Konflik..

Mengawali tulisan kali ini dengan seutas senyuman.. Dilanjutkan dengan menarik nafas panjang..

Jika dilihat lagi sekilas, tulisan-tulisan saya yang telah lampau, isinya mungkin kebanyakan tulisan galau.. Atau sebaliknya tulisan penyemangat.. Ya, beberapa saya harap sedikit banyak akan punya efek positif yang berguna bagi pembacanya.. Namun sebenarnya, di balik itu semua, tulisan-tulisan tersebut berasal dari hati saya, tentang apa yang terjadi, apa yang saya rasakan..

Jika kita memberikan semangat pada orang lain, atau berteriak “semangat!” biasanya kita yang sebenarnya sedang berusaha menyemangati diri sendiri..

Begitu kata teman saya, yang saya akui ternyata jika dirasa-rasa memang iya.. Karena tulisan-tulisan saya yang berisi penyemangat dan pandangan positif, sebenarnya tertulis saat saya justru sedang merasa down, alias terpuruk..

Terbukti saat ini.. Ketika saya mengalami konflik, semua jalan yang sebenarnya terbuka lebar terlihat buntu.. Semua nasihat dan saran dari orang-orang terdekat tak bisa masuk.. Tertolak.. Memang perspektif kita akan berbeda ketika kita berada di dalam sistem.. Suatu masalah akan tampak keruh, meskipun sebenarnya sangat jelas jika dipandang dari luar sistem..

Kemana kita harus melangkah? Sedangkan dimana posisi kita saja kita tak tau..

Sudah saya bahas di banyak tulisan sebelumnya (ternyata), jika hidup memang berisi pilihan-pilihan.. Dan itulah yang sebagian besar membingungkan saya.. Masalahnya adalah tak ada yang bisa memberikan jaminan atas apa yang terjadi berikutnya.. Hari esok penuh dengan ketidakpastian.. Masa depan hanya milik Alloh..

Lalu harus bagaimana? Meskipun rencana itu perlu, nyatanya selama ini saya mengalir saja.. Mengikuti takdir.. Karena rencana Alloh jauh lebih baik.. Jika benar-benar kita telisik, ternyata pilihan-pilihan bukan menjadi sumber kegalauan.. Dan pagi ini, melalui sebuah obrolan yang lumayan panjang untuk sebuah pembuka hari, melalui teman saya, saya disadarkan bahwa ternyata masalahnya adalah diri kita sendiri, saya..

Saya yang ternyata belum sepenuhnya yakin akan masa depan yang telah Alloh siapkan untuk saya.. Saya belum sepenuhnya membebaskan hati saya, untuk sepenuhnya mengalir mengikuti takdir, menikmati apapun yang terjadi dan mengambil sisi baik dari itu semua.. Saya yang masih menuntut kepastian dari sesuatu yang tak ada seorang pun bisa menjaminnya..

Karena itulah, pagi ini ketika saya menuliskan hasil permikiran panjang, perdebatan yang melelahkan bersama orang-orang yang sama-sama tak tau apa yang ada di depan sana, dan kesimpulan dari kegalauan yang lama bersarang di hati saya,, saya memulainya dengan tersenyum..

Senyum yang terkembangkan oleh banyak arti.. Merasa malu, karena saya ternyata belum bisa se-relevan tulisan saya sendiri.. Merasa mengalami sebuah pendewasaan yang lain.. Merasa tersadarkan.. Sekaligus merasa gagal sebagai orang dewasa.. Merasa senang, sekaligus sedih.. Merasa lega, sekaligus tak rela.. Dan banyak lagi lainnya..

Terdengar ironis mungkin, tapi saya rasa memang begitu cara manusia mempertahankan dan menjaga perasaannya sendiri.. Karena seberapa pun orang lain menyemangati, tak akan ada artinya apabila hati memilih untuk menyerah..

You’re the only defense and controller for your own self.. : )

Tulisan yang bagi saya sangat emosional ini, saya tutup dengan mengutip kalimat saya sendiri pada tulisan saya sebelumnya :

Bahagia tak perlu dicari, karena dia ada di hati, dan hanya kita yang bisa menentukan apakah kita ingin bahagia atau tidak..

Advertisements

Apa yang Kamu Lakukan Setelah Putus?

Hehe.. (dateng-dateng langsung ketawa)

Terkenang masa-masa dulu, waktu masi awal kuliah.. Sempet punya pacar, pacar pertama.. Saya kira akan bertahan lama, karena saya yakin bahwa saya adalah tipe orang yang akan sukses membawa hubungan dalam jangka panjang.. Tapi kenyataannya lain.. Kami putus dalam waktu tiga bulan.. Karena suatu hal yang tidak perlu dibahas di sini, hihihi..

Untuk pertama kalinya dalam hidup, mengalami putus cinta.. Waw! Mejik!

Ternyata bener lagu-lagu yang sering saya dengar..

Lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati……

Memang, tak bisa dipungkiri.. Orang bilang sakit gigi itu sakit ringan yang paling sakit (nah loh, gimana ya ntu?).. Makan tak enak, kepala pusing, tidur tak nyenyak, bicara sulit, masih harus merasakan sensasi senut-senut di dalam mulut..

Namun ternyata, sakit hati karena putus cinta lebih sakit lagi.. Mungkin karena sakit gigi itu tangible bisa diperiksakan dan diobati, kasat mata.. Sebaliknya masalah hati adalah sesuatu yang intangible..

Apa yang dulu saya lakukan setelah putus cinta?

Hmm.. Seminggu pertama berat banget.. Jujur.. Hampir setiap kali bangun pagi, saya menangis tanpa sebab.. Rasanya, hari ini akan berbeda dengan hari-hari sebelumnya sewaktu masih bersamanya.. Ya, sedikit banyak memang benar, akan ada sesuatu yang hilang..

Kuliah di kelas dijalani dengan tatapan kosong, setiap lagu yang didengarkan dan setiap film yang ditonton rasanya selalu menyindir dan mengingatkan pada si mantan.. Diajak bicara yang ada cuma emosi.. Makan tak enak, tidur tak nyenyak.. Hingga setelah masa lebih kurang satu minggu itu, kemudian saya mulai berpikir..

Hmmm, tak bisa dibiarkan terus seperti ini.. Bisa tambah kurus saya nanti..

Kemudian saya menyusun kembali rencana hidup saya.. Dan yang pasti, mengisi kekosongan waktu dan pikiran saya, dengan hal-hal positif.. Berikut strategi yang waktu itu saya gunakan :

1. Mendengarkan dan menghafalkan surat pendek..

Mendengarkan lagu malah bikin hati seperti teriris-iris (wew) teringat si mantan.. Lalu akhirnya saya ganti lagu dengan murotal Qur’an.. Jika kira-kira waktu kosong dan pikiran siap melamun, langsung aja komat kamit.. Tampak seperti menyanyi, tapi sebenarnya menghafal.. Kegiatan menghafal memang bisa menyita pikiran dan membutuhkan konsentrasi..

2. Melihat Berita

Jangan nonton sinetron atau film.. Malah bisa bikin jengkel, atau teringat kejadian waktu pacaran.. Dengan melihat berita, pikiran diajak menyusun kronologis peristiwa, gimana awalnya dan saat ini sudah sampai mana kasusnya, siapa tersangkanya, apa motifnya.. Hehe, seperti melihat film misteri.. Selain menambah pengetahuan dan wawasan, pikiran kita akan lebih kritis.. Sewatu blog fr*endster saya masih ada dulu, isinya semuanya menghujat hukum dan pemerintah.. Hahaha..

3. Gaul Bareng Temen

Mau jomblo kek, mau punya gebetan, mau punya pacar, mau punya selingkuhan, kalau sudah namanya kumpul bareng temen-temen pasti semuanya jadi seru.. Mau pusing skripsi, mau pusing KP, mau pusing cari kerja, mau pusing kuliah lagi, kalau sudah main sama temen jadi lupa beban.. Ga ada lagi perbedaan status, kasta, jabatan, semuanya pukul rata.. Yeha! That’s what friends are for! ;-)

4. Cari Gebetan Baru

Tidak bisa saya pungkiri, bagi saya cara tercepat mengalihkan hati dari seseorang adalah dengan mencari orang lain.. Ga perlu pacaran, nanti menyesal kalau ada kandidat yang lebih baik datang dimana posisi kita sudah tidak bisa memilih.. Satu, dua, tiga, kumpulkan dulu yang banyak.. Perluas pergaulan dan wawasan.. Baru nanti dibikin skala prioritas.. Hihihi kayak mau belanja apa aja..

Intinya, jangan biarkan pikiran dan waktu kosong, karena akan teringat mantan.. Isi dengan kegiatan, dengan catatan : kegiatan yang positif.. Tetep semangat, tetep berjuang.. Oke, kiranya empat tips itu sudah cukup mewakili.. Ini versi saya, kalau versi kamu? : )

Jodoh dan rezeki memang sudah ditetapkan.. Jika memag sudah milik kita maka akan sampai pada waktu yang ditetapkan.. Tapi ada syaratnya : usaha! Karena usaha itu akan jadi jalan bagi sampainya rezeki & jodoh tersebut pada kita..