Perjalanan #2..

Inti dari sebuah perjalanan bukan dimana tujuanmu berhenti, tapi bersama siapa kamu pergi..

Bayangkan kamu memiliki sebuah tujuan, atau malah sudah menyiapkan rute yang akan ditempuh.. Namun kamu tak punya kawan untuk digandeng dan melangkah bersama..

Ya, lambat laun mungkin kamu akhirnya akan sampai pada tempat yang kamu tuju.. Kamu berhasil melewati rute yang telah kamu rencanakan dengan menghadapi segala rintangannya.. Puaskah? Sudah pasti.. Tapi kemudian untuk apa?

Nikmatnya segala pencapaian positif dan semua prestasi menjadi hambar, karena kamu tak punya seseorang untuk berbagi kesenangan itu, seseorang yang tersenyum bangga di belakangmu saat kamu dipanggil maju ke podium.. Kemudian untuk apa? Lalu untuk siapa? (sedikit mengutip Alitt Susanto – Skripshit)

Bayangkan sebaliknya.. Kamu punya seseorang di sampingmu, yang siap menemanimu kemana pun kamu hendak melangkah, yang menentukan kemana harus berbelok ketika kamu tak tahu arah.. Yang menceriakan perjalananmu sehingga halangan apapun yang ada di depan tak lagi terasa berat, yang tak keberatan untuk berhenti sejenak ketika kamu merasa lelah.. Yang selalu ada untuk menyokongmu, yang tersenyum setiap kali kamu menoleh ke belakang..

Kemana pun tujuan akhirnya rasanya tak terlalu jadi soal.. Kemana pun pergi rasanya menyenangkan..

Tapi bagaimana bila teman seperjalanan meskipun satu tujuan ternyata tak lagi sejalan? Haruskah mengekornya, memaksanya mengikuti kita, atau adakah jalan tengah yang sama sekali baru?

Atau mungkin, berpisah dan menempuh jalan yang diyakini masing-masing akan melahirkan solusi yang paling baik..

Hidup memang penuh dengan pilihan-pilihan, terkadang mudah, terkadang susah, terkadang trade off.. Sometimes all that we can do is gambling..

Advertisements

Konflik..

Mengawali tulisan kali ini dengan seutas senyuman.. Dilanjutkan dengan menarik nafas panjang..

Jika dilihat lagi sekilas, tulisan-tulisan saya yang telah lampau, isinya mungkin kebanyakan tulisan galau.. Atau sebaliknya tulisan penyemangat.. Ya, beberapa saya harap sedikit banyak akan punya efek positif yang berguna bagi pembacanya.. Namun sebenarnya, di balik itu semua, tulisan-tulisan tersebut berasal dari hati saya, tentang apa yang terjadi, apa yang saya rasakan..

Jika kita memberikan semangat pada orang lain, atau berteriak “semangat!” biasanya kita yang sebenarnya sedang berusaha menyemangati diri sendiri..

Begitu kata teman saya, yang saya akui ternyata jika dirasa-rasa memang iya.. Karena tulisan-tulisan saya yang berisi penyemangat dan pandangan positif, sebenarnya tertulis saat saya justru sedang merasa down, alias terpuruk..

Terbukti saat ini.. Ketika saya mengalami konflik, semua jalan yang sebenarnya terbuka lebar terlihat buntu.. Semua nasihat dan saran dari orang-orang terdekat tak bisa masuk.. Tertolak.. Memang perspektif kita akan berbeda ketika kita berada di dalam sistem.. Suatu masalah akan tampak keruh, meskipun sebenarnya sangat jelas jika dipandang dari luar sistem..

Kemana kita harus melangkah? Sedangkan dimana posisi kita saja kita tak tau..

Sudah saya bahas di banyak tulisan sebelumnya (ternyata), jika hidup memang berisi pilihan-pilihan.. Dan itulah yang sebagian besar membingungkan saya.. Masalahnya adalah tak ada yang bisa memberikan jaminan atas apa yang terjadi berikutnya.. Hari esok penuh dengan ketidakpastian.. Masa depan hanya milik Alloh..

Lalu harus bagaimana? Meskipun rencana itu perlu, nyatanya selama ini saya mengalir saja.. Mengikuti takdir.. Karena rencana Alloh jauh lebih baik.. Jika benar-benar kita telisik, ternyata pilihan-pilihan bukan menjadi sumber kegalauan.. Dan pagi ini, melalui sebuah obrolan yang lumayan panjang untuk sebuah pembuka hari, melalui teman saya, saya disadarkan bahwa ternyata masalahnya adalah diri kita sendiri, saya..

Saya yang ternyata belum sepenuhnya yakin akan masa depan yang telah Alloh siapkan untuk saya.. Saya belum sepenuhnya membebaskan hati saya, untuk sepenuhnya mengalir mengikuti takdir, menikmati apapun yang terjadi dan mengambil sisi baik dari itu semua.. Saya yang masih menuntut kepastian dari sesuatu yang tak ada seorang pun bisa menjaminnya..

Karena itulah, pagi ini ketika saya menuliskan hasil permikiran panjang, perdebatan yang melelahkan bersama orang-orang yang sama-sama tak tau apa yang ada di depan sana, dan kesimpulan dari kegalauan yang lama bersarang di hati saya,, saya memulainya dengan tersenyum..

Senyum yang terkembangkan oleh banyak arti.. Merasa malu, karena saya ternyata belum bisa se-relevan tulisan saya sendiri.. Merasa mengalami sebuah pendewasaan yang lain.. Merasa tersadarkan.. Sekaligus merasa gagal sebagai orang dewasa.. Merasa senang, sekaligus sedih.. Merasa lega, sekaligus tak rela.. Dan banyak lagi lainnya..

Terdengar ironis mungkin, tapi saya rasa memang begitu cara manusia mempertahankan dan menjaga perasaannya sendiri.. Karena seberapa pun orang lain menyemangati, tak akan ada artinya apabila hati memilih untuk menyerah..

You’re the only defense and controller for your own self.. : )

Tulisan yang bagi saya sangat emosional ini, saya tutup dengan mengutip kalimat saya sendiri pada tulisan saya sebelumnya :

Bahagia tak perlu dicari, karena dia ada di hati, dan hanya kita yang bisa menentukan apakah kita ingin bahagia atau tidak..

Enjoying Life..

Terkadang saya adalah orang yang merencanakan segala sesuatunya dengan matang..

Namun seringkali, rencana tak akan berhasil sehingga saya akan menyerah dan membiarkan apa yang terjadi agar terjadi saja.. Kemudian hanya menikmati apa yang tersisa..

Mungkin karenanya, seringkali, saya memilih menjadi orang yang oportunis.. Selalu mengatakan “ya” pada sesuatu yang datang tiba-tiba pada saya.. Mengatakan apa yang saya rasa ingin katakan..

Apakah setelah itu ada penyesalan?

colorful :-D

colorful :-D

Well, beberapa hal awalnya mungkin iya.. Beberapa dari yang beberapa itu kemudian akan menjadi kejadian bodoh yang biasanya membuat orang tertawa ketika saya menceritakannya atau membuat saya sendiri tertawa jika mengingatnya.. Lalu ketika semuanya telah menjadi kenangan, akan menggoreskan warna sendiri dalam hidup saya dan menghapus yang mungkin saya sesalkan.. Menggantinya dengan rasa syukur..

Syukur atas semua kejadian yang saya alami, yang tak semua orang akan alami.. Yang memperkaya saya.. Yang mungkin meninggalkan tawa di benak orang..

Saya biarkan semuanya mengalir.. Karena kita tak tahu apa yang akan datang pada kita.. Maka hiduplah di masa sekarang dan nikmatilah apa yang ada..

Menikmati hidup tak harus keliling dunia, tak harus mahal.. All you gotta do is open up your mind.. :-)

My ‘Colorful’ Day..

Tanpa hal-hal bodoh, hidup tak akan berwarna..

Demikian suatu kali pernah saya tulis di status messenger saya.. Pasti ada alasannya, antara lain : karena saya kerap kali melakukan kebodohan! Entah disadari atau tidak (kerapkali tidak, sih)..

Contohnya, kemarin (Minggu 24/03/13) adalah fullday of stupidity! Apa saja yang saya kerjakan kemarin?

Pagi hari, sekitar jam setengah 9 saya mendapat sms dari teman-teman cowok “phex, ikut ga? kita mau jenguk Ifa”.. Info : Ifa teman kami SMP-SMA pada hari sebelumnya masuk rumah sakit karena demam berdarah, dirawat di Jogjakarta International Hosiptal..

Berhubung sudah ada janji sebelumnya dengan salah satu rekan kantor saya pada sore harinya, saya tanyai dulu “dari jam berapa sampe jam berapa? jam 3 aku ada acara lho” dan jawabannya sungguh melegakan “jam 9 berangkat, kumpul di rumahku. Pulangnya ga sampai sore kok, siang paling udah di solo lagi”.. Maka berangkatlah saya..

Sampai sana sekitar jam setengah 10, masih belum komplit anggotanya.. Sopirnya ketiduran.. Baru datang jam 10.. Kirain segera capcus, eee ternyata makan gado-gado dulu.. Setengah 11 bertolak dari Sumber.. Begitu masuk mobil……

Phex, sepertinya ga mungkin bisa pulang di atas jam 3 deh.. Dan karena kamu udah di mobil, ga bisa keluar lagi.. Nanti dari rumahnya Ifa kita bablas ke Baron cari sea food ya! Asiiiiik..

Rasanya pengen cekik satu-satu trus membajak mobil.. -_-

Dan memang, singkat cerita, pulang sampai Solo jam 16.30 itu saja pakai acara dipaksa susah payah sampai harus ndlosor dan koprol (emmm, oke.. Sebenarnya berlebihan).. Sampai Solo langsung ke rumah Tiara, setelah itu bertolak ke rumah rekan kerja saya.. Semua saya lakukan dengan terburu-buru..Rasanya tidak enak kalau bertamu ke rumah teman kerja malam-malam, mana belum pernah ke sana sebelumnya pula..

Untuk apakah? Untuk ambil kucing.. Hee.. Info : teman saya itu berhubung kucingnya beranak lagi 3 ekor, maka hendak menghibahkan yang seekor buat saya..

Kamu bawa mobil atau motor? Di sini hujan lho..

Accidentally bawa motor.. Aku lupa ancer-ancer rumahmu.. Dan aku bingung kucingnya mau diwadahi apa.. -_-

Saya memang cukup oportunis.. Hanya modal berangkat.. Kucing diberi, makanan seplastik diberi juga, keranjang dipinjemi.. Sebenarnya rencana semula setibanya dari Jogja saya hendak pulang dulu, mandi, ganti baju, bawa mobil.. Namun, rencana hanya tinggal rencana.. Kenyataannya, saya ke rumahnya memakai celana jeans belel yang sobek di lutut.. Niatnya mau jaga image tapi apa daya harus keliatan aslinya.. -_-

Sewaktu di rumah teman saya tersebut, sebenarnya hari sudah gelap, dan tak berapa lama kemudian adzan magrib terdengar.. Tanda harus segera pamit..

Magrib dulu ga?

Teman saya menawarkan, namun saya lebih enak magrib di rumah Tiara saja.. Mungkin ini juga sih salah satu sebab awalnya.. Sampai rumah Tiara, saya turun.. Kami papasan sama Bapaknya Tiara yang sepertinya baru pulang dari masjid..

Apaan tu Mbak?

Saya buka keranjangnya, pengen lihat juga karena sepanjang jalan yang notabene ga terlalu jauh, si mpus ngeong-ngeong terus.. Dan……………..

Wuzz!!

Si empus langsung loncat keluar.. Dia memang sedikit agresif, tapi tadi sewaktu di rumah teman saya dia masih bisa diajak becanda.. Mungkin karena dia jet lag, jadi langsung kabur.. Dan begitu kabur, dia bingung mau kemana, soalnya lingkungannya baru buat dia..

Akhirnya dia masuk ke gorong-gorong depan rumah.. Agak lama, dipancing pakai makanan di salah satu sisi, dia tak mau keluar.. Ya iyalah, soalnya kita nungguin di deket situ.. Dudul.. -_-

Sempat ada ide mau diasapin di sisi yang lain (putus asa mode on).. Tapi akhirnya dia mau keluar dari sisi yang lain secara swakarsa dan swadaya.. Kita pun mengendap-endap hendak menangkapnya.. Dan..

Hap!!

Lolos! Hiks.. Si empus terlalu gesit.. Beberapa kali kesempatan bahkan tak berhasil menyentuhnya.. Tipis sekali, begitu istilah komentator bola.. Hingga pada akhirnya dia masuk ke rumah tetangga depan.. Dan menghilang.. Tak jelas perginya kemana, berhubung si empus warna bulunya hitam.. Di pekarangan rumah tak ada, kemungkinannya hanya 2 : masuk ke dalam rumah (waktu itu pintu ruang tamu terbuka) atau lari ke sawah samping rumah..

Mocca, bahkan aku belum punya fotomu.. -_-

Mocca, bahkan aku belum punya fotomu.. -_-

Kemungkinan pertama agak kecil, karena di dalam rumah tersebut terdengar adem ayem.. Harusnya si empus akan bingung dan terdengar suara berisik dari dalam rumah lalu ada adegan pengusiran (–> terlalu banyak menonton film kartun).. Tapi, kemungkinan kedua juga tipis setelah saya senteri memakai lampu motor.. Tak ada pantulan cahaya dari mata si empus.. (kata Tiara: jangan-jangan kucingnya hadep belakang? Hmm, benar juga sih kalau dipikir-pikir.. –> sudah tidak bisa berpikir jernih)..

Ya, sudah tidak connect pada waktu itu.. Di-sms apa, balasnya apa.. Sampai-sampai salah seorang teman saya menyusul ke rumah Tiara.. Info : setelah teman-teman TI 2007 lulus kuliah, ketika ke kampus teman-teman main saya berubah menjadi anak-anak jurusan sebelah (baca: Teknik Mesin), diantara mereka ada yang paling sering saya ajak main (karena paling sering di kampus) yakni yang menyusul saya kemarin malam.. Saat di kampus, kita sering mainan kucing, dari situ dia tau ceritanya dari saya akan dihibahi kucing hingga proses penjemputan si empus, termasuk ketika ada kejadian si empus lepas..

Hingga jam 9 malam saya masih berada di rumah Tiara.. Namun si empus tidak muncul juga.. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya pulang ke rumah.. Kalau saja hari ini libur, ingin rasanya nongkrongin rumah Tiara..

Yah, itulah kebodohan saya hari ini.. Telah banyak merepotkan orang, sehingga saya harus berterimakasih di antaranya pada:

1. Tiara — yang udah nemenin ambil si mpus, rela nungguin dia keluar dari gorong-gorong meskipun tetep tak berhasil tertangkap.. Juga rela untuk disatroni di hari Sabtu-nya meskipun sedang sakit, maaf mengganggu tidurmu.. Tapi sepertinya terbayar ketika melihatmu ngekek karena kekonyolan yang ku lakukan..

2. Rekan kerja saya — buat empus plus makanannya, plus pinjeman keranjangnya.. juga es sirupnya.. maap akhirnya si empus malah ilang.. jadi ga amanah deh.. Hiks..

3. Fajar — yang udah mau ku curhati, nyusul ke rumah tiara, dan mengawal balik sampai ke rumah.. semoga skripsimu lancar & cepet lulus (ga ada hubungannya sih, tapi gapapa dah.. amin)..

4. Ibunya Tiara — yang karena sebuah ketidaksengajaan kaos kaki saya jadi ikut kecuci, hehe.. Makasih Tante, jadi bisa langsung dipakai Seninnya (intermezo sedikit).. Juga atas baksonya..

5. RicoErlanggaNdaru — yang bikin aku telat buat acara ambil kucing, selamat kalian sukses.. kalian pantas dapat p*p mie!

6. Ratna — you should have seen all this but, still I’m thankful.. terimakasih telah ditemani cari pakan kucing di hari Sabtunya & jenguk Tiara..

7. Masku — yang langsung telepon dan menenangkan saat melihat tanda-tanda kepanikanku, maaf ya malah jadi bikin ikut panik..

8. Mocca — kamu adalah tokoh utama di sini, tanpamu hari itu akan terasa biasa saja.. maaf telah membuatmu bingung & akhirnya kabur.. semoga kamu baik-baik saja sampai saatnya kamu ditemukan nanti (still hoping).. amin..

9. Alloh — for sure! Terimakasih telah merancang skenario yang hebat dan tak terduga di segmen demi segmen hidup saya.. Another weird day that making my life colorful!

Destiny..

Pagi ini, saya terbangun lebih awal dari pagi-pagi biasanya.. Dan tetap terjaga seusai Subuh (ketauan deh biasanya tidur lagi, hihi).. Tiba-tiba saya merasa bingung, apa yang akan saya lakukan sekarang? Rumah masih sepi dan gelap.. Niat bermain piano sedini ini nampaknya salah jadwal..

Saya pun kembali ke kasur saya.. Dari mencoba tidur lagi, sampai kegiatan mengingat-ingat agenda penting pun saya lakukan..

Tiba-tiba saja sejurus kemudian saya menemukan diri saya tengah menjelajah jejaring sosial.. Melihat profil salah satu rekan SMA yang kini telah bekerja di Jepang..

Ah, saya merasa iri..

Kemudian, saya pun mencoba flash back ke masa-masa dulu.. Dia yang bahkan teman satu SMP saya juga..

where to go?

where to go?

Kami diasuh dan dibesarkan oleh almamater yang sama.. Kami pernah bertatap muka dengan guru-guru yang sama, yang saya yakin bahwa ilmu apa yang pernah dia dengar, saya pun pernah mendengarnya juga..

Kami yang (bahkan tanpa pernah kami sadari sebelumnya) ternyata pernah tumbuh bersama-sama, mengalami masa remaja dalam radius yang tak lebih dari satu kilometer setiap tujuh jam dalam sehari dan enam hari dalam seminggu..

Dia yang harus dua kali melalui tes ujian masuk perguruan tinggi, dan saya yang (alhamdulillah) dengan sekali tes diterima di dua universitas negeri sekaligus..

Namun, ketika kami kembali ke detik ini, apa yang dia capai dan apa yang saya capai sungguh berbeda.. Dia  telah mencari nafkah di negeri orang, sedangkan saya masih di kampung halaman, tempat yang sama dimana kami dulu pernah merasakan masa-masa sekolah..

Sungguh.. Apa yang ada di masa depan sana, hanya Alloh yang tau..

Dan detik ini juga.. Saya berimanjinasi..

What would it be if we switched our position off?

Memang, tak akan terbayang oleh saya bagaimana akan hidup di negara orang.. Yang pasti di sana akan lebih dingin.. Dan di sana semua akan terasa asing.. Serta tak akan bisa saya memeluk Ibu saya sepulang kerja..

Mungkin.. Dia yang di Jepang pun sedang merindukan hal yang sama, seperti yang saya takutkan tak bisa saya lakukan di atas.. Bertemu dengan keluarganya.. Meniduri kasurnya.. Namun yang pasti, akan ada kebanggaan dan hal-hal menggembirakan lain sebagai gantinya.. Alloh Maha Adil.. :)

Dan pada akhirnya.. Hidup itu pilihan.. Dia yang memilih kebanggaan menakhlukkan negeri orang.. Dan saya yang memilih untuk menemani Bapak-Ibu saya menyapa masa-masa tuanya..

Insya Alloh, baik dia maupun saya bahagia dengan jalan kami masing-masing.. Karena apa yang telah dipilihkan Alloh pasti yang terbaik, bukan hanya untuk kita tapi juga untuk orang-orang di sekeliling kita..

07.12.12 (05.42 am)
Semangat pagi!

Memburu Senja..

Pagi ini…

Fajar itu bagaikan cinta pertama.. Indah.. Membakar dalam cahaya keemasan.. Namun singkat, dan segera teralihkan oleh apa yang terjadi selanjutnya dalam hidup kita..

Namun setiap kita kenang, bekasnya akan tetap ada.. Indah.. Dan akan selalu menemani kita sepanjang hari..

 

Senja itu bagaikan cinta terakhir.. Datang di saat kita lelah dengan semua yang terjadi pada hari kita.. Dan selalu ada saat kita butuh ketenangan dari lembut cahayanya..

Mengantarkan kedatangan malam kita.. Terbawa sampai mimpi.. Setia menemani hingga esok yang baru menjemput kita..

Tak akan kita menemui senja nan indah, sebelum kita bangun dan menyongsong fajar..

Perjalanan ke kantor, 14 Agustus 2012..

***

I Love Dusk.. J’aime le crépuscule.. 私 は ゆうやけ が すき。。

Beautiful dusk sky..

Ngelantur – Mengenang Masa Lalu & Mengkhayal Masa Depan

Teman-teman maya sekalian, saya ingin berbagi sesuatu ^^ (meskipun sudah rada telat siy, hehe).. Dua minggu kemarin, saya sidang skripsi.. Ada yang menyebutnya pendadaran, hmmm tapi saya gak tau bedanya apa, hihihihi.. Yang jelas, sekeluarnya seorang mahasiswa dari ruangan (yang biasanya) kecil setelah kurang lebih 2 jam menghadapi “serbuan” pertanyaan dari dosen-dosen penguji (bahkan pembimbing pun bisa tiba-tiba berubah jadi penguji -_-‘), mahasiswa tersebut sudah dinyatakan LULUS.. Begitu pun saya pada hari itu, Rabu 13 Juli 2011 sekitar jam 15.00 tepatnya ketika adzan Ashar berkumandang, saya keluar dari Ruang Sidang Jurusan dan telah bergelar ST (Sudah Tamat, hehehe).. Alhamdulillah..

Meskipun ‘konon’ akan ada beban ketika menyandang gelar baru tersebut, tapi entah karena saya cuek atau apa, saya merasa biasa aja.. Bahkan ketika dosen saya menasihati bahwa sekeluarnya saya dari ruangan itu tidak akan sama lagi dengan teman-teman mahasiswa tapi toh esoknya saya tetap tampil “tabrak warna” selayaknya anak SMP (hehe, sebenernya sih agak gak nyambung antara ST dengan baju tabrak warna, tapi gapapa lah).. ^^v

Eh eh, tunggu dulu! Sebenernya inti postingan ini bukan tentang kelulusannya lho.. Tapi justru sebaliknya.. Tepat seminggu sebelum sidang itu, saya ingat pernah mengirim sms seperti ini pada pacar saya “hanya saja, semuanya kini terasa terlalu cepat“.. Dan mesin waktu dalam benak saya pun berputar kembali, 4 tahun yang lalu..

Saya bahkan masih ingat, bahwa saya masuk universitas tempat saya kuliah ini dengan setengah hati, bahkan mungkin juga dengan setengah restu orang tua (karena harus menolak universitas yang satunya.. Alhamdulillah saya sempat diterima di 2 universitas).. Diiringi air mata dan sms dari ibu saya yang (mungkin) khawatir saya akan bunuh diri (wew, hahaha) pada hari terakhir daftar ulang universitas yang saya tolak tersebut.. Akhirnya di sinilah saya sekarang, inilah jawaban yang saya peroleh dari Alloh, dan bismillah ini adalah yang terbaik untuk saya.. Dan sekarang tiba-iba “cling!” sayaSudah Tamat!

By the way, sebenernya niat awal posting ini saya mau berbagi tips saat akan ujian masuk universitas lho (gubrak!! jauh banget ya melencengnya.. hehehe), kog malah jadi ngelantur gini ya? hehehehe.. ^^”

Tapi yasudah deh, karena sudah terlanjur jauh ngelanturnya, maka tips saat akan ujian masuk universitasnya saya bagi kapan-kapan aja deh, kali ini sekalian aja ngelanturnya..

Tepat kemarin, Minggu 24 Juli, saya hang out berdua sahabat saya (sahabat dari SMP sampai kuliah ini).. Tujuannya untuk sekedar berbagi sembari kuliner, maklum karena berbeda jurusan meskipun kami berdua satu kampus tapi jarang sekali bertemu di kampus.. Sudah agak lama tidak berbagi dari hati ke hati..

Nah, sore itu (jam 4 sampai jam 9 malam nonstop!! wew..) kami berdua yang sama-sama Sudah Tamat, berbagi banyak hal.. Dari mengenang masa lalu, ketika masih kinyis-kinyis awal masuk kuliah, hingga kini obrolan & rencana kita telah merambah kepada karir impian vs. realita kita sebagai wanita, dan bahkan telah merambah pada ranah rumah tangga..Wow! Gak kebayang ya..

Tiba-tiba teringat sewaktu kecil, saya selalu saja ingin supaya cepat besar, cepat bisa dandan, cepat bisa meraih cita-cita saya sebagai penyanyi (hihihi), punya anak, dll.. Sekarang, tiba-tiba semua itu sudah selangkah di depan mata (kecuali yang “penyanyi” itu, huhuhu).. Terkadang, ada ketakutan-ketakutan yang muncul dalam diri, tentang ketidaksiapan secara emosional, ketidaksiapan untuk menjalani hidup yang ‘sebenarnya‘ (sewaktu kecil entah kenapa saya sudah berpikir bahwa selama masih di bawah ketiak orang tua kita belum menghadapi hidup yang sebenarnya, bahwa hidup yang sebenarnya itu susah, dan bahwa dunia luar itu mungkin kejam.. dan kini saya mengatakan ya! pemikiran saya sewaktu kecil itu memang benar adanya), ketidaksiapan menjadi tua, ketidaksiapan ditinggalkan orang-orang terdekat, bahkan lebih jauh lagi ketidaksiapan jika sewaktu-waktu kita dipanggil untuk menghadap-Nya..

Wah, semakin ngelantur saja nih, sepertinya harus di-cut sampai di sini saja.. Kesimpulan kali ini adalah : It’s amazing to realize how fast time can run!