Flash Back : On Elementary School..

Sebenernya agak lucu, secara saya masih single tapi kali ini pengin membahas tentang anak.. Hehe.. Gapapa ya, selangkah lebih ngawur..

Pagi ini seusai senam kantor di hari Jumat, diajakin makan soto bareng Ibu-Ibu plus satu Bapak.. Seperti biasa, saya satu-satunya yang statusnya masih single.. Dan seperti biasa pula, topik bahasannya ga jauh-jauh dari keluarga dan parenting..

Obrolan kali itu dibuka dengan cerita Bapak yang ikut tadi, tentang anaknya yang tidak mau masuk sekolah, karena abis dimarahi hari sebelumnya.. Sekolah dijadikannya tameng untuk menunjukkan aksi balasan terhadap sikap marah si Bapak..

Aku ga mau sekolah.. Kalau aku bodo ya biarin.. Salahnya Ayah, marahin aku..

Begitu kata si Bapak menirukan anaknya.. Setelah itu saya sedikit flash back sewaktu kecil.. Saat tidak mood bersekolah, saya juga sama : dibebaskan oleh Bapak saya.. Tapi bebas bertanggungjawab, alias nanti kalau bodoh atau tinggal kelas atau mau angon kebo itu konsekuensi yang harus ditanggung sendiri..

Tapi reaksinya berkebalikan, jika si anak Bapak itu ngotot bersikeras, apapun yang terjadi meskipun sedang tes tetap tidak mau masuk.. Sedangkan saya dulu, langsung bergidik membayangkan saya tinggal kelas kemudian berubah pikiran dan (terpaksa) berangkat sekolah.. *ketauan nih ga konsisten dari kecil, hehe*

2013-01-07 11.53.44 copy

Adek-Adek Lucu Banget..

Selanjutnya, para orang tua di warung soto tersebut bercerita tentang anak-anaknya yang kreatif, punya inisiatif berdagang di sekolahnya.. Luar biasa, padahal usianya masih usia anak SD.. Padahal lagi, orangtuanya tergolong orang yang mampu banget..

Ternyata ketika saya flash back, sewaktu SD saya juga sudah mulai berdagang.. Dari mulai makanan ringan yang saat itu harganya Rp 100,00 macam Anak Mas, Fuji, Tic Tac, Sari Ayam, sampai yang seharga Rp 25,00 semacam Krip-Krip.. *kangeeen makanan itu*

Tak hanya itu, sepulang sekolah saya jadi tukang ojek, mengantarkan teman saya pulang kerumah dengan upah Rp 100,00 hingga Rp 200,00 sekali antar.. Beberapa juga ada yang minta digambarkan (alhamdulillah gambaran tangan saya ga jelek-jelek amat, bisa dipakai cari duit, hehe) dan dihias-hias serta ditulisi namanya.. Untuk ditempel di kamar tidur katanya.. Ini seharga Rp 500,00 hingga Rp 1.000,00..

Saya juga ingat pernah membuat pembatas buku berwujud orang Jepang berkimono, dari kertas kado.. Kemudian saya jual seharga Rp 1.000,00.. Macam-macam barang dagangan.. Apa yang bisa saya jual, saya jual.. Bahkan roti bekal dari rumah kadang-kadang ikut terjual.. Hehehe..

Tapi bedanya, orang tua saya bukan dari golongan mampu banget.. Dan seingat saya sewaktu SD dulu belum mengenal sistem uang saku.. Sehingga saya semangat sekali dapet duit sendiri..

Pernah suatu kali saya pura-pura tidur, waktu itu Ibu menggeledah tas saya dan menemukan banyak sekali recehan di kantong kecil samping.. Ibu kaget bukan main, darimana saya dapat uang sebanyak itu untuk ukuran anak kelas 3 SD? Dikiranya saya mencuri mungkin ya, hehe.. Saya hanya menahan tawa agar tidak ketauan tidurnya pura-pura.. :- P

Ah, masa itu sudah lama berlalu.. Sebentar lagi saya bahkan yang akan punya seorang (emmm, ralat : beberapa.. Atau, banyak sounds good.. Hehe..) anak SD untuk dibimbing.. Semoga, amin..

*endingnya ga jelas ya, seperti biasanya*

Bungsu..

Diawali dengan percakapan di jendela chatting pada suatu hari kerja awal bulan Februari 2013, selepas makan siang..

Nov: cyiiiin, sekarang akyuuuu ngapain eaaaa??
Boss: bobo boleh
Nov: cek email lagi cyiiiiin
Boss: sutraa,,,
Nov: niiii ngapain?
Boss: nge blog sik

Maka.. Di sini lah sekarang saya berada, dan inilah hasil produktif dari jam kerja saya di hari terakhir kerja minggu ini..

***

Beberapa hari yang lalu sempat merenungkan sesuatu.. Idenya adalah, teringat pada saat kuliah, dimana salah seorang sahabat saya menceritakan kekesalannya pada adiknya yang kebetulan adalah anak bungsu dari 4 bersaudara..

Bayangkan, aku minta motor ya secara tugas kuliah menuntutku untuk mobile.. Adikku ikut-ikut minta motor, padahal masih SMP.. Dan yang paling menyebalkan, Abah mengabulkan permintaannya.. Abah itu ya, hampir semua yang dia minta dituruti.. Gimana aku nggak sebel?

Begitu kira-kira luapan kekesalannya yang disampaikan kepada saya kala itu.. Memang, anak bungsu kebanyakan identik dengan sifatnya yang manja.. Tak selalu seperti itu sih, hanya kebanyakan.. Namun persepsi itu mungkin sudah terbentuk di benak kebanyakan orang..

Sewaktu mendengar keluhan sahabat saya tersebut, awalnya saya pun berpikiran yang sama.. Maklum, bahwa anak bungsu memang kebanyakan manja, dan lagi keras kepala..

Kemudian, baru-baru saja setelah sekian lama kejadian tersebut berlalu, saya tiba-tiba merenungkannya kembali.. Kali ini, sedikit mengambil sudut pandang yang berbeda..

Betapa orang tua pasti menyayangi semua anak-anaknya, karena itu fitrahnya.. Idealnya, secara adil.. Namun, adil pun tak selalu harus sama, melainkan proporsional.. Itu pun belum ditambah dengan keadaan manusia yang sudah barang tentu tidak sempurna dalam menerapkan keadilan itu sendiri..

Mungkin Anda bertanya-tanya, bukankan jika proporsional, sang Adik akan mendapatkan motor saat kuliah nanti, sama seperti kakaknya?

Tapi saya mencoba menggali lebih jauh, jika saya berada di posisi orang tuanya saat itu, apa motivasi dan pertimbangan saya sehingga mengambil keputusan seperti yang diceritakan oleh sahabat saya?

Karena itulah mungkin bentuk cinta yang bisa diberikan sang orang tua kepada anak bungsunya.. Karena taukah Anda? Kelak ketika orang tuanya telah tiada, jika sempat mengkalkulasikan kebersamaan keluarga itu, maka kakak-kakaknya akan mendapat waktu yang lebih lama bersama orang tua mereka dibandingkan dengan si bungsu.. Bahwa kebersamaan dan kasih sayang orang tua itu adalah harta yang tak terbeli.. Priceless..

Bahwa, itulah yang bisa diberikan orang tua untuk mengganti waktu yang tak bisa mereka berikan sama banyaknya seperti mereka memberikannya kepada kakak-kakaknya, yaitu dengan memenuhi sebisa mungkin keinginan anak bungsunya..

Itulah, sedikit penyeimbang menurut versi saya di antara perang ego antar-saudara memperebutkan perhatian dan kasih sayang orang tua.. Semoga dapat menjadi sedikit bahan pertimbangan dalam berpikir ulang dan juga menjadi penawar bagi hati yang sedang cemburu..

Memang mudah melihat dan menarik pemikiran yang objektif ketika kita di luar sistem, apalagi jika hanya menuliskannya seperti saya.. Bahkan saya pun pernah mengalami hal serupa saat saya di bangku SMP, kecemburuan akan adik saya.. Kini tersenyum simpul saat mengingat dan menuliskannya..

Ah, menahan haru di tengah-tengah jam kantor seperti ini cukup menguras emosi.. :’)

***

Surakarta, Jumat 1 Februari 2013 pukul 3.10 sore..

Destiny..

Pagi ini, saya terbangun lebih awal dari pagi-pagi biasanya.. Dan tetap terjaga seusai Subuh (ketauan deh biasanya tidur lagi, hihi).. Tiba-tiba saya merasa bingung, apa yang akan saya lakukan sekarang? Rumah masih sepi dan gelap.. Niat bermain piano sedini ini nampaknya salah jadwal..

Saya pun kembali ke kasur saya.. Dari mencoba tidur lagi, sampai kegiatan mengingat-ingat agenda penting pun saya lakukan..

Tiba-tiba saja sejurus kemudian saya menemukan diri saya tengah menjelajah jejaring sosial.. Melihat profil salah satu rekan SMA yang kini telah bekerja di Jepang..

Ah, saya merasa iri..

Kemudian, saya pun mencoba flash back ke masa-masa dulu.. Dia yang bahkan teman satu SMP saya juga..

where to go?

where to go?

Kami diasuh dan dibesarkan oleh almamater yang sama.. Kami pernah bertatap muka dengan guru-guru yang sama, yang saya yakin bahwa ilmu apa yang pernah dia dengar, saya pun pernah mendengarnya juga..

Kami yang (bahkan tanpa pernah kami sadari sebelumnya) ternyata pernah tumbuh bersama-sama, mengalami masa remaja dalam radius yang tak lebih dari satu kilometer setiap tujuh jam dalam sehari dan enam hari dalam seminggu..

Dia yang harus dua kali melalui tes ujian masuk perguruan tinggi, dan saya yang (alhamdulillah) dengan sekali tes diterima di dua universitas negeri sekaligus..

Namun, ketika kami kembali ke detik ini, apa yang dia capai dan apa yang saya capai sungguh berbeda.. Dia  telah mencari nafkah di negeri orang, sedangkan saya masih di kampung halaman, tempat yang sama dimana kami dulu pernah merasakan masa-masa sekolah..

Sungguh.. Apa yang ada di masa depan sana, hanya Alloh yang tau..

Dan detik ini juga.. Saya berimanjinasi..

What would it be if we switched our position off?

Memang, tak akan terbayang oleh saya bagaimana akan hidup di negara orang.. Yang pasti di sana akan lebih dingin.. Dan di sana semua akan terasa asing.. Serta tak akan bisa saya memeluk Ibu saya sepulang kerja..

Mungkin.. Dia yang di Jepang pun sedang merindukan hal yang sama, seperti yang saya takutkan tak bisa saya lakukan di atas.. Bertemu dengan keluarganya.. Meniduri kasurnya.. Namun yang pasti, akan ada kebanggaan dan hal-hal menggembirakan lain sebagai gantinya.. Alloh Maha Adil.. :)

Dan pada akhirnya.. Hidup itu pilihan.. Dia yang memilih kebanggaan menakhlukkan negeri orang.. Dan saya yang memilih untuk menemani Bapak-Ibu saya menyapa masa-masa tuanya..

Insya Alloh, baik dia maupun saya bahagia dengan jalan kami masing-masing.. Karena apa yang telah dipilihkan Alloh pasti yang terbaik, bukan hanya untuk kita tapi juga untuk orang-orang di sekeliling kita..

07.12.12 (05.42 am)
Semangat pagi!