Decision Making Process..

Awalnya terinspirasi dari sebuah game.. Sudoku namanya.. Game ini mengharuskan pemainnya memasangkan angka-angka tertentu di kotak-kotak, sedemikian rupa sehingga satu area, satu baris, dan satu kolom tak ada angka yang berulang..

Game ini cukup dilematis.. Membuat saya seringkali dipaksa membuat keputusan untuk meletakkan suatu angka pada salah satu di antara beberapa pilihan kolom yang memungkinkan..

Ada sebuah kalimat yang tercetus dari seringnya keadaan saya yang sulit membuat keputusan..

Akankah lebih mudah jika pilihannya cuma dua?

Seringkali dalam hidup, saya selalu bingung membuat pilihan-pilihan,dalam hal apapun.. Semua pilihan pada dasarnya menurut saya hanyalah gambling saja.. Karena kita tak tau kepastian apa yang ada di depan sana..

Namun, kita sebagai manusia dianugerahkan akal dan pikiran.. Bahkan gambling pun dalam teorinya memakai perhitungan probabilistik.. See, how amazing human’s thought can be?

Kalimat saya di atas, awalnya hanya tercetus begitu saja.. Namun Alloh Maha Mendengar, dan Maha Bijaksana..

Dalam suatu kesempatan, pada suatu masalah yang saya alami, pertanyaan retoris tersebut tiba-tiba saja terjawab..

Bahwa ternyata, semakin banyak pilihan, akan semakin banyak pula aspek yang bisa kita perbandingkan.. Sehingga menurut saya, meskipun pada akhirnya mungkin akan mengerucut pada pilihan yang lebih sedikit lagi, namun setidaknya terlihat jelas positif-negatifnya.. Dan itu mempermudah.. Dalam bahasa statistika, tingkat kesalahannya akan lebih kecil, sehingga keyakinan kita akan ketepatan keputusan yang kita buat akan lebih tinggi.. Keraguan akan menipis.. Meskipun mungkin proses analisisnya memakan waktu lebih lama..

Dengan menyadari bahwa di dunia ini tidak hanya ada orang yang lebih segalanya dari kita, melainkan ada pula orang yang kurang segalanya dari kita, tentunya penilaian kita terhadap diri sendiri akan lebih objektif..

See, that’s how God works in teaching us wisdom : by giving problems! :)

Night post.. Sat nite, 23.03.13
«good nite all»

Advertisements

Bertanya Kepada Tuhan..

Kemana kita harus bertanya sebuah pertanyaan yang retoris? Kemana kita harus bertanya sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar bodoh bagi orang lain? Kemana kita harus bertanya ketika tak ada seorang pun di sekitar kita? Kemana kita bertanya ketika sedang mengendarai motor sendirian? -_-

Jawabannya ada dua : pada diri sendiri, atau pada Tuhan.. Mmmh, oke.. sebenarnya ada banyak sih.. Bisa bertanya pada angin yang berembus atau pada pohon palm yang bergoyang (soalnya rumput sedang ditanya sama Bang Ebiet).. Ini adalah kisah nyata! Dan baru saja saya alami tadi pagi dalam perjalanan ke kantor..

Alkisah, berangkatlah saya.. Dengan setengah bengong, setengah mengantuk.. Berhubung hari ini adalah hari Jumat (horeeee asyiiiiik!!! ^_^) jadi bel kantor berbunyi pukul 7 pagi.. Walhasil, di sepanjang perjalanan saya berlomba dengan anak-anak sekolah yang sedang mengejar jam yang sama.. Di suatu titik dalam perjalanan saya, saya melihat seorang anak SD (yang, yah, besarnya seukuran saya lah.. Sedih.. T_T) sedang dibonceng menuju ke sekolah..

Tahu kan, rok SD? Dan si Adik duduk menghadap depan.. Otomatis roknya sedikit banyak tersingkap, dan diisengi oleh tiupan angin pagi.. Saya saja nih, yang cewe, melihat itu “Wow, si Adek ini bikin konsentrasi buyar“.. Well, saya harap itu bukan karena saya kelainan ya.. Jika dilihat dari motif rok seragamnya, sekolah Adik tersebut adalah sekolah swasta non.. Sejurus kemudian, saya jadi bertanya-tanya kepada Tuhan.. Sebagaimana anak kecil yang bertanya polos pada orang tua atau temannya..

Ya Alloh.. Jika kataMu, perempuan non itu bukan muhrim kami, berarti dosa ya kalau aku lihat-lihat Adiknya barusan? Berarti apakah dosa juga jika melihat Britney Spears gitu? Meskipun saat itu mereka berbusana cukup tertutup? Lantas, aurat mereka sebenernya dari mana ke mana? Atau jangan-jangan mereka tidak punya aurat?

Dan kemudian, pertanyaan tersebut sirna ditelan tikungan jalan.. Dan kemudian, perjalanan pun berlanjut dengan sendirinya.. Meskipun mungkin buat saya saat itu merupakan pertanyaan retoris, tapi mungkin akan benar-benar dijawab nantinya oleh Alloh.. Tentu saja, bukan melalui kata-kata layaknya orang-orang bercengkrama.. Alloh punya cara lain dalam menjawab pertanyaan, maupun doa.. Apapun perantaranya..

(21.09.2012)
topik yang terlalu berat nampaknya, bagi usia hari yang baru menginjak pukul 7 pagi :-)

Membuat Kontrak dengan Tuhan..

Alkisah ada sepasang suami istri yang sudah 15 tahun berumah tangga, namun belum juga dikaruniai keturunan.. Sang suami, mungkin karena sudah teramat merindukan seorang anak, dia berupaya dengan segala cara agar bisa mendapatkannya..

Suatu hari, datanglah sang suami menemui seorang ustadz.. Kebetulan ustadz tersebut merupakan salah satu dari ustadz-ustadz yang terkenal di negaranya.. Lalu berceritalah sang suami kepada ustadz tersebut mengenai problema yang sudah bertahun-tahun membebaninya..

Ustadz, saya ingin sekali mempunyai anak.. Saya sudah menemui semua Tuhan yang ada, sudah 4 kali saya berganti agama.. Sampai sekarang tak ada satu pun dari Tuhan tersebut yang bisa memberikan saya anak.. Namun, satu-satunya yang belum saya temui adalah Tuhanmu, Ustadz.. Sementara saya akan mencoba menemui Tuhanmu, saya sudah di ambang putus asa.. Jika saya menyembah Tuhanmu, bisakah engkau menjamin Dia akan memberiku anak?

Dan setelah berpikir dalam-dalam, ustadz tersebut menjawab..

Bisa.. Aku menjamin..

Tak sekedar puas dengan jawaban Ustadz tersebut, sang suami menantang ustadz tersebut..

Kalau begitu, kapankah kau jamin aku akan mendapatkan anak yang ku dambakan? Aku sudah 15 tahun menanti kehadirannya, aku tak mau bila kau memintaku menanti Tuhanmu memberikannya padaku 10 atau 15 tahun lagi..

Kata sang ustadz..

Baiklah.. Mari kita buat 5 tahun, aku menjamin kau akan mendapatkannya.. Dan selama itu, kau harus ikuti semua yang Dia perintahkan dengan ikhlas dan sepenuh hati..

Persetujuan itu pun mencapai kesepakatan.. Sang suami mengucapkan dua kalimat syahadat, dan di bawah bimbingan usadz tersebut sang suami melakukan ibadah-ibadah sesuai ajaran Islam.. Sholat, puasa, zakat, sedekah, semua dia lakukan.. Tak hanya amalan wajib, namun amalan sunah pun tak ketinggalan..

Tahun demi tahun berjalan.. Tahun pertama, nihil.. Sang suami belum berhasil mendapatkan keturunan.. Begitu pun dengan tahun-tahun selanjutnya.. Hingga akhirnya pada tahun ke-5, di ujung penghabisan kontraknya, sang istri pun akhirnya hamil.. Betapa senangnya hati suami istri tersebut.. Dan seketika dia menyedekahkan hartanya dalam jumlah yang sangat banyak kepada sang ustadz, sebagai tanda syukur terhadap Tuhannya yang mau mengabulkan permohonannya..

***

Kisah ini adalah kisah nyata.. Saya dapat di sebuah obrolan malam bersama teman.. Dan wow menurut saya ini adalah sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa.. Betapa kehadiran si anak merupakan sebuah jalan dari Alloh untuk kedua orangnya, karena tanpa keinginan untuk memilikinya bukan tidak mungkin sang suami tak akan pernah mencapai jalan Alloh.. Dan betapa si calon anak tersebut patut bersyukur karena Alloh telah memilihkannya jalan Islam, dimana Alloh tidak ridho menurunkannya ke rahim si istri sebelum kedua calon orangtuanya memeluk iman..

Semoga kita senantiasa ‘dijaga’ oleh Alloh sehingga mampu bertahan di jalannya di tengah-tengah dunia yang kian kelabu ini.. Semoga kisah ini bisa menjadi renungan dan pelajaran bagi kita semua..