Cucil & Bundel..

Spon Kecil & Cis Bundel.. Satu rasa vanila, satu lagi rasa karamel.. *tuh kan, laper*

image

Spon Kecil karena sekarang sudah beranjak besar, maka selanjutnya dipanggil Cucilen..

Dua makhluk kecil yang lucu ini setia menghiasi keseharian saya beberapa bulan belakangan.. Sebenarnya mereka bukan peliharaan saya, tapi mereka yang dengan suka rela memeliharakan diri pada saya (?)..

Baru-baru ini mereka punya hobi baru : ngikutin emaknya belanja ke tukang sayur (sekitar 30 meter di belakang dari rumah).. Iya, mereka bakal berlarian dengan riang mendahului saya, sambil sesekali memastikan kalau arah yang saya tuju sama dengan mereka.. Selama di tukang sayur memang kalem aja mereka.. Tapi modusnya, sepulang dari tukang sayur, baru nagih jatah preman : sepotong ikan cue.. Katanya buat ongkos ngawal.. Hahaha.. Maka sekarang kalau belanja dibuntuti dua makhluk tadi, harus siap-siap beli ikan deh..

Nah pagi tadi, ada cerita yang beda.. Saat si Om sholat subuh ke masjid (mungkin sekitar 200 meter dari rumah, di gang sebelah) katanya dua ekor kucing berkedok eskrim tadi membuntutinya sampai lokasi..

Si rasa vanila yang lebih besar, kalem aja, sampai masjid ditinggal sholat, tau-tau pulang dari masjid udah di rumah aja dia (bisa pulang sendiri, pinter).. Belakangan diketahui bahwa sesampainya di rumah, dia langsung masuk dari jendela, kemudian nginjek-injek perut emaknya yang masih pules di kasur.. Emaaak banguuun, sholat subuuuuh, abis itu jadwal makankuuu *tetep*

Si rasa karamel yang lebih kecil, sampai masjid ditinggal sholat dia meong-meong, kayak anak ilang.. Selesai sholat, Bundel dipanggil oleh si Om, baru dia berhenti meong-meong, kemudian lari membuntuti si Om pulang.. Kata si Om pada Bundel, sok-sokan sih ngikutin mpe mesjid hehehe..

Udah gitu doank.. Bahagia itu sederhana.. Kasian amat kalau mau bahagia aja harus pusing mikirnya..

[Nov Sabatini]

 

Yuk, baca artikel saya yang lain :

1. Review Tempat Belanja Oke di Jakarta

2. Resep Mushroom Sautee Pakai Jamur Kancing

3. Perkiraan Biaya Inseminasi Jakarta Selatan

Advertisements

Cermin..

Kadang, saya bisa tiba-tiba merasa bahagia ketika bangun pagi.. Beberapa di antaranya memang tak beralasan, berbunga-bunga aja.. Tapi seringkali, setelah diingat-ingat, ini terjadi jika saya mengalami sesuatu yang cukup berkesan di hari sebelumnya..

Setelah tas buatan sendiri selesai dijahit, setelah membeli atau diberi sesuatu yang istimewa, setelah selesai rekaman sebuah lagu, setelah bertamasya ke suatu tempat yang baru, setelah bertemu dengan seseorang.. Dan banyak hal berkesan lainnya..

Baru saja tempo hari saya melihat sebuah tayangan komedi situasi di salah satu stasiun teve lokal ibukota.. Ceritanya mengenai dua pasang suami istri yang bertetangga.. Namun perbedaan usia kedua pasangan tersebut cukup kontras : satu pasangan pengantin baru, dan yang lainnya telah menikah (mungkin) belasan tahun.. Menjadi lucu ketika pasangan muda entah secara sengaja atau tidak sengaja memperlihatkan romantisme yang juga ala anak muda, sementara di sudut pandang lain menurut pasangan yang telah lama menikah hal itu udah ga jaman dan rada norak..

Harus diakui, romantisme seperti pujian, sanjungan, dan yang sering diperlihatkan drama-drama impor (kalau mau disebutkan contohnya lagi : dikejar si cowo saat ngambek, dihapus air matanya saat nangis, dll) memang ampuh meluluhkan hati para wanita.. Tak terkecuali saya.. Tapi dengan posisi yang hampir setahun menikah, dan tinggal jauh dari orang tua di perantauan, yang membuat saya harus berjuang untuk belajar menjadi lebih dewasa dalam waktu sesingkat-singkatnya, pelan-pelan membentuk sudut pandang yang berbeda pada diri saya..

Mulai ada hal-hal lain yang membahagiakan, meskipun hal yang sepele.. Dibantu suami mencuci baju saat saya sakit misalnya.. Atau yang bisa saya lakukan sendiri, seperti berhasil mencoba resep masakan baru, berhasil menjernihkan air dengan beberapa alat sederhana, bahkan yang sangat sepele seperti berhasil membuat gantungan sapu di dinding dengan menggunakan paku..

Dan pagi ini, ada yang membuat saya senyum-senyum sendiri saat bangun tidur : cermin gantung seharga Rp 16.000,- yang kami beli kemarin.. Bagi orang lain mungkin gak penting, tapi ini cukup menyenangkan buat saya setelah sebulan menggunakan cermin bedak.. Yap, kebahagiaan se-simple itu..

image

Konflik..

Mengawali tulisan kali ini dengan seutas senyuman.. Dilanjutkan dengan menarik nafas panjang..

Jika dilihat lagi sekilas, tulisan-tulisan saya yang telah lampau, isinya mungkin kebanyakan tulisan galau.. Atau sebaliknya tulisan penyemangat.. Ya, beberapa saya harap sedikit banyak akan punya efek positif yang berguna bagi pembacanya.. Namun sebenarnya, di balik itu semua, tulisan-tulisan tersebut berasal dari hati saya, tentang apa yang terjadi, apa yang saya rasakan..

Jika kita memberikan semangat pada orang lain, atau berteriak “semangat!” biasanya kita yang sebenarnya sedang berusaha menyemangati diri sendiri..

Begitu kata teman saya, yang saya akui ternyata jika dirasa-rasa memang iya.. Karena tulisan-tulisan saya yang berisi penyemangat dan pandangan positif, sebenarnya tertulis saat saya justru sedang merasa down, alias terpuruk..

Terbukti saat ini.. Ketika saya mengalami konflik, semua jalan yang sebenarnya terbuka lebar terlihat buntu.. Semua nasihat dan saran dari orang-orang terdekat tak bisa masuk.. Tertolak.. Memang perspektif kita akan berbeda ketika kita berada di dalam sistem.. Suatu masalah akan tampak keruh, meskipun sebenarnya sangat jelas jika dipandang dari luar sistem..

Kemana kita harus melangkah? Sedangkan dimana posisi kita saja kita tak tau..

Sudah saya bahas di banyak tulisan sebelumnya (ternyata), jika hidup memang berisi pilihan-pilihan.. Dan itulah yang sebagian besar membingungkan saya.. Masalahnya adalah tak ada yang bisa memberikan jaminan atas apa yang terjadi berikutnya.. Hari esok penuh dengan ketidakpastian.. Masa depan hanya milik Alloh..

Lalu harus bagaimana? Meskipun rencana itu perlu, nyatanya selama ini saya mengalir saja.. Mengikuti takdir.. Karena rencana Alloh jauh lebih baik.. Jika benar-benar kita telisik, ternyata pilihan-pilihan bukan menjadi sumber kegalauan.. Dan pagi ini, melalui sebuah obrolan yang lumayan panjang untuk sebuah pembuka hari, melalui teman saya, saya disadarkan bahwa ternyata masalahnya adalah diri kita sendiri, saya..

Saya yang ternyata belum sepenuhnya yakin akan masa depan yang telah Alloh siapkan untuk saya.. Saya belum sepenuhnya membebaskan hati saya, untuk sepenuhnya mengalir mengikuti takdir, menikmati apapun yang terjadi dan mengambil sisi baik dari itu semua.. Saya yang masih menuntut kepastian dari sesuatu yang tak ada seorang pun bisa menjaminnya..

Karena itulah, pagi ini ketika saya menuliskan hasil permikiran panjang, perdebatan yang melelahkan bersama orang-orang yang sama-sama tak tau apa yang ada di depan sana, dan kesimpulan dari kegalauan yang lama bersarang di hati saya,, saya memulainya dengan tersenyum..

Senyum yang terkembangkan oleh banyak arti.. Merasa malu, karena saya ternyata belum bisa se-relevan tulisan saya sendiri.. Merasa mengalami sebuah pendewasaan yang lain.. Merasa tersadarkan.. Sekaligus merasa gagal sebagai orang dewasa.. Merasa senang, sekaligus sedih.. Merasa lega, sekaligus tak rela.. Dan banyak lagi lainnya..

Terdengar ironis mungkin, tapi saya rasa memang begitu cara manusia mempertahankan dan menjaga perasaannya sendiri.. Karena seberapa pun orang lain menyemangati, tak akan ada artinya apabila hati memilih untuk menyerah..

You’re the only defense and controller for your own self.. : )

Tulisan yang bagi saya sangat emosional ini, saya tutup dengan mengutip kalimat saya sendiri pada tulisan saya sebelumnya :

Bahagia tak perlu dicari, karena dia ada di hati, dan hanya kita yang bisa menentukan apakah kita ingin bahagia atau tidak..

Destiny..

Pagi ini, saya terbangun lebih awal dari pagi-pagi biasanya.. Dan tetap terjaga seusai Subuh (ketauan deh biasanya tidur lagi, hihi).. Tiba-tiba saya merasa bingung, apa yang akan saya lakukan sekarang? Rumah masih sepi dan gelap.. Niat bermain piano sedini ini nampaknya salah jadwal..

Saya pun kembali ke kasur saya.. Dari mencoba tidur lagi, sampai kegiatan mengingat-ingat agenda penting pun saya lakukan..

Tiba-tiba saja sejurus kemudian saya menemukan diri saya tengah menjelajah jejaring sosial.. Melihat profil salah satu rekan SMA yang kini telah bekerja di Jepang..

Ah, saya merasa iri..

Kemudian, saya pun mencoba flash back ke masa-masa dulu.. Dia yang bahkan teman satu SMP saya juga..

where to go?

where to go?

Kami diasuh dan dibesarkan oleh almamater yang sama.. Kami pernah bertatap muka dengan guru-guru yang sama, yang saya yakin bahwa ilmu apa yang pernah dia dengar, saya pun pernah mendengarnya juga..

Kami yang (bahkan tanpa pernah kami sadari sebelumnya) ternyata pernah tumbuh bersama-sama, mengalami masa remaja dalam radius yang tak lebih dari satu kilometer setiap tujuh jam dalam sehari dan enam hari dalam seminggu..

Dia yang harus dua kali melalui tes ujian masuk perguruan tinggi, dan saya yang (alhamdulillah) dengan sekali tes diterima di dua universitas negeri sekaligus..

Namun, ketika kami kembali ke detik ini, apa yang dia capai dan apa yang saya capai sungguh berbeda.. Dia  telah mencari nafkah di negeri orang, sedangkan saya masih di kampung halaman, tempat yang sama dimana kami dulu pernah merasakan masa-masa sekolah..

Sungguh.. Apa yang ada di masa depan sana, hanya Alloh yang tau..

Dan detik ini juga.. Saya berimanjinasi..

What would it be if we switched our position off?

Memang, tak akan terbayang oleh saya bagaimana akan hidup di negara orang.. Yang pasti di sana akan lebih dingin.. Dan di sana semua akan terasa asing.. Serta tak akan bisa saya memeluk Ibu saya sepulang kerja..

Mungkin.. Dia yang di Jepang pun sedang merindukan hal yang sama, seperti yang saya takutkan tak bisa saya lakukan di atas.. Bertemu dengan keluarganya.. Meniduri kasurnya.. Namun yang pasti, akan ada kebanggaan dan hal-hal menggembirakan lain sebagai gantinya.. Alloh Maha Adil.. :)

Dan pada akhirnya.. Hidup itu pilihan.. Dia yang memilih kebanggaan menakhlukkan negeri orang.. Dan saya yang memilih untuk menemani Bapak-Ibu saya menyapa masa-masa tuanya..

Insya Alloh, baik dia maupun saya bahagia dengan jalan kami masing-masing.. Karena apa yang telah dipilihkan Alloh pasti yang terbaik, bukan hanya untuk kita tapi juga untuk orang-orang di sekeliling kita..

07.12.12 (05.42 am)
Semangat pagi!

Mengejar Kebahagiaan..

Hari Minggu.. Seperti Minggu pagi sbelumnya, yang memang sedang saya usahakan untuk merutinkan, saya ber-CarFreeDay bersama teman-teman..

Dan tepat saat ini, jam 12 lewat sedikit, sepulang dari CFD, oleh karena sebuah ketidaksengajaan yang diiringi sebuah missed call, saya tiba-tiba berada dalam situasi dimana saya sedang ber-sms dengan seseorang dari masa lalu saya..

Seseorang yang dulu pernah saya berpikir bahwa ya, saya menyukainya dan di penghujung cerita digantikan oleh ya, saya membencinya.. Cinta monyet..

Tapi yang membuat saya tergerak untuk menuliskannya di sini adalah, bahwa saya tersenyum mengingat kembali kalimat yang membuka dan menutup cerita kami seperti yang saya tuliskan di atas..

Bahwa kali ini, saat ini, kalimat-kalimat tersebut terdengar lucu.. Mengingat apapun cerita yang ada di belakangnya sudah tak menjadi soal lagi.. Masa lalu..

Seberapa luas batasan kita dalam berpikir?

Kita dapat memikirkan apa saja, dari yang sepele sampai yang krusial, dari yang baik sampai yang buruk.. Dan kedua kalimat tersebut, adalah apa yang dipikirkan oleh diri saya di masa lalu terhadap sebuah objek..

Lalu kemudian kenapa saat ini pikiran saya terhadap objek yang sama sama sekali terbebas dari kedua kalimat yang saling bertolak belakang tersebut?

People do change..

Ternyata, kita memilih apa yang kita pikirkan untuk selanjutnya membentuk persepsi atau meninggalkan kesan di hati.. Disadari atau tidak.. Yang sayangnya, terkadang kita didominasi oleh perasaan di bawah alam sadar..

Bahagia itu pilihan.. Kita dapat memilih untuk memikirkan dan melakukan hal-hal yang membuat kita bahagia.. Bahkan dari hal-hal sepele, seperti melihat langit biru.. Dan sebaliknya, kita dapat memilih untuk membuang semua beban dan pikiran yang memberatkan dan tak perlu..

Bahagia tak perlu dicari, karena dia ada di hati, dan hanya kita yang bisa menentukan apakah kita ingin bahagia atau tidak..

Bahagia itu sederhana..

18-11-2012