Cucil & Bundel..

Spon Kecil & Cis Bundel.. Satu rasa vanila, satu lagi rasa karamel.. *tuh kan, laper*

image

Spon Kecil karena sekarang sudah beranjak besar, maka selanjutnya dipanggil Cucilen..

Dua makhluk kecil yang lucu ini setia menghiasi keseharian saya beberapa bulan belakangan.. Sebenarnya mereka bukan peliharaan saya, tapi mereka yang dengan suka rela memeliharakan diri pada saya (?)..

Baru-baru ini mereka punya hobi baru : ngikutin emaknya belanja ke tukang sayur (sekitar 30 meter di belakang dari rumah).. Iya, mereka bakal berlarian dengan riang mendahului saya, sambil sesekali memastikan kalau arah yang saya tuju sama dengan mereka.. Selama di tukang sayur memang kalem aja mereka.. Tapi modusnya, sepulang dari tukang sayur, baru nagih jatah preman : sepotong ikan cue.. Katanya buat ongkos ngawal.. Hahaha.. Maka sekarang kalau belanja dibuntuti dua makhluk tadi, harus siap-siap beli ikan deh..

Nah pagi tadi, ada cerita yang beda.. Saat si Om sholat subuh ke masjid (mungkin sekitar 200 meter dari rumah, di gang sebelah) katanya dua ekor kucing berkedok eskrim tadi membuntutinya sampai lokasi..

Si rasa vanila yang lebih besar, kalem aja, sampai masjid ditinggal sholat, tau-tau pulang dari masjid udah di rumah aja dia (bisa pulang sendiri, pinter).. Belakangan diketahui bahwa sesampainya di rumah, dia langsung masuk dari jendela, kemudian nginjek-injek perut emaknya yang masih pules di kasur.. Emaaak banguuun, sholat subuuuuh, abis itu jadwal makankuuu *tetep*

Si rasa karamel yang lebih kecil, sampai masjid ditinggal sholat dia meong-meong, kayak anak ilang.. Selesai sholat, Bundel dipanggil oleh si Om, baru dia berhenti meong-meong, kemudian lari membuntuti si Om pulang.. Kata si Om pada Bundel, sok-sokan sih ngikutin mpe mesjid hehehe..

Udah gitu doank.. Bahagia itu sederhana.. Kasian amat kalau mau bahagia aja harus pusing mikirnya..

[Nov Sabatini]

 

Yuk, baca artikel saya yang lain :

1. Review Tempat Belanja Oke di Jakarta

2. Resep Mushroom Sautee Pakai Jamur Kancing

3. Perkiraan Biaya Inseminasi Jakarta Selatan

Kucing (2)..

You don’t know what you’ve got, until it’s gone..

Begitu kata pepatah.. Ya, benar adanya.. Dulu semasa tiap hari, bahkan hampir seharian kucing-kucing bergelimpangan di depan kontrakan -menunggu untuk diberi makan- seringkali rasanya was-was, meski tak dipungkiri hati rasanya senang ada yang menemani silih berganti..

image

Spon Elek..

Pagi, Spona dan BadSpon sudah stand by untuk sarapan.. Agak siang kira-kira jam sembilan, selepas bersih-bersih biasanya Hittler lewat depan rumah, berhenti, lantas mengeong dengan keras.. Mungkin dia pikir mau permisi, minta seikhlasnya.. Hehe.. Pute datang tak tentu, karena dia kucing peliharaan tetangga, jadi kebutuhan minta makan pada saya tidak terlalu urgent.. Seringnya Ute hanya minta minum, aneh memang.. Biasanya saya ambilkan air bersih di gayung, dia akan minum cukup lama dan setelah itu langsung pergi tanpa permisi.. Bila tidak diawasi dia kadang memanjat ember untuk minum langsung dari bak mandi, atau kadang minum minyak sisa menggoreng dari wajan yang kebetulan di taruh di bawah, intinya dia akan minum apa saja di rumah saya.. Sesekali setelah minum lalu tidur di sembarang tempat, keset depan kamar mandi, di lorong, di bawah rak sepatu, atau di kasur.. Dan Pute hampir tidak pernah permisi kalau masuk rumah, langsung lompat dari jendela menuju ke dapur.. Namun bila jendela dan pintu tertutup, dia akan mengeong di bawah jendela, minta dibukakan..

image

Spon Abang..

Setelah diberi makan, Spona biasanya tertib langsung pergi entah kemana.. Kembali lagi nangkring di jendela saat maghrib, dengan harapan dari balik pintu yang tertutup saya tetap bisa menyadari kehadirannya dan tidak lupa mengagendakan jadwal makan untuknya.. Dengan sabar Spona menunggu saya selesai masak, tanpa berisik, malah kadang jatuh dari jendela karena ketiduran, lalu akhirnya pindah bawah.. Hihihi.. Kadang Spona tidur di dalam rumah di keset bawah jendela, memamerkan perutnya agar menarik tangan saya untuk mengelus.. Kadang saat papasan di jalan selepas belanja, dia pun langsung guling-guling, minta dielus.. Manja..

Spona tidak pernah mencakar saya, bahkan jika saya obok-obok mukanya, paling pol dia hanya akan beranjak menjauh.. Berbeda dengan Bad Spon.. Entah sudah berapa kali saya dicakar olehnya, dia tidak begitu suka dielus.. Wataknya memang galak.. Namun Bad Spon ini kucing yang paling berani dan paling sering membuntuti saya, kemana dan dari mana saja, mau jalan kaki atau naik motor.. Dengan girangnya berlari mendahului saya, kadang berhenti sejenak dan menoleh memastikan arah yang dia tuju sama dengan maksud saya..

image

Minta makan cuma sekali sehari..

Sayangnya Bad Spon agak nakal, kerapkali masuk rumah curi kesempatan, malah masuk rumah tetangga pula ikut mencicipi dagangan otak-otak.. And she’s quite persistant! Diusir pakai sapu lidi, cuma bergeser paling jauh lima meter, itu pun tak sampai lima menit, kalau keadaan dirasa aman dia akan mulai mlipir lagi, menunggu kesempatan berikutnya.. Kalau sudah begitu, rasanya gemes, saya pukul pakai sapu lidi terus sampai dia benar-benar lari keluar komplek..

Kucing liar itu nggak boleh magrok (ngetem, red)! Aku nggak selamanya di sini, itu sebabnya jatah makanmu cuma pagi dan malam, selebihnya kamu harus tetap cari sendiri.. You need to stay wild to survive!

Ternyata waktu itu datang dengan cepat, sekarang meskipun kontrakan pindah 300 meter, kucing-kucing tetap setia menunggu di depan kontrakan yang lama..

Kucingmu nungguin, jejer-jejer, kadang dua kadang tiga sampai empat.. Dikira kamu masih di sini kali ya.. Padahal udah tak bilangin “ke atas” gitu..

Kata tetangga.. Saya rasanya sedih.. Memikirkan bagaimana kucing-kucing akan menunggu tanpa kepastian dan pergi dengan perut kosong.. Siapa lagi yang akan membelai mereka, ketika mereka mau bermanja.. Lebih sedih lagi mengingat dulu pernah memukul Bad Spon dengan sapu lidi karena mencuri, memukul Spona karena saat menggunting kuku kepalanya selalu disundul-sundulkan tangan saya, juga ketika membuka ponsel ternyata hanya sedikit foto mereka yang saya punya, kebersamaan dan kelucuan mereka hanya ada dalam ingatan saja, selama ini terlalu menyepelekan dengan menganggap toh saya akan terus bertemu mereka, dan sebagainya..

image

Spon Putih..

Meskipun di sini banyak kucing, tapi tetap saja rasanya berbeda.. Mungkin karena terlanjur cinta, mungkin karena belum terbiasa.. Pernah mengajak Spona 300 meter keluar dari zona amannya, belum sampai rumah saya Spona sudah berbalik arah.. Pernah juga mengajak Bad Spon sampai rumah, tapi kasihan lihatnya, dia hanya diam di depan pintu karena daerah ini asing baginya dengan kucing-kucing lain yang asing pula..

Ah tapi tak mengapa, karena hanya 300 meter saya masih bisa jalan-jalan ke sana memberi mereka makan sesekali.. Sekali, ketemu hanya Spona.. Sekali ketemu hanya Bad Spon.. Sekali, sama sekali tidak ada kucing di depan kontrakan lama.. Sekali, juga tidak ada kucing di sana.. Kemana saya harus mencari mereka?

Pagi ini, selepas belanja saya mampir ke sana.. Menunaikan niat saya yang sudah berhari-hari tertunda karena satu dan lain hal.. Hanya bisa berharap, bisa ketemu mereka, melepas kangen.. Alhamdulillah, bertemu dengan Bad Spon yang ketika saya panggil langsung mengenali suara saya lalu berlari mengikuti ke kontrakan lama, seperti kebiasaannya dulu.. Di tengah jalan bertemu Hittler yang ikut membuntuti saya sambil mengeong.. Sudah diberi makan, muncul Ute dari balik pagar rumahnya.. Saya panggil “Ute?!” Langsung berlari dengan girang ke arah saya.. Lama menunggu Spona tidak muncul, saya pun pulang karena cucian menanti.. Di tengah jalan bertemu Spona yang langsung mengelus badannya ke kaki saya.. Setelah saya beri makan, Spona gulung-gulung minta dielus..

image

Pacaran Niye..

Ah, rasanya senang bisa nostalgia dengan kucing-kucing.. Saya yakin, Alloh telah menjamin rezeki mereka meskipun tidak melalui saya.. Sepeninggal saya, Spona, Bad Spon, Hittler bukannya tambah kurus, mereka baik-baik saja dan tetap gendut.. Hanya mungkin mereka merindukan saya.. Rasanya semangat seperti di recharge.. Mungkin cerita saya terlalu sederhana, mungkin juga sebagian akan tertawa membacanya, cerita nggak penting.. Tapi bagi ibu rumah tangga seperti saya, semuanya jadi lebih sederhana.. Tidak ada harapan dan cita-cita yang terlalu tinggi.. Harapan agar hari ini suami pulang lebih cepat, harapan agar cucian kering, cita-cita bisa tidur siang hari ini, cita-cita nanti sore ingin membuat tahu isi, yang seperti itu sudah sangat membahagiakan.. No, no, yang seperti ini bukan untuk dikasihani, karena justru harus banyak disyukuri : hitunglah, berapa banyak kebahagiaan yang bisa didapatkan hanya dalam sehari.. :-)

Bahagia itu sederhana.. Semakin sederhana, semakin mudah untuk dicapai, semakin banyak yang tercapai..

[Nov Sabatini]

 

Yuk, baca artikel saya yang lain :

1. Cerita kucing patah hati

2. Pelihara kucing bikin susah punya anak? Yuk baca penjelasan SPOG di sini..

3. Cara agar kucing tidak mencuri makanan

Pusy, Please Don’t Grow Up..

Kalimat itu beberapa kali pernah saya baca, ditujukan seorang ibu untuk buah hatinya.. Selalu menyenangkan mempunyai bayi, yang lucu dan bergantung pada ibunya.. Ketika beranjak dewasa, anak akan semakin mandiri dan pelan-pelan semakin jauh dari ibunya.. Itulah kira-kira yang mendasari kalimat yang dibisikkan tersebut “Baby, don’t grow up please..”

Saya sempat memiliki beberapa kucing yang kebetulan semuanya jantan.. Pada usia sekitar 10 bulan kucing-kucing saya beranjak dewasa.. Dari suka bermain dan bermanja, menjadi suka kelayaban dan curious pada dunia dibalik daun pintu.. Dari suka tidur di kaki, menjadi suka tidur sendirian di bawah lemari.. Jarang mau digendong, jarang mengeong minta makan, jarang menghampiri ketika dipanggil namanya..

Perubahan seperti itu memang membuat kangen kadang-kadang.. “Kemana Momo, pengen ngelus-elus kok ga ada..” Ketika digendong meronta-ronta, penginnya lari aja ke atas genteng tetangga.. Ah, sedih rasanya piaraan sudah tidak patuh.. Dari kucing yang manis, manja, dan penurut menjadi kucing yang cuek, kelayaban, dan pemberontak..

Tapi, ada satu kucing saya yang berbeda.. Awalnya bukan milik saya, hanya dititipkan tetangga.. Awalnya dianak-tirikan makanannya dan perlakuannya.. Ternyata lama-lama kucing ini sangat sayang sama keluarga saya, dan tidak pernah mau pulang ke rumah tetangga saya (akhirnya tetangga punya kucing baru hehe).. Awalnya kucing ini sangat paranoid dengan semuanya.. Tidak pernah mau dipegang, selalu lari ke kolong lemari setiap ada orang mendekat dari jarak 5 meter.. Tapi setelah insiden pilek dan dibawa ke dokter hewan, kucing ini sepertinya mulai percaya pada keluarga saya, dan hanya keluarga saya..

Kucing ini tetap lari jika ada orang lain mendekat, bahkan ketika saya pulang pun dia akan sebisa mungkin menjaga jarak dengan saya.. Sampai di usianya yang setahun bulan ini, Pusy tak pernah jauh-jauh dari keluarga saya.. Tetap nungguin Ibuk saat sholat, mandi, masak, menjahit.. Tetap nungguin Bapak jaga warung, nungguin Adik tidur.. Tak pernah main ke luar rumah lebih dari 20 meter, karena setiap mendengar langkah orang mendekat Pusy akan segera masuk rumah lagi..

Pusy, kucing kesayangan Ibuk dan Bapak.. Tetaplah seperti anak kecil, jangan beranjak dewasa.. Tetaplah lucu dan menyenangkan.. Tetaplah di rumah menjaga dan menghibur Bapak dan Ibuk.. Tetaplah di rumah, menanti Ibuk pulang kerja, Bapak pulang tenis, dan Adik pulang kampus..

image

image

image

image

image

image

New Hairy 3 MO Family Member.. :-)

Salah satu cita-cita saya akhirnya terwujud juga, yaitu memiliki kucing persia.. Alhamdulillah.. Tak lain dan tak bukan, kucing ini adalah hibah dari seorang teman, mengingat kucing haram diperjual belikan (lihat kisah sebelumnya).. So, thanks to Wisnu.. :-D

image

Sudah dari bulan November saya pesen kucing ini, dan ternyata kebetulan memang baru saja beranak.. Tapi baru bisa diambil bulan berikutnya karena teman saya itu bekerja di Jakarta dan baru bisa pulang ke Jogja pada liburan Natal dan lagi si kucing masih menyusu pada induknya..

image

Meskipun saya tidak bisa pulang, tapi keluarga di rumah sangat antusias sehingga rela menempuh puluhan kilometer Solo-Jogja di tengah kepadatan lalu lintas dan kesibukan semester atas adik saya yang mau seminar KP saja tidak sempat, untuk menjemput si kucing.. Begitu pun teman saya, di tengah kesibukannya masih menyempatkan diri untuk disatroni dan dirampas kucingnya.. Hehe..

image

Nah, kucing ini kami namai (tetep) Momo.. Semoga saja nasibnya tak seperti Momo yang dulu : hilang tak pulang lagi.. Bedanya dengan Momo yang dulu, kali ini Momo paling dekat dengan ibu saya.. Bahkan tidur pun memegangi tangan ibu saya.. Ibu saya sibuk cuci piring, Momo naik ke punggungnya, mungkin dia mau berkata “gausah cuci piring, main aja sama aku” hehe..

image

Satu hal yang disayangkan, saya belum bisa berkenalan secara langsung dengan si Momo ini.. Entah kapan bisa pulang ke Jawa.. Selama ini hanya bisa ikut larut dalam tiap jepretan foto yang dikirim oleh keluarga di rumah.. Tingkah Momo bikin gemes, apa dikata tangan tak sampai hendak elus-elus.. :'(

Gugur Satu.. Tumbuh Tiga..

image

My Mocca..

Topik pembicaraan antara saya di Sumatera dan keluarga di rumah akhir-akhir ini adalah Mocca, kucing peliharaan kami yang usianya baru akan genap satu tahun pada bulan November besok.. Mocca yang sedang beranjak dewasa sebagai kucing, di dunia manusia mungkin istilahnya puber..

Dulu semasa kerja, yang membuat saya cepat-cepat ingin pulang adalah Mocca.. Ingin cepat-cepat nguyel-uyel dan gendong dia.. Tingkahnya yang bikin gemas dan bulunya yang tebal tapi halus membuat saya tak ingin jauh-jauh darinya.. Bahkan sampai si Mocca lari terbirit-birit ketika melihat saya mendekat, hehe.. *ternyata saya agresif ya*

image

Me n Moo..

Pada awal kedatangannya dulu, keluarga sempat tidak setuju karena satu dan lain sebab.. Tapi, bukan saya namanya kalau tidak nekad (hehe).. Saya pun membawa pulang Mocca, dan seperti yang saya tebak, tak butuh waktu lama bagi keluarga saya untuk menerima kehadirannya..

Awalnya saya berniat membawanya serta untuk menemani saya di Sumatera, lumayan untuk teman main.. Tapi belakangan orang tua tidak membolehkan.. Mungkin salah satunya adalah Mocca sebagai hiburan di rumah, untuk meramaikan suasana ketika saya tidak lagi hadir di tengah-tengah ruang keluarga.. Yap! Semua orang suka Mocca, sepertinya sifat penyayang binatang saya diwariskan dari Bapak.. Terbukti dengan Bapak adalah orang yang paling sering gendong Mocca sambil bernyanyi (?)

image

Mocca di Pangkuan Bapak..

Sedangkan Ibu saya, adalah orang yang paling telaten mengurus Mocca.. Dan terakhir adik saya, dia adalah orang yang paling sering dibuntuti Mocca (kenapa orang itu bukan saya??! Hiks).. Iya, coba deh adik saya naik ke lantai 2 pasti si Mocca langsung lari mendahuluinya, begitu pun jika adik saya turun.. Mocca akan segera datang mendengar panggilan dari adik saya atau pun Bapak.. Sebaliknya, saya duduk diam dan Mocca melintasi saya, ketika dekat dengan keberadaan saya maka dia akan berlari dan setelah agak jauh Mocca akan berjalan lagi dengan santainya.. Sebegitu menakutkan kah saya? Why oh why.. T_T

Ketika jauh dari rumah seperti ini, saya jadi sering kangen Mocca.. Entahlah.. Kalau keluarga di rumah, tentu saja intens berkirim kabar, pesan singkat, gambar, suara.. Sedangkan Mocca, mengeong saja jarang, tak bisa mendengarnya atau memeluknya.. Cuman bisa melihat fotonya yang bikin gemas..

image

Ta n Moo..

Tapi Alloh Maha Adil.. Dia menutup satu pintu, namun membuka seribu pintu lainnya.. Di kosan kami yang sekarang, bermunculan tiga ekor kucing yang meskipun hanya kucing kampung biasa, namun cukup untuk menghibur hati, menemani hari-hari, dan mengobati kangen pada Mocca.. Ketiga kucing yang setiap jam makan selalu mengeong-ngeong di bawah jendela kamar.. Ketiga kucing yang setiap saya keluar kamar, meskipun hanya untuk menjemur pakaian, selalu riuh menyambut saya dan berlarian mendekat.. Ketiga kucing yang doyan ketika saya kasih makan meskipun hanya keripik tempe atau kerupuk udang.. Ketiga kucing yang setia menemani tiduran di keset depan pintu ketika saya nonton film di ruang tamu.. Ketiga kucing yang ketika saya keluar kamar membawa bungkusan langsung berlarian mengelus-elus kaki saya..

Mungkin benar pepatah yang mengatakan gugur satu tumbuh seribu.. Meskipun mungkin apa yang gugur dan apa yang tumbuh tak harus serupa..

image

Setia Nongkrong Depan Pintu..

Pacaran Niye..!

Setelah keberangkatan saya ke pulau seberang, seperti biasa, orang tua saya intens menanyakan keadaan.. Hari-hari ditemani pesan singkat dari mereka, menceritakan kejadian-kejadian di rumah dan menanyakan kegiatan saya di sini.. Namun sebatas teks saja, tanpa punya gambaran.. Rasanya agak hambar..

Pak, beli HP Android donk.. Nanti diinstall aplikasi chatting biar bisa kirim foto.. Kalau kirim via mms jatuhnya mahal..

image

Moccacino.. :- P

Begitu usul saya.. Tak lama, terbeli juga sebuah ponsel android yang bisa digunakan Bapak dan Ibu di rumah.. Jadilah bertukar kabar menjadi kian seru, bisa kirim gambar sepuasnya juga kirim lagu dan pesan suara.. Saya suka sekali diupdate mengenai kabar kucing saya di rumah.. Namanya Mocca.. Pagi ini saya mendapat pesan dari Ibu..

Mocca sak iki yen bengi ora turu omah nduk neng njaba, wis duwe pacar iki lho pacare, ngapeli neng njaba cendela samping, ning yen awan turu terus [Mocca sekarang kalau malam udah ga tidur di rumah Nak, tidur di luar, udah punya pacar ini lho pacarnya, nungguin di luar jendela samping, tapi kalau siang tidur terus]

image

Hooo, Mocca udah gede.. : O

Waaaa…!!! Fantastis.. Mocca-ku udah punya pacar kucing,, udah gede sekarang.. Padahal sih umurnya baru 9 bulan.. Penasaran lihat kucing pacar si Mocca, saya minta dikirimi foto dari rumah..

Tenyata kucing pacar si Mocca lumayan cantik lho (untuk ukuran kucing).. Dilihat dari mukanya, tegapnya, bulunya, dan besarnya badan, sepertinya pacar si Mocca ini juga kucing keturunan, bukan kucing kampung biasa.. Dan ternyata, Mocca yang didatangi oleh si kucing betina.. Hah,ga kebalik tuh? Namun sayangnya, siapa si empunya kucing betina ini belum terlacak.. Dilihat dari badannya yang cukup gemuk, jelas dia bukan kucing liar..

image

Lirik-lirikan..

Hmmm.. Mungkin di dunia kucing, Mocca itu ganteng.. Hehe.. Aaah, jadi pingin pulang.. Pingin ngintipin Mocca pacaran.. :- D

Welcome Home, Mocca!

Peristiwa hilangnya mocca terbawa sampai mimpi.. Rasa bersalah telah membuatnya berada di luar sendirian tanpa mengenal lingkungannya, di musim hujan pula.. Meskipun sebenarnya setelah saya meminta maaf atas ketidak-amanah-an saya, si empunya mocca bilang gapapa..

Ya agak kasihan juga, soalnya kucingnya terbiasa manja, trus ga terbiasa dengan lingkungan di luar (maklum kucing rumahan)

Begitulah kata si empunya mocca, membuat saya jadi makin kepikiran.. Karena telah tidak amanah dan telah membuat mocca menderita di luar sana..

Wah kasian.. Besok kalo cerah cari mocca gimana? Ku bantu Nop, sesama pecinta kucing..

Tanggapan dari teman saya ketika saya cerita tentang kondisi mocca membuat saya kembali optimis untuk berusaha menemukannya.. Baiklah, mari kita cari!

Ternyata, tak sesuai rencana.. Selasa sore menjelang jam pulang kantor, langit menjadi gelap.. Malah sudah hujan di kampus, kata teman saya.. Namun, saya berkeyakinan hujan tak akan lama, maka berangkatlah saya ke Banyuanyar..

Tiga kali putaran menyusuri gang-gang perlahan-lahan sambil kepala tengok aknan-kiri, namun tak tampak tanda-tanda ada kucing.. Hujan pun telah perlahan jatuh, rok saya telah basah..

Ganti metode : jalan kaki! Saya titipkan sepeda motor saya di depan kios penjual jamu (sengaja agar tidak mengganggu rumah Tiara) dan saya pun mulai berjalan menyusuri gang-gang.. Pelan-pelan sambil tengok-tengok ke halaman rumah orang, juga di bawah kolong-kolong mobil, kayak mau maling aja!

Jika ada desas desus di banyuanyar ada cewe berjilbab dengan tingkah laku mencurigakan, longok-longok rumah orang, kemungkinan itu aku.. -_-

Malah ketemu kelinci.. Hyak! Mocca tak ada.. Namun saya lihat keranjangnya masih berada di teras rumah Tiara, terbuka.. Setelah 2 lap mengitari gang sekitar rumah Tiara, saya putuskan menyerah karena hari mulai gelap..

Oke, kita lanjutkan pencarian besok!

Begitu niat saya.. Esoknya, saya bangun Subuh kesiangan, mungkin karena capek.. Alarm tidak mempan.. Saya terbangun gara-gara sebuah telepon.. Jam menunjukkan pukul 05.10.. Nomor asing, siapa nih pagi-pagi udah telepon? Pikir saya..

Mbak, ini Icha adeknya Mbak Tiara.. Ini kucingnya udah ketemu lho, masuk sendiri ke keranjangnya.. Kelaparan.. Diambil sekarang gimana Mbak? Kalo kelamaan dikurung nanti kucingnya stress..

Woh.. Saya langsung bergegas Subuhan.. Kemudian, langsung pakai jaket & jeans, saya berangkat naik mobil ke TKP! Tanpa makan, tanpa cuci muka, tanpa gosok gigi, hehe.. Mata pun masih setengah merem..

And.. There you are!

Mocca! Dan keranjang pink-nya..

Mocca! Dan keranjang pink-nya..

Pertama kali masuk mobil, dia terlihat bingung dan menjelajah seisi mobil.. Tengok-tengok segala sisi jendela, sambil sesekali mengeong..

Di tengah perjalanan, dia mulai berani untuk mendekati saya.. Bahkan lebih dari separuh jalan, dia meringkuk tenang di pangkuan saya sambil saya belai-belai.. Sesekali menengadah ke arah wajah saya.. Lucu banget deh!

Meskipun saya suka kucing, baru pertama kali ini saya benar-benar memeliharanya.. Pengalaman saya masih minim..

Kata Tiara, pertama kali di rumah harus dikandang dulu supaya tidak kabur.. Namun karena saya lihat mocca cukup nyaman berada di dekat saya, saya putuskan langsung melepasnya di rumah.. Dia pun langsung menyusuri seisi rumah, dari teras sapai kamar mandi.. Saya membuntuti dari belakang, menjadi tour guide..

Kamu kalo mau ee’, di sini ya Mocca!

Hehe, berbicara dengan peliharaan memang terasa menyenangkan.. Mocca pun terlihat tenang ketika berkenalan dengan Bapak dan Ibu.. Bahkan dia langsung berani membuntuti Ibu saya kemana-mana.. Mocca supel sekali..

Mocca duduk manis di pangkuan.. Padahal baru nyetir..

Mocca duduk manis di pangkuan.. Padahal baru nyetir..

Yah, alhamdulillah akhirnya Mocca ketemu.. Dan atas penemuan(?) ini saya hendak berterimakasih lagi pada :

1. Tiara (adeknya) — terimakasih telah dibangunkan subuhan (loh?).. hehe.. beserta segenap keluarga besar Tiara Coorporation yang telah banyak membantu dalam proses penemuan Mocca..

2. Fajar — terimakasih telah membantu mencari Mocca saat langit mendung..

3. Empunya Mocca — terimakasih keranjangnya sangat membantu.. semoga bisa amanah dalam menjaga mocca..

4. Masku — terimakasih telah mendengarkan.. hehe maaf mengagetkanmu pagi-pagi, terlalu bersemangat saat mendengar mocca ketemu..

5. Alloh SWT — terimakasih, for this happy ending story.. :)

Finally, welcome to your new home, Mocca! *rasanya hari ini pingin cepat-cepat pulang kantor*