Mudik #4 : Cemara di Tepi Pantai..

Yap! Ramadhan datang lagi.. Alhamdulillah masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan taun ini..

Alhamdulillah, pada Ramadhan taun ini banyaaaaak sekali rahmat dan karunia Alloh yang dilimpahkan kepada kami, selain kesempatan berharga untuk bertemu dan beribadah di bulan Ramadhan, di antaranya : saya dan pacar saya telah dan akan bekerja (saya untuk kali kedua, pacar saya selesai pendidikan), kami berdua masih bisa berkumpul dengan keluarga masing-masing lengkap tanpa kurang suatu apapun, kami masih diizinkan Alloh untuk bertemu dan berbuka bersama teman-teman kami, dll, dsb..

Dan, setelah lebaran ganjil (aneh ya? lha, maunya sih nulis “genap”, tapi apa daya, memang kenyataannya Ramadhan kami taun ini jumlah harinya ganjil, hehe..) 29 hari tibalah hari kemenangan itu!

Lebaran tiba.. Lebaran tiba.. (oke, lagunya memang sedikit saya ubah ^^v)

Waktunya kita semua mudiiiiiiiiiiiik!!!!! ^_^ Tujuan mudik kami masih sama, karena sekali lagi Alhamdulillah, kami masih memiliki nenek satu-satunya di Tuban.. Tahun ini mudik yang keempat, kami berangkat pada hari-H setelah shalat Ied di rumah (dan salam-salaman kilat dengan tetangga, tentunya.. plus makan-makan gratis di rumah tetangga yang open house, hehehe)..

Ssst, di sana semuanya baru seneng-senengnya mainan Diva, Cicit Pertamanya Nenek..

Entah kenapa, saya suka perjalanan jauh menggunakan mobil kecil sekeluarga.. Rasanya, jadi erat dan akrab.. Bayangkan, selama lebih kurang 6 jam kami harus duduk bersama saling berdampingan satu sama lain, ngobrol bersama, makan, tidur (oke, kecuali saya sih, karena saya sopir), sementara pada hari biasa moment ini begitu langka, karena kesibukan masing-masing..

Dan bayangkan, apabila kami menggunakan mobil yang lebih besar.. Mungkin Adek saya akan lebih memilih selonjoran sambil memakai headset di jok paling belakang, Ibu saya tertidur di tengah sendirian, tinggallah Ayah saya memutar kaset kesukaannya sambil bernyanyi-nyanyi sendiri, dan saya yang fokus mengemudi..Seakan perjalanan itu hanya formalitas dan bukannya suatu acara yang menyenangkan.. Betapa tidak enaknya..

Oiya, ada satu yang menarik sewaktu melintas Bojonegoro.. Hari itu kan hari pertama Idul Fitri ya, biasanya sih orang-orang hilir-mudik silaturahmi kemana-mana, naik motor ramai-ramai gak pakai helm, gitu (setidaknya pemandangan inilah yang saya temui hampir di sepanjang jalan).. Nah, waktu hendak memasuki Bojonegoro, kami sudah pengin makan siang tuh, berhubung sudah lewat tengah hari.. Tapi ternyata?? (hampir) tak ada warung yang buka di sana hari itu.. Bahkan, (hampir) tak ada orang lalu lalang.. Jalanan sepi saupi (sepi sekali, red), hanya satu-dua mobil terparkir di tepi jalan.. Bahkan, jalan di depan pasar Bojonegoro yang biasanya macet pun lengang.. Kami ketakutan! (jeng..jeng..!! Scene : House Of Wax..)

Bojonegoro terlihat seperti kota mati pada hari itu!

Oke, ceritanya nih kita sudah sampai di kediaman Nenek saya.. Sore itu tidak banyak yang kami lakukan, hanya menerima kunjungan tamu di rumah sambil nonton Masterchef.. Hehehe..

Esoknya, saya mengajak sepupu saya ke pantai.. Hihihi, perasaan tiga tahun terakhir ini mudik selalu ke pantai yak? Tak apalah, ke pantai juga cuma kalau mudik ini (kasian bener)..

Welcome to Tuban..

Kali ini, lokasinya agak jauh ke Barat.. Tepatnya di sebelah Terminal Baru Kota Tuban.. Di sana, di tepi pantainya ada banyak pohon cemara.. Dan mungkin karena lokasi ini sedikit di pinggir kota (meskipun masih termasuk tepi jalan pantura sih), pantainya tidak se-terawat pantai-pantai yang di Timur-nya.. Contohnya, tidak ada pembatas antara pantai dan jalan seperti waktu saya ke pantai di depan kuil dan di semenanjung Boom (baca seri kedua dan ketiganya).. Atau barangkali karena di sini jalanannya relatif rata dengan pantai ya?

Lokasi ini relatif sepi daripada pantai yang terletak di ‘kota’nya.. Tak terdapat banyak penjual pernak-pernik, makanan atau es kelapa muda di sini.. Jalanannya pun lebih sempit (semakin ke Timur atau ke kotanya, jalanan semakin lebar, kalau saya tidak keliru sih, hihihi).. Meskipun ada terminal di sebelahnya, namun pada saat ke sana kemarin, tak tampak tanda-tanda kesibukan di terminal itu.. Mungkin memang terminal baru itu belum digunakan, karena pintunya masih dipalang..

Kami datang ke sana terlambat, sunsetnya sudah terlanjur set (?) sehingga hanya tersisa bias-bias cahayanya saja.. Tapi tak mengapa.. Setidaknya kami masih bisa berfoto.. ^_^

Niatnya sih, keesokan harinya saya pengin ke sana lagi.. Berburu senja.. Tapi apa daya, mungkin karena kondisi yang kurang fit dan capek, plus terkena angin laut (gak kebiasa kena angin laut sih, begitu kata Nenek saya) akhirnya saya flu dan masuk angin.. -_-

Dan ketika pulang hari berikutnya, Ayah saya terpaksa menggantikan saya menyetir sewaktu melintasi Bojonegoro karena saya pusing dan mengantuk (efek obat).. Bahkan hari ini ketika saya mengetik artikel ini, flu-nya masih tersisa lho (mau??)..

Yeah, endingnya jelek bener yak..

Eh tapi saya pengin memuji satu hal : tumben jalanan Solo-Tuban lebaran kali ini ‘rata’ dan halus.. Cuman ada sedikit yang gak rata & bergelombang, di daerah Padangan (kalau tidak salah).. Good job, pemerintah (tumben).. Moga-moga taun depan jalanan Solo-Tuban semuanya ‘rata’ dan halus dah.. Amin.. ^_^

Oiya, ini ada oleh-oleh dari mudik kali ini, enjoy it..

Ibu..

Moi avec Mon Frere..

Moi.. Me.. Aku.. Boku.. Watashi..

Le Nom de Mon Amour..

Advertisements

Mudik #3 : Semenanjung Buatan Pantai Boom..

Pagi Hari di Boom

Sebenarnya waktu perjalanan berangkat, hal ini sempat masih menjadi perdebatan antara saya dan Bapak saya, yaitu apakah tahun ini merupakan mudik pakai mobil pribadi untuk ketiga kalinya atau sudah keempat kalinya?? Hmmm, hehe rada gak penting sih ya.. Tapi berhubung saya adalah sopir-nya, Bapak manut saya ya.. ^0^

Tahun ini kami mudik H-1, yang juga merupakan hari ketiga dimulainya libur lebaran.. Keuntungan buat kami karena jalan relatif lancar, berhubung puncak arus mudik terjadi Hari Jumat-nya (hari pertama libur lebaran adalah hari Sabtu).. Tapi hal ini membuat saya sedikit deg-deg ser juga, karena jalanan lurus & sepi dihias dengan matahari cerah, pemandangan indah, dan angin berhembus lembut (?) menjadikan saya terlena alias liyer-liyer mengantuk,, apalagi malamnya kurang tidur gara-gara nonton GUMIHO (gubrak!) hehe maklum kalo udah ngumpul & menginap di rumah teman suka lupa daratan.. Namun saya tetap bertahan hingga akhir, karena saya sedang membawa dan bertanggung jawab pada nyawa orang-orang yang sangat saya cintai.. :’)

Awalnya kami berencana di Tuban hanya waktu Hari Raya yaitu tanggal 1 dan 2 syawal (tapi memang terlaksana dink).. Hanya, kegiatan yang sedianya ingin dilaksanakan (silaturahmi, red) sedikit berantakan.. Hal ini dikarenakan ke-BinekaTunggalIka-an kita yang sangat kental.. Saya dan saudara-saudara merayakan lebaran berbeda-beda (ada yang tanggal 30 Agustus, ada yang tanggal 31 Agustus)..

Saya sendiri waktu itu lebaran tanggal 30 Agustus (karena udah nawaitu dari rumah juga tanggal 30 lebaran, hehe) Pakde dan Om saya juga tanggal 30.. Sementara nenek saya dan salah satu Om saya tanggal 31 mengikuti pemerintah..

Jadilah, hari pertama itu belum begitu terasa lebarannya.. Hanya di rumah saja, karena masyarakat di Tuban sebagian besar baru merayakan lebaran esok hari, jadi kalo mau pergi-pergi rasanya gak enak sama yang masih puasa..

Wisata Boom Tuban

Nah keesokan harinya, pada waktu masyarakat menunaikan sholat Idul Fitri, saya sekeluarga pergi ke salah satu tempat wisata di Tuban, yaitu Boom.. Boom ini merupakan semenanjung buatan.. Untuk masuk ke sana tiketnya rata-rata Rp 1.500,00 (lihat foto). Namun karena masih pagi & masih sepi (kami sekeluarga ke sana pukul 5.30 pagi), jadi setelah Ibu saya lobi-lobi dikit akhirnya kami berempat masuk dengan hanya membayar 5.000 rupiah.. Heheheeee..

Tempat tersebut lumayan bersih dan rapi.. Yang agak disayangkan, justru laut & pantainya yang relatif banyak sampah (terutama di pantai sekitar pemukiman penduduk yang mepet laut).. Meskipun hal ini tidak secara langsung mempengaruhi tempat wisata Boom, tapi tetap saja ‘mengganggu’ pemandangan.. -_-” misalkan lautnya bersih, tentunya air lautnya akan lebih jernih & mempercantik pemandangan.. hmmm we wish..

Pancuran (judulnya jelek banget ik)

Terlepas dari kedaan laut, pagi hari di sana cukup menyenangkan.. Mungkin akan lebih menyenangkan lagi apabila kami berhasil datang lebih pagi ke tempat itu, pada saat langit masih gelap (maklum, ada insiden kebablasan di jalan searah)..

Saya sendiri memang suka tempat dimana saya bisa memandang langit yang luas.. Dan tempat ini pas sekali untuk itu, berasa di tengah laut, tapi kaki masih berpijak di daratan dan pemandangan di ‘daratan’nya juga bagus.. (hehe ngomong apa sih Phex?)

Berikut foto-foto selama di sana:

di ujung semenanjung..

Bagus bukan, suasana pagi hari di sana?? Karena tidak berhasil mendapat moment langit fajar yang kemerah-merahan, maka sorenya karena penasaran saya ke sana lagi bersama Adek.. Ternyata harga tiket sudah berubah menjadi Rp 2.000,00 per orang.. hmmm, cepet amat berubahnya.. -_-”

Senja di Tepi Pantai

Plus parkir motor yang saya menyerahkan Rp 2.000,00 tidak mendapat kembalian.. Hufff.. Sabar.. Padahal pagi harinya kami ke sana dengan mobil, waktu parkir hanya membayar Rp 1.000,00 lho.. :-o

Suasana sore di sana cukup ramai (waktu itu menjelang magrib), tidak seperti tadi pagi dimana hanya kami berempat dan sekitar 3 orang pengunjung lain.. Sebagian lampu sudah menyala, dan tak berapa lama kemudian adzan magrib berkumandang di masjid besar kota Tuban (lokasi Boom hanya beberapa langkah dari masjid besar, bisa dibilang hampir berhadapan, hanya tinggal menyeberang jalan)..

Oiya, sore hari di depan tempat wisata Boom ini terdapat pasar sore yang cukup ramai dikunjungi masyarakat.. Beraneka macam barang dijual mulai dari baju, sandal, kacamata, mainan anak-anak, dll.. Saya ingat beberapa tahun yang lalu (ketika saya masih SD) saya diajak Ibu ke pasar sore dan waktu itu dibelikan sepatu sandal berwarna coklat.. Selain pasar sore ini, di depan masjid besar kota Tuban (yang merupakan alun-alun kota) selalu ramai pada sore hingga malam hari, biasanya banyak yang berjualan serupa di pasar sore ini, namun suasananya saya nilai lebih bagus di alun-alun karena berhiaskan rumput dan lampu taman dengan pemandangan masjid yang megah.. :)

Senja di Laut

Saya dan adik saya kemarin tidak sempat mampir melihat-lihat pasar sore tersebut lebih lanjut, karena akan ada acara keluarga.. Jadi tidak bisa bercerita di kisaran berapa harga barang-barang di sana.. :(

Satu hal yang paling saya sayangkan dari kunjungan kedua saya di Boom, yaitu tujuan utama saya sedikit tidak terpuaskan karena menurut saya langit senja hari itu yang kurang luar biasa (saya pernah dapat langit senja yang menurut saya luar biasa di depan klenteng Tuban yang sama-sma terletak di tepi pantai Laut Jawa – see MudikYuuk!)..

At all, mau datang pagi atau sore, sama-sama bagusnya kog.. Semua sudah saya berikan ilustrasinya, kalau datang pagi masih sepi (tapi mungkin juga masih ngantuk hehe) kalau datang sore sudah banyak orang (tapi mepet waktu magrib).. Sama-sama bagusnya buat mengambil foto..

In the end, itulah pengalaman saya mudik lebaran kemarin ke Tuban.. Sengaja saya share karena mungkin masih sedikit yang tau tentang Tuban.. Harapan saya, semoga tulisan ini bisa bermanfaat menjadi panduan wisata Anda.. ^^