Konsep Rezeki?

Overdosis kafein, kancilen (ga bisa tidur, red.), dan fase mania, adalah kombinasi tepat yang membuat saya menulis ini setelah sekian purnama blog terbengkalai dan lumutanπŸ˜‚

Mungkin saat ini saya sedang overexcited dan memang biasanya jadi susah tidur. Segala yang berlebihan, meskipun menggembirakan, ternyata tidak baik juga.

Pagi tadi pertama kalinya saya berjualan di Car Free Day Slamet Riyadi Solo. Terdengar sederhana, tapi amat sangat berkesan bagi saya.

Sebuah perjuangan tersendiri bagi saya, menyingkirkan anxiety untuk benar-benar merealisasi keinginan berjualan yang sudah lumayan lama.

Nanti gimana ya? Laku nggak ya? Sama siapa donk ke sana? Bawa barangnya gimana?

Beberapa dari banyak pertanyaan-pertanyaan yang sempat membuat tekad maju saya menjadi mundur kembali. Pertanyaan-pertanyaan yang kadang ga perlu untuk dirisaukan. Pertanyaan-pertanyaan yang ngga akan terjawab sebelum mencoba melakukannya.

Tadi pagi, setengah modal nekad karena lumayan dadakan, akhirnya saya beranikan diri berangkat jualan. Barang yang saya jual adalah bibit mint. Saya sudah membibitkan sejak lama, tapi karena maju mundur tadi, akhirnya bibit yang sudah saya siapkan saya pindah lagi ke pot saya sendiri, tidak jadi jualan.

Saya hanya membawa 10 polybag kecil, dua pot kecil, dan satu polybag besar. Sebatas keranjang piknik yang biasa saya gunakan untuk membawa kucing ke puskeswan, berhubung saya hanya sendirian naik motor. Keranjang piknik saya ikat di boncengan. Dengan restu si Om, dan mengucap bismillaah, saya berangkat dengan hati berdebar sepanjang perjalanan. Untung saja saya tidak putar balik ya, hehe..

Sampai lokasi Car Free Day kurang dari jam 6 pagi, masih lumayan sepi. Karena hanya modal nekad, saya cari tempat kosong yang pada jam itu masih banyak. Ternyata, meskipun kosong, tempat tersebut sudah menjadi milik orang. Ya, maklum, saya ngga tau gimana aturan jualan di sana. Diusirlah saya.

Setelah dua kali diusir, akhirnya saya menemukan lokasi yang bisa dipakai jualan. Alhamdulillaah, barang saya tidak banyak, jadi bisa nyempil.

Saya gelar lapak, dan duduk menunggu, tidak agresif menarik pembeli karena pedagang yang lain pun jualan dengan santuy πŸ˜‚

Sampai pukul 6.30 dagangan saya masih utuh. Bahkan dilirik pun tidak. Anxiety datang lagi. Mulai gelisah. Mulai ngga PeDe. Gimana kalau.. Gimana kalau..

Anxiety bertambah ketika akhirnya datang satu emak-emak yang menawar secara sadis. Hati saya bergejolak, harus dilepas dengan harga sadis atau saya tolak saja? Gimana kalau dia satu-satunya yang mau beli? Gimana kalo.. Gimana kalo..

Dalam keadaan itu, saya tiba-tiba teringat, ketika beberapa waktu yang lalu si Om pulang dari kajian dan kami berdiskusi panjang mengenai konsep rezeki. Bahwa rezeki itu vertikal dan horizontal, ada di tangan manusia dan ada di tangan Allaah.

Empat Hal yang telah tertulis dengan pasti saat ruh manusia ditiupkan ke rahim ibunya : rezekinya, jodohnya, ajalnya, dan satu lagi saya lupa πŸ˜‚ tolong nanti berguru pada orang yang lebih ahli, ya!

Memang berapa banyak rezeki seseorang telah ditentukan Allaah jauh sebelum orang tersebut dilahirkan. Namun, bagaimana cara memperolehnya ada di tangan orang tersebut, apakah dengan cara halal atau haram, dan hal inilah yang kelak harus ia pertanggungjawaban di akherat.

Seseorang bisa saja mencuri, dan berhasil tanpa ketahuan. Karena memang sudah ditulis hari itu ia memperoleh rezeki sekian. Atau ia bisa memakai cara yang jauh lebih baik, seperti misalnya berjualan atau bantu-bantu misalnya menjadi kuli panggul.

Ada dua poin yang dituntut dalam perkara rezeki ini, yaitu ikhtiar dan tawakal. Keduanya harus seimbang. Rezeki memang sudah ditentukan, tapi perlu ikhtiar sebagai jalan mendapatkannya. Apapun itu. Keluar dari rumah, untuk mencari rezeki. Jangan hanya diam. Meskipun belum ada tujuan, mau keluar rumah kemana, tapi diniatkan untuk ikhtiar mencari rezeki. Sisanya, serahkan kepada Allaah, karena memang mutlak hak Allaah untuk memberikan rezeki. Seringkali orang hanya pasrah menunggu rezeki tanpa ikhtiar. Padahal perintah-Nya untuk ikhtiar dulu baru kemudian tawakal adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Kalau saya, cenderung sebaliknya, kadang sering setelah ikhtiar habis-habisan, ekspektasi sudah sampai langit. Lupa tawakal. Sehingga saat hasilnya tidak sesuai ekspektasi, rasanya sakit sekali karena jarak antara harapan dan kenyataan terlalu tinggi. Alias kurang iman, terlalu mengedepankan logika dan malah cenderung sombong karena merasa sudah melakukan semuanya harusnya hasilnya sesuai. Emang siapa elu?

Kembali pada persoalan jualan bibit mint tadi, akhirnya saya tolak penawaran emak-emak tersebut. Karena, saya merasa tidak akan menjadi berkah buat saya dan beliau, jika saya melepasnya dengan tidak ikhlas (atau pun dia membelinya dengan tidak ikhlas). Berarti bukan rezeki. Dan kalau pun nanti dagangan saya tidak laku, yasudah berarti rezeki saya bukan di situ dan hari itu. Yang penting saya sudah ikhtiar, menggelar dagangan. Sisanya saya pasrahkan 100% pada Allaah.

Seketika lega, ghaeeesss…

Ya, gitu.. Manusia saya memang sering mengkhawatirkan hal-hal yang di luar kuasanya. Malah jadi stress sendiri. Lakukan apa yang di-kuasa-kan Allaah padamu, perbaiki niat & ikhtiar. Toh rezeki ga akan ketuker. Keliatannya aja seseorang banyak duit, tapi kalau bukan jatah rezekinya pasti akan hilang juga. Entah dengan cara sakit sehingga harus mengeluarkan biaya berobat, atau lainnya. Begitu pun sebaliknya, memberikan sesuatu pada yang lain tidak akan membuat miskin kalau memang sudah rezeki nanti akan diganti oleh Allaah bahkan dengan berlipat-lipat.

Beberapa saat setelah menolak emak-emak tadi, datang mbak-mbak dari luar kota yang mau berjualan tapi katanya terusir seperti saya tadi. Karena masih ada sedikit space di sebelah saya, meskipun sedikit memotong akses ke bangku taman, dan meskipun mbak tersebut pasang banner yang lumayan menutupi dagangan saya (saya hanya dagangan yang relatif kecil, sedikit, di bawah pula. Tanpa standing banner atau lainnya yang sepantaran tinggi mata manusia sehingga memudahkan produk saya tertangkap pandangan orang saat berjalan), saya bergeser dan mempersilahkan saja mbak-nya untuk jualan berdesakan di samping saya. Ngga tau dapet bisikan darimana, saat itu tiba-tiba saya yakin saja kalau mempermudah urusan orang lain maka urusan kita akan dipermudah Allaah. Dan Maasya Allaah, ga berapa lama pembeli langsung berdatangan dengan sendirinya. Dalam waktu kurang dari satu setengah jam, dagangan saya ludes hanya menyisakan satu pot saja. Saya pulang setengah jam lebih cepat daripada teman-teman lain dengan perasaan takjub luar biasa atas pengalaman ini, sampai saya gemetar dan rasanya mau nangis.

Burung pergi dalam keadaan lapar pulang dalam keadaan kenyang

Note : Ngga sampe situ aja, saya ternyata dapat bonus. Sebelah saya yang merupakan tempat cuci piring, ternyata yang cuci piring tadi adalah Ketua Paguyuban Pedagang di situ. Kebetulan kaki beliau sedang sakit sehingga hanya bantu warung keluarganya cuci piring saja, padahal biasanya beliau muter keliling memantau. Beliau dan istrinya banyak bercerita pada saya bagaimana tata cara berjualan di sana, serta pengalaman mereka sejak pertama kali berjualan ketika awal-awal dulu Car Free Day masih sepi. Hingga akhirnya beliau berdua menyuruh saya minggu depan berjualan lagi di tempat yang sama, alias saya sudah punya tempat yang insya Allaah tidak diusir-usir lagi. Alhamdulillaah yaa Allaah, mau nangis rasanya. Allaah Maha Baik, sungguh.

***

Klodran,

Monday 7 Oktober 2019

03.00 am

***

Special thanks to Pak Roby, mantan atasan si Om yang telah memberikan pertama kali satu batang bibit mint dulu sekali waktu kami masih di Jakarta. Sekarang, mint Bapak udah kemana-mana, ke ibu & mertua, ke saudara, ke teman-teman saya, dan sekarang menjadi jalan jualan saya. Semoga pahalanya mengalir buat Pak Roby juga sebanyak tunas-tunas mint tersebut.