A Walk to Remember vs. A Moment to Remember

Jadi begini, awalnya saya merasa tugas-tugas saya menumpuk (akhirnyaaa.. ^^v) yang resume jurnal inilah, itulah, dsb.. Jadilah saya buka laptop, berniat mencicil tugas..

Tapi apa daya.. Niat tinggal niat (lagi-lagi, berakhir seperti ini, hmmm.. -_-) saya pun teringat siang tadi saya mencopy 4 film dari teman kuliah saya.. Saya pun tancapkan flashdisk itu ke laptop saya.. Jederrrr!! (hihihi suaranya aneh..)

Sambil buka pesbuk.. Saya menceritakan kebimbangan(??) saya ini, apakah saya harus mengerjakan tugas atau nonton pilem saja?? Dasar!! Teman saya pun menjawab : nonton pilem aja!!!!!!

Seperti disemangati, saya pun dengan mantap memilih-milih pilem yang mana yang akan saya tonton.. Hehehehe.. ^^v

A Walk to Remember

Pertama, saya menonton A Walk to Remember.. Sebuah film barat yang dirilis pada tahun 2002.. Diperankan oleh Mandy Moore dan Shane West.. Film ini diadaptasi dari sebuah novel karya Nicholas Sparks dan disutradarai oleh Adam Shankman..

Ceritanya tentang seorang pemuda bengal yang mencintai seorang anak pendeta yang menderita leukemia.. Hmmm.. Menonton film ini, sendirian, malam hari pula.. Sendu banget suasananya.. Dan, yup! Saya menangis dengan suksesnya.. Yeah, namanya juga cewe.. Hehehe.. ^^v

Setelah itu, saya ketagihan nonton film drama.. Berikutnya, yang sudah menunggu di list saya malam itu adalah : A Moment to Remember.. (heh, judulnya kog mirip yak? -_-)

A Moment to Remember

Sebuah film Korea yang dibintangi oleh Jung woo-sung dan Son Ye Jin.. Film ini dirilis pada tahun 2004 dan disutradarai oleh Lee Jae-han.. Film ini diadaptasi dari sebuah drama televisi Jepang dengan judul Pure Soul.. Ceritanya tentang seorang gadis penderita Alzheimer dan ingatannya hilang satu per satu..

Huaaaaaa… Kalau korea mah emang paling pinter menguras air mata!! Kalau aja saat saya nonton itu belum jam 1 dini hari, pasti saya udah nangis sampai jerit-jerit dan gulung-gulung.. Wakakakaka, lebay.. Tapi bener kog, saat itu hanya bisa menutup muka dengan bantal, takut ngebangunin tetangga soalnya..  Heheheh..

Jadi, kesimpulannya adalah : sya merekomendasikan kedua film ini untuk ditonton apabila Anda sedang ingin berharu-biru ria atau kalo Anda memang suka dengan film bergenre drama.. Worth watching deh pokoknya.. Film yang menguras air mata.. Kesabaran yang tanpa batas..

*betewe, kontras banget dengan postingan saya yang tepat di bawah.. Saya jadi malu karena sering mengeluh, hee.. Padahal kalau dibandingkan dengan film itu, KP saya gak ada apa-apanya.. Xixixixixi.. Gapapa deh, semoga saya bisa lebih sabar dan lebih sabar lagi.. Amiiiiiiiiiin.. :D

(ending postingannya gak jelas)

Advertisements

Hachiko

Saat dan setelah menonton film tentang Hachiko ini, saya tidak bisa berhenti menangis..(???)

Hachi

Kesetiaan seekor anjing yang mungkin sebelumnya tak akan pernah terduga di benak manusia..

Betapa 9 tahun adalah waktu yang tidak sebentar, terlebih bagi seekor anjing yang mungkin hanya hidup 10-15 tahun saja..

Dan Hachiko pun mati dalam sebuah penantian..

Hachi dewasa, di stasiun

Setelah browsing, saya menemukan bahwa versi film yang saya tonton adalah versi Hollywood dengan judul a Dog Story karya sutradara Lasse Hallstrom (semoga tidak salah ingat)..

Sedangkan versi sebelumnya berjudul Hachiko Monogatari karya sutradara Seijiro Koyama (http://id.wikipedia.org/wiki/Hachik%C5%8D) yang dirilis pada tahun 1987 dan menuai banyak penghargaan.. Antara versi terdahulu dengan versi Hollywood, penulisnya sama, yaitu Kaneto Shindo..

Hachiko tua, masih menunggu

Film yang sangat menyentuh, dan yang membuatnya lebih menarik karena film ini berdasarkan kisah nyata seekor anjing dengan nama yang sama, Hachiko..

Alur film yang begitu tenang dan wajar, sehingga terasa lekat dengan kehidupan sehari-hari, membuat film ini lebih terkesan hidup..

Benar-benar worth-watching..

Film-nya benar-benar mengena..

***

Since there were so many people came into my blog by the search engine’s keyword of Hachiko, I have an idea to make an English version of this Indonesian review..

When (and after) I watched this film, my tear’s fall.. Why? Because of the loyalty of a dog-kind to his master that unpredictable even by human being.. Nine years are just not a short term for a dog to wait for his master (who has passed away) to arrive at the station and walk home together just like they always did..

And Hachiko dead on waiting..

This Dog Story was directed by Lasse Hallstrom, it’s a new version of Hachiko Monogatari which is directed by Seijiro Koyama and released in 1987..

Based on true story with the true dog-name, this film is so interesting and heart-touched.. The chronology of the film was so slow and calm, such as everyday life, which makes the film alive..

This film is worth-watching..

***
Oiya, sekedar info.. Hachi adalah kosa kata dalam Bahasa Jepang, yang berarti Delapan (8).. Untuk melengkapi informasinya, berikut saya sertakan daftar angka-angka dalam Bahasa Jepang..
Oiya, just for information.. Hachi is a Japanese’s word.. Meaning Eight (8).. These are Japanese’s numbers:
kanji-hiragana-pronounciation-meanings
一              いち             ichi                        one
二               に                 ni                          two
三              さん             san                        three
四             よん             yon                        four
五              ご                 go                          five
六              ろく             roku                        six
七              しち             sichi                     seven
八              はち           hachi                     eight
九            きゅう           kyuu                      nine
十            じゅう            jyuu                        ten

百            ひゃく          hyaku                  hundred
千             せん             sen                     thousand
万             まん             man                ten thousand