Pengalaman Pertama : Jalan-jalan ke Pasar Baru..

Setelah lima hari berturut-turut bekerja, akhir pekan datang lagi, horeee..! Hampir setiap akhir pekan kami jalan-jalan, kata suami “kasian kamu, di rumah terus ga pernah jalan-jalan” hihihi.. Meskipun hanya sekedar belanja di supermarket langganan, saya sudah senang bisa keluar (tapi ujung-ujungnya kena macet sih -_-)..

Terkadang kami ke mall.. Jakarta memang mall seabrek-abrek, tapi hanya sebagian saja yang sejauh ini pernah saya kunjungi, di antaranya Mall Ambassador, ITC Kuningan, Mall Cilandak, Pejaten Village, Mall Semanggi, Cilandak Town Square, Sarinah, dan Mall di perempatan lampu merah dekat Citos itu (lupa namanya apa soalnya baru sekali ke sana malam-malam pula)..

Hari Minggu kemarin, sebelum Dzuhur kami berangkat dari kontrakan.. Pokoknya jalan-jalan, tapi belum ada tujuan.. Sampai perempatan Pertanian, kami berhenti dan setelah berdiskusi kilat akhirnya diputuskan ke Pasar Baru..

Pertama kali tau Pasar Baru dari acara TV tentang belanja murah.. Beberapa kali lewat sana sewaktu dari Pasar Senen atau memang kebetulan salah jalan.. Saya kira mirip Pasar Senen atau Pasar Minggu, tapi setelah berada di sana, suasananya jauh lebih enak.. Mirip jalan-jalan di kampung Pecinan..

Hanya sempat ambil 1 foto ini saja, dibilangin makanan pinggir jalan mengalihkan dunia saya..

Di pintu gerbang, ada sebuah gapura yang menyambut masuk pejalan kaki.. Di atas jalan terdapat peneduh sehingga cukup nyaman untuk berjalan santai, tidak risih kepanasan.. Kiri-kanan terdapat pertokoan yang hampir semua menjual kain meteran dan sepatu, satu-dua terdapat toko emas dan alat musik.. Namun waktu itu saya sama sekali tidak tertarik dengan aneka busana, karena perhatian saya tersita kepada makanan!

Yak! Di depan toko-toko tersebut berjajar aneka penjual makanan.. Bukan dalam bentuk warung, melainkan dengan gerobak dan sepeda.. Makanannya kebanyakan tradisional, ada bakwan kawi Malang, otak-otak, es podeng, siomay dan batagor, tahu gejrot, pisang coklat, es potong, es degan, roti unyil, combro, kue rangi, kue ponco, dan aneka jajanan lainnya yang bisa mengalihkan dunia..

Sebenarnya selama di Jakarta, saya cukup waspada dengan tidak jajan sembarangan di pinggir jalan atau gerobak lewat.. Hanya jajan di warung permanen, karena lebih pasti.. Tapi kemarin itu sungguh subhanalloh saya akhirnya jajan tahu gejrot karena menurut suami tidak apa-apa toh jalannya tidak terlalu banyak kendaraan lewat situ jadi insya Alloh tidak terlalu kena debu..

Sepanjang jalan memang dipaving, bukan diaspal.. Sepertinya memang sengaja ditujukan untuk jalan kaki berhubung para penjual makanan juga sudah memakan jalan seakan-akan memang ditempatkan di situ.. Tapi satu-dua ada motor bahkan mobil yang lewat.. Saya agak menyayangkan hal ini, karena keasyikan jalan kaki menikmati suasana mendadak jadi harus waspada akan serobotan mobil dan motor.. Saya dan suami parkir motor di luar kompleks jalan itu, lebih tepatnya di pinggir sungai di dekat gedung yang menyiarkan proklamasi (ga tau gedung apaan namanya).. Tarif parkir motor Rp 3.000,- flat..

Saya akhirnya jajan tahu gejrot Rp 8.000,- seporsi, dilanjutkan es potong kacang ijo Rp 3.000,- sepotong, kemudian es podeng Rp 7.000,- segelas, pulang bawa roti unyil Rp 20.000,- per box dan tahu gejrot lagi karena enak banget.. Sempat liat penjual meracik sambalnya, isinya bawang merah dan putih, garam, cabai, ditambah gula jawa dan belimbing wuluh, lalu terakhir diberi air asam.. Rasanya jadi asin, gurih, pedas, manis, dan asam sekaligus.. Sebenarnya kepengen jajan siomay dan batagor juga, kemudian liat pisang coklat juga ngiler, tapi apa daya belum kesampaian.. Selain makanan, banyak penjual celana legging, uang kuno, dompet, tas, bahkan poster..

Bila memang tidak tega makan di pinggir jalan, ada juga warung ayam kremes, ayam bakar, AW, dan KFC.. Tapi menurut saya, kapan lagi dimanjakan dengan surga makanan kaki lima seperti itu, kalau mau makan fastfood mahdi mall saja.. Di ujung jalan ada pintu masuk ke gedung pertokoan di kanan dan kiri, saya dan suami numpang sholat di mushola lantai 4.. Tempatnya enak banget, angin sepoi-sepoi karena bangunan semi terbuka, tempat sholatnya juga luas dan terang tidak seperti di mall kebanyakan yang menempatkan mushola di lantai bawah tanah.. Terdapat pula foodcourt di lantai 3, ada soto, es juice, dan lain-lain pokoknya menengah ke bawah..

Nah, jalan-jalan tidak selalu harus mengeluarkan uang banyak.. Bila ke mall juga saya sangat jarang membeli barang bila memang tidak direncanakan dari rumah, mungkin malah beli makanan karena lapar mata turun ke perut.. Tapi kalau di mall, mau beli makanan juga mikir lagi karena harga sekali makan bisa untuk belanja ke tukang sayur selama seminggu.. *emak-emak*

Saya lebih suka jalan-jalan ke Jakarta Fair atau ke Pasar Baru seperti ini, puas window shopping dan puas makan, dengan uang Rp 50.000,- sudah bisa beli banyak jenis makanan.. Mana lagi ya tempat-tempat seperti itu di Jakarta untuk destinasi liburan berikutnya?


Yuk baca juga artikel saya yang lain mengenai review tempat-tempat di Jakarta :

1. Belanja buku bekas murah Pasar Senen

2. Review belanja di Glodok-Tanah Abang-Mangga Dua

3. Tempat-tempat belanja di Jakarta

4. Tips jalan-jalan ke Jakarta Fair

5. Belanja Kain di Cipadu, Cipadu Trade Center

Advertisements

Liku-liku Perkenalan dengan Nihon Go..

Karena baru sepi job, daripada cuman bengong, mengantuk, dan sia-sia, mendingan saya nge-blog aja.. ^_^

Oke, what to write now? *mikir*

Begini, saya sedang galau.. Seminggu lagi saya akan menghadapi ujian JLPT, tepatnya tanggal 2 Desember 2012.. Apa itu JLPT? JLPT adalah kependekan dari Japanese Language Proficiency Test, semacam TOEFL untuk Bahasa Jepang, gitu..

Sebenarnya saya telah mengambil les Bahasa Jepang selama dua bulan.. Namun les tersebut telah cukup lama berakhir, yaitu Bulan Juli 2012.. Karena alhamdulillah saya langsung dapat pekerjaan setelah itu, persiapan JLPT pun sangat minim dilakukan seusai les..

huruf kanji

huruf kanji

Namun, yang membuat saya lebih galau lagi adalah, karena saya salah ambil level! OMG! JLPT versi lama hanya terdiri dari 4 level tes yaitu N1, N2, N3, dan N4.. Semakin kecil angkanya semakin sulit.. Nah, mulai tahun 2011 JLPT menjadi 5 level, yaitu N5, N4, N3, N2, N1.. Kami masih gamang, level mana akan selevel dengan mana(?)..

Ceritanya kami (saya dan 2 orang teman saya) adalah sekumpulan orang-orang yang ketinggalan acara daftar-mendaftar JLPT tersebut.. Anak-anak LBA yang lain telah lebih dulu mendaftar dan mengambil level N5..

Karena hari pendaftaran sudah menjelang akhir dan daftarnya di jogja, sementara pekerjaan saya tidak bisa ditinggal dan daftar harus pada saat hari kerja, jadilah teman kami yang di jogja menjadi sasaran untuk dimintai tolong mendaftarkan kami (2 orang) yang di Solo..

Urusan isi mengisi formulir jangan tanya, kami hanya mengandalkan messenger pada salah satu jejaring sosial untuk berkomunikasi.. Pada saat mengisi level yang akan diambil, kami sempat bimbang dan berdebat panjang.. Level N4 dan N5 biayanya sama (kalau tidak salah 100.000,-) dan berbekal pengetahuan minim kami yang mengira bahwa jarak kedua level tersebut tidak jauh, plus modal nekad, jeng jeng! jadilah kami bertiga sepakat mengambil N4.. Esoknya formulir langsung dikumpul (hari terakhir pendaftaran).. Bodohnya ya, kami lupa bahwa pada era ini telah ada dukun sakti yang disebut Mbah Google dimana kami bisa bertanya apa saja.. Dudul, memang!

Hari berganti dan kami lupa kejadian itu.. Bahkan kami lupa kapan tes dilaksanakan..

Ah, masih Desember ini kok..

Selalu begitu yang terucap.. Hingga tak terasa, tesnya minggu depan! OMG! Junbishinakatta yo!

Selain belum mempersiapkan apa-apa, kami bertambah panik ketika pada suatu hari yang beruntung saya libur kerja dan berkunjung ke LBA.. Sensei kami pun shocked mengetahui bahwa kami mengambil N4.. Katanya, itu selevel dengan N3 versi lama.. Saya diberi contoh soalnya.. Dan jeng jeng! membaca saja saya sulit, apalagi mengerjakan! *unknown kanji detected*

Yahhh..

Apapun itu, hal daftar-mendaftar telah usai.. Tak bisa diputar ulang dan tak usah disesali.. Kini, hanya tinggal memaksimalkan ikhtiar saja.. Saya akan kejar sebisa yang saya mampu! Belajar kilat.. Agar nantinya bisa ikhlas bertawakal..

*mohon doanya*

Hmmm.. Mengingat-ingat waktu les dulu.. Teman saya yang awal mulanya mencetuskan ide mengambil N4 ini, bagi saya agak unik..

Bagaimana tidak? Saat yang lain baru mengerjakan shukudai (PR, red.) pada hari kedua les, dia datang ke kelas sudah mengucapkan okurette sumimasen (baca: maaf, terlambat) dan kami yang lain hanya bengong gak ngerti..

Saat kami pinjam bolpoin hanya dengan heh, bolpen donk dia dengan terbata-bata membuat kalimat borupen o kashite kudasai.. Begitu pun saat yang lain hanya berteriak woooi gelap dia dengan clingnya berkata denki o sukete kudasai..

Dan saat yang lain pulang hanya dengan mengucap salam, dia mengatakan itterasshai yang bahkan sampai sekarang saya belum hafal dijawab apa..

Dia itu.. Orang yang membuat kami cepat familiar dengan bahasa Jepang, bukan hanya membacanya melainkan langsung mempraktekkan lengkap dengan intonasi nada khas Jepang..

Dan kini, dia membuat kami terpaksa belajar lebih jauh lagi untuk N4..

Namun sayangnya, itu tadi.. Dia adalah orang yang hampir selalu terlambat masuk kelas, paling sering tidak masuk, hampir selalu lupa mengerjakan shukudai serta paling sering mencatat dengan romaji.. Heheheheh..

Liku-liku kisah saya berkenalan dengan nihon go.. For something new, it’s always hard at first..

Itsumo ganbarimasu yo!

Salah Estimasi..

Hidup ini penuh dengan ketidakpastian.. Semuanya tahu itu.. Kecuali satu: kita semua pasti akan mati.. Oke, cukup tausiyahnya.. Lanjut ke topik inti..

Berhubung gak ada yang pasti dalam hidup ini, kita sebagai manusia yang telah berevolusi sedemikian rupa hingga mencapai tingkat kecerdasan seperti sekarang ini, tentunya melakukan berbagai upaya, pendekatan-pendekatan, atau ramalan-ramalan, agar hidup yang tidak pasti ini menjadi sedikit terlihat lebih pasti.. (bingung ya? sama donk..)

Salah satu pendekatan tersebut adalah dengan mengira-ngira atau menebak-nebak, atau bahasa akademisnya melakukan estimasi.. Berapa biaya yang harus dikeluarkan ketika hendak membangun rumah dengan luas sekian dan rancangan demikian, tentu tak ada yang tahu sebelum rumah itu berdiri, selesai dibangun.. Namun, canggihnya manusia, kita bisa melakukan estimasi.. Dengan survey harga dikolaborasikan dengan perhitungan matematis sana-sini, jadilah angka ajaib itu: nominal biaya pembangunan rumah sudah berhasil ada di tangan sebelum rumah itu dibangun..

Namanya juga manusia ya, seberapapun hebatnya tetap saja ada lupa dan keliru.. Wajar.. Begitu pun dalam melakukan estimasi itu tadi.. Estimasi yang kita buat bisa saja salah, melenceng jauh dari kenyataan yang kadang mengejutkan..

Contohnya saja (selain salah dalam memperkirakan biaya) dalam berkendaraan di jalan raya.. Kita bisa saja salah mengestimasi pada sudut berapa kita harus membelokkan setir sehingga bemper kita menyerempet pembatas jalan (curhat), atau salah estimasi soal apa yang kira-kira keluar pada ujian mata kuliah A (curhat banget), atau pun salah estimasi berapa harga makanan yang sudah kita makan di warung yang baru pertama kali kita kunjungi (super curhat)..

Meskipun terlihat bodoh, semua itu masih terasa wajar.. Namun saya punya pengalaman salah estimasi yang terlihat konyol.. Jadi ceritanya, saat itu saya baru pulang dari Jogja, menyetir mobil.. Mungkin karena lelah atau pusing atau apa, waktu itu saya berniat masuk kamar (pintu kamar dalam keadaan terbuka).. Waktu berjalan dari arah ruang tamu ke kamar, saat itu saya sembari garuk-garuk kepala.. Begitu saya berbelok hendak masuk kamar..

Jedug!!

Siku saya terbentur kusen pintu kamar.. Sakitnya T_T.. Saya salah estimasi cukup atau tidaknya saya melewati pintu sambil menggaruk kepala dengan mulus.. Padahal kusen pintunya aja diam, bukan benda yang bergerak..  -_-

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini adalah:
1. Jangan lewati pintu sambil garuk-garuk kepala
2. Libatkan perhitungan matematis dalam setiap estimasi agar variansinya tidak banyak
3. Ada lagi?

*maaf kalau artikel kali ini tidak penting banget, just sharing*

Jagong..

Post kali ini akan dibuka dengan pertanyaan : “ini lagi musim kawin yak?” (mau donk ikutaaan… hwehehehe.. ^^v)

Hari ini, keluarga kami mendapat undangan pernikahan salah seorang kerabat lama dari Ayah, yang kebetulan juga merupakan teman sekantor ayah (baik Ayah dan Ibu si pengantin perempuan).. Jadi, ayahnya si pengantin perempuan itu adalah adik dari istrinya kakak sepupu ayah saya (nah lho, gimana ya itu? hihihi)..

Satu lagi, kebetulan dulu ayah saya dan kakak sepupunya tinggal di satu kampung, jadi para tamu undangan tadi sebagian besar sudah kenal dengan baik (yang kenal ayah dan ibu saya lho, saya mah jangan ditanya, hehehe).. Hubungan antara ayah & saudara-saudara kandungnya dengan ayah si mempelai perempuan cukup baik, sampai-sampai kami kenal saudara-saudara si ayah tersebut..

Singkat cerita, pesta diadakan di salah satu hotel di Jalan Slamet Riyadi Solo.. Awalnya berjalan biasa saja.. Begitu masuk, disambut among tamu yang merupakan saudara-saudara kandung ayah si mempelai perempuan yang nampaknya sudah lama sekali tidak bertemu dengan kami.. Ibu saya sempat pangling (bahasa Indonesianya apa ya? O_o”) tapi ayah saya tidak, dst.. Kemudian sisanya kami duduk & makan sambil menikmati musik, selayaknya jagong di kawinan biasanya..

Nah, di akhir acara, ketika perta sudah hampir selesai dan para tamu sudah mulai pulang satu-satu, kami (ayah, ibu, saya, Bude, Bulik, Paklik) menuju ruang utama untuk para keluarga dan besan (sebelumnya, kami duduk di tenda luar).. Jadilah, kami seperti reuni keluarga.. Saya mah cuman ikut salaman saja sambil senyum-senyum sendiri(?) karena saya tidak begitu kenal dengan mereka, justru mereka yang mengenali saya (hwahahahaha sekali-sekali narsis dikit di blog sendiri boleh donk).. Nah ini komentar mereka :

Lho, ini anaknya Pak Batin to?

Duh, anakmu udah perawan ya, nggak kerasa..

Eh, ini Novi ya? Yang dulu suka makan es itu??

Kamu tu dari dulu kog gak gemuk-gemuk sih Vi??

Weh? Iya to? Saya suka makan es? Berarti ini udah bakat dari kecil ya.. Hahahaha.. Saya sama sekali tidak ingat peristiwa itu.. Tapi begitu saya konfirmasi pada Ibuk, kata Ibuk memang iya, dulu waktu saya kecil suka makan es, bukan es buah atau es krim atau apa melainkan es batu pure tanpa ditambah apa-apa, dikunyah-kunyah sampai bunyi “krauk krauk”, dan digenggam dengan erat tanpa merasa dingin.. Hmmm.. Ini salah satu kebiasaan aneh saya.. -_-

Setelah itu, dan yang merupakan hal inti yang ingin saya sampaikan di post ini, adalah perkataan teman-teman ayah & saudara-saudara jauh tersebut, yaitu :

Wah, setelah ini giliran Pak Batin yang mantu (punya menantu, red) nih..

Lha kamu kapan nyusul Mbak Luki (mempelai perempuan, red), Vi??

Kapan nih? Nanti saya jangan lupa diundang ya Mbak (berbicara dengan Ibu saya, red)..

Hooo… Kadang saya seperti baru tersadar : ternyata saya sudah besar ya..  -_- padahal baru saja diingatkan tentang masa kecil saya yang suka makan es, makan pines (paku payung, red), dll.. Lha kog pertanyaan selanjutnya nanyain kapan saya nikah.. =_=

Memang sih, notabene memang sudah gilirannya saya.. Seperti jika ada dua perempuan bersaudara dan kakaknya sudah menikah, pasti pertanyaan selanjutnya akan menjurus pada kapan rencana si adik menyusul kakanya (nikah, red) secara otomatis.. Si mempelai perempuan umurnya memang tidak terpaut jauh dengan saya.. Kalau tidak salah terpaut 3 tahun.. Yaaa,, wajar jadinya kalau saya ditanyain kapan nyusul..

Jawaban saya???

=*didoain saja ya Pak, Bu, Mbah, Mbak, Mas, dan semuanya.. Semoga secepatnya bisa nyusul (wuzz??)*=

Yup, Amiiin.. Amiiin.. ^^v

Hari Pertama vs Hari Terakhir (di Cikarang)

PERJALANAN BERANGKAT

Berangkat dari Solo sekitar jam 7 pagi pada hari Sabtu 10 Juli 2010, dengan gedubrakan (kesiangan siy..), janjian ketemu sama temen di depan Diamond (kita berangkat naik mobilnya temenku, red)..

Dilepas dengan peluk, cium, dan berlinang air mata (yang ini gak lebay, tapi beneran, hee) serta termos yang ketinggalan(?), kaos kaki yang kelupaan gak dibawa(??), minyak kayu putih yg tidak sempat terlintas di pikiran(???), kita berangkat menuju rumah temen untuk ngambil koper dia (dia berangkat belakangan karena ada acara keluarga)..

Perjalanan pun dilanjutkan menuju posisi teman yang lain yaitu di Wates.. Sepanjang jalan yang bisa dibilang masih relatif pagi (sejukkk) dan jalan menuju Wates yang belum pernah aku lewati (I Love Walking On The New Street I’ve Never Seen Before) membuat suasana hati jadi makin sedih teringat keluarga di rumah (gubrak!!)..

Singkat cerita, sampailah kami di Wates, menjemput teman kami tsb, lalu melanjutkan perjalanan menuju Jakarta lewat jalur Selatan yaitu : Wates, Kutoarjo, Purworejo, Kebumen, Purwokerto, Cilacap, Cirebon, dan kawan kawan yg lain.. (maap kalo salah atau terbalik balik, hihihihi)

di danau bulan

Sempet nggantiin temenku nyetir melintasi kebumen, tapi cuman 3 jam doank.. Setelah itu sibuk poto ini poto itu, ngeliatin orang mandi (hehe), dll.. Oiya, sempet juga berhenti makan siang di sebuah masjid (jangan tanya di daerah mana masjid itu -_-“) dari rumah tadi dibawain Ibu makanan kesukaanku : jamur goreng & sambel bawang yg mantabz pedasnyaaaa..!!!

Lanjut jalan, singkatnya, aku nggantiin temenku nyetir lagi saat mau masuk tol kanci.. Sempet drifting di pintu masuk tol (hehehe, dasar!!), lalu suasana malam yg sepi, gelap, dan dingin, serta jalan yg lurus tanpa hambatan (ya iyalah namanya juga di tol) membuatku nyetir sambil melayang.. Waduh B.A.H.A.Y.A.!.!.! Jangan nyetir sambil ngantuk!! Tapi apa boleh buat, kan udah terjadi.. Hehe..

Alhamdulillah keluar dari tol masih dalam keadaan utuh.. Tapi ternyata cobaan belum berakhir!! Ketemu jalan baru yang masih sepi (mungkin belum pada tau ya itu jalan mengarah kemana.. Tapi jangan tanya itu jalan di daerah mana -_-“) cuman dilewati beberapa mobil dan truk doank.. Berasa seperti jalan tol, hanya lebih sempit, dan kentuk kembali datang.. (-0-)”

Jakarta in the nite

Alhamdulillah juga, jalan itu berhasil dilewati.. Eeeh, ketemu sama jalan yg gelappppppp sampai-sampai trotoar pembatas jalan pun gak keliatan.. Pake lampu jauh pun, masih harus jalan pelan.. Musuhnya truk pula.. (saat itu mungkin jam 9an malam, dan aku gak tau posisi saat itu sedang berada dimana -_-“)

Oke, karena semakin menyeramkan dan jalanku pun semakin lambat, maka digantiin lagi sama temenku.. Aku pun tertidur dgn pulas hingga sampai Jakarta, tepatnya di Cipinang (rumah sodara temenku)..

HARI PERTAMA

Sampai kos pada hari Minggu sore sekitar jam 4.. Kamar belum siap, tapi untungnya pengurus rumah sedang berada di tempat.. Jadi bisa langsung disiapkan.. Sip, aku pun mandi sambil nunggu kamar siap.. Gak ada feeling jelek saat itu..

Kosan Kami (cewe)

Malam harinya, makan malam apa ya?? Okelah, sambil jalan-jalan kita cari makan keluar.. Dapet tempat makan yg konsepnya seperti aneka jajanan kaki lima yang berada di satu tempat.. Kita pun pilih NASI GORENG GILA.. Karena belum tau harga, maka aku sengaja bawa aqua botol dari rumah, sementara dua orang temen pesen es teh.. Waktu pesanan datang, wuiiiiih banyak beneeeerrrr (namanya juga nasi goreng GILA!!)..

Untuk menghabiskan nasi goreng tersebut butuh perjuangan bagiku.. Dan sembari makan, kami menebak nebak harga.. Yaaa, perkiraan nasi goreng harganya 8-12 ribu laaah, tempatnya kaki lima ini, bukan seperti rumah makan.. Begitu mau bayar, GUBRAK!!! harga nasi goreng sepiring 16ribu!!

Ini yang pertama sekaligus terakhir kita makan sini ya? Oke

Yup,, hari-hari berikutnya memang kita tidak pernah menjambangi tempat makan itu lagi.. (Hehehehe.. ^^v) Balik ke kos, mempersiapkan tenaga untuk hari pertama KP besok.. Begitu buka kamar……

Waaaaaaaa!!!!!!! Ada kecoa!!!!

Untung dua anak cowo itu masih di sekitaran situ, langsung deh dgn sigap mengambil (dalam artian sebenarnya!! euiyyyh?!!!) makhluk itu dan membuangnya keluar kos.. Makasih Ting.. :)

Malamnya, waktu ke dapur.. Waaaa!!!! Banyak kecoa mondar mandir di sana ternyata!! Langsung deh balik ke kamar dan membuat pertahanan (baca : menorehkan kapur di sekitar pintu kamar)..

Malam pertama dilalui dengan aman dan nyaman tanpa tanda-tanda kemunculan kecoa di kamar.. Hari-hari berikutnya, dengan bantuan temanku yang datang belakangan itu, kapur kita torehkan hampir ke seluruh bagian kamar, dapur, pintu masuk kos, dan sekitar kamar mandi.. Walhasil, hari pertama setelah kapur kita torehkan, sebanyak 23 kecoa mati.. Hari berikutnya 5, dan 5 lagi, dan berangsur-angsur tidak ada lagi (karena kapurnya sudah habis).. Tapi kemudian banyak kecoa yang muncul di kamar kita (waduhhh, balas dendam apa ya itu kecoa.. -_-“)..

HARI TERAKHIR

Didahului dengan acara mutung mutungan, karena salah satu ngebet banget dolan sementara tiga yg lain pengen secepatnya pulang.. AKhirnya, kita mengiyakan untuk dolan dulu bolehlah..

Kontes Bunga Goyang di Jendela Kamar Kos

Tapiiiiii tak ada yg mengira keesokan harinya hujan seharian.. Bangun tidur aja jam 9.. Sarapan jam 11 (karena ada kecoa di dapur) dengan makan sereal (ya ampuuun).. Kita malah asyik mengamati perkembangan tanaman-tanaman kita (yang kalo kena cahaya matahari bisa goyang-goyang ituuuu) berasa seperti mengamati perkembangan si buah hati (doenk???)..

Luntang-luntung seharian di kos, gak ada kerjaan.. Siang hari, masak sarden, itung-itung sekalian ngabisin bekal kita.. Horeeeee,,, makan enaaaaaak!!! (hari-hari sebelumnya, hampir selalu menu kami adalah : nasi goreng — baca edisi sebelumnya)..

Selepas makan siang, berempat glundang-glundung merenungi nasib di kamar kami.. Bener-bener desperate gak tau mau ngapain lagi.. Akhirnya kami (para cewe) pamer hasil berbelanja kami 2 hari ini (di blok M dan di pasar central) tak lupa pamer tanaman kami yang dari tadi goyangnya gak semangat (mendung siyy)..

Gelas Biasa vs Gelas Jumbo Rp 12.000,-

Akhirnya, salah satu dari dua cowo tersebut pengen beli oleh-oleh juga : GELAS JUMBO!! Ahahahahaha.. Jadilah sore itu kami berempat ke pasar Central.. Beli gelas, nukerin tanaman yang gak bisa goyang, beli baju titipan temen, dll..

Lanjut belanja keperluan pulang nanti, yaitu minuman kopi, minuman suplemen, dll.. Soalnya kami berencana bertolak dari kos ja 1 pagi.. Weeewwww..

Setelah itu, meskipun langit masih mendung, kami bertekad untuk : FOTO-FOTO DI DANAU BULAN!!! Itu adalah danau buatan di belakang marketing office perumahan.. Sejak pertama kami cari kos, kami sudah penasaran pengen foto-foto di sana tapi belun kesampaian (hehe dasar!)..

Berempat di danau bulan..

Setelah puas foto-foto, kami pulang ke kos.. Cepat-cepat menyiapkan makan malam, sambil setrika baju-baju yang udah dicuci tapi blm kering.. (fasilitas kos termasuk cuci & setrika baju)

Makan bareng di kos untuk yg terakhir kalinyaaaaaaa!!!! Ya ampun, aku sempet terharu rasanya pengen nangis (wew lebay).. Setelah makan, lanjut mandi, sholat, packing, dan buru-buru tidur (khususnya aku, karena aku gantiin nyetir temenku)..

PERJALANAN PULANG

Bangun jam 12, kucek-kucek mata, ganti baju, lipet selimut, beres2 koper, bangunin temen sekamarku, minta dia ambil minuman di kulkas (karena kalau malam kecoanya patroli), pamitan sama Mbak kos (yang juga kakak tingkat kami di Teknik Industri UNS), kemudian masuk-masukin barang ke mobil, dan langsung pulaaaang.. Bubye, kosan kami yang meskipun banyak kecoa tapi kami kerasan di sana.. :)

Danau Bulan

Perjalanan malam hari, aku tidak banyak terlibat.. Dua cowo di depan, nyetir dan navigator.. Sementara aku disuruh tidur sama mereka, soalnya pagi hari musti gantiin nyetir.. Sementara temenku yang satu lagi denger2 musik (yang marai aku susah tidur, hahaha)..

Bangun-bangun udah berhenti di pom bensin, sholat Subuh.. Setelah itu rehat sebentar, karena konon menurut para cowo, jalanan gelapppp bangetttt sampai-sampai tadi sempat nabrak pembatas jalan karena gak keliatan.. (aku mah tidur dan gak kerasa tuh, hehehe)

Setelah rada terang, lanjut lagi.. Kira-kira sampai jam setengah 6, berhenti di pom bensin lagi karena semuanya kebelet, hwehe.. Kruyuk kruyuk,, perut udah minta diisi.. Tara!! Mengeluarkan mie cepat saji yang sengaja di beli bersama minuman suplemen hari sebelumnya.. Air panas didapat dari termos yang dibawa oleh salah satu teman cowo..

perjalanan ini..Sudah kenyang, jalan lagi dah.. Masih temanku cowo yang di depan, memasuki tol kanci yang ternyata kalau pagi hari suasana dan pemandangannya bagus banget.. Mulai deh poto ini poto itu..

Keluar dari pintu tol, kali ini aku yang di depan, bersama dengan navigatorku (yang kemudian malah asyik poto-poto -__-“) teman cewe.. Dua cowo pun tidur di belakang.. Kira-kira 5 jam aku di depan.. Dari pintu tol kanci sampai mau masuk Kebumen.. Dan tanganku pun pegel sudah.. Digantiin teman cowo yang satunya.. Kira-kira waktu itu jam 1..

Cuman setengah jam ternyata.. Setelah berhenti sholat di pom bensin, lantas digantiin teman cowo yang pertama kali nyetir tadi.. Udah semakin dekat dengan tujuan.. Hati pun senang(??)

Kita sampai Wates dan ditraktir makan ayam bakar (aku : ayam goreng kremes) jam setengah 3-an.. Setelah makan yang (lagi-lagi) penuh dengan perjuangan (bayangkan! kena angin selama perjalanan kemudian diisi nasi, angin dalam perut pun meronta-ronta ingin keluar -_-“) akhirnya kami numpang istirahat di rumah teman di Wates.. Makanan pun datang lagi!!! Oh My God! Gak sanggup untuk memandangnya.. Aku pun mondar-mandir karena ada yang mau keluar (ups?!)..

Melanjutkan perjalanan jam setengah 4.. Setelah beberapa lama, mampir kebelet di pom bensin, dan setelah itu aku gantiin nyetir lagi.. Lewat jalan Baki menuju ke rumahku.. Cukup menyeramkan : jalan yg sempit, gelap, lewatnya pas maghrib, banyak motor dan truk (maklum, jalur alternatif)..

Sampai rumahku sekitar  jam setengah 7.. Dan, selesai sudah petualangan kami berempat.. Entah kapan bisa berpetualang lagi.. Yang jelas, semua itu seru, banyak kenangan.. :D

Menggembel di Jakarta..

Menggembel di Jakarta

Sebelumnya perlu untuk diceritakan (halah,, kayak orang penting aja) bahwa terhitung tanggal 12 Juli 2010 kemarin, saya memulai kerja praktek (KP) di Cikarang, di Kawasan Industri Hyundai, tepatnya di PT. Samudra Montaz..

Saya melakukan Kerja Praktek bersama 4 orang teman sekampus saya (2 cowo dan 2 cewe), yang kebetulan juga satu laboratorium (baca eisi sebelumnya, hehe).. Kami di sana kos, dan kos kami sebelahan..

Obrolan rutin antar kos :

Nanti malam makan apa? Masak apa makan di luar?

Kalian masak apa? Aku masih punya telur nih..

Masak nasi goreng telur..

Yaudah ntar kalo udah mateng nasinya, sms ya.. Ntar kita ke sebelah..

Waaa,, ada kecoa di dapur! Aku gak berani masak niy,, gimana donk?? Kita terancam kelaparan!!!

Bisa tolong ke kos sekarang gak?? DARURAT!! Ada kecoa masuk kamar!! T_T

Hahahaha gak penting banget yak?? Ya begitulah.. Meski tak selalu mulus, tapi pada akhirnya semua dapat terselesaikan bersama-sama.. (hehe, mesti bingung ya?)

Nah,, Jumat tanggal 23 Juli 2010, kami dapat ‘undangan’ berupa jarkom (jaringan komunikasi, red) dari temen-temen sekampus yang saat itu juga sedang melaksanakan Kerja Praktek di Jakarta.. Tiga orang di Bank Indonesia, dan 3 orang lainnya (kalau tidak salah) di Mustika Ratu..

Kami bermaksud plesir ke Kota Tua bersama-sama esoknya (Sabtu).. Okelah! Mumpung di Cikarang dan sedang libur kerja, maka kami iyakan..

Berangkat kesiangan, jam 8 dari kos.. Jalan kaki menuju terminal bis eksekutif (kira-kira 2 km lebih tuh, sampai berasa pengen mandi lagi), kami berangkat jam 9.30an.. Sementara temen-temen udah ada yg sms dari jam 9 tadi menanyakan keberadaan kami.. Hehe..

Foto di Kota Tua dengan Mr & Mrs I dunno who.. Hehe..

Setelah perjalanan cukup panjang, kami sampai Blok M sekitar jam 11.30an.. Untuk menuju Kota Tua, masih harus naik bus transjakarta ke arah stasiun kota.. Clingak clinguk, kemana harus pergi untuk menjambangi busway.. Akhirnya kami jalan kaki aja sekenanya.. Masuk ke Tunel 1 menuju Terminal busway, beli tiket di Jalur 1 dan meluncurlah kita menuju Kota Tua, lebih kurang 30 menit.. (bertemu 2 orang teman yg lain di busway, dan langsung heboh sendiri -_-“)

Jalan-Jalan di Kota Tua

Sampai Kota Tua, masuk museum Fatahillah, jepret sana jepret sini, jajan ini jajan itu (hehe), akhirnya kami pindah tempat ke Mall Taman Anggrek yang entah di Jakarta mana itu (??).. Untuk mencapai Mal, dari Kota Tua masih harus menumpang busway dua kali oper (yang lagi-lagi saya tidak tau oper ke arah mana?)..

Di sana ‘cuman’ numpang makan, sholat, potopoto.. Gak krasa udah sore.. Sebagian dari kami memutuskan untuk lanjut ke Monumen Nasional (Monas).. Namun, berhubung kami yang dari Cikarang belum tau ntar pulang bus yang sama berhenti dimana & jam berapa, maka kami memutuskan untuk pulang saja..

Dengan busway (lagi) kami mencapai Blok M saat adzan Maghrib.. Keluar dari Tunel 1 (lagi), dan dari situ kami menyadari betapa bodohnya kami karena ternyata di depan kami ada Tunel 2 yang notabene jauh lebih dekat dengan tempat pemberhentian bus kami tadi pagi.. -_-”

Sampai kos jam 8an, dengan kaki yg rasanya minta dibuntel koyo cabe(???), kami langsung tidur tanpa makan dan tanpa mandi (hehe, jorok ah.. tapi udah terjadi, ya sudah..)

Esoknya, kami berencana menggembel lagi ke Jakarta.. Namun hari Minggu ini hanya 2 orang cewe saja yg pergi (tujuannya belanja sih, hehe).. Tapi sebenarnya tujuan utama adalah mencari kenang0kenangan untuk diberikan pada Manajer Representative Samontaz yang telah membimbing kami selama KP.. Okelah.. Bangun lebih kesiangan dari hari sebelumnya (dasar!!) kami bertolak dari Cikarang jam 10an..

Berbeda dengan hari kemarin, kali ini dari depan perumahan menuju terminal bus eksekutif kami menaiki angkot, karena kaki kami merengek manja gak mau jalan jauh-jauh dulu(??)

Bus Eksekutif Lippo Cikarang-Blok M Jakarta Rp 13.000,-

Masuk bus eksekutif, duduk di kursi paling depan (karena pengen poto-poto, dan sepanjang perjalanan kami tak henti-hentinya ceriwis, nggosip, cekikikan, sementara penumpang yg lain sudah ngorok.. hehe lebay)

Di penghujung perjalanan kami bertanya pada Mas Mas kernet :

Mas Mas, bus eksekutif yang dari Blok M ke Cikarang ntar malem yang terakhir jam berapa ya Mas??

Oh, sampai jam 8 Mbak

Beneran Mas??

Iya

Bener lho Mas??? Ntar kita ketinggalan bus gak bisa balik Cikarang nihh!!

Iya Mbak, beneran.. (ya ampun Mbaknya ini sumpah dehh)

Seperti hari kemarin, sampai di Blok M, dan kami hendak masuk dulu.. Tapi kami bingung dimana pintu masuknya,,, hahahahhaha.. Setelah jalan agak jauh menyusuri pinggiran jalur busway, akhirnya kami menemui jalan buntu.. Yasudah niat dialihkan menuju terminal busway untuk pergi ke Tanah Abang..

Eeeeh,, ternyata malah ketemu pintunya Blok M ada di Terminal busway.. Hahahaha,, dengan mata berbinar-binar kami masuk Blok M..

Huah!!! Dompet langsung terkuras karena mata ijo melihat harga terpampang serba 15ribuan!! (dasar cewe -_-“) Waaaa bisa-bisa batal cari kenang-kenangan nih! Oke, kita ganti lokasi segera.. (plus udah diingetin pacar : ntar duitmu abis gak bisa pulang trus nggembel di Jakarta lho!)

Hehe..

Lokasi berikut adalah : Tanah Abang.. Dueng!! Ternyata sama aja.. -_-” tapi karena udah kejadian ya apa boleh buat, diceritakan aja.. Hehe..

Gak terpikir (karena emang gak tau) kudu naik apa untuk sampai Tanah Abang.. Yang terlintas adalah, beli tiket busway dulu, urusan nyasar kemana nantinya, itu urusan kemarin (hahaha ya iyalah).. Akhirnya tanya sama Mas-Mas yg jaga tiket busway.. Dia bilang gak bisa langsung ke Tanah Abang.. Ntar turun di Sarinah trus naik Kopaja no.19.. Sip! Segera laksanakaaaan……..

Senja di Tengah Keramaian Ibu Kota

Singkat cerita, udah nyampai Tanah Abang.. Buseeeeet!!! Penuh lautan manusia! Mana di luar macet banget pula! Dengan ketakutan seperti anak ilang, kami jalan2 aja.. Bingung juga nawar harganya, kalo gak pinter jatuhnya mahal (padahal kami masih pemula di bidang tawar menawar)..

Oke, tujuan setelah itu adalah ketemuan sama temen SMA yg sekarang kuliah di Jakarta, lokasi tepatnya ada di Monas.. Tapi sebelum itu, harus ke Blok M dulu buat pesen mug buat kenang-kenangan (hehehe ternyata tetep belum dibeli, padahal waktu itu udah jam 4 sore).. Setelah sms-sms, ada 2 kabar buruk :

1. Pesen mug-nya harus seminggu sebelumnya! (padahal mau dikasih dalam hitungan hari)

2. Temenku gak bisa dateng ke Monas!

Apa boleh buat, udah terlanjur ke Jakarta.. Kita turun dari tangga terminal busway (ketemu cowo cakep banget mirip Nicholas Saputra ^o^) dan tanpa pikir panjang masuk ke Sarinah!

Setelah muterin semua lantai, dan hampir pingsan karena kelaparan dan dehidrasi, kami keluar dari Sarinah dengan membawa sebuah mug dengan ornamen wayang seharga 45.000 dan masing-masing dua kotak teh serta keripik kentang untuk makan siang.. (menu yg aneh? tapi kan itu udah terlanjur terjadi, hehe)

Foto sama Bule.. ^^v

Berdasarkan pengalaman hari pertama, kami berpikir bahwa untuk menuju Monas, tidak terlalu jauh dari Sarinah.. Sayang kalo naik busway (maklum, duit udah tipis, bisa2 nggembel beneran di Jakarta ntar) lagian ntar gak bisa potopoto.. Tanya deh ma satpam.. Kata si Pak Satpam itu, setelah Sarinah masih ada halte BI sebelum sampai halte Monas..

Oke! Kita jalan kaki aja!

Dengan semangat yg memelas karena capek, dehidrasi, dan kelaparan, kami berjalan kaki sambil memoto segala yg kami temui dalam perjalanan itu.. Semangat jadi besar melihat ada air mancur (??) dan selalu begitu.. Hingga akhirnya gak terlalu lama dari Sarinah, kami lihat di kanan jalan ada Monas!

Pak Polisi

Waaaa….. Langsung berhamburan(??) ke sana deh.. Poto ini poto itu.. Poto Pak Polisi, poto Abang Cendol.. (ya ampun ternyata emang bener-bener kurang kerjaan)

Setelah puas poto-poto plus poto sama Bule asal Belanda (hehe) akhirnya kita balik ke Blok M dengan (lagi-lagi) busway.. Sampai Blok M, waktu udah menunjukkan jam 18.30 dan kami bukannya langsung menuju pemberhentian bus eksekutif, tapi masuk Blok M lagi dan B.E.L.A.N.J.A!!! Oh My God.. Cewe emang paling susah kalo liat harga murah ya?! Biar pun harganya 15ribuan, tapi nafsu pengen belanja itu bisa membuat kita pulang dengan membawa 10 potong baju yang kalau ditotal = 150.000!! -__-”

Abang Tukang Cendol

Setelah duit bener-bener abis (tragis sekali endingnya T_T) kami menaiki bus eksekutif yang saat itu emang sedang mangkal.. Duduk di belakang kursi kernet, seperti kegemaran kami.. Ketika bus akan melaju, tiba-tiba : Ups!! Itu kan kernet yg tadi pagi!! Lho, itu juga sopir yg tadi pagi! Dan Mas-Mas kernet pun tersenyum pada kita karena sepertinya kita adalah orang yang tingkah lakunya mudah diingat(??)

Ya ampuuun.. Kami semakin kelihatan “aslinya”.. Sepanjang jalan meskipun ngakunya udah capek dan mau tidur di bus, tapi ternyata tetep aja cerewet, ikutan nyambung pembicaraan penumpang lainnya dengan pak sopir, dan nggosipin si Mas kernet (dan Masnya denger, lalu dia ketawa.. -_-“).. Mana waktu turun saya pake acara jatoh pula.. Komplit dah tu diketawain si Mas kernet.. Untung kita gak menetap di sana, bisa2 dihapalin tu Mas kernet kalo tiap minggu kita ke Jakarta, repot kan ntar(???)..

Nah itu adalah sepenggal (yakin tu sepenggal???) pengalaman menggembel di Jakarta dan kerja praktek di Cikarang.. Meskipun, asli, capeeeeek banget di kaki (dan di dompet = capek dehhh) tapi hati senang.. :D

Moga-moga lain kali bisa menggembel di kota lain.. (dan dompet saya pun merasa terancam)