Poligami..

Setelah membahas beberapa topik sensitif seperti ini dan itu, tiba-tiba menjelang tidur tadi malam saya terpikirkan topik poligami.. Sudah sejak lama topik ini dibahas, dengan bermacam-macam argumen masing-masing..

Saya pun masih ingat, beberapa tahun yang lalu semasa saya masih berstatus sebagai pelajar, betapa saya benci sekali dengan poligami.. Kejadian di lingkungan kerabat, yang berbuntut kebencian dan permusuhan, cukup menjadi alasan bagi saya untuk anti-poligami..

Ambil contoh yang agak umum, ingat Ustadz Abdullah Gymnastiar atau yang populer disebut Aa’ Gym? Jama’ah pengajiannya luar biasa banyak waktu itu.. Namun setelah beliau memutuskan mengambil langkah yang cukup tegas dan berani untuk berpoligami, kenyataannya jama’ahnya berkurang drastis dan kemudian beberapa masalah terlihat menghampiri hingga akhirnya sempat jatuh talak kepada istri pertamanya.. Dramatis kan?

Namun ternyata, ketika saya diberi kesempatan oleh Alloh untuk belajar lebih dalam lagi tentang dien ini, termasuk ketika sampai pembahasan tentang poligami, saya menemukan bahwa sesungguhnya yang dipahami di masyarakat ini salah kaprah.. Poligami tidak buruk.. Apabila memang demikian, tentunya Alloh tidak akan memperbolehkannya..

Ilmunya Alloh itu luasnya bagaikan samudera.. Sedangkan ilmunya manusia itu bagaikan setetes air di paruh burung, dibagi wong sak ndonya (dibagi orang sedunia, red.)

Begitu kata Ustadz Hartono di pengajiannya hari ini.. Ya, Alloh Maha Mengetahui.. Termasuk apa-apa yang kita ingini namun sebenarnya buruk bagi kita, dan apa-apa yang kita benci namun sebenarnya baik bagi kita (QS. Al-Baqarah 216)..

Bahkan ketika perintah itu tidak make sense pun, sebagai orang yang beriman kita akan sami’na wa ato’na (tulisannya benar ga ya?).. Artinya : aku mendengar (perintah tersebut) maka aku laksanakan.. Karena terkadang ilmu manusia tidak bisa melogika ilmu Alloh..

Begitu pun masalah poligami ini.. Perspektif saya sekarang ini berubah.. Kebencian terhadap masalah ini berangsur hilang..

Banyak jalan menuju jannah, memang.. Sebaliknya, banyak jalan menuju kekufuran, dan salah satunya adalah bukan hanya dengan mengingkari perintah Alloh tapi cukup dengan membenci aturan-Nya..

Kemudian timbul pertanyaan.. Apakah dengan begini saya mau dipoligami? Masih teringat kata-kata Mbak Pipiek (istri Alm. Uje) dalam salah satu tayangan televisi yang kebetulan saya lihat.. Kalau tidak salah, si reporter memintai pendapatnya apabila Uje berpoligami.. Mbak Pipik berkata Tidak ada serorang wanita pun di dunia yang mau dimadu, tapi ketika Uje ternyata memiliki jodoh lain di dunia ini selain saya, saya hanya bisa ikhlas menerima ketentuan Alloh.. Sepakat! : )

Kemudian timbul pertanyaan lain, apa sebenarnya alasan seorang pria melakukan poligami? Mungkin beragam ya.. Mulai dari tidak adanya respek dari pasangannya sampai urusan ranjang.. Pernah saya membaca buku karangan Mbak Asma Nadia yang berjudul Catatan Hati Seorang Istri yang mana menurut saya ini adalah recommended book, mengutip pengakuan salah seorang pria bahwa mau apa pun alasan poligami yang dia katakan sebenarnya hanya satu : karena pria tersebut jatuh cinta lagi.. Titik! So that simple..

Urusan dunia memang tidak ada habisnya.. Saya pun mengakuinya dan mengalaminya.. Termasuk urusan cinta, perasaan, dan lain sebagainya, termasuk alasan poligami seperti yang sedang kita bahas.. Jika alasan berpoligami adalah seperti yang saya sebutkan di atas, maka tak heran jika buntutnya akan terjadi masalah yang berkepanjangan hingga anak-cucu mereka, karena dari awal niatnya tidak lurus..

Bahkan alasan keduniawian tersebut idealnya tidak akan ada, apabila pernikahan didasarkan pada agama.. Bagaimana suami dan istri sadar akan hak dan kewajibannya masing-masing.. Toh orang-orang zaman dulu tidak harus merasa cocok atau saling cinta pada awalnya untuk bisa menjalankan pernikahan yang bahagia.. Hanya saja, sebagai manusia kita tidak akan luput dari yang namanya alpa.. Termasuk himbauan keras bagi diri saya sendiri untuk lebih bisa meng-evaluasi.. Terkadang pola pikir zaman sekarang memperumit hal-hal yang sebenarnya sederhana..

Tahukah Anda, bahwa suami bertanggung jawab terhadap istrinya tidak hanya di dunia melainkan di akhierat?

Tak hanya harus berkecukupan secara materi.. Namun juga harus mampu mengarahkan istrinya ke jalan yang benar, karena kelak akan menanggung dosa istrinya akibat perbuatan salah si istri yang tidak diingatkan oleh suami.. Nah, terbayang apabila istrinya ada dua.. Dia akan bertanggungjawab terhadap dosa dua orang wanita, belum termasuk ibunya, saudara perempuannya, dan anak perempuannya.. Itu sebabnya, orang yang berilmu akan paham bahwa poligami adalah hal yang berat..

Nah, mari kita renungkan bersama-sama.. Sama sekali bukan bermaksud menggurui, karena kenyataannya saya masih banyak keliru dan harus belajar lagi lebih dalam.. Namun, akan sangat senang apabila ada manfaat yang dapat dipetik dari tulisan yang sekedarnya ini, bagi pembaca pada umumnya, dan terutama pengingat bagi diri saya sendiri.. Allahu a’lam.. : )

Advertisements

Bunuh Diri..

Semenjak memakai smartphone ini saya memiliki salah satu software chatting populer yang memungkinkan penggunanya berkirim tak hanya pesan teks namun juga gambar maupun audio bahkan video.. Software ini pun menyediakan fasilitas untuk melakukan percakapan lebih dari satu pengguna melalui pembentukan grup dengan admin tunggal..

Sejauh ini saya memiliki dua grup tetap, yaitu grup teman-teman SMA dan grup teman-teman kuliah.. Kedua grup ini hampir tidak pernah sepi.. Selalu ada saja bahan pembicaraan yang seringkali bikin senyum-senyum sendiri bahkan tertawa lepas ketika membacanya.. Kebanyakan memang hanya lelucon, sih.. Salah satunya ingin saya bahas di sini, tapi sedikit lebih serius..

bunuh diri..

bunuh diri..

Semalam, tiba-tiba muncul gambar ini dari grup sebelah.. Tak banyak komentar yang muncul setelahnya, hanya ikon-ikon gak jelas..  Tapi mungkin foto ini meninggalkan banyak persepsi pada masing-masing anggota grup, yang mungkin berbeda antara satu dengan yang lainnya..

Saya jadi berpikir, sebegitu parahkah bunuh diri di zaman sekarang sampai-sampai harus ada spanduk terbuka semacam itu? Bukankah dahulu kala, (secara norma masyarakat) bunuh diri itu suatu hal tabu?

Sungguh memprihatinkan.. Terlalu rumit kah permasalahan di era ini? Atau terlalu lemah kah mental orang di masa kini?

Mari membayangkan.. Berada di tepian jembatan dengan arus deras sungai di bawahnya dihiasi bebatuan terjal yang siap menyambut apa saja yang turun menimpanya.. Tidak terbayang rasa sakit yang akan terasa..

Akankah Anda loncat?

Konon, ajal itu menyakitkan.. Izrail yang mencabut nyawa Rasululloh dengan teramat sangat lembut saja, Rasululloh masih merasa sakit..

Bahkan kepada orang bertaqwa yang dijanjikan jannah atas mereka jika dikatakan “Inginkah kamu melihat surga? Maka matilah!” mereka pun masih akan berpikir.. Sedangkan kita?

Apakah yang akan kita temui selepas hidup di dunia ini? Akankah indah? Cukupkah tabungan kita untuk membeli jannah?

Tidakkah kita renungkan dalam-dalam, bahwa ruh orang yang bunuh diri tak akan diterima langit dan bumi?

Sekedar renungan.. Allahua’lam, semoga Alloh senantiasa menunjukkan kita jalan yang lurus..

You Get Smarter, You’ll Think Harder!

Merenung sejenak.. Sebelum memulai menuliskannya di sini.. Kemudian menghela nafas panjang..

Kita mungkin akan terjerumus, jika kita tidak berilmu.. Maka carilah ilmu, dan tinggalkan sesuatu yang kita tak ada pengetahuan atasnya.. Iqro!

Namun teman-teman, I think it will be much harder when we’ve got enough knowledge! Kenapa? Karena kini musuh kita adalah diri kita sendiri.. Ego dan pemikiran yang kita ciptakan sendiri.. Subhanalloh..

Baru saja dalam hitungan hari, mendapatkan ilmu baru.. Yakni tentang hukum berjualan kucing.. Dan kini, tentang hukum bermusik!

Sungguh.. Saya akui teramat sangat berat untuk meninggalkan musik dalam hidup saya.. Bermusik sudah menjadi semacam bawaan sepaket dengan lahirnya saya.. Bernyanyi, bermain piano, bermain gitar, mendengarkan musik.. Tak terbayangkan akan seperti apa hidup saya tanpa musik.. Sepi.. Hampa.. Barangkali..

Namun, di sini.. Saya tak akan berusaha mencari pembenaran akan apa yang diharamkan Alloh atas apa saya cintai.. Sungguh pun ingin rasanya saya menolak.. Membuat list nilai positif yang bisa diambil dari musik.. Tapi saya sadar, jika pembenaran yang saya tulis akan terkesan masuk logika pun, tak akan mengubah hukum yang telah dijatuhkan Alloh.. Karena agama itu masalah iman..

Zaman dimana akal dan logika diagungkan melebihi hukum Alloh memang mungkin kini telah terjadi.. Seperti yang telah dijanjikan oleh Alloh ribuan tahun sebelumnya..

Saya menerima dan mengakui hukum yang telah ditetapkan Alloh.. Tak akan saya menyangkalnya bahkan membencinya.. Karena menjadi  kafir bukan hanya dengan mengkufuri ayat Alloh melainkan cukup dengan membencinya..

Saya hanya membenci diri saya.. Yang begitu lemah.. Yang belum mampu meninggalkan apa yang dilarang dan dimakruhkan oleh Alloh.. Yang belum bisa kaffah memeluk Islam..

Saya hanya berpikir, semua tidak bisa instant.. Ralat, bukan tidak bisa, namun pasti akan teramat sangat sulit jika dibandingkan dengan iman yang tipis dan lemah.. Saya akan memulai mengambil ancang-ancang.. Semoga, perlahan sedikit demi sedikit saya bisa menjadi orang yang lebih baik..

06.01.13

Seperti mendapat semacam dukungan, ketika berkunjung ke halaman seorang teman..

Sebatang Benda Berasap..

Sebelum saya mulai menulis (lha ini apa donk?), saya sampaikan sebelumnya bahwa topik bahasan kali ini bukan saya maksudkan untuk menyindir atau memojokkan suatu kaum atau siapa pun.. Ini murni curahan hati saya saja..

Tapi bagi yang merasa terpojokkan atau tertohok, semoga bisa menjadi refleksi dan bahan perenungan.. Untuk itu sebelumnya saya mohon maaf.. :)

***

Putih.. Tinggi.. Ganteng.. Tegap.. Mancung.. Cerdas.. Ramah.. Humoris.. Simpatik.. Sopan.. Bijak.. Berkharisma.. Bersuara berat.. Dan dia pun menunaikan sholat..

What a perfect, rite? Sekilas tampak sempurna.. Sosok yang bahkan hanya dengan senyumnya pun mampu memikat hati wanita..

Namun, ketika dia beranjak menyelipkan sebatang rokok di sela bibirnya.. Segala kesan positif yang sempat terjala hati saya akan seketika itu juga rontok!

Berganti dengan rasa iba.. Mungkin.. Yang jelas saya tak suka.. Entah kenapa.. Mungkin untuk satu dan lain alasan..

Bagaimana mungkin, sosok yang bahkan cerdas dan tak kurang suatu apapun, masih saja membutuhkan benda kecil itu dalam hidupnya?

Tak terlalu perlu rasanya saya bahas sisi negatif dari sebatang benda yang berasap itu.. Banyak sumber dan artikel yang telah lebih dulu bermunculan membawa pesan itu.. Pun banyak pembahasan nash yang telah diangkat menjadi pembicaraan.. Anda tentu dapat mengaksesnya sendiri tanpa kesulitan.. Dan selanjutnya Anda dapat memilih..

Ya.. Orang-orang memilih.. Dan memang mereka berhak memilih.. Jika ini mengenai dunia, maka saya pun dengan mantap menjawab : boleh saja.. Asalkan tak mengganggu komposisi udara yang saya hirup.. Simple..

Tapi lebih dari itu.. Kita akan mengingatkan seseorang untuk meninggalkan perbuatan jelek, jika memang kita mencintainya (Ustadz Hartono, 12-12-12)..

Dari Anas RA dari Nabi SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”..

Sedikit menyesalkan itu tadi, bahwa pengkonsumsinya bukan hanya orang-orang kalangan bawah, melainkan orang yang berilmu dan ‘beragama’.. Dan yang lebih saya sesalkan lagi, apabila ada seseorang yang bertanya (atau bahkan cukup hanya dengan melihat) kepada mereka mengenai hal ini, dan merasa menemukan kemananan untuk melakukan hal serupa..

Jika Anda bertanya kepada seorang musisi bagaimana cara mengarang sebuah lagu, mereka tak ayal akan menjawab “mudah”.. (maaf jika analoginya agak aneh)

Dunia ini memang penuh tipuan dan hiasan-hiasan.. Sesuatu yang buruk selalu mudah dan menyenangkan.. Sebaliknya sesuatu yang baik akan selalu mendapat halangan dan berat dikerjakan..

Ternyata ya.. Syaitan tak hanya fokus untuk mengajak melakukan dosa-dosa besar.. Melainkan pula dosa kecil yang berkesinambungan..

Dan yang paling saya takutkan adalah, apabila telah tiba masanya akal dan logika akan lebih digunakan sebagai acuan daripada kedua nash.. Dimana kita akan mengharamkan apa yang halal dan menghalalkan apa yang haram..

Yah, itulah sedikit dari banyak uneg-uneg saya.. Wallahu a’lam.. Alloh yang Maha Mengetahui, lebih mengetahui daripada kita semua.. Semoga kita senantiasa dalam lindungan Alloh.. Amin.. :)

Bertanya Kepada Tuhan..

Kemana kita harus bertanya sebuah pertanyaan yang retoris? Kemana kita harus bertanya sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar bodoh bagi orang lain? Kemana kita harus bertanya ketika tak ada seorang pun di sekitar kita? Kemana kita bertanya ketika sedang mengendarai motor sendirian? -_-

Jawabannya ada dua : pada diri sendiri, atau pada Tuhan.. Mmmh, oke.. sebenarnya ada banyak sih.. Bisa bertanya pada angin yang berembus atau pada pohon palm yang bergoyang (soalnya rumput sedang ditanya sama Bang Ebiet).. Ini adalah kisah nyata! Dan baru saja saya alami tadi pagi dalam perjalanan ke kantor..

Alkisah, berangkatlah saya.. Dengan setengah bengong, setengah mengantuk.. Berhubung hari ini adalah hari Jumat (horeeee asyiiiiik!!! ^_^) jadi bel kantor berbunyi pukul 7 pagi.. Walhasil, di sepanjang perjalanan saya berlomba dengan anak-anak sekolah yang sedang mengejar jam yang sama.. Di suatu titik dalam perjalanan saya, saya melihat seorang anak SD (yang, yah, besarnya seukuran saya lah.. Sedih.. T_T) sedang dibonceng menuju ke sekolah..

Tahu kan, rok SD? Dan si Adik duduk menghadap depan.. Otomatis roknya sedikit banyak tersingkap, dan diisengi oleh tiupan angin pagi.. Saya saja nih, yang cewe, melihat itu “Wow, si Adek ini bikin konsentrasi buyar“.. Well, saya harap itu bukan karena saya kelainan ya.. Jika dilihat dari motif rok seragamnya, sekolah Adik tersebut adalah sekolah swasta non.. Sejurus kemudian, saya jadi bertanya-tanya kepada Tuhan.. Sebagaimana anak kecil yang bertanya polos pada orang tua atau temannya..

Ya Alloh.. Jika kataMu, perempuan non itu bukan muhrim kami, berarti dosa ya kalau aku lihat-lihat Adiknya barusan? Berarti apakah dosa juga jika melihat Britney Spears gitu? Meskipun saat itu mereka berbusana cukup tertutup? Lantas, aurat mereka sebenernya dari mana ke mana? Atau jangan-jangan mereka tidak punya aurat?

Dan kemudian, pertanyaan tersebut sirna ditelan tikungan jalan.. Dan kemudian, perjalanan pun berlanjut dengan sendirinya.. Meskipun mungkin buat saya saat itu merupakan pertanyaan retoris, tapi mungkin akan benar-benar dijawab nantinya oleh Alloh.. Tentu saja, bukan melalui kata-kata layaknya orang-orang bercengkrama.. Alloh punya cara lain dalam menjawab pertanyaan, maupun doa.. Apapun perantaranya..

(21.09.2012)
topik yang terlalu berat nampaknya, bagi usia hari yang baru menginjak pukul 7 pagi :-)

Membuat Kontrak dengan Tuhan..

Alkisah ada sepasang suami istri yang sudah 15 tahun berumah tangga, namun belum juga dikaruniai keturunan.. Sang suami, mungkin karena sudah teramat merindukan seorang anak, dia berupaya dengan segala cara agar bisa mendapatkannya..

Suatu hari, datanglah sang suami menemui seorang ustadz.. Kebetulan ustadz tersebut merupakan salah satu dari ustadz-ustadz yang terkenal di negaranya.. Lalu berceritalah sang suami kepada ustadz tersebut mengenai problema yang sudah bertahun-tahun membebaninya..

Ustadz, saya ingin sekali mempunyai anak.. Saya sudah menemui semua Tuhan yang ada, sudah 4 kali saya berganti agama.. Sampai sekarang tak ada satu pun dari Tuhan tersebut yang bisa memberikan saya anak.. Namun, satu-satunya yang belum saya temui adalah Tuhanmu, Ustadz.. Sementara saya akan mencoba menemui Tuhanmu, saya sudah di ambang putus asa.. Jika saya menyembah Tuhanmu, bisakah engkau menjamin Dia akan memberiku anak?

Dan setelah berpikir dalam-dalam, ustadz tersebut menjawab..

Bisa.. Aku menjamin..

Tak sekedar puas dengan jawaban Ustadz tersebut, sang suami menantang ustadz tersebut..

Kalau begitu, kapankah kau jamin aku akan mendapatkan anak yang ku dambakan? Aku sudah 15 tahun menanti kehadirannya, aku tak mau bila kau memintaku menanti Tuhanmu memberikannya padaku 10 atau 15 tahun lagi..

Kata sang ustadz..

Baiklah.. Mari kita buat 5 tahun, aku menjamin kau akan mendapatkannya.. Dan selama itu, kau harus ikuti semua yang Dia perintahkan dengan ikhlas dan sepenuh hati..

Persetujuan itu pun mencapai kesepakatan.. Sang suami mengucapkan dua kalimat syahadat, dan di bawah bimbingan usadz tersebut sang suami melakukan ibadah-ibadah sesuai ajaran Islam.. Sholat, puasa, zakat, sedekah, semua dia lakukan.. Tak hanya amalan wajib, namun amalan sunah pun tak ketinggalan..

Tahun demi tahun berjalan.. Tahun pertama, nihil.. Sang suami belum berhasil mendapatkan keturunan.. Begitu pun dengan tahun-tahun selanjutnya.. Hingga akhirnya pada tahun ke-5, di ujung penghabisan kontraknya, sang istri pun akhirnya hamil.. Betapa senangnya hati suami istri tersebut.. Dan seketika dia menyedekahkan hartanya dalam jumlah yang sangat banyak kepada sang ustadz, sebagai tanda syukur terhadap Tuhannya yang mau mengabulkan permohonannya..

***

Kisah ini adalah kisah nyata.. Saya dapat di sebuah obrolan malam bersama teman.. Dan wow menurut saya ini adalah sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa.. Betapa kehadiran si anak merupakan sebuah jalan dari Alloh untuk kedua orangnya, karena tanpa keinginan untuk memilikinya bukan tidak mungkin sang suami tak akan pernah mencapai jalan Alloh.. Dan betapa si calon anak tersebut patut bersyukur karena Alloh telah memilihkannya jalan Islam, dimana Alloh tidak ridho menurunkannya ke rahim si istri sebelum kedua calon orangtuanya memeluk iman..

Semoga kita senantiasa ‘dijaga’ oleh Alloh sehingga mampu bertahan di jalannya di tengah-tengah dunia yang kian kelabu ini.. Semoga kisah ini bisa menjadi renungan dan pelajaran bagi kita semua..

Mudik #4 : Cemara di Tepi Pantai..

Yap! Ramadhan datang lagi.. Alhamdulillah masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan taun ini..

Alhamdulillah, pada Ramadhan taun ini banyaaaaak sekali rahmat dan karunia Alloh yang dilimpahkan kepada kami, selain kesempatan berharga untuk bertemu dan beribadah di bulan Ramadhan, di antaranya : saya dan pacar saya telah dan akan bekerja (saya untuk kali kedua, pacar saya selesai pendidikan), kami berdua masih bisa berkumpul dengan keluarga masing-masing lengkap tanpa kurang suatu apapun, kami masih diizinkan Alloh untuk bertemu dan berbuka bersama teman-teman kami, dll, dsb..

Dan, setelah lebaran ganjil (aneh ya? lha, maunya sih nulis “genap”, tapi apa daya, memang kenyataannya Ramadhan kami taun ini jumlah harinya ganjil, hehe..) 29 hari tibalah hari kemenangan itu!

Lebaran tiba.. Lebaran tiba.. (oke, lagunya memang sedikit saya ubah ^^v)

Waktunya kita semua mudiiiiiiiiiiiik!!!!! ^_^ Tujuan mudik kami masih sama, karena sekali lagi Alhamdulillah, kami masih memiliki nenek satu-satunya di Tuban.. Tahun ini mudik yang keempat, kami berangkat pada hari-H setelah shalat Ied di rumah (dan salam-salaman kilat dengan tetangga, tentunya.. plus makan-makan gratis di rumah tetangga yang open house, hehehe)..

Ssst, di sana semuanya baru seneng-senengnya mainan Diva, Cicit Pertamanya Nenek..

Entah kenapa, saya suka perjalanan jauh menggunakan mobil kecil sekeluarga.. Rasanya, jadi erat dan akrab.. Bayangkan, selama lebih kurang 6 jam kami harus duduk bersama saling berdampingan satu sama lain, ngobrol bersama, makan, tidur (oke, kecuali saya sih, karena saya sopir), sementara pada hari biasa moment ini begitu langka, karena kesibukan masing-masing..

Dan bayangkan, apabila kami menggunakan mobil yang lebih besar.. Mungkin Adek saya akan lebih memilih selonjoran sambil memakai headset di jok paling belakang, Ibu saya tertidur di tengah sendirian, tinggallah Ayah saya memutar kaset kesukaannya sambil bernyanyi-nyanyi sendiri, dan saya yang fokus mengemudi..Seakan perjalanan itu hanya formalitas dan bukannya suatu acara yang menyenangkan.. Betapa tidak enaknya..

Oiya, ada satu yang menarik sewaktu melintas Bojonegoro.. Hari itu kan hari pertama Idul Fitri ya, biasanya sih orang-orang hilir-mudik silaturahmi kemana-mana, naik motor ramai-ramai gak pakai helm, gitu (setidaknya pemandangan inilah yang saya temui hampir di sepanjang jalan).. Nah, waktu hendak memasuki Bojonegoro, kami sudah pengin makan siang tuh, berhubung sudah lewat tengah hari.. Tapi ternyata?? (hampir) tak ada warung yang buka di sana hari itu.. Bahkan, (hampir) tak ada orang lalu lalang.. Jalanan sepi saupi (sepi sekali, red), hanya satu-dua mobil terparkir di tepi jalan.. Bahkan, jalan di depan pasar Bojonegoro yang biasanya macet pun lengang.. Kami ketakutan! (jeng..jeng..!! Scene : House Of Wax..)

Bojonegoro terlihat seperti kota mati pada hari itu!

Oke, ceritanya nih kita sudah sampai di kediaman Nenek saya.. Sore itu tidak banyak yang kami lakukan, hanya menerima kunjungan tamu di rumah sambil nonton Masterchef.. Hehehe..

Esoknya, saya mengajak sepupu saya ke pantai.. Hihihi, perasaan tiga tahun terakhir ini mudik selalu ke pantai yak? Tak apalah, ke pantai juga cuma kalau mudik ini (kasian bener)..

Welcome to Tuban..

Kali ini, lokasinya agak jauh ke Barat.. Tepatnya di sebelah Terminal Baru Kota Tuban.. Di sana, di tepi pantainya ada banyak pohon cemara.. Dan mungkin karena lokasi ini sedikit di pinggir kota (meskipun masih termasuk tepi jalan pantura sih), pantainya tidak se-terawat pantai-pantai yang di Timur-nya.. Contohnya, tidak ada pembatas antara pantai dan jalan seperti waktu saya ke pantai di depan kuil dan di semenanjung Boom (baca seri kedua dan ketiganya).. Atau barangkali karena di sini jalanannya relatif rata dengan pantai ya?

Lokasi ini relatif sepi daripada pantai yang terletak di ‘kota’nya.. Tak terdapat banyak penjual pernak-pernik, makanan atau es kelapa muda di sini.. Jalanannya pun lebih sempit (semakin ke Timur atau ke kotanya, jalanan semakin lebar, kalau saya tidak keliru sih, hihihi).. Meskipun ada terminal di sebelahnya, namun pada saat ke sana kemarin, tak tampak tanda-tanda kesibukan di terminal itu.. Mungkin memang terminal baru itu belum digunakan, karena pintunya masih dipalang..

Kami datang ke sana terlambat, sunsetnya sudah terlanjur set (?) sehingga hanya tersisa bias-bias cahayanya saja.. Tapi tak mengapa.. Setidaknya kami masih bisa berfoto.. ^_^

Niatnya sih, keesokan harinya saya pengin ke sana lagi.. Berburu senja.. Tapi apa daya, mungkin karena kondisi yang kurang fit dan capek, plus terkena angin laut (gak kebiasa kena angin laut sih, begitu kata Nenek saya) akhirnya saya flu dan masuk angin.. -_-

Dan ketika pulang hari berikutnya, Ayah saya terpaksa menggantikan saya menyetir sewaktu melintasi Bojonegoro karena saya pusing dan mengantuk (efek obat).. Bahkan hari ini ketika saya mengetik artikel ini, flu-nya masih tersisa lho (mau??)..

Yeah, endingnya jelek bener yak..

Eh tapi saya pengin memuji satu hal : tumben jalanan Solo-Tuban lebaran kali ini ‘rata’ dan halus.. Cuman ada sedikit yang gak rata & bergelombang, di daerah Padangan (kalau tidak salah).. Good job, pemerintah (tumben).. Moga-moga taun depan jalanan Solo-Tuban semuanya ‘rata’ dan halus dah.. Amin.. ^_^

Oiya, ini ada oleh-oleh dari mudik kali ini, enjoy it..

Ibu..

Moi avec Mon Frere..

Moi.. Me.. Aku.. Boku.. Watashi..

Le Nom de Mon Amour..