika ilmu Alloh..

Begitu pun masalah poligami ini.. Perspektif saya sekarang ini berubah.. Kebencian terhadap masalah ini berangsur hilang..

Banyak jalan menuju jannah, memang.. Sebaliknya, banyak jalan menuju kekufuran, dan salah satunya adalah bukan hanya dengan mengingkari perintah Alloh tapi cukup dengan membenci aturan-Nya..

Kemudian timbul pertanyaan.. Apakah dengan begini saya mau dipoligami? Masih teringat kata-kata Mbak Pipiek (istri Alm. Uje) dalam salah satu tayangan televisi yang kebetulan saya lihat.. Kalau tidak salah, si reporter memintai pendapatnya apabila Uje berpoligami.. Mbak Pipik berkata Tidak ada serorang wanita pun di dunia yang mau dimadu, tapi ketika Uje ternyata memiliki jodoh lain di dunia ini selain saya, saya hanya bisa ikhlas menerima ketentuan Alloh.. Sepakat! : )

Kemudian timbul pertanyaan lain, apa sebenarnya alasan seorang pria melakukan poligami? Mungkin beragam ya.. Mulai dari tidak adanya respek dari pasangannya sampai urusan ranjang.. Pernah saya membaca buku karangan Mbak Asma Nadia yang berjudul Catatan Hati Seorang Istri yang mana menurut saya ini adalah recommended book, mengutip pengakuan salah seorang pria bahwa mau apa pun alasan poligami yang dia katakan sebenarnya hanya satu : karena pria tersebut jatuh cinta lagi.. Titik! So that simple..

Urusan dunia memang tidak ada habisnya.. Saya pun mengakuinya dan mengalaminya.. Termasuk urusan cinta, perasaan, dan lain sebagainya, termasuk alasan poligami seperti yang sedang kita bahas.. Jika alasan berpoligami adalah seperti yang saya sebutkan di atas, maka tak heran jika buntutnya akan terjadi masalah yang berkepanjangan hingga anak-cucu mereka, karena dari awal niatnya tidak lurus..

Bahkan alasan keduniawian tersebut idealnya tidak akan ada, apabila pernikahan didasarkan pada agama.. Bagaimana suami dan istri sadar akan hak dan kewajibannya masing-masing.. Toh orang-orang zaman dulu tidak harus merasa cocok atau saling cinta pada awalnya untuk bisa menjalankan pernikahan yang bahagia.. Hanya saja, sebagai manusia kita tidak akan luput dari yang namanya alpa.. Termasuk himbauan keras bagi diri saya sendiri untuk lebih bisa meng-evaluasi.. Terkadang pola pikir zaman sekarang memperumit hal-hal yang sebenarnya sederhana..

Tahukah Anda, bahwa suami bertanggung jawab terhadap istrinya tidak hanya di dunia melainkan di akhierat?

Tak hanya harus berkecukupan secara materi.. Namun juga harus mampu mengarahkan istrinya ke jalan yang benar, karena kelak akan menanggung dosa istrinya akibat perbuatan salah si istri yang tidak diingatkan oleh suami.. Nah, terbayang apabila istrinya ada dua.. Dia akan bertanggungjawab terhadap dosa dua orang wanita, belum termasuk ibunya, saudara perempuannya, dan anak perempuannya.. Itu sebabnya, orang yang berilmu akan paham bahwa poligami adalah hal yang berat..

Nah, mari kita renungkan bersama-sama.. Sama sekali bukan bermaksud menggurui, karena kenyataannya saya masih banyak keliru dan harus belajar lagi lebih dalam.. Namun, akan sangat senang apabila ada manfaat yang dapat dipetik dari tulisan yang sekedarnya ini, bagi pembaca pada umumnya, dan terutama pengingat bagi diri saya sendiri.. Allahu a’lam.. : )

Bunuh Diri..

Semenjak memakai smartphone ini saya memiliki salah satu software chatting populer yang memungkinkan penggunanya berkirim tak hanya pesan teks namun juga gambar maupun audio bahkan video.. Software ini pun menyediakan fasilitas untuk melakukan percakapan lebih dari satu pengguna melalui pembentukan grup dengan admin tunggal..

Sejauh ini saya memiliki dua grup tetap, yaitu grup teman-teman SMA dan grup teman-teman kuliah.. Kedua grup ini hampir tidak pernah sepi.. Selalu ada saja bahan pembicaraan yang seringkali bikin senyum-senyum sendiri bahkan tertawa lepas ketika membacanya.. Kebanyakan memang hanya lelucon, sih.. Salah satunya ingin saya bahas di sini, tapi sedikit lebih serius..

bunuh diri..

bunuh diri..

Semalam, tiba-tiba muncul gambar ini dari grup sebelah.. Tak banyak komentar yang muncul setelahnya, hanya ikon-ikon gak jelas..  Tapi mungkin foto ini meninggalkan banyak persepsi pada masing-masing anggota grup, yang mungkin berbeda antara satu dengan yang lainnya..

Saya jadi berpikir, sebegitu parahkah bunuh diri di zaman sekarang sampai-sampai harus ada spanduk terbuka semacam itu? Bukankah dahulu kala, (secara norma masyarakat) bunuh diri itu suatu hal tabu?

Sungguh memprihatinkan.. Terlalu rumit kah permasalahan di era ini? Atau terlalu lemah kah mental orang di masa kini?

Mari membayangkan.. Berada di tepian jembatan dengan arus deras sungai di bawahnya dihiasi bebatuan terjal yang siap menyambut apa saja yang turun menimpanya.. Tidak terbayang rasa sakit yang akan terasa..

Akankah Anda loncat?

Konon, ajal itu menyakitkan.. Izrail yang mencabut nyawa Rasululloh dengan teramat sangat lembut saja, Rasululloh masih merasa sakit..

Bahkan kepada orang bertaqwa yang dijanjikan jannah atas mereka jika dikatakan “Inginkah kamu melihat surga? Maka matilah!” mereka pun masih akan berpikir.. Sedangkan kita?

Apakah yang akan kita temui selepas hidup di dunia ini? Akankah indah? Cukupkah tabungan kita untuk membeli jannah?

Tidakkah kita renungkan dalam-dalam, bahwa ruh orang yang bunuh diri tak akan diterima langit dan bumi?

Sekedar renungan.. Allahua’lam, semoga Alloh senantiasa menunjukkan kita jalan yang lurus..

You Get Smarter, You’ll Think Harder!

Merenung sejenak.. Sebelum memulai menuliskannya di sini.. Kemudian menghela nafas panjang..

Kita mungkin akan terjerumus, jika kita tidak berilmu.. Maka carilah ilmu, dan tinggalkan sesuatu yang kita tak ada pengetahuan atasnya.. Iqro!

Namun teman-teman, I think it will be much harder when we’ve got enough knowledge! Kenapa? Karena kini musuh kita adalah diri kita sendiri.. Ego dan pemikiran yang kita ciptakan sendiri.. Subhanalloh..

Baru saja dalam hitungan hari, mendapatkan ilmu baru.. Yakni tentang hukum berjualan kucing.. Dan kini, tentang hukum bermusik!

Sungguh.. Saya akui teramat sangat berat untuk meninggalkan musik dalam hidup saya.. Bermusik sudah menjadi semacam bawaan sepaket dengan lahirnya saya.. Bernyanyi, bermain piano, bermain gitar, mendengarkan musik.. Tak terbayangkan akan seperti apa hidup saya tanpa musik.. Sepi.. Hampa.. Barangkali..

Namun, di sini.. Saya tak akan berusaha mencari pembenaran akan apa yang diharamkan Alloh atas apa saya cintai.. Sungguh pun ingin rasanya saya menolak.. Membuat list nilai positif yang bisa diambil dari musik.. Tapi saya sadar, jika pembenaran yang saya tulis akan terkesan masuk logika pun, tak akan mengubah hukum yang telah dijatuhkan Alloh.. Karena agama itu masalah iman..

Zaman dimana akal dan logika diagungkan melebihi hukum Alloh memang mungkin kini telah terjadi.. Seperti yang telah dijanjikan oleh Alloh ribuan tahun sebelumnya..

Saya menerima dan mengakui hukum yang telah ditetapkan Alloh.. Tak akan saya menyangkalnya bahkan membencinya.. Karena menjadi  kafir bukan hanya dengan mengkufuri ayat Alloh melainkan cukup dengan membencinya..

Saya hanya membenci diri saya.. Yang begitu lemah.. Yang belum mampu meninggalkan apa yang dilarang dan dimakruhkan oleh Alloh.. Yang belum bisa kaffah memeluk Islam..

Saya hanya berpikir, semua tidak bisa instant.. Ralat, bukan tidak bisa, namun pasti akan teramat sangat sulit jika dibandingkan dengan iman yang tipis dan lemah.. Saya akan memulai mengambil ancang-ancang.. Semoga, perlahan sedikit demi sedikit saya bisa menjadi orang yang lebih baik..

06.01.13

Seperti mendapat semacam dukungan, ketika berkunjung ke halaman seorang teman..

Sebatang Benda Berasap..

Sebelum saya mulai menulis (lha ini apa donk?), saya sampaikan sebelumnya bahwa topik bahasan kali ini bukan saya maksudkan untuk menyindir atau memojokkan suatu kaum atau siapa pun.. Ini murni curahan hati saya saja..

Tapi bagi yang merasa terpojokkan atau tertohok, semoga bisa menjadi refleksi dan bahan perenungan.. Untuk itu sebelumnya saya mohon maaf.. :)

***

Putih.. Tinggi.. Ganteng.. Tegap.. Mancung.. Cerdas.. Ramah.. Humoris.. Simpatik.. Sopan.. Bijak.. Berkharisma.. Bersuara berat.. Dan dia pun menunaikan sholat..

What a perfect, rite? Sekilas tampak sempurna.. Sosok yang bahkan hanya dengan senyumnya pun mampu memikat hati wanita..

Namun, ketika dia beranjak menyelipkan sebatang rokok di sela bibirnya.. Segala kesan positif yang sempat terjala hati saya akan seketika itu juga rontok!

Berganti dengan rasa iba.. Mungkin.. Yang jelas saya tak suka.. Entah kenapa.. Mungkin untuk satu dan lain alasan..

Bagaimana mungkin, sosok yang bahkan cerdas dan tak kurang suatu apapun, masih saja membutuhkan benda kecil itu dalam hidupnya?

Tak terlalu perlu rasanya saya bahas sisi negatif dari sebatang benda yang berasap itu.. Banyak sumber dan artikel yang telah lebih dulu bermunculan membawa pesan itu.. Pun banyak pembahasan nash yang telah diangkat menjadi pembicaraan.. Anda tentu dapat mengaksesnya sendiri tanpa kesulitan.. Dan selanjutnya Anda dapat memilih..

Ya.. Orang-orang memilih.. Dan memang mereka berhak memilih.. Jika ini mengenai dunia, maka saya pun dengan mantap menjawab : boleh saja.. Asalkan tak mengganggu komposisi udara yang saya hirup.. Simple..

Tapi lebih dari itu.. Kita akan mengingatkan seseorang untuk meninggalkan perbuatan jelek, jika memang kita mencintainya (Ustadz Hartono, 12-12-12)..

Dari Anas RA dari Nabi SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”..

Sedikit menyesalkan itu tadi, bahwa pengkonsumsinya bukan hanya orang-orang kalangan bawah, melainkan orang yang berilmu dan ‘beragama’.. Dan yang lebih saya sesalkan lagi, apabila ada seseorang yang bertanya (atau bahkan cukup hanya dengan melihat) kepada mereka mengenai hal ini, dan merasa menemukan kemananan untuk melakukan hal serupa..

Jika Anda bertanya kepada seorang musisi bagaimana cara mengarang sebuah lagu, mereka tak ayal akan menjawab “mudah”.. (maaf jika analoginya agak aneh)

Dunia ini memang penuh tipuan dan hiasan-hiasan.. Sesuatu yang buruk selalu mudah dan menyenangkan.. Sebaliknya sesuatu yang baik akan selalu mendapat halangan dan berat dikerjakan..

Ternyata ya.. Syaitan tak hanya fokus untuk mengajak melakukan dosa-dosa besar.. Melainkan pula dosa kecil yang berkesinambungan..

Dan yang paling saya takutkan adalah, apabila telah tiba masanya akal dan logika akan lebih digunakan sebagai acuan daripada kedua nash.. Dimana kita akan mengharamkan apa yang halal dan menghalalkan apa yang haram..

Yah, itulah sedikit dari banyak uneg-uneg saya.. Wallahu a’lam.. Alloh yang Maha Mengetahui, lebih mengetahui daripada kita semua.. Semoga kita senantiasa dalam lindungan Alloh.. Amin.. :)

Membuat Kontrak dengan Tuhan..

Alkisah ada sepasang suami istri yang sudah 15 tahun berumah tangga, namun belum juga dikaruniai keturunan.. Sang suami, mungkin karena sudah teramat merindukan seorang anak, dia berupaya dengan segala cara agar bisa mendapatkannya..

Suatu hari, datanglah sang suami menemui seorang ustadz.. Kebetulan ustadz tersebut merupakan salah satu dari ustadz-ustadz yang terkenal di negaranya.. Lalu berceritalah sang suami kepada ustadz tersebut mengenai problema yang sudah bertahun-tahun membebaninya..

Ustadz, saya ingin sekali mempunyai anak.. Saya sudah menemui semua Tuhan yang ada, sudah 4 kali saya berganti agama.. Sampai sekarang tak ada satu pun dari Tuhan tersebut yang bisa memberikan saya anak.. Namun, satu-satunya yang belum saya temui adalah Tuhanmu, Ustadz.. Sementara saya akan mencoba menemui Tuhanmu, saya sudah di ambang putus asa.. Jika saya menyembah Tuhanmu, bisakah engkau menjamin Dia akan memberiku anak?

Dan setelah berpikir dalam-dalam, ustadz tersebut menjawab..

Bisa.. Aku menjamin..

Tak sekedar puas dengan jawaban Ustadz tersebut, sang suami menantang ustadz tersebut..

Kalau begitu, kapankah kau jamin aku akan mendapatkan anak yang ku dambakan? Aku sudah 15 tahun menanti kehadirannya, aku tak mau bila kau memintaku menanti Tuhanmu memberikannya padaku 10 atau 15 tahun lagi..

Kata sang ustadz..

Baiklah.. Mari kita buat 5 tahun, aku menjamin kau akan mendapatkannya.. Dan selama itu, kau harus ikuti semua yang Dia perintahkan dengan ikhlas dan sepenuh hati..

Persetujuan itu pun mencapai kesepakatan.. Sang suami mengucapkan dua kalimat syahadat, dan di bawah bimbingan usadz tersebut sang suami melakukan ibadah-ibadah sesuai ajaran Islam.. Sholat, puasa, zakat, sedekah, semua dia lakukan.. Tak hanya amalan wajib, namun amalan sunah pun tak ketinggalan..

Tahun demi tahun berjalan.. Tahun pertama, nihil.. Sang suami belum berhasil mendapatkan keturunan.. Begitu pun dengan tahun-tahun selanjutnya.. Hingga akhirnya pada tahun ke-5, di ujung penghabisan kontraknya, sang istri pun akhirnya hamil.. Betapa senangnya hati suami istri tersebut.. Dan seketika dia menyedekahkan hartanya dalam jumlah yang sangat banyak kepada sang ustadz, sebagai tanda syukur terhadap Tuhannya yang mau mengabulkan permohonannya..

***

Kisah ini adalah kisah nyata.. Saya dapat di sebuah obrolan malam bersama teman.. Dan wow menurut saya ini adalah sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa.. Betapa kehadiran si anak merupakan sebuah jalan dari Alloh untuk kedua orangnya, karena tanpa keinginan untuk memilikinya bukan tidak mungkin sang suami tak akan pernah mencapai jalan Alloh.. Dan betapa si calon anak tersebut patut bersyukur karena Alloh telah memilihkannya jalan Islam, dimana Alloh tidak ridho menurunkannya ke rahim si istri sebelum kedua calon orangtuanya memeluk iman..

Semoga kita senantiasa ‘dijaga’ oleh Alloh sehingga mampu bertahan di jalannya di tengah-tengah dunia yang kian kelabu ini.. Semoga kisah ini bisa menjadi renungan dan pelajaran bagi kita semua..