Create Your Own Trigger : Set a Goal!

Pagi hari di akhir pekan, saya seringkali ‘olahraga’ berdua dengan si Om.. Iya, pakai tanda kutip.. Hehe.. Tapi jangan berpikir macam-macam dulu loh.. Saya beri tanda kutip karena meskipun niatnya dari rumah untuk berolahraga, lengkap dengan memakai sepatu lari, pada kenyataannya kami hanya jalan santai saja..

Khusus si Om memang niatnya lurus, untuk mengecilkan perutnya yang semakin membuncit.. Bahkan niatnya sudah dari beberapa hari sebelum weekend tiba, seringkali diutarakan tiap pagi ketika pakai seragam dan ternyata sudah kesempitan.. Haha..

Besok Sabtu lari pagi ah..

Namun ketika hari-H tiba, tak jarang ada saja hal yang membuat rencana tersebut batal : hujan, udara yang sangat dingin, kantuk, tugas, TV, tak luput juga alasan satu ini : saya ga mau diajak.. Hihihi..

Iya sih, saya akui saya memang agak malas olahraga.. Merasa tidak terlalu urgent, mengingat ukuran tubuh yang sudah sangat tipis ini, juga mengingat sehari-hari saya sudah cukup beraktivitas fisik saat berbenah rumah atau pun belanja dan memasak, belum ditambah jika tiba-tiba ingin ke depan gang beli gorengan atau lainnya saya pakai sepeda kayuh sementara jalan gang naik-turun.. Jadilah ketika akhir pekan, saya ingin bermalas-malasan di pagi hari, dengan kembali ke balik selimut atau minum kopi sambil pantengin layar hape.. Kapan lagi, Senin hingga Jumat pagi-pagi cukup hectic kan..

Sepedaan sana, sekalian sepedanya dipompa.. Bannya gembos tuh ga pernah dipake, diparkir doank..

Kata saya sambil mata masih setengah merem.. Tapi, si Om selalu punya cara untuk mengiming-imingi saya agar mau diajak olahraga pagi : dibelikan donat! Haha iya, kata orang saya memang masih seperti anak kecil.. Meskipun memang sering terlihat konyol dan sepele, untuk membujuk saya terkadang hanya sesederhana itu..

Demi Donat..

Jadilah akhirnya kami berangkat dari rumah pukul 5.30-an, dan garis finish-nya adalah ujung jalan besar tempat Abang Donat biasa mangkal pagi-pagi.. Sekitar satu kilometer dari rumah.. Dan tahukah Anda?  Sepanjang jalan sambil membayangkan setibanya di rumah menikmati donat kentang pakai gula halus, membuat langkah kaki terasa lebih ringan..
So, set your goal to trigger your self and start walking!

Happy weekend guys!

 

Yuk, baca artikel lainnya :

  1. Pengalaman mencoba sekolah gratis SB1M
  2. Referensi tempat-tempat belanja oke di Jakarta
  3. Perjalanan program hamil
Advertisements

Konflik..

Mengawali tulisan kali ini dengan seutas senyuman.. Dilanjutkan dengan menarik nafas panjang..

Jika dilihat lagi sekilas, tulisan-tulisan saya yang telah lampau, isinya mungkin kebanyakan tulisan galau.. Atau sebaliknya tulisan penyemangat.. Ya, beberapa saya harap sedikit banyak akan punya efek positif yang berguna bagi pembacanya.. Namun sebenarnya, di balik itu semua, tulisan-tulisan tersebut berasal dari hati saya, tentang apa yang terjadi, apa yang saya rasakan..

Jika kita memberikan semangat pada orang lain, atau berteriak “semangat!” biasanya kita yang sebenarnya sedang berusaha menyemangati diri sendiri..

Begitu kata teman saya, yang saya akui ternyata jika dirasa-rasa memang iya.. Karena tulisan-tulisan saya yang berisi penyemangat dan pandangan positif, sebenarnya tertulis saat saya justru sedang merasa down, alias terpuruk..

Terbukti saat ini.. Ketika saya mengalami konflik, semua jalan yang sebenarnya terbuka lebar terlihat buntu.. Semua nasihat dan saran dari orang-orang terdekat tak bisa masuk.. Tertolak.. Memang perspektif kita akan berbeda ketika kita berada di dalam sistem.. Suatu masalah akan tampak keruh, meskipun sebenarnya sangat jelas jika dipandang dari luar sistem..

Kemana kita harus melangkah? Sedangkan dimana posisi kita saja kita tak tau..

Sudah saya bahas di banyak tulisan sebelumnya (ternyata), jika hidup memang berisi pilihan-pilihan.. Dan itulah yang sebagian besar membingungkan saya.. Masalahnya adalah tak ada yang bisa memberikan jaminan atas apa yang terjadi berikutnya.. Hari esok penuh dengan ketidakpastian.. Masa depan hanya milik Alloh..

Lalu harus bagaimana? Meskipun rencana itu perlu, nyatanya selama ini saya mengalir saja.. Mengikuti takdir.. Karena rencana Alloh jauh lebih baik.. Jika benar-benar kita telisik, ternyata pilihan-pilihan bukan menjadi sumber kegalauan.. Dan pagi ini, melalui sebuah obrolan yang lumayan panjang untuk sebuah pembuka hari, melalui teman saya, saya disadarkan bahwa ternyata masalahnya adalah diri kita sendiri, saya..

Saya yang ternyata belum sepenuhnya yakin akan masa depan yang telah Alloh siapkan untuk saya.. Saya belum sepenuhnya membebaskan hati saya, untuk sepenuhnya mengalir mengikuti takdir, menikmati apapun yang terjadi dan mengambil sisi baik dari itu semua.. Saya yang masih menuntut kepastian dari sesuatu yang tak ada seorang pun bisa menjaminnya..

Karena itulah, pagi ini ketika saya menuliskan hasil permikiran panjang, perdebatan yang melelahkan bersama orang-orang yang sama-sama tak tau apa yang ada di depan sana, dan kesimpulan dari kegalauan yang lama bersarang di hati saya,, saya memulainya dengan tersenyum..

Senyum yang terkembangkan oleh banyak arti.. Merasa malu, karena saya ternyata belum bisa se-relevan tulisan saya sendiri.. Merasa mengalami sebuah pendewasaan yang lain.. Merasa tersadarkan.. Sekaligus merasa gagal sebagai orang dewasa.. Merasa senang, sekaligus sedih.. Merasa lega, sekaligus tak rela.. Dan banyak lagi lainnya..

Terdengar ironis mungkin, tapi saya rasa memang begitu cara manusia mempertahankan dan menjaga perasaannya sendiri.. Karena seberapa pun orang lain menyemangati, tak akan ada artinya apabila hati memilih untuk menyerah..

You’re the only defense and controller for your own self.. : )

Tulisan yang bagi saya sangat emosional ini, saya tutup dengan mengutip kalimat saya sendiri pada tulisan saya sebelumnya :

Bahagia tak perlu dicari, karena dia ada di hati, dan hanya kita yang bisa menentukan apakah kita ingin bahagia atau tidak..

Minder..?

Ada salah seorang teman saya, yang merasa minder ketika saya tanya alumni mana karena sekolahnya bukan sekolah negeri..

Hellooo..

Saya pun pernah minder dengan apa yg saya punya.. Pernah berpikir saya bisa melakukan hal-hal yang lebih, yang luar biasa, seandainya saya tak terkurung di sini.. Dan sebagainya.. Dan sebagainya.. Saya rasa semua orang pun pernah begitu..

Tapi..

Ayolah! Sekarang kita sama-sama bertemu di sini, bukan..? Lalu apa bedanya??

Memang.. Masa lalu mengukir sejarah.. Kebanggaan atas sebuah pencapaian.. Atau rasa malu karena sebuah kegagalan..

Tapi bukan itu poinnya!

Kita ada di sini.. Sekarang.. Saat ini.. Berlomba dengan detik untuk mencatatkan yang terbaik yang bisa kita lakukan.. Demi sejarah kita di masa depan..

Sehebat apapun saya atau sejelek apapun kamu di masa lalu, tak ada bedanya karena sekarang kita bertemu di sini.. Hanya sebuah cerita saja, salah satu fase hidup yang telah terlewati yang kemudian berubah menjadi sebuah motivasi untuk mencapai yang lebih lagi.. Dan itu tergantung seberapa kuat keinginan kita dalam memperjuangkannnya..

Bukan waktunya menyesali latar belakang atau masa lalu.. Meskipun mungkin penyesalan terkadang perlu untuk memacu diri sendiri..

Saatnya untuk move on! Maka kembangkanlah senyummu dan bersemangatlah! :)