Minder..?

Ada salah seorang teman saya, yang merasa minder ketika saya tanya alumni mana karena sekolahnya bukan sekolah negeri..

Hellooo..

Saya pun pernah minder dengan apa yg saya punya.. Pernah berpikir saya bisa melakukan hal-hal yang lebih, yang luar biasa, seandainya saya tak terkurung di sini.. Dan sebagainya.. Dan sebagainya.. Saya rasa semua orang pun pernah begitu..

Tapi..

Ayolah! Sekarang kita sama-sama bertemu di sini, bukan..? Lalu apa bedanya??

Memang.. Masa lalu mengukir sejarah.. Kebanggaan atas sebuah pencapaian.. Atau rasa malu karena sebuah kegagalan..

Tapi bukan itu poinnya!

Kita ada di sini.. Sekarang.. Saat ini.. Berlomba dengan detik untuk mencatatkan yang terbaik yang bisa kita lakukan.. Demi sejarah kita di masa depan..

Sehebat apapun saya atau sejelek apapun kamu di masa lalu, tak ada bedanya karena sekarang kita bertemu di sini.. Hanya sebuah cerita saja, salah satu fase hidup yang telah terlewati yang kemudian berubah menjadi sebuah motivasi untuk mencapai yang lebih lagi.. Dan itu tergantung seberapa kuat keinginan kita dalam memperjuangkannnya..

Bukan waktunya menyesali latar belakang atau masa lalu.. Meskipun mungkin penyesalan terkadang perlu untuk memacu diri sendiri..

Saatnya untuk move on! Maka kembangkanlah senyummu dan bersemangatlah! :)

Advertisements

Sebatang Benda Berasap..

Sebelum saya mulai menulis (lha ini apa donk?), saya sampaikan sebelumnya bahwa topik bahasan kali ini bukan saya maksudkan untuk menyindir atau memojokkan suatu kaum atau siapa pun.. Ini murni curahan hati saya saja..

Tapi bagi yang merasa terpojokkan atau tertohok, semoga bisa menjadi refleksi dan bahan perenungan.. Untuk itu sebelumnya saya mohon maaf.. :)

***

Putih.. Tinggi.. Ganteng.. Tegap.. Mancung.. Cerdas.. Ramah.. Humoris.. Simpatik.. Sopan.. Bijak.. Berkharisma.. Bersuara berat.. Dan dia pun menunaikan sholat..

What a perfect, rite? Sekilas tampak sempurna.. Sosok yang bahkan hanya dengan senyumnya pun mampu memikat hati wanita..

Namun, ketika dia beranjak menyelipkan sebatang rokok di sela bibirnya.. Segala kesan positif yang sempat terjala hati saya akan seketika itu juga rontok!

Berganti dengan rasa iba.. Mungkin.. Yang jelas saya tak suka.. Entah kenapa.. Mungkin untuk satu dan lain alasan..

Bagaimana mungkin, sosok yang bahkan cerdas dan tak kurang suatu apapun, masih saja membutuhkan benda kecil itu dalam hidupnya?

Tak terlalu perlu rasanya saya bahas sisi negatif dari sebatang benda yang berasap itu.. Banyak sumber dan artikel yang telah lebih dulu bermunculan membawa pesan itu.. Pun banyak pembahasan nash yang telah diangkat menjadi pembicaraan.. Anda tentu dapat mengaksesnya sendiri tanpa kesulitan.. Dan selanjutnya Anda dapat memilih..

Ya.. Orang-orang memilih.. Dan memang mereka berhak memilih.. Jika ini mengenai dunia, maka saya pun dengan mantap menjawab : boleh saja.. Asalkan tak mengganggu komposisi udara yang saya hirup.. Simple..

Tapi lebih dari itu.. Kita akan mengingatkan seseorang untuk meninggalkan perbuatan jelek, jika memang kita mencintainya (Ustadz Hartono, 12-12-12)..

Dari Anas RA dari Nabi SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”..

Sedikit menyesalkan itu tadi, bahwa pengkonsumsinya bukan hanya orang-orang kalangan bawah, melainkan orang yang berilmu dan ‘beragama’.. Dan yang lebih saya sesalkan lagi, apabila ada seseorang yang bertanya (atau bahkan cukup hanya dengan melihat) kepada mereka mengenai hal ini, dan merasa menemukan kemananan untuk melakukan hal serupa..

Jika Anda bertanya kepada seorang musisi bagaimana cara mengarang sebuah lagu, mereka tak ayal akan menjawab “mudah”.. (maaf jika analoginya agak aneh)

Dunia ini memang penuh tipuan dan hiasan-hiasan.. Sesuatu yang buruk selalu mudah dan menyenangkan.. Sebaliknya sesuatu yang baik akan selalu mendapat halangan dan berat dikerjakan..

Ternyata ya.. Syaitan tak hanya fokus untuk mengajak melakukan dosa-dosa besar.. Melainkan pula dosa kecil yang berkesinambungan..

Dan yang paling saya takutkan adalah, apabila telah tiba masanya akal dan logika akan lebih digunakan sebagai acuan daripada kedua nash.. Dimana kita akan mengharamkan apa yang halal dan menghalalkan apa yang haram..

Yah, itulah sedikit dari banyak uneg-uneg saya.. Wallahu a’lam.. Alloh yang Maha Mengetahui, lebih mengetahui daripada kita semua.. Semoga kita senantiasa dalam lindungan Alloh.. Amin.. :)