If I Could Turn Back the Time..

Oleh sebuah post di salah satu jejaring sosial, saya teringat semasa berburu pekerjaan..

Banyak pertanyaan serupa.. Beberapa pertanyaan tipikal.. Namun yang ingin saya bagi di sini adalah, setiap kali ada pertanyaan jika Anda diberi kesempatan mengulang kembali hidup Anda, hal apakah yang ingin Anda ubah?

Untuk pertanyaan tersebut, akan selalu saya jawab TIDAK ADA. Alasannya?

Well, mungkin alasan yang saya tulis tak selalu persis dari satu tes dengan tes lain.. Namun pada intinya sama..

Bahwa untuk menjadi diri saya yang sekarang, diperlukan sebuah proses yang tak hanya panjang namun juga berkelanjutan (kayak pembangunan aja yak?)..

Dan untuk melalui proses tersebut, butuh perjuangan.. Butuh pengorbanan.. Waktu, jelas.. Karena dewasa itu tidak instant.. Biaya, pasti.. Belum terhitung berbagai macam emosi yang telah saya kecap untuk mencapai umur sekian ini.. Senang, sedih, kecewa, amarah, harap, kehilangan, air mata, tak saya pungkiri kadang penyesalan pun terlintas!

clock..

Bila masa lalu bisa saya geser 1 derajat, akankah saya tetap menjadi diri saya yang sekarang?
(bahkan saya masih berpikir bahwa diri saya terbagi menjadi beberapa partikel yang lebih kecil : saya yang dulu, saya yang sekarang, saya nanti)

Mungkin bila semua tak terjadi seperti ini, memang segalanya akan berbeda.. Mungkin saya yang sekarang akan jadi lebih baik.. Tapi mungkin juga tidak..

Tak perlu rasanya menyesali apa yang telah terjadi.. Karena semua itu mempunyai tujuan.. Karena ketetapan Alloh adalah yang terbaik, lebih baik dari yang mampu kita rencanakan dan harapkan..

Saya bersyukur dan bangga menjadi diri saya yang sekarang, karena saya menghargai semua proses dan perjuangan yang telah terlalui untuk menemukan diri saya yang sekarang..

Advertisements

Ngelantur – Mengenang Masa Lalu & Mengkhayal Masa Depan

Teman-teman maya sekalian, saya ingin berbagi sesuatu ^^ (meskipun sudah rada telat siy, hehe).. Dua minggu kemarin, saya sidang skripsi.. Ada yang menyebutnya pendadaran, hmmm tapi saya gak tau bedanya apa, hihihihi.. Yang jelas, sekeluarnya seorang mahasiswa dari ruangan (yang biasanya) kecil setelah kurang lebih 2 jam menghadapi “serbuan” pertanyaan dari dosen-dosen penguji (bahkan pembimbing pun bisa tiba-tiba berubah jadi penguji -_-‘), mahasiswa tersebut sudah dinyatakan LULUS.. Begitu pun saya pada hari itu, Rabu 13 Juli 2011 sekitar jam 15.00 tepatnya ketika adzan Ashar berkumandang, saya keluar dari Ruang Sidang Jurusan dan telah bergelar ST (Sudah Tamat, hehehe).. Alhamdulillah..

Meskipun ‘konon’ akan ada beban ketika menyandang gelar baru tersebut, tapi entah karena saya cuek atau apa, saya merasa biasa aja.. Bahkan ketika dosen saya menasihati bahwa sekeluarnya saya dari ruangan itu tidak akan sama lagi dengan teman-teman mahasiswa tapi toh esoknya saya tetap tampil “tabrak warna” selayaknya anak SMP (hehe, sebenernya sih agak gak nyambung antara ST dengan baju tabrak warna, tapi gapapa lah).. ^^v

Eh eh, tunggu dulu! Sebenernya inti postingan ini bukan tentang kelulusannya lho.. Tapi justru sebaliknya.. Tepat seminggu sebelum sidang itu, saya ingat pernah mengirim sms seperti ini pada pacar saya “hanya saja, semuanya kini terasa terlalu cepat“.. Dan mesin waktu dalam benak saya pun berputar kembali, 4 tahun yang lalu..

Saya bahkan masih ingat, bahwa saya masuk universitas tempat saya kuliah ini dengan setengah hati, bahkan mungkin juga dengan setengah restu orang tua (karena harus menolak universitas yang satunya.. Alhamdulillah saya sempat diterima di 2 universitas).. Diiringi air mata dan sms dari ibu saya yang (mungkin) khawatir saya akan bunuh diri (wew, hahaha) pada hari terakhir daftar ulang universitas yang saya tolak tersebut.. Akhirnya di sinilah saya sekarang, inilah jawaban yang saya peroleh dari Alloh, dan bismillah ini adalah yang terbaik untuk saya.. Dan sekarang tiba-iba “cling!” sayaSudah Tamat!

By the way, sebenernya niat awal posting ini saya mau berbagi tips saat akan ujian masuk universitas lho (gubrak!! jauh banget ya melencengnya.. hehehe), kog malah jadi ngelantur gini ya? hehehehe.. ^^”

Tapi yasudah deh, karena sudah terlanjur jauh ngelanturnya, maka tips saat akan ujian masuk universitasnya saya bagi kapan-kapan aja deh, kali ini sekalian aja ngelanturnya..

Tepat kemarin, Minggu 24 Juli, saya hang out berdua sahabat saya (sahabat dari SMP sampai kuliah ini).. Tujuannya untuk sekedar berbagi sembari kuliner, maklum karena berbeda jurusan meskipun kami berdua satu kampus tapi jarang sekali bertemu di kampus.. Sudah agak lama tidak berbagi dari hati ke hati..

Nah, sore itu (jam 4 sampai jam 9 malam nonstop!! wew..) kami berdua yang sama-sama Sudah Tamat, berbagi banyak hal.. Dari mengenang masa lalu, ketika masih kinyis-kinyis awal masuk kuliah, hingga kini obrolan & rencana kita telah merambah kepada karir impian vs. realita kita sebagai wanita, dan bahkan telah merambah pada ranah rumah tangga..Wow! Gak kebayang ya..

Tiba-tiba teringat sewaktu kecil, saya selalu saja ingin supaya cepat besar, cepat bisa dandan, cepat bisa meraih cita-cita saya sebagai penyanyi (hihihi), punya anak, dll.. Sekarang, tiba-tiba semua itu sudah selangkah di depan mata (kecuali yang “penyanyi” itu, huhuhu).. Terkadang, ada ketakutan-ketakutan yang muncul dalam diri, tentang ketidaksiapan secara emosional, ketidaksiapan untuk menjalani hidup yang ‘sebenarnya‘ (sewaktu kecil entah kenapa saya sudah berpikir bahwa selama masih di bawah ketiak orang tua kita belum menghadapi hidup yang sebenarnya, bahwa hidup yang sebenarnya itu susah, dan bahwa dunia luar itu mungkin kejam.. dan kini saya mengatakan ya! pemikiran saya sewaktu kecil itu memang benar adanya), ketidaksiapan menjadi tua, ketidaksiapan ditinggalkan orang-orang terdekat, bahkan lebih jauh lagi ketidaksiapan jika sewaktu-waktu kita dipanggil untuk menghadap-Nya..

Wah, semakin ngelantur saja nih, sepertinya harus di-cut sampai di sini saja.. Kesimpulan kali ini adalah : It’s amazing to realize how fast time can run!