Inilah Mengapa Saya Benci Perpisahan..

Sayup-sayup kumandang adzan mengantarkan sisa cahaya senja ke pangkuan ufuk barat yang terlihat sangat jauh di ujung langit sana.. Ah, satu hari lagi terlewati sudah..

Someday.. Someway..

Someday.. Someway..

Mungkin tak terasa bermakna.. Hanya sebuah hari biasa, hari yang sama dengan hari-hari yang mendahuluinya.. Namun, ketika saya memejamkan mata, mencoba mengulang kembali satu hari ini yang tersisa hanyalah sekelebat bayangan yang tersimpan di memori.. Kelak, akan tergantikan dengan potongan kejadian yang lain lagi.. Dan akan terus seperti itu.. Tak akan bisa terulang lagi secara nyata..

Hari-hari terus berlalu.. Dan masih akan berlalu.. Tanpa jeda, tanpa mau menunggu untuk memperlama momen-momen bahagia.. Sebuah awal, pasti memiliki akhir..

Betapa rasanya berat terkadang bagi saya melepaskan suatu hari, seolah-olah ada bagian dari diri saya yang tertinggal di hari itu.. Seperti masa-masa dulu, yang pelan-pelan semakin mengabur dalam benak saya..

Seperti ketika terakhir kali menatap bangunan SMA dengan masih memakai seragam.. Atau seperti suatu sore ketika membereskan ruangan seusai seminar yang telah berbulan-bulan dirancang.. Atau sore hari ketika para wisudawan telah satu per satu pulang dengan senyum gembira dalam balutan toga..

Terkadang, di penghujung sore saya hanya mematung.. Memeluk senja yang terus memperpanjang bayangan, tak rela melepas hari ini pergi..

Mungkin, hari-hari saya di kantor ini akan segera berakhir.. Semua kebersamaan, suasana, detail bangunan, canda dan tawa, serta segala interaksi di antaranya.. Membayangkan semua itu, rasa sesak berjubel di dada.. Ingin meronta, melepaskan diri dari kekangan waktu..

Hari-hari akan tetap silih berganti, sesuai kodratnya..

-mematung-
21 Feb. 2013

Advertisements

Bungsu..

Diawali dengan percakapan di jendela chatting pada suatu hari kerja awal bulan Februari 2013, selepas makan siang..

Nov: cyiiiin, sekarang akyuuuu ngapain eaaaa??
Boss: bobo boleh
Nov: cek email lagi cyiiiiin
Boss: sutraa,,,
Nov: niiii ngapain?
Boss: nge blog sik

Maka.. Di sini lah sekarang saya berada, dan inilah hasil produktif dari jam kerja saya di hari terakhir kerja minggu ini..

***

Beberapa hari yang lalu sempat merenungkan sesuatu.. Idenya adalah, teringat pada saat kuliah, dimana salah seorang sahabat saya menceritakan kekesalannya pada adiknya yang kebetulan adalah anak bungsu dari 4 bersaudara..

Bayangkan, aku minta motor ya secara tugas kuliah menuntutku untuk mobile.. Adikku ikut-ikut minta motor, padahal masih SMP.. Dan yang paling menyebalkan, Abah mengabulkan permintaannya.. Abah itu ya, hampir semua yang dia minta dituruti.. Gimana aku nggak sebel?

Begitu kira-kira luapan kekesalannya yang disampaikan kepada saya kala itu.. Memang, anak bungsu kebanyakan identik dengan sifatnya yang manja.. Tak selalu seperti itu sih, hanya kebanyakan.. Namun persepsi itu mungkin sudah terbentuk di benak kebanyakan orang..

Sewaktu mendengar keluhan sahabat saya tersebut, awalnya saya pun berpikiran yang sama.. Maklum, bahwa anak bungsu memang kebanyakan manja, dan lagi keras kepala..

Kemudian, baru-baru saja setelah sekian lama kejadian tersebut berlalu, saya tiba-tiba merenungkannya kembali.. Kali ini, sedikit mengambil sudut pandang yang berbeda..

Betapa orang tua pasti menyayangi semua anak-anaknya, karena itu fitrahnya.. Idealnya, secara adil.. Namun, adil pun tak selalu harus sama, melainkan proporsional.. Itu pun belum ditambah dengan keadaan manusia yang sudah barang tentu tidak sempurna dalam menerapkan keadilan itu sendiri..

Mungkin Anda bertanya-tanya, bukankan jika proporsional, sang Adik akan mendapatkan motor saat kuliah nanti, sama seperti kakaknya?

Tapi saya mencoba menggali lebih jauh, jika saya berada di posisi orang tuanya saat itu, apa motivasi dan pertimbangan saya sehingga mengambil keputusan seperti yang diceritakan oleh sahabat saya?

Karena itulah mungkin bentuk cinta yang bisa diberikan sang orang tua kepada anak bungsunya.. Karena taukah Anda? Kelak ketika orang tuanya telah tiada, jika sempat mengkalkulasikan kebersamaan keluarga itu, maka kakak-kakaknya akan mendapat waktu yang lebih lama bersama orang tua mereka dibandingkan dengan si bungsu.. Bahwa kebersamaan dan kasih sayang orang tua itu adalah harta yang tak terbeli.. Priceless..

Bahwa, itulah yang bisa diberikan orang tua untuk mengganti waktu yang tak bisa mereka berikan sama banyaknya seperti mereka memberikannya kepada kakak-kakaknya, yaitu dengan memenuhi sebisa mungkin keinginan anak bungsunya..

Itulah, sedikit penyeimbang menurut versi saya di antara perang ego antar-saudara memperebutkan perhatian dan kasih sayang orang tua.. Semoga dapat menjadi sedikit bahan pertimbangan dalam berpikir ulang dan juga menjadi penawar bagi hati yang sedang cemburu..

Memang mudah melihat dan menarik pemikiran yang objektif ketika kita di luar sistem, apalagi jika hanya menuliskannya seperti saya.. Bahkan saya pun pernah mengalami hal serupa saat saya di bangku SMP, kecemburuan akan adik saya.. Kini tersenyum simpul saat mengingat dan menuliskannya..

Ah, menahan haru di tengah-tengah jam kantor seperti ini cukup menguras emosi.. :’)

***

Surakarta, Jumat 1 Februari 2013 pukul 3.10 sore..

If I Could Turn Back the Time..

Oleh sebuah post di salah satu jejaring sosial, saya teringat semasa berburu pekerjaan..

Banyak pertanyaan serupa.. Beberapa pertanyaan tipikal.. Namun yang ingin saya bagi di sini adalah, setiap kali ada pertanyaan jika Anda diberi kesempatan mengulang kembali hidup Anda, hal apakah yang ingin Anda ubah?

Untuk pertanyaan tersebut, akan selalu saya jawab TIDAK ADA. Alasannya?

Well, mungkin alasan yang saya tulis tak selalu persis dari satu tes dengan tes lain.. Namun pada intinya sama..

Bahwa untuk menjadi diri saya yang sekarang, diperlukan sebuah proses yang tak hanya panjang namun juga berkelanjutan (kayak pembangunan aja yak?)..

Dan untuk melalui proses tersebut, butuh perjuangan.. Butuh pengorbanan.. Waktu, jelas.. Karena dewasa itu tidak instant.. Biaya, pasti.. Belum terhitung berbagai macam emosi yang telah saya kecap untuk mencapai umur sekian ini.. Senang, sedih, kecewa, amarah, harap, kehilangan, air mata, tak saya pungkiri kadang penyesalan pun terlintas!

clock..

Bila masa lalu bisa saya geser 1 derajat, akankah saya tetap menjadi diri saya yang sekarang?
(bahkan saya masih berpikir bahwa diri saya terbagi menjadi beberapa partikel yang lebih kecil : saya yang dulu, saya yang sekarang, saya nanti)

Mungkin bila semua tak terjadi seperti ini, memang segalanya akan berbeda.. Mungkin saya yang sekarang akan jadi lebih baik.. Tapi mungkin juga tidak..

Tak perlu rasanya menyesali apa yang telah terjadi.. Karena semua itu mempunyai tujuan.. Karena ketetapan Alloh adalah yang terbaik, lebih baik dari yang mampu kita rencanakan dan harapkan..

Saya bersyukur dan bangga menjadi diri saya yang sekarang, karena saya menghargai semua proses dan perjuangan yang telah terlalui untuk menemukan diri saya yang sekarang..

Sepotong Kisah Masa Lalu : Ganjil..

Kemarin saya mengalami sebuah perasaan yang aneh.. Tapi seringkali saya rasakan.. Segala kesibukan kampus membuat saya rasanya ingin ‘lari’..

Moment With You Guys..

Mungkin saking penatnya tiba-tiba saya ingin pergi ke suatu tempat, yang entah benar-benar ada atau hanya dalam khayalan saya saja..

Sebuah tempat yang rasa-rasanya saya pernah berada di sana oleh suatu acara TV yang entah kapan pernah saya tonton.. Dan apakah saya benar-benar pernah menontonnya pun saya juga tidak yakin..

Atau mungkin bisa lebih tepat jika saya katakan bahwa saya merindukan sebuah suasana.. Yang entah kapan pernah saya rasakan, tapi kali ini saya yakin pernah mengalami suasana ini..

Tlatar, Januari 2011..

Seyakin saya pernah mengalami masa-masa sewaktu saya kecil, atau masa-masa saya duduk di salah satu Sekolah Dasar di desa saya, atau masa-masa saya tidak percaya bisa sekolah di sebuah Sekolah Menengah Pertama di Solo, atau masa-masa yang sangat menyenangkan sewaktu Sekolah Menengah Atas, atau masa-masa canggung awal kuliah dulu..

Mungkin saya merindukan masing masing sepotong suasana dari setiap masa yang pernah saya punya.. Saya sendiri juga tidak mengerti apa yang sebenarnya saya rasakan..

Saya jadi berpikir, betapa setiap detik dari waktu yang kita punya sangat berharga.. Bukan hanya karena nanti akan kita pertanggungjawabkan, tapi juga karena kita tak bisa mengulangnya lagi suatu hari nanti..

It was almost 24 years ago..

Meskipun hanya sekedar untuk merasakan kembali, bahwa kita pernah merasakan masa-masa indah sewaktu bisa bermanja pada orangtua, atau bermain bersama teman-teman SD, atau sewaktu bersusah payah naik bus sepulang dari SMP, atau ketika bersenang senang bersama teman-teman SMA, atau saat tidak ada kerjaan di kampus pada waktu awal2 kuliah, bahkan saat pulang malam setelah praktikum..

Nikmatilah sebaik-baiknya apa yang kita punyai saat ini.. Karena bukan tak mungkin kita akan merindukannya kelak.. Entah itu suasana, atau seseorang yang pernah ada dalam hidup kita..

18 Juni 2009 12:34

Ngelantur – Mengenang Masa Lalu & Mengkhayal Masa Depan

Teman-teman maya sekalian, saya ingin berbagi sesuatu ^^ (meskipun sudah rada telat siy, hehe).. Dua minggu kemarin, saya sidang skripsi.. Ada yang menyebutnya pendadaran, hmmm tapi saya gak tau bedanya apa, hihihihi.. Yang jelas, sekeluarnya seorang mahasiswa dari ruangan (yang biasanya) kecil setelah kurang lebih 2 jam menghadapi “serbuan” pertanyaan dari dosen-dosen penguji (bahkan pembimbing pun bisa tiba-tiba berubah jadi penguji -_-‘), mahasiswa tersebut sudah dinyatakan LULUS.. Begitu pun saya pada hari itu, Rabu 13 Juli 2011 sekitar jam 15.00 tepatnya ketika adzan Ashar berkumandang, saya keluar dari Ruang Sidang Jurusan dan telah bergelar ST (Sudah Tamat, hehehe).. Alhamdulillah..

Meskipun ‘konon’ akan ada beban ketika menyandang gelar baru tersebut, tapi entah karena saya cuek atau apa, saya merasa biasa aja.. Bahkan ketika dosen saya menasihati bahwa sekeluarnya saya dari ruangan itu tidak akan sama lagi dengan teman-teman mahasiswa tapi toh esoknya saya tetap tampil “tabrak warna” selayaknya anak SMP (hehe, sebenernya sih agak gak nyambung antara ST dengan baju tabrak warna, tapi gapapa lah).. ^^v

Eh eh, tunggu dulu! Sebenernya inti postingan ini bukan tentang kelulusannya lho.. Tapi justru sebaliknya.. Tepat seminggu sebelum sidang itu, saya ingat pernah mengirim sms seperti ini pada pacar saya “hanya saja, semuanya kini terasa terlalu cepat“.. Dan mesin waktu dalam benak saya pun berputar kembali, 4 tahun yang lalu..

Saya bahkan masih ingat, bahwa saya masuk universitas tempat saya kuliah ini dengan setengah hati, bahkan mungkin juga dengan setengah restu orang tua (karena harus menolak universitas yang satunya.. Alhamdulillah saya sempat diterima di 2 universitas).. Diiringi air mata dan sms dari ibu saya yang (mungkin) khawatir saya akan bunuh diri (wew, hahaha) pada hari terakhir daftar ulang universitas yang saya tolak tersebut.. Akhirnya di sinilah saya sekarang, inilah jawaban yang saya peroleh dari Alloh, dan bismillah ini adalah yang terbaik untuk saya.. Dan sekarang tiba-iba “cling!” sayaSudah Tamat!

By the way, sebenernya niat awal posting ini saya mau berbagi tips saat akan ujian masuk universitas lho (gubrak!! jauh banget ya melencengnya.. hehehe), kog malah jadi ngelantur gini ya? hehehehe.. ^^”

Tapi yasudah deh, karena sudah terlanjur jauh ngelanturnya, maka tips saat akan ujian masuk universitasnya saya bagi kapan-kapan aja deh, kali ini sekalian aja ngelanturnya..

Tepat kemarin, Minggu 24 Juli, saya hang out berdua sahabat saya (sahabat dari SMP sampai kuliah ini).. Tujuannya untuk sekedar berbagi sembari kuliner, maklum karena berbeda jurusan meskipun kami berdua satu kampus tapi jarang sekali bertemu di kampus.. Sudah agak lama tidak berbagi dari hati ke hati..

Nah, sore itu (jam 4 sampai jam 9 malam nonstop!! wew..) kami berdua yang sama-sama Sudah Tamat, berbagi banyak hal.. Dari mengenang masa lalu, ketika masih kinyis-kinyis awal masuk kuliah, hingga kini obrolan & rencana kita telah merambah kepada karir impian vs. realita kita sebagai wanita, dan bahkan telah merambah pada ranah rumah tangga..Wow! Gak kebayang ya..

Tiba-tiba teringat sewaktu kecil, saya selalu saja ingin supaya cepat besar, cepat bisa dandan, cepat bisa meraih cita-cita saya sebagai penyanyi (hihihi), punya anak, dll.. Sekarang, tiba-tiba semua itu sudah selangkah di depan mata (kecuali yang “penyanyi” itu, huhuhu).. Terkadang, ada ketakutan-ketakutan yang muncul dalam diri, tentang ketidaksiapan secara emosional, ketidaksiapan untuk menjalani hidup yang ‘sebenarnya‘ (sewaktu kecil entah kenapa saya sudah berpikir bahwa selama masih di bawah ketiak orang tua kita belum menghadapi hidup yang sebenarnya, bahwa hidup yang sebenarnya itu susah, dan bahwa dunia luar itu mungkin kejam.. dan kini saya mengatakan ya! pemikiran saya sewaktu kecil itu memang benar adanya), ketidaksiapan menjadi tua, ketidaksiapan ditinggalkan orang-orang terdekat, bahkan lebih jauh lagi ketidaksiapan jika sewaktu-waktu kita dipanggil untuk menghadap-Nya..

Wah, semakin ngelantur saja nih, sepertinya harus di-cut sampai di sini saja.. Kesimpulan kali ini adalah : It’s amazing to realize how fast time can run!