Pantai Klayar vs. Pantai Nampu..

Aaaaahhhh!!!!!!! Saya pengin nulis tentang pengalaman liburan ke pantai kemarin.. Tapi sudah sekitar 10 menit saya berpikir, kalimat apa yang pas untuk mengawali cerita kali ini.. Ketik-ketik.. Hapus lagi.. Ganti.. Ketik lagi.. Hapus lagi..

Menyerah!

Sepertinya cuaca hari ini yang mendung dan dingin tidak terlalu kondusif untuk berpikir terlalu berat.. Bagaimana jika kali ini saya to the point saja? Oke kan.. Oke ya.. Oke pasti..

Klayar Beach..

Pacitan..

Jadi, liburan akhir pekan kemarin saya dan teman-teman mendadak ke pantai lagi.. Hanya sebuah akhir pekan biasa, bukan long weekend, pada hari Minggu.. Dan, ya, memang terlalu mendadak untuk bepergian jauh.. Diawali dengan obrolan di grup whatsapp pada pukul 10 malam hari sebelumnya.. Dan keesokan harinya berkumpul jam 6 untuk bertolak..

Klayar!! Here we come!

Hanya berhasil menjaring 5 orang kontestan untuk piknik kali ini.. Tak mengapa lah.. Bagus malah, untuk ukuran mendadak.. Yah, daripada direncanakan oleh 10 orang kemudian gagal total..

:)

:)

Kami pergi naik mobil sedan.. Tanpa ada yang tau pasti lokasi.. Bermodalkan peta digital.. Dan keyakinan bahwa kami akan sampai.. *sampai mana ya? ga tau..*

Ternyata, jalan menuju klayar sungguh sangat melelahkan! Kami pergi ke tenggara, melewati Wonogiri.. Memutari waduk Gajah Mungkur.. Sampai di sana semuanya masih oke.. Jalan cukup lebar dan bagus.. Namun, ketika sudah sampai di belokan Gua Gong (atau gua apa ya?) jalan menjadi sangat sempit, berkelok, naik turun, dan berlubang di beberapa tempat! Bahkan kami bingung sewaktu di tengah jalan berpapasan dengan bus.. Fiuh..

Klayar lho..

Klayar lho..

Saya tidak sempat menghitung berapa kilometer melalui jalan kecil tersebut.. Karena saya mabok dibuatnya.. Lebih banyak memejamkan mata dan menyandarkan kepala.. Hingga kemudian, saya perkirakan sekitar 1 jam melalui jalan kecil tersebut, pantai!!!!! Horeeeee.. Sampailah kita..

Klayar, masih lumayan bersih dan tidak terlalu ramai.. Berpasir putih.. Dan bertebing batu yang elok bentuknya.. Konon, air laut bisa bersiul di antara tebing batu tersebut.. Namun sayangnya, ketika hari itu kami berkunjung, ombaknya sedang sangat besar sehingga kami tidak diizinkan memanjat batu karang tersebut meskipun telah memohon-mohon (hiperbol dikit) pada para penjaga pantai..

Klayar..

Klayar..

Puas berfoto dan bermain kecipak air (hari itu, ombak mengejar-ngejar kami), kami berniat makan siang.. Namun, apa daya karena hanya ada pop mie saat itu.. Maka kami memutuskan untuk berpindah ke next beach : Nampu!!

Note: sudah kami tanyakan pada penduduk, dan ternyata tak ada akses jalan lain ke klayar selain jalan kecil jelek tersebut.. Mmmmh, ada sih sebenarnya.. Namun kata penduduk lebih kecil daripada jalan yang kami lewati.. Jadi, bisa kita anggap tidak ada ya.. Deal!

Kembali ke jalan yang tadi, berbelok di salah satu perempatan untuk menuju Nampu.. Tenang, ada penanda jalannya kok.. Dan ada rumah penduduk untuk diketuk bila masih tak faham.. Setelah kira-kira (anggap saja) 1 jam perjalanan.. Mabok, lagi-lagi.. Plus insiden mobil kami tak bisa naik jalan menanjak sampai koplingnya terbakar.. Akhirnya..

Nampuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!!!!!!!!!

jalan masuk ke Nampu..

jalan masuk ke Nampu..

Note: kalau akan ke Nampu atau Klayar dengan mobil, usahakan jangan naik sedan.. Gunakan mobil yang bertorsi besar karena tanjakan dan belokan di sana cukup tajam dan curam..

Woaaaaaa.. Elok nian pantai ini.. Lebih sepi daripada Klayar.. Masih, dengan pasir putihnya.. Terbentang luas.. Tanpa banyak karang.. Hanya bebatuan di beberapa teritori.. Dan kami menemukan air terjun di sana.. Bening sekali airnya.. Menyenangkan! Mengagumkan! Fotografer kami pun sampai beberapa kali berdecak kagum melihat pesona Nampu.. Seperti Dream land di Bali kata salah satu yang lain.. Feels like heaven..

Meskipun dengan ombak yang tetap masih besar, kami tetap bermain air dan berfoto.. Serta menaiki bukit.. Di atas bukit tersebut ternyata terdapat tugu perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur.. Ya, Pantai Namu memang terletak di kawasan Wonogiri, Jawa Tengah.. Pantai Klayar tak jauh dari situ termasuk ke dalam wilayah Pacitan, Jawa Timur..

from above..

from above..

Puas bermain, sekitar jam setengah 4 sore kami beranjak pulang.. Lagi-lagi tanpa makan.. Karena bahkan pop mie pun tak ada di sana, hanya ada penjual mie instant lengkap dengan kompornya.. Bahkan fasilitas basic kamar mandi belum begitu memadai..

Memang agak kesorean bertolak dari Nampu, kami melewatkan senja di daerah Batu Retno, dan saat hari telah beranjak gelap kami baru sampai di Gunung Pegat.. Konon banyak cerita menyeramkan di sini.. Jangan berharap lampu jalan akan banyak dan terang, di banyak titik bahkan belum ada lampu jalan sama sekali.. Hanya mengandalkan lampu mobil saja.. Bahkan di beberapa daerah, kanan-kiri masih merupakan hutan dan perbukitan, tanpa ada rumah penduduk.. Jadi, lain kali ingin ke sana pastikan pulang sebelum hari gelap..

Feels like heaven..

Feels like heaven..

Kami sampai Solo sekitar jam 8.30 malam.. Bila diestimasi, sekitar 4-5 jam kami habiskan di perjalanan, sudah termasuk waktu makan di pom bensin..

Lama-lama jadi makin item ke pantai terus nih, now.. what‘s next??! :)

Note: rasanya pegel semua badan ini sewaktu masuk kerja di hari Senin.. Plus mengantuk level tinggi.. Lain kali, tamasyanya jangan hari Minggu.. Sabtu saja deh.. ^^”

 

Foto-foto lainnya bisa dilihat di galery.. Enjoy! :)

*See also : previous vacation*

Advertisements

Wisata ke Pantai Jogja..

Pantai Soemanding..

Pantai Soemanding..

Akhirnya.. Rencana liburan bersama teman-teman SMA terlaksana.. Karena, hampir selalu, rencana liburan seperti ini hanya berhenti sebagai sebuah wacana.. Herannya kali ini liburan bukan dalam rangka libur panjang karena tanggal merah.. Hanya sebuah akhir pekan biasa..

Kali ini tujuan kita sedikit agak jauh, yaitu ke Jogja.. Dan kali ini, bukan wisata kota atau wisata kuliner, melainkan pantai! Kapan terakhir kali liburan ke pantai bersama teman-teman? Hmmm, sepertinya saat lulus SMP dulu.. The one and only!

Berangkat jam 6 (namun hanya rencana, kenyataannya jangan ditanya) dari Solo, berlima.. Menuju kosan teman-teman di Jogja menjemput empat teman yang lain.. Eh, ternyata liburan ke pantai kali ini beda ya dengan sebelumnya (saat lulus SMP itu).. Dulu, jangan tanya.. Kami pergi bersama salah seorang orang tua teman saya, naik pick up.. Di pantai hanya main air, main pasir, lari-larian.. Selesai..

Soemanding, Jogjakarta..

Soemanding, Jogjakarta..

Kali ini? Kami pergi sendiri, menyetir mobil sendiri, dan yang lebih asyik lagi : sekarang bisa makan-makan dan jajan! Hahay.. Karena selain sudah bekerja, ternyata teman-teman lain yang sudah berduit juga ikut mentraktir.. Jadi, kemarin itu sungguh liburan yang murah meriah buat kami.. :D

Dan, tahukah apa yang lebih menyenangkan lagi?? Yak! Karena kini teman-teman sudah mampu menenteng kamera DSLR, sehingga kami pun sibuk menjadi model foto teman-teman (yang sudah barang tentu hasilnya akan bagus)..

Oh! Malah lupa belum masuk ke inti ya.. Pantai yang kami tuju adalah.. Mmmh.. Sebenarnya kami berangkat tak punya tujuan jelas.. Saat pamitan dengan orang tua, ternyata tak hanya saya yang mengalami kejadian serupa..

Besok mau main ke pantai sama temen-temen | Kemana? | Jogja | Pantai apa? | Gak tau, tapi aman kok pastinya.. Hihihi..

Pantai Siung..

Pantai Siung..

Akibat perencanaan yang tak terlalu jelas, maka konsekuensinya akan menghabiskan waktu yang lebih banyak saat proses pengambilan keputusan.. -_-

*obrolan sopir dan penumpang, setiap kali ada belokan (entah pertigaan atau perempatan*

Kiri? Kanan? | Mmmh.. Mmmh.. | Kiri? Baron-Krakal-Kukup? | Mmmh.. Mmmh.. Kanan aja apa ya? | Atau kanan? Indrayanti-Siung? | Mmmh.. Atau kiri aja? Duh, yang Mana ya? | Woooiii cepetan udah mo sampai belokan nih!! | Mmmmmmmh..

*akhirnya manut sopir*

Oke, kami pun memutuskan akan ke Indrayanti.. Namun apa daya, setelah tanya orang kami malah nyasar ke pantai Soemanding.. Hihihi.. Tapi tetep bagus kok.. ^_^

Next destination: hanya tersisa pantai Siung! Berhubung semua pantai berada di belokan yang lain yang telah kami tinggalkan.. Hihihi..

Singkat cerita, kami bertolak pulang jam 4 sore.. Mampir makan malam dulu, diiringi akustikan Hotel California dan Paint My Love ahhh, syahdu banget.. Rasanya komplit sudah penutupan malam itu.. Tiba di Solo pukul 11 malam, dan hari Senin pun menyambut kami keesokan harinya.. *somebody please tell me tomorrow is still Sunday!*

Berikut saya sertakan hasil buruan foto dari saya.. Beberapa yang lain dapat dilihat di sini..

Semangat!

Semangat!

I Love Beach! xD

I Love Beach! xD

Pantai Siung nan Elok..

Pantai Siung nan Elok..

Jogjakarta, 9 Desember 2012..

Jogjakarta, 9 Desember 2012..

Di Atas Bukit Karang..

Di Atas Bukit Karang..

Ah! Kita Sudah di Puncak!

Ah! Kita Sudah di Puncak!

Pacaran.. ^_^

Pacaran.. ^_^

Pasir yang Sedang Berproses Menjadi Karang..

Pasir yang Sedang Berproses Menjadi Karang..

Our Other Photographer..

Our Other Photographer..

Our Photographer..

Our Photographer..

Mudik #4 : Cemara di Tepi Pantai..

Yap! Ramadhan datang lagi.. Alhamdulillah masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan taun ini..

Alhamdulillah, pada Ramadhan taun ini banyaaaaak sekali rahmat dan karunia Alloh yang dilimpahkan kepada kami, selain kesempatan berharga untuk bertemu dan beribadah di bulan Ramadhan, di antaranya : saya dan pacar saya telah dan akan bekerja (saya untuk kali kedua, pacar saya selesai pendidikan), kami berdua masih bisa berkumpul dengan keluarga masing-masing lengkap tanpa kurang suatu apapun, kami masih diizinkan Alloh untuk bertemu dan berbuka bersama teman-teman kami, dll, dsb..

Dan, setelah lebaran ganjil (aneh ya? lha, maunya sih nulis “genap”, tapi apa daya, memang kenyataannya Ramadhan kami taun ini jumlah harinya ganjil, hehe..) 29 hari tibalah hari kemenangan itu!

Lebaran tiba.. Lebaran tiba.. (oke, lagunya memang sedikit saya ubah ^^v)

Waktunya kita semua mudiiiiiiiiiiiik!!!!! ^_^ Tujuan mudik kami masih sama, karena sekali lagi Alhamdulillah, kami masih memiliki nenek satu-satunya di Tuban.. Tahun ini mudik yang keempat, kami berangkat pada hari-H setelah shalat Ied di rumah (dan salam-salaman kilat dengan tetangga, tentunya.. plus makan-makan gratis di rumah tetangga yang open house, hehehe)..

Ssst, di sana semuanya baru seneng-senengnya mainan Diva, Cicit Pertamanya Nenek..

Entah kenapa, saya suka perjalanan jauh menggunakan mobil kecil sekeluarga.. Rasanya, jadi erat dan akrab.. Bayangkan, selama lebih kurang 6 jam kami harus duduk bersama saling berdampingan satu sama lain, ngobrol bersama, makan, tidur (oke, kecuali saya sih, karena saya sopir), sementara pada hari biasa moment ini begitu langka, karena kesibukan masing-masing..

Dan bayangkan, apabila kami menggunakan mobil yang lebih besar.. Mungkin Adek saya akan lebih memilih selonjoran sambil memakai headset di jok paling belakang, Ibu saya tertidur di tengah sendirian, tinggallah Ayah saya memutar kaset kesukaannya sambil bernyanyi-nyanyi sendiri, dan saya yang fokus mengemudi..Seakan perjalanan itu hanya formalitas dan bukannya suatu acara yang menyenangkan.. Betapa tidak enaknya..

Oiya, ada satu yang menarik sewaktu melintas Bojonegoro.. Hari itu kan hari pertama Idul Fitri ya, biasanya sih orang-orang hilir-mudik silaturahmi kemana-mana, naik motor ramai-ramai gak pakai helm, gitu (setidaknya pemandangan inilah yang saya temui hampir di sepanjang jalan).. Nah, waktu hendak memasuki Bojonegoro, kami sudah pengin makan siang tuh, berhubung sudah lewat tengah hari.. Tapi ternyata?? (hampir) tak ada warung yang buka di sana hari itu.. Bahkan, (hampir) tak ada orang lalu lalang.. Jalanan sepi saupi (sepi sekali, red), hanya satu-dua mobil terparkir di tepi jalan.. Bahkan, jalan di depan pasar Bojonegoro yang biasanya macet pun lengang.. Kami ketakutan! (jeng..jeng..!! Scene : House Of Wax..)

Bojonegoro terlihat seperti kota mati pada hari itu!

Oke, ceritanya nih kita sudah sampai di kediaman Nenek saya.. Sore itu tidak banyak yang kami lakukan, hanya menerima kunjungan tamu di rumah sambil nonton Masterchef.. Hehehe..

Esoknya, saya mengajak sepupu saya ke pantai.. Hihihi, perasaan tiga tahun terakhir ini mudik selalu ke pantai yak? Tak apalah, ke pantai juga cuma kalau mudik ini (kasian bener)..

Welcome to Tuban..

Kali ini, lokasinya agak jauh ke Barat.. Tepatnya di sebelah Terminal Baru Kota Tuban.. Di sana, di tepi pantainya ada banyak pohon cemara.. Dan mungkin karena lokasi ini sedikit di pinggir kota (meskipun masih termasuk tepi jalan pantura sih), pantainya tidak se-terawat pantai-pantai yang di Timur-nya.. Contohnya, tidak ada pembatas antara pantai dan jalan seperti waktu saya ke pantai di depan kuil dan di semenanjung Boom (baca seri kedua dan ketiganya).. Atau barangkali karena di sini jalanannya relatif rata dengan pantai ya?

Lokasi ini relatif sepi daripada pantai yang terletak di ‘kota’nya.. Tak terdapat banyak penjual pernak-pernik, makanan atau es kelapa muda di sini.. Jalanannya pun lebih sempit (semakin ke Timur atau ke kotanya, jalanan semakin lebar, kalau saya tidak keliru sih, hihihi).. Meskipun ada terminal di sebelahnya, namun pada saat ke sana kemarin, tak tampak tanda-tanda kesibukan di terminal itu.. Mungkin memang terminal baru itu belum digunakan, karena pintunya masih dipalang..

Kami datang ke sana terlambat, sunsetnya sudah terlanjur set (?) sehingga hanya tersisa bias-bias cahayanya saja.. Tapi tak mengapa.. Setidaknya kami masih bisa berfoto.. ^_^

Niatnya sih, keesokan harinya saya pengin ke sana lagi.. Berburu senja.. Tapi apa daya, mungkin karena kondisi yang kurang fit dan capek, plus terkena angin laut (gak kebiasa kena angin laut sih, begitu kata Nenek saya) akhirnya saya flu dan masuk angin.. -_-

Dan ketika pulang hari berikutnya, Ayah saya terpaksa menggantikan saya menyetir sewaktu melintasi Bojonegoro karena saya pusing dan mengantuk (efek obat).. Bahkan hari ini ketika saya mengetik artikel ini, flu-nya masih tersisa lho (mau??)..

Yeah, endingnya jelek bener yak..

Eh tapi saya pengin memuji satu hal : tumben jalanan Solo-Tuban lebaran kali ini ‘rata’ dan halus.. Cuman ada sedikit yang gak rata & bergelombang, di daerah Padangan (kalau tidak salah).. Good job, pemerintah (tumben).. Moga-moga taun depan jalanan Solo-Tuban semuanya ‘rata’ dan halus dah.. Amin.. ^_^

Oiya, ini ada oleh-oleh dari mudik kali ini, enjoy it..

Ibu..

Moi avec Mon Frere..

Moi.. Me.. Aku.. Boku.. Watashi..

Le Nom de Mon Amour..

Mudik #3 : Semenanjung Buatan Pantai Boom..

Pagi Hari di Boom

Sebenarnya waktu perjalanan berangkat, hal ini sempat masih menjadi perdebatan antara saya dan Bapak saya, yaitu apakah tahun ini merupakan mudik pakai mobil pribadi untuk ketiga kalinya atau sudah keempat kalinya?? Hmmm, hehe rada gak penting sih ya.. Tapi berhubung saya adalah sopir-nya, Bapak manut saya ya.. ^0^

Tahun ini kami mudik H-1, yang juga merupakan hari ketiga dimulainya libur lebaran.. Keuntungan buat kami karena jalan relatif lancar, berhubung puncak arus mudik terjadi Hari Jumat-nya (hari pertama libur lebaran adalah hari Sabtu).. Tapi hal ini membuat saya sedikit deg-deg ser juga, karena jalanan lurus & sepi dihias dengan matahari cerah, pemandangan indah, dan angin berhembus lembut (?) menjadikan saya terlena alias liyer-liyer mengantuk,, apalagi malamnya kurang tidur gara-gara nonton GUMIHO (gubrak!) hehe maklum kalo udah ngumpul & menginap di rumah teman suka lupa daratan.. Namun saya tetap bertahan hingga akhir, karena saya sedang membawa dan bertanggung jawab pada nyawa orang-orang yang sangat saya cintai.. :’)

Awalnya kami berencana di Tuban hanya waktu Hari Raya yaitu tanggal 1 dan 2 syawal (tapi memang terlaksana dink).. Hanya, kegiatan yang sedianya ingin dilaksanakan (silaturahmi, red) sedikit berantakan.. Hal ini dikarenakan ke-BinekaTunggalIka-an kita yang sangat kental.. Saya dan saudara-saudara merayakan lebaran berbeda-beda (ada yang tanggal 30 Agustus, ada yang tanggal 31 Agustus)..

Saya sendiri waktu itu lebaran tanggal 30 Agustus (karena udah nawaitu dari rumah juga tanggal 30 lebaran, hehe) Pakde dan Om saya juga tanggal 30.. Sementara nenek saya dan salah satu Om saya tanggal 31 mengikuti pemerintah..

Jadilah, hari pertama itu belum begitu terasa lebarannya.. Hanya di rumah saja, karena masyarakat di Tuban sebagian besar baru merayakan lebaran esok hari, jadi kalo mau pergi-pergi rasanya gak enak sama yang masih puasa..

Wisata Boom Tuban

Nah keesokan harinya, pada waktu masyarakat menunaikan sholat Idul Fitri, saya sekeluarga pergi ke salah satu tempat wisata di Tuban, yaitu Boom.. Boom ini merupakan semenanjung buatan.. Untuk masuk ke sana tiketnya rata-rata Rp 1.500,00 (lihat foto). Namun karena masih pagi & masih sepi (kami sekeluarga ke sana pukul 5.30 pagi), jadi setelah Ibu saya lobi-lobi dikit akhirnya kami berempat masuk dengan hanya membayar 5.000 rupiah.. Heheheeee..

Tempat tersebut lumayan bersih dan rapi.. Yang agak disayangkan, justru laut & pantainya yang relatif banyak sampah (terutama di pantai sekitar pemukiman penduduk yang mepet laut).. Meskipun hal ini tidak secara langsung mempengaruhi tempat wisata Boom, tapi tetap saja ‘mengganggu’ pemandangan.. -_-” misalkan lautnya bersih, tentunya air lautnya akan lebih jernih & mempercantik pemandangan.. hmmm we wish..

Pancuran (judulnya jelek banget ik)

Terlepas dari kedaan laut, pagi hari di sana cukup menyenangkan.. Mungkin akan lebih menyenangkan lagi apabila kami berhasil datang lebih pagi ke tempat itu, pada saat langit masih gelap (maklum, ada insiden kebablasan di jalan searah)..

Saya sendiri memang suka tempat dimana saya bisa memandang langit yang luas.. Dan tempat ini pas sekali untuk itu, berasa di tengah laut, tapi kaki masih berpijak di daratan dan pemandangan di ‘daratan’nya juga bagus.. (hehe ngomong apa sih Phex?)

Berikut foto-foto selama di sana:

di ujung semenanjung..

Bagus bukan, suasana pagi hari di sana?? Karena tidak berhasil mendapat moment langit fajar yang kemerah-merahan, maka sorenya karena penasaran saya ke sana lagi bersama Adek.. Ternyata harga tiket sudah berubah menjadi Rp 2.000,00 per orang.. hmmm, cepet amat berubahnya.. -_-”

Senja di Tepi Pantai

Plus parkir motor yang saya menyerahkan Rp 2.000,00 tidak mendapat kembalian.. Hufff.. Sabar.. Padahal pagi harinya kami ke sana dengan mobil, waktu parkir hanya membayar Rp 1.000,00 lho.. :-o

Suasana sore di sana cukup ramai (waktu itu menjelang magrib), tidak seperti tadi pagi dimana hanya kami berempat dan sekitar 3 orang pengunjung lain.. Sebagian lampu sudah menyala, dan tak berapa lama kemudian adzan magrib berkumandang di masjid besar kota Tuban (lokasi Boom hanya beberapa langkah dari masjid besar, bisa dibilang hampir berhadapan, hanya tinggal menyeberang jalan)..

Oiya, sore hari di depan tempat wisata Boom ini terdapat pasar sore yang cukup ramai dikunjungi masyarakat.. Beraneka macam barang dijual mulai dari baju, sandal, kacamata, mainan anak-anak, dll.. Saya ingat beberapa tahun yang lalu (ketika saya masih SD) saya diajak Ibu ke pasar sore dan waktu itu dibelikan sepatu sandal berwarna coklat.. Selain pasar sore ini, di depan masjid besar kota Tuban (yang merupakan alun-alun kota) selalu ramai pada sore hingga malam hari, biasanya banyak yang berjualan serupa di pasar sore ini, namun suasananya saya nilai lebih bagus di alun-alun karena berhiaskan rumput dan lampu taman dengan pemandangan masjid yang megah.. :)

Senja di Laut

Saya dan adik saya kemarin tidak sempat mampir melihat-lihat pasar sore tersebut lebih lanjut, karena akan ada acara keluarga.. Jadi tidak bisa bercerita di kisaran berapa harga barang-barang di sana.. :(

Satu hal yang paling saya sayangkan dari kunjungan kedua saya di Boom, yaitu tujuan utama saya sedikit tidak terpuaskan karena menurut saya langit senja hari itu yang kurang luar biasa (saya pernah dapat langit senja yang menurut saya luar biasa di depan klenteng Tuban yang sama-sma terletak di tepi pantai Laut Jawa – see MudikYuuk!)..

At all, mau datang pagi atau sore, sama-sama bagusnya kog.. Semua sudah saya berikan ilustrasinya, kalau datang pagi masih sepi (tapi mungkin juga masih ngantuk hehe) kalau datang sore sudah banyak orang (tapi mepet waktu magrib).. Sama-sama bagusnya buat mengambil foto..

In the end, itulah pengalaman saya mudik lebaran kemarin ke Tuban.. Sengaja saya share karena mungkin masih sedikit yang tau tentang Tuban.. Harapan saya, semoga tulisan ini bisa bermanfaat menjadi panduan wisata Anda.. ^^

Mudik #2 : Kuil di Tuban..

Hiasan dashboard mobil

Postingan ini akan bercerita mengenai pengalaman saya bersama keluarga mudik ke Tuban, pada lebaran September tahun ini.. Ini tahun kedua saya beserta keluarga mudik dengan kendaraan pribadi.. ^o^

Tahun ini kami berangkat pada hari-H, yaitu hari Jumat.. Perjalanan sekitar 6 jam, dan saya full nyetir di depan.. Karena bertepatan dengan hari Jumat, maka di tengah jalan kami sempat singgah di sebuah masjid di daerah Padangan karena Ayah dan Adik beribadah Jumat.. Sementara itu, saya dan Ibu saya poto-poto.. ^^v

Makan siang dilakukan di dalam mobil, yaaa makan yg instant aja.. Oiya, jalanan dari Bojonegoro ke arah Tuban masih sangat jelek : bergelombang.. Oleh karena itu, kami berjalan sangat pelan di sini, soalnya takut as roda-nya putus atau garda-nya putus.. Mana di sekitar jalan masih tergolong sepi, kanan kiri cuman sawah yang membentang.. Bagus sih bagus buat dipandang, tapi kalo kenapa-kenapa kan susah cari bantuannya.. Kami sempat melihat mobil lain yang as-nya putus, nah lho, bengkel terdekat entah berapa kilometer tu.. Untungnya, banyak mobil yang berseliweran karena jalan itu adalah jalan utama penghubung kota, jadi gak “sepi” alias masih ada “teman”nya.. hehe.. (masukan buat pemerintah : jalannya diperbaiki donk, biar rata, kan jadi lebih aman buat pengendara)..

Singkat kata, kami sampai di Tuban sudah menjelang sore.. Kegiatan rutin di sana, yaa keliling ke tempat tetangga dan saudara berhubung hari itu udah idul fitri.. Selain itu, gak ada kegiatan yang rutin sih.. Saya sampai sempat bosan di sana.. Habisnyaaa,,, sodara yang seumuran cuman satu, itu juga di lain lokasi (tapi masih di Tuban), selain itu sodara yang lain masih precil-precil.. Saya cari kesibukan sendiri, mulai dari nyapu, memberi makan kambing, ngenet, nonton filem, sampai gak ada ide lagi mau ngapain..

Akhirnya saya “mengadu” (baca: ngajak jalan-jalan, hehe) pada ibu saya.. Kemana kek.. Maklum, saya buta Tuban, jadi saya ngajak Ibuk yang orang Tuban, supaya ada petunjuk arahnya.. Hihihihi..

Jadilah, sore itu kami ke pantai dan ke kuil.. Di Tuban ada sebuah kuil yang besar dan terkenal.. Saking terkenalnya, saya lupa nama kuil itu apa(??)

Kebetulan waktu itu sedang ada ‘keramaian’ di kuil itu.. Bisa untuk foto-foto deh.. Tapi ternyata Ibuk saya yang semangat & narsis.. Katanya baru sekali ini masuk kuil itu.. Wewww padahal Ibu saya kan sejak kecil lahir & besar di sana.. Hmmm.. -_-”

Kuil itu di dalamnya bagus banget, besar, dan ada jembatan kayak rumah-rumah di Cina.. Bagus banget buat poto-poto.. Banyak juga wisatawan atau jemaat yang ke sana untuk tujuan ‘berwisata’..

Karena tidak tau nama kuil itu, saya beri ciri-cirinya aja ya : terletak di pinggir pantai, ada patung kepiting di atas gapura masuknya..

Hahahaha, sama sekali gak menolong ya? ^^” ya nanti kalau ke Tuban, tanya aja sama orang-orang, pasti tau dimana kuil itu.. Gampang kog nemuinnya, secara Tuban itu kotanya gak terlalu besar juga.. Gambar bangunan di dalam kuil tersebut bisa dilihat pada gambar yang sudah saya sertakan dalam blog ini, semoga dapat menjadi salah satu referensi wisasta Anda.. (loh??)

Kuil yang ada kepiting di atasnya

Setelah puas foto-foto di dalam kuil, selanjutnya kami mau pulang (soalnya udah sering ke pantai).. Tapi begitu keluar kuil itu, wuaaaaaaa langitnya buagus buanget.. Langit senja..

Padahal pas berangkat tadi ragu-ragu dikiranya mau ujan, soalnya mendung.. Tapi ternyata moment-nya perfect banget, emang kita berdua ditakdirkan buat foto-foto.. Hahahahaha..

Pantai dengan senja yang sempurna

Nah, ini dia pantai yang akhirnya saya foto karena langit senjanya bener-bener bagus.. Di foto sih cuman seperti ini tapi aslinya bagus banget,, maklum yang moto gak profesional..

Selanjutnya, karena udah maghrib, saya dan Ibu saya pulang ke rumah nenek saya dengan perasaan gembira(??)

Singkat cerita, kami pulang ke Solo pada H+3 karena masih ada acara lain di Solo yang menanti kami.. Padat-padatnya arus balik tuh.. Kalau tau kemaren kami kejebak macet cuman di daerah Masaran saja, tapi kali ini macet udah mulai kerasa bahkan sebelum kami masuk kota Sragen..

suasana arus balik mudik

Macetny dari sebelum masuk Sragen sampai pertigaan Solo-Tawangmangu.. Wew..

Walhasil, kami baru sampai rumah jam 18.30an.. Padahal berangkat dari Tuban sekitar jam 10.30an lho..

Tapi, conclussion dari semua itu adalah : mudik itu seru! Satu mobil kecil bareng keluarga kecil.. :)

(meskipun lampu retting mati pas di tengah-tengah jalan, disusul wiper mobil yang macet padahal ujan deres.. Hihihihi, alhamdulillah deh, masih untung mobilnya bisa jalan & penumpangnya semuanya selamat sapai rumah)