Puskeswan Ragunan

Sebelum pindahan kemarin, saya sempat ke Puskeswan Jakarta yang terletak di Jalan Harsono RM Ragunan Jakarta Selatan. 


Ceritanya, tetangga saya nemu kucing kecil usia 2 bulan di depan Alfamidi. Oleh tetangga, kucing tersebut dinamai Alfa, kemudian diberikan ke saya. Saya kasih makan dan minum susu, malamnya saya biarkan tidur di dalam rumah bersama keenam ekor anak-anak kucing saya yang lain.

Paginya, saya cek bak pasir di belakang yang biasa untuk pipis anak-anak tersebut, ada genangan darah. Saya syok. Langsung cek si Alfa, barangkali ada luka atau apa. Tapi ngga ada, hanya jalannya yang agak pincang di kaki kanan belakang. Sorenya, saya pergoki Alfa sedang pipis di kamar mandi, pipisnya merah seperti darah. Saya panik, takut kenapa-kenapa, keesokan harinya saya bawa ke Puskeswan Ragunan.


Bagi yang belum tau, puskeswan ini memang agak ngga keliatan karena papan nama yang lebih mencolok adalah Dinas Peternakan Ketahanan Pangan dan Kelautan (maaf kalau salah, di street view maps tulisan timbul-nya ada yang lepas). 

Letaknya persis di depan Departemen Pertanian jalan Harsono RM, dekat dengan Rumah Sakit Hewan Jakarta (di belakang Puskeswan). Depan Puskeswan ada halte, ngga tau halte apa namanya. Masuk saja ke gerbang, tanya satpam, nanti ditunjukkan bangunan untuk pemeriksaan hewan (bangunannya cat ungu).


Seperti suasana di RSHJ, Puskeswan juga sejuk dan tenang karena banyak pohon-pohon besar. Kucing-kucing banyak sekali berkeliaran, biasanya yang memeriksakan kucing sengaja bawa catfood untuk kasih makan kucing-kucing di sana. Sebagian besar kucing (terutama yang betina) sudah disteril, gendut tapi ketika dipegang perutnya ngga kerasa ada kantung yang menggantung. Lebih mudahnya, kucing yang disteril diberi tanda di telinganya berupa sedikit sobekan berbentuk huruf V.


Hari itu hanya saya dan satu orang lainnya yang antre. Saya ke sana tepat istirahat siang, karena tadi angkutan saya kesasar sewaktu cari alamat. Jadilah kami menunggu sambil mengobrol dari jam 12 siang sampai jam 13.30. Hari yang lain, antrean lumayan banyak mungkin 5 sampai 7 pasien. Seru. Kami antre sambil ngobrolin kucing. Ada yang piara 17 ekor kucing, ada yang 50 ekor kucing. Saya kalah telak.

Tiba giliran saya masuk, Alfa diperiksa fisiknya sambil saya ceritakan sebagai informasi tambahan asesmen. Ternyata yang dianggap darah itu ambigu. Apakah pipisnya berdarah, atau pipis darah. Apakah darah segar atau darah coklat. Sayangnya kemarin saya tidak ambil foto pipis dan poop-nya Alfa.


Dokter belum bisa mendiagnosis karena info yang saya berikan ambigu. Tapi dugaan yang mungkin adalah dehidrasi, diare, atau karena virus panleu. Deg! Saya langsung cemas kalau ini panleu. Karena sehari semalam kemarin Alfa saya campur dengan anak-anak kucing yang lain. Panleu menular dan berbahaya.

Jadilah sampai rumah Alfa saya pisah di box Rio, kasian sebenernya, meong-meong terus. Tapi demi kebaikan bersama, dan dengan begitu saya lebih mudah memantau Alfa, malamnya Alfa poop mencret. Saya lega karena berarti ini diare seperti kata dokter, bukan panleu. 

Alfa diresepkan obat cacing combantrin cair 0.5 mL diberikan dua minggu sekali. Total biaya berobat Alfa hari itu Rp 50.000,- periksa dan suntik vitamin, obat cacing Rp 18.000,- satu lagi vitamin tapi saya tidak tebus karena di rumah masih ada biolysin sisa Miu dulu.


Info : Puskeswan buka Senin sampai Kamis jam 08.00 sampai 15.00 istirahat siang jam 12.00 sampai 13.30. Jumat Sabtu Minggu setau saya buka, namun lebih pendek jam kerjanya, kalau tidak salah jam 09.00-12.00 tapi untuk informasi selengkapnya silakan telepon dulu. Rabu pelayanan puskeswan tutup, hanya untuk steril gratis.

Oh iya saya sempat tanya-tanya tentang steril kucing di Puskeswan, kapan-kapan saya tulis terpisah saja ya.

TIPS kata dokter, kalau nemu kucing jangan langsung dicampur dengan kucing kita yang sudah ada di rumah. Dikarantina dulu dua sampai tiga hari. Amati kondisinya, cek bagaimana pipis dan poop- nya, perhatikan nafsu makannya, cek kelincahannya. Kalau semua dirasa normal, baru boleh digabung dengan kucing lainnya. Takutnya kucing baru bawa virus, kalau langsung dicampur, semua kucing lainnya akan tertular.


Di puskeswan tidak bisa rawat inap, kecuali kalau operasi yang urgent. Tapi untuk yang butuh rawat inap bisa dirujuk dari puskeswan ke rumah sakit hewan lainnya. Bisa melakukan operasi di puskeswan, daftar harga silakan lihat foto di atas (selain daftar harga pemeriksaan dan operasi, ada juga daftar harga laboratorium cek spesimen).

Di puskeswan banyak kucing (dan anjing, di kandang terpisah). Kebanyakan berasal dari penangkapan yang dilakukan atas laporan warga. Jadi, kalau di lingkungan Anda dirasa terlalu banyak kucing atau anjing liar, silakan lapor saja dari RT ajukan ke kecamatan. Nanti tim dari Dinas ini akan ke lokasi untuk menangkapi kucing dan anjing liar tersebut. Bagi Anda yang mau adopsi kucing dari puskeswan, cukup dengan menyerahkan fotocopy KTP saja untuk warga Jakarta.

​Yuk baca artikel lainnya :

Rumah Sakit Hewan Jakarta 

Pasar Sepatu Taman Puring

Advertisements